dokumentasi: HandhykaPermana
Rumah Tumbuh Muthmainah (Rutum) di Pamulang—sebagaimana kontrakan ini dimulai tidak hanya sebagai gudang buku dan workshop daur ulang kertas, tetapi juga tempat mengudar masalah, hiburan, politik, seni, budaya, dan sebangsanya. Pekarangan Rutum ini kemungkinan akan berisi tentang kisah-kisah alit dan koleksi plesetan Derida, pelaku humor yang kebetulan terombang-ambing di pelayaran musisi, yang bentuknya atau kehadiran dia saja sudah merupakan salah satu komposisi yang sangat humoristik.
Cara Derida nyeletuk humor di Rutum perlu dicatat. Agar penderitaan tak sekedar menambah jumlah kesengsaraan, tapi juga menghibur.
Menghibur adalah unsur pokok dalam koleksi humor Derida. Informasi dalam humor tersebut barangkali tak penting, sehingga gaya penyampaiannya pun amburadul. Tapi humor itu adalah cara Derida melihat segala problem yang menjadi tema oralnya. Dia selalu melihat hal-hal biasa nan remeh-temeh dengan kacamata tak lazim. Dia punya plesetan logika yang unik terhadap sesuatu masalah. Dia menjadi pemain yang lucu justru karena ketidakpahamannya terhadap problem-problem yang sedang dihadapi. Dia pakai mulut ceplas-ceplos buat mengutarakan suatu keadaan yang—susah-susah gampang—kalau menyoal realita hidup dengan tawa dan renungan.
Dan Nyeleneh adalah jalan yang dilaluinya untuk melindungi semua orang agar jangan terjebak keruwetan pikiran gara-gara mencoba memahami penjelasan-penjelasannya.
Sementara, perjalanan hijrah ke Pamulang mula-mula membawa saya numpang dari kontrakan ke kontrakan antar komunitas, lanjut ke kos-kosan lintas teman-teman perantauan, kemudian terus nekat menyewa kontrakan kecil yang bergelora kehidupan. Kontrakan ini kemudian diberi nama Rumah Tumbuh Muthmainah, biasa disebut Rutum, yang bel pintu rumahnya kalau diketuk berbunyi: Ya Ayyatuhan Nafsul Muthmainah. Wahai jiwa yang tenang. Aku panggil kamu di kegelapan.
Tapi Rutum ini tidak lantas membuat saya menjadi seniman ulung, menjadi sutradara mumpuni, menjadi musisi beken, menjadi apapun atau siapapun yang namanya tercatat di lembar-lembar kebudayaan mutakhir. Sedangkan teman-teman segenerasi saya, abang-abangan atau ade-adean angkatan, kebanyakan menjadi manusia sukses sebagai tauke, impresario, maesenas, tajir melintir, intelektual andal, cendekiawan paten atau penulis laris. Sementara saya tidak pernah mencapai suatu derajat terpandang untuk menjadi apa-apa atau siapa-siapa yang sedemikian penting perannya bagi masyarakat.
Rutum yang saya bersamai dan setiai selama baru beberapa tahun belakangan ini ternyata juga tidak akan pernah menjadi suatu gerakan seni, politik, sosial atau apapun. Rutum tidak menjadi komunitas, organisasi, kelompok sindikat tertentu atau apapun yang sejarah bisa melacaknya di peta aktivisme.
Rutum juga tidak menjadi seperti “Rumah Peneleh” yang sebagian penghuninya diyakini sebagai orang-orang terpilih, yang lantas kemudian menjadi Guru-Guru Bangsa. Karena di situlah rintisan nasionalisme Indonesia bermula. Itu tempat gemblengan, godokan atau semacam kawah candradimuka yang mengawali suatu pergerakan intelektual secara de facto. Itu rumah sederhana bagi orang besar “raja tanpa mahkota” yang melahirkan orang-orang besar pada masanya macam: Sukarno, Semaoen, Kartosoewirjo, Musso, Alimin, Tan Malaka, Agus Salim, dan nama-nama lain yang menghiasi buku sejarah Indonesia. Tapi Rutum bukan itu.
Syukurlah di tengah “kemiskinan eksistensi” saya dan Rutum itu tidak lantas membuat kami “caper” atau “akting”, mengumbar-umbarkan jasa perannya di depan orang banyak, dengan maksud supaya disangka penggerak utama dalam berbagai kegiatan kebudayaan. Karena semua hal yang berbau mengglorifikasi Rutum sangatlah tidak layak, tidak pantas, dan tidak memenuhi syarat. Saya sudah lacak apa yang cocok, tapi tak kunjung ketemu. Cuma agak cocok dengan kumpulan orang-orang yang lalai, yang hidupnya masih penuh dengan kelalaian di antara banyak hal termasuk masyarakat, dan ini tak bisa dibantah.
