Vincent van Gogh, First Steps, after Millet. 1890
Di pasar pagi, para nenek masih memanggil perempuan muda yang berkeringat dengan sebutan “anak manis”─seolah itu tugas resmi dari adat. Aku, namaku Rima, berdiri di antara tumpukan kain songket yang baunya bercampur kopra dan minyak wangi lama, merasa seperti benda antik yang diberi label harga tapi tak pernah ditawar.
“Anak manis, ambil ini,” suara penjual memanggil. Mereka tak pernah memanggil suamiku begitu. Ia menawar harga jagung, menghitung untung, sambil membenarkan posisi di kursi kepala kampung. Aku menertawakan ironi itu dalam hati, sebuah perpaduan antara lucu dan kelabu.
Di rumah, adat berjalan seperti kaset lama yang diputar ulang tanpa jeda. Ada daftar kewajiban yang harus kuingat, seperti hafalan doa: datang ke acara, memasak, duduk di sisi yang benar. Kalau aku bertanya soal cita-cita, jawabannya selalu: “Nanti kalau sudah punya anak, kau akan mengerti.” Begitu saja alasan untuk menangguhkan segala keinginanku─dijadwalkan di tanggal yang tak pernah tiba.
Tetapi aku punya catatan kecil, tertulis di buku tulis bekas yang aku sembunyikan di bawah lemari. Di situ aku meluapkan semua amarah yang tak punya tempat. Kadang aku menulis dengan kata-kata penuh amarah agar ia mereda; kadang aku menulis yang jenaka supaya tidak tenggelam dalam muram. Di halaman yang sama, aku menggambar garis-garis tipis, serupa retakan di kaca yang kurahasiakan dari pandangan orang.
Retak itu mulai muncul bukan karena aku menggempur kotak adat dengan palu, melainkan ketika pada suatu malam aku menolak ikut rapat adat karena ada kelas menulis online yang hanya diadakan sekali sebulan. Suamiku menatapku lama, bukan karena marah, melainkan bingung. “Untuk apa?” tanyanya. “Untuk menulis,” jawabku sederhana. Ia mengernyit─seolah kata itu asing baginya.
Kelas itu membuat sesuatu di dalam diriku bergetar. Ada perempuan lain di layar yang juga berbicara tanpa harus menunggu izin adat. Mereka bercerita soal kantor kecil mereka, tentang mimpi yang digantung setengah, dan tentang ketakutan yang berubah menjadi ketahanan. Aku tertawa di depan laptop, merasa aneh: ternyata suara sendiri bisa terasa asing jika jarang didengar.
Esoknya, di dapur, aku menyajikan nasi dengan tangan yang tak lagi gemetar tiap kali ada tamu laki-laki. Aku menyelipkan cerita tentang kelas itu ke obrolan─sedikit saja, seperti menaruh garam. Beberapa ibu mengernyit, sementara yang lain menatap suamiku seolah menanyakan apakah ia baik-baik saja. Suamiku? Dia diam, lalu bilang: “Baguslah, asal jangan sering-sering.” Ia tidak melarang, namun ketidakpastian itu terasa samar dalam suaranya.
Terasa lucu bagaimana perubahan kecil membuat dunia beputar. Aku mulai mengajari anak perempuanku membaca lebih cepat. Aku menyuruhnya bertanya─tentang kenapa langit biru, atau kenapa nenek selalu bilang “Jangan terlalu banyak bicara.” Ia menatapku dengan mata yang belum menemukan rasa takut terhadap peraturan. Dalam tatapan itu, ada pertanyaan yang berani: kalau aku boleh, kenapa dia tidak?
***
Suatu hari, ada upacara adat besar. Semua orang mengenakan pakaian rapi. Aku berdiri di dekat pilar rumah adat menyaksikan bagaimana para pria berbicara lantang, disambut tepuk tangan. Giliran perempuan, ada pujian manis yang dibacakan: “Ibu-ibu, sumber ketenangan.” Aku merasa sesuatu seperti gelombang─hangat, familiar, menekan. Di sela ritual, aku menarik napas panjang dan membaca surat kecil yang sudah lama kusimpan: untuk anakku, untuk diriku, untuk siapapun yang mendengarkan.
“Aku tidak menuntut dunia tanpa adat,” suaraku bergetar tapi jelas, “aku hanya mau ruang kecil, satu ruang untuk berkata, “Aku juga mau.”
Beberapa kepala menoleh. Ada yang tersenyum kaku, ada juga yang menangis pelan─mungkin karena mengerti, mungkin karena teringat hal yang sama di masa muda mereka. Suamiku menatapku. Matanya bukan marah, melainkan ada sesuatu yang baru: kini ia harus menimbang bukan hanya untung dan rugi, tapi juga kenyamanan dan kebahagiaan.
Retak di kotak adat itu tidak terlihat besar. Tapi, cahayanya sudah mulai masuk lewat situ. Anak perempuanku menggenggam tanganku saat kami pulang. Ia berbisik, “Ibu, bolehkah aku ikut les menggambar minggu depan?” Aku menekan pipinya, menahan kebanggaan yang membuncah. “Boleh,” jawabku. Jawaban sederhana itu terasa seperti bom kecil yang meledak lembut di dadaku─mengembang, memberi ruang.
Malamnya aku duduk menulis lagi. Kali ini bukan amarah, bukan dendam, melainkan daftar kecil: kelas menulis, les gambar untuk anak, jadwal untuk membaca bersama suami─aku sengaja memasukkan nama suamiku. Aku menulis dengan nada bercanda karena percaya bahwa humor kecil membuat perubahan tidak terlalu menakutkan.
Di dunia patriarki yang terbalut adat, suara perempuan sering dikendalikan seperti volume radio yang hanya bisa diatur oleh orang lain. Aku tak sedang melakukan revolusi megah akan hal itu. Aku sedang mencongkel sedikit baut di satu engsel pintu─cukup agar sehari nanti pintu itu bisa terbuka pelan. Cukup agar anak perempuanku tahu: kalau ada yang mengatakan “Tak bisa,” dia bisa menjawab, “Mengapa tidak?”
Retak bukanlah akhir; retak ialah bukti bahwa sesuatu bergerak. Aku menutup buku tulisku, menatap bayangan sendiri di cermin yang sedikit retak. Di sana ada garis halus─tanda umur, tanda perlawanan kecil. Aku tersenyum, mengecek kembali daftar besok─kelas menulis, menjemput anak, memasak untuk acara kecil. Hidup berjalan. Adat tetaplah adat. Tapi sekarang ada ruang kecil yang kami klaim. Ruang ini tidak bising, tidak gembar-gembor, hanya nyata─cukup untuk membuat seorang ibu menjawab, dan cukup untuk membuat sebuah keluarga menimbang ulang arti dari keseimbangan.
Di bawah lampu dapur, aku menaruh secangkir kopi dan buku catatanku. Retakan di kaca jendela memantulkan lampu kecil yang temaram. Aku menulis satu kalimat lagi: “Jika kita terus menaruh lampu, retak itu akan jadi jalan.” Lalu aku panggil anakku untuk tidur. Suara kecilnya memenuhi rumah─bebas, tidak takut. Aku merasa, untuk pertama kali dalam waktu lama, aku tidur tanpa menggantung mimpi di langit. Aku menaruhnya di meja, dekat tangan.
***
Pagi berikutnya, pasar masih riuh. Saat melewati lapak bumbu, ibu mertua memanggilku. Wajahnya terlihat sangat lelah, tapi matanya masih jernih saat ia menanyakan kelas menulisku, bukan dengan tatapan sinis, hanya tatapan penasaran. Aku bercerita dengan singkat. Ia hanya diam sejenak, lalu berbisik bahwa dulu ia juga suka menyalin pantun di kertas gula. Ia menghentikannya setelah menikah. Kami tertawa kecil, seperti dua orang yang menemukan kunci lama di dasar laci.
Siangnya, suamiku pulang lebih cepat sambil membawa koran desa. Ia menunjuk kolom baru di halaman belakang. “Kepala kampung membuka ruang tulisan pendek warga setiap bulan,” katanya. “Kalau kamu mau kirim, biar aku yang antarkan.” Suaranya datar, tetapi tetap ada celah kecil yang hangat. Aku mengangguk. Kami tidak membahasnya panjang-panjang. Kami menjemur pakaian, menyiangi cabai, lalu saling menatap saat angin lewat.
Malam itu, beberapa ibu datang meminjam panci. Mereka duduk lebih lama karena ternyata ingin tahu soal kelasku. Satu per satu mulai bercerita: ada yang ingin belajar menulis resep, ada juga yang ingin menulis doa untuk anaknya yang merantau. Kami membuat rencana sederhana. Hari minggu, setelah pergi ke pasar, kami akan berkumpul di teras rumahku. Tidak perlu mikrofon. Cukup pensil dan kertas.
Retakan itu berubah jadi garis yang bisa dilalui. Bukan jalan raya, lebih mirip setapak di kebun setelah hujan. Licin, tapi wangi. Kami melangkah pelan dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian.
