Gustave Den Duyts (1850 – 1897)
Petualangan Hujan
Kita bercengkrama dengan hujan tentang daun-daun yang basah di ujung jemarimu
menjadi sesutau wangi yang dikejar angin
karena merasa sudah lama kemarau datang di tanah yang merah
Setiba tetes merangkai tualang untuk air
Pada keruh kita berkaca
Sepasrah itu kita basah
Menunjuk puncak pepohon yang berdendang bersama gemuruh
Air takkan beku
Meski waktu sedingin napas kita
Hanya akan bercahaya di tengah sungai
Menuju bibir-bibir pantai yang kian asin
Bersiap menerka laut, menaklukan samudera.
Senyum Sabit di Malam Perpisahan
Bahkan bulan sabit yang menjadi tempatmu menadah dagu
Tak mampu menahan senyuman langit malam ini
Selain aku
Tak ada yang lebih gelisah
Selain malam peninggalanmu
Tak ada lagi yang lebih basah
Malam keempat Nuh bersama bahteranya
Pertama kali merindukan tanah merah kerontang
Sebab tak ada yang menyobek langit
Tak juga ada yang tahu isinya
Hanya debu yang dibawa angin
Sesekali mataku berkedip; bukan sedih, bukan mengantuk
Aku terperanga dalam duka
Malam ini adalah waktu yang tepat untukku
Menuai bintang rindu dari langit yang kusam.