Rutum yang salah satu kebiasaannya adalah ngobrol ngalor-ngidul sampai pagi. Tempat “keranjang sampah” bagi sekian banyak orang yang datang lalu pergi dengan kadar dan intensitas problematikanya yang berbeda-beda. Plus kebiasaan lain yang baru-baru ini sering dilakukan adalah bermain playstation bersama (meski tidak tiap malam) yang kalau sekali main bisa puluhan jam terlampaui, lantas mau diklasifikasikan sebagai apa selain dari kumpulannya terbuang versi Chairil, paling klop memang sekumpulan orang-orang yang lalai. Sudah pasti itu. Tak kurang dan tak lebih.
Cobalah tengok sepanjang berproses “suara masyarakat sastra” hingga Rutum kegiatan yang paling gampang adalah menemukan orang-orang lalai. Secara khusus saya plus penghuni Rutum mengalami sekian banyak jenis-jenis kelalaian, kesengsaraan, kemalangan, dan sejauh ini yang paling banyak dianugerahi kesialan hampir komplit beserta seluruh keajaiban-keajaiban hidupnya. Seorator-orator ulungnya para pendiri Bangsa, HOS Tjokroaminoto, Sukarno, Agus Salim, Bung Tomo, Bung Hatta, Rasuna Said dan siapapun, tidak pernah saya dengar beliau-beliau itu pernah selalai Acil Dokumentator Rutum, berangkat kerja naik motor Astrea, pulangnya sesampai di rumah baru ngeh kalau kunci motornya jatuh di jalan. Karena rasa bersalah dia mencari setengah mati, dan betul saja kuncinya tergeletak di jalanan, tapi ajaibnya, kunci motornya itu sendiri ternyata terpental dari seluruh gantungan kunci, lalu hilang dan tak pernah ketemu.
Senekat-nekatnya Jenderal Soedirman tidak punya kenekatan khas Madura seperti Ubay pemain Surat Sobek, nyelonong begitu saja menyeberang jalan di atas zebra cross saat lalu lintas Jakarta ramai lancar, ketika diteriaki dan diberitahu untuk menunggu sebentar sampai lampu merahnya menyala baru boleh jalan, lantas dia menyangkal: “Oh, ada lampunya ya. Di Pamulang tak ada.”
Ki Ageng Selo yang ampuh tidak pernah punya kecerobohan melebihi Aldo Zakaria, yang kalau mondar-mandir di Rutum, selalu ada kejadian apa saja bisa jatuh, gelas pecah, kopi tumpah, dan sembarang kalir asal tabrak dengan serampangan kakinya saat melangkah. Paulo Coelho novelis Brasil itu pasti tidak punya kemirisan seperti Umam Dante vokalis Babaloman x Sadulur Sadayana, waktu itu masih bulan Ramadhan, sesudah sahur dan selepas subuh, secara mendadak blender kerjanya untuk ngebuburin kertas tiba-tiba pecah sendiri tanpa tersentuh. Padahal itu blender baru kebeli beberapa hari dengan cara ngutang, tapi kemudian pelan-pelan saya dekati ia penuh haru sekaligus tawa: “Kenapa? Subuh baru banget kelar. Matahari belum terbit. Bolehlah kali sebatang lagi sebelum menempuh puasa hari ini yang sudah pasti berat sekali rasanya, kan?”
Secerdik-cerdiknya Abu Nawas tidak punya kenakalan terselubung kemesraan sedekat Derida kepada Tuhan, datang ke Rutum bawa motor baru beli second dibayar nyicil, lalu tersebarlah bau bensin yang menyengat sekali, dan kemudian saya nyeletuk: “santer amat ini baunya.” Dia menjawab, “maklum, Bang, baru pertama kali diisi full tank itu.” Jawabnya setengah sombong plus ngeledek sambil nyengir. Tak berselang lama kemudian, saya menyuruh dia kembali mengecek kondisi motornya, lantas benar saja, tangkinya bocor alus, dan tumpahan bensin itulah yang sedari tadi menyerbak baunya. Seketika dia terang repot berusaha membetulkan motornya sendiri sambil mengucapkan sepatah kekhilafan: “Ya Allah, maaf, Ya Allah, saya tadi takabur. Maafin, ya, Ya Allah.”
Tentu saja semua ini saya tulis dalam rangka menyadari kerendahan saya dan kami semua penghuni Rutum. Itu kaca benggala betapa tinggi derajat atau maqom para pendahulu kita, sedangkan anak-anak muda yang bersama saya itu hanyalah segolongan orang-orang yang lalai: sesama pengobrol larut malam, yang sewaktu-waktu kalau Bertus dan Farhat sudah melafalkan secara serempak “more and more!” itu artinya kadang saya temani main PS, karena hiburannya kalau tidak menonton streaming pertandingan sepak bola, ya begitu itu.
Main PS semalaman hingga kesiangan selama 12 jam penuh sesuai waktu sewanya, seakan-akan mereka pemain pro player meski selalu lalai dalam latihan, sejumlah orang duduk menatap monitor yang sama saling adu ilmu, unjuk gigi dan uji mental. Mereka ini pandangannya pintar kalau soal membaca arah bola, pergerakan lawan, pamer skill, dan semacamnya, sehingga saya kewalahan mengatasinya kalau tidak pakai strategi, motivasi, dan mental-mentalan. Tiga hal ini pun telah diketahui mereka seperti Jose Mourinho yang mengerti persis keadaan internal dan kondisi kejiwaan para pemain Real Madrid di lapangan dengan tingkat ketajaman akurasi, kepekaan dan kecerdasan intelejen yang tinggi.
Saya dan segenap penghuni Rutum sudah sama mafhum kalau ada siapapun yang menuding kami dengan meremehkan maupun merendahkan. Karena kisah-kisah alit tentang dongengan semalaman suntuk, begadangan, main PS, dan sejumlah hal lain lagi itu bukan merupakan sesuatu yang paling penting menurut skala proyeksi nilai penulisan yang saya ungkapkan. Tetapi ada banyak sekali tema lain, peristiwa-peristiwa lain, tipikal orang-orang lain, sejarah-sejarah lain yang belum terbaca oleh generasi sekarang, terutama dalam hal kesadaran akan kesejarahan peta kritik sastra Indonesia, yang mungkin boleh dikata jauh lebih penting, namun urung saya tuliskan.
Saya belajar dari Simbah (Cak Nun) bahwa dalam hidup ini ada hal-hal yang sebaiknya dibuka dengan transparan, ada yang wajib ditutupi dan dirahasiakan, ada gradasi di antara itu. Rutum yang saya bersamai sementara harus lebih menahan diri untuk menceritakan sesuatu hal, karena ada pertimbangan manfaat atau keliru, karena ada perhitungan maslahat atau mudharat. Kami adalah generasi yang terputus dari mata rantai sejarah, karena memang ada sedemikian banyak peristiwa-peristiwa sejarah bangsa ini yang masih ber-“aurat” atau sesuatu yang memang harus ditutup-tutupi supaya generasi mendatang tidak mengerti akar dirinya dan tidak menjadi dirinya sendiri.
Yang mungkin bisa saya dan penghuni Rutum bagikan paling cuma menuruti apa kata Allah bahwa hidup itu La’ibun wa Lahwun. Hidup itu permainan dan senda gurau belaka. Hidup itu berkelakar. Kami semua masih tahapan berkelakar dalam hidup. Belajar mengolah keseimbangan antara over-tragik dan pasca-tragik. Bahagia dan sedih output-nya sama saja: kalau tidak ketawa, ya menangis. Penderitaan boleh mampir kapan saja semau-maunya, tapi jangan sampai penderitaan membunuhmu. Semua hal terutama kesedihan, kesengsaraan, kepedihan, kesialan silakan datang ke Rutum, supaya kami semua bisa mengakali itu untuk menjadi kegembiraan. Sebab kami tidak mau mendramatisasinya: menderita boleh saja tapi jangan terlalu menderita, demikian pun senang juga boleh tapi jangan terlalu senang. Biasa-biasa saja. Cukup juga penting!
Dan ingatlah kata Derida, pemain kita yang lucu itu sudah sampai plesetan intonasi dan plesetan aksen yang tidak semua pelaku humor mampu mencapai estetika itu dengan berkata bahwa hidup itu kadang naik, kadang turuuunnnnn. Naiknya lama, turunnya cepet kayak perosotan yang licinnya kebangetan. Naiknya sebentar, ndlosor atau jatuh tersungkur ke bawahnya bisa langsung seketika. Naiknya panjang, turunnya pendek. Tampaknya kami segenap penghuni Rutum adalah penerus paling setia dari Sisifus. Pewaris utama dari generasi buangan.
Tapi ampun beribu ampun siapa paham bicaranya Derida itu.
Pekarangan Rutum #1, 30 Januari 2026

