Hudson River, Logging (1891-1892)

Sudah berapa lama Soekamti tak tahu pasti. Ia telah menyasarkan diri ke lautan ketika terseret ombak sejak entah kapan, Soekamti tak pernah tahu pasti. Ia sendirian. Mengarungi lautan yang luas dan barangkali tak berujung. Tanpa arah kesimpulan yang jelas dan tak terbatas. Kendati demikian, Soekamti tak pernah hilang harapan. Asa selalu dikantonginya di antara ambang batas angannya. Ia selalu mengayuh dayungnya meski sesekali ia merasa lelah dan percuma.

Di hari keberapa, atau barangkali tak terasa sudah tahunan, Seokamti tak bisa mengingat betul. Di suatu siang yang terik, Soekamti menyeka tetesan keringat yang mengalir di dahinya dengan punggung tangannya yang juga dibasahi oleh keringat. Ia memicingkan mata. Menatap sengit ke depan. Tubuhnya terdiam sejenak, menghentikan kayuhan dayungnya. “Apa saya tak salah lihat?”, Ia sontak bertanya pada dirinya sendiri.

Soekamti seolah melihat tepian. Binar matanya menyala nyaris mengalahkan sorot matahari yang sedang bersinar. Terus terang, Ia belum pernah merasa sehidup ini semenjak pagi itu, seperti ketika hendak pergi berangkat melaut. Soekamti merasa senang, tapi tak lama kesenangan itu tidak lagi menyertainya. Karena Soekamti hanya mengira ia telah melihat tepian dari tengah laut, di atas permukaan air, yang seolah tenang tak bergelombang.

Akan tetapi, dengan mata yang berlinang air keringat, Seokamti tetap menatap ke depan, dengan seratus rasa penasaran dan tak mau cepat menyerah. Seokamti selalu menyangkal bahwa dirinya salah. Lalu, kembali mendayung dengan perlahan, amat sangat pelan berusaha meraihnya. Tapi semakin dekat, semakin nyata di depan mata. Bahwa tidak pernah ada tepian. Tidak ada daratan. Hanya hamparan air laut yang barangkali tak berujung.

Seokamti lantas berpikir sebentar, “apakah ini yang dimaksud contoh dari pareidolia, kondisi di saat pikiran manusia cenderung melihat pola atau bentuk yang familiar yang pernah dirasakannya waktu dulu dalam sesuatu yang samar dan belum begitu jelas? Atau barangkali ini adalah contoh sugestif, di mana harapan dan keinginan saya, dapat mempengaruhi persepsi saya tentang realitas? Terlebih, saya tidak begitu bisa ingat kapan terakhir kali saya tidur nyenyak, pulas, dan puas.”

Kenyataannya, Soekamti hanya melihat segenggam fatamorgana yang menggumpal membentuk ilusi optik dari proses pembiasaan rasa dan asa yang merangsek masuk ke dalam lapisan udara di sekitar permukaan kepala.

Seketika Soekamti terdiam. Nyaris tak ada lagi gerakan atau mungkin juga harapan. Hanya terdengar dengus napas yang panjang dan deburan air laut yang terhempas-hempaskan oleh angin. Dayungnya benar-benar berhenti mengayuh. Lantas Soekamti hanya terenyuh dan kebingungan. “Benarkan itu hanya sekadar ilusi yang saya buat sedemikian rupa dan berharap jadi nyata betulan?

Di laut itu, di samudra rahasia tanpa ujung, Soekamti berulang kali menantang Tuhan. Namun yang ia dapati hanya kesunyian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *