Dance of Death; Death Ponders (1919)

Pesan dari Kematian

Pembukaan,
Tanpa emoticon, aku izinkan kepadamu.

Sebentar,
Sebentar lagi,
Tunggu sebentar lagi,
Aku,
Datang untuk mencintaimu.

Dan kau tau.
Kau menanam pohon pisang di kepalaku,
dan aku kehilangan Jantung hatimu.
Dan kau perlu tau,

Pelan tapi mati? Atau pelan tapi happy?
“apakah kau telah memesan kematian”

Gunungputri, 2024-2026

Jika Suatu Hari Nanti Aku Dipanggil Ayah

“Ayah ke mana?”
Kulihat Ibu tersenyum sambil meminum air mataku.

Sebetulnya sudah tujuh hari aku membangun puisi ini,
Aku seperti membuka pintu diantara orang-orang membuat pintu,
Keluar-masuk menyiapkan;
Pendahuluan-Kajian Teoretis-Praktik empiris-Analisis peraturan-Mungkin Filosofis kehidupan-lalu adapula Penutup-saran.
Orientasi berpikir menjadi Neuroplastisitas.

Burung gagak berterbangan dalam hidangan,
Bangunan runtuh,
Keyakinan melayang-layang.

Sebuah cerita menggagalkan dirinya,
Kisah cinta yang di tinggalkan,
Aku sedang keluyuran di media sosial,
Memerhatikan berbagai hidangan perihal bagaimana waktu dipilih dan cerita dimulai,
Udara mengirim kenangan,
“mata aku pejamkan”
Aku ingin bercerita padamu, persis saat puasa dalam puisi ini dimulai.

Sudah Ayah, kau tidak lelah?
“hah, waktu baru saja dimulai nak”
Pagi-pagi sekali mata harus terbangun, bu siapkan A-L-A-R-M.
Jadi gini nak, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata alarm sebagai: 1. Tanda bahaya berupa sinyal, bunyi, sinar, dan sebagainya.

Kota Bogor, 2026

  • seseorang yang mencoba menulis puisi lantas mengarang cerita pendek. Dia gemar memperhatikan lukisan dan menyukai perpustakaan.

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *