Jan Ladislaw Sýkora 1852-1928
Aku pernah tak sengaja mendengar ibu dan ayah bercakap tukar cerita sambil menunjuk pohon tua sebelum magrib menggema:
Mereka menanam pohon di waktu kelahiranku
Ayah membalik tanah dan ibu mengikat doa serupa tali
Lalu ari-ariku nyungsep ditelan merah tanah ini
Ayah menyiram dan Ibu menyusui
Kini dapat aku cium harum pohon tua itu
Sungguh pun pucat daun dan tak berbuah
Tapi pasti pucatnya mengandung hikayat;
Binatang menari dan tanaman merekah
Sesekali jadi tudung orang-orang bila siang menyengat
atau pelindung saat mega berubah mendung
Seperti hari ini;
Di depanku, kusaksikan ia berdiri gagah meski tanpa buah
Hanya kulit kecokelatan, daun menguning dan aroma tanah merah yang menguar kuat
“Aku bilang padanya usia kita mungkin sama.”
Ia tak bergeming, hanya daunnya yang gugur menyentuh pundakku
Aku bilang lagi usia kita sama,
ia tetap tak bergeming, cuma ada angin dan mega mengental di kening
Sekali lagi aku bilang padanya usia kita sama, melewati musim, menadah angin
kamu hidup-menghidupi meski tak berbuah, dan aku berdiri masih tak memberi
Seketika bisiknya lirih terbawa angin:
“Apa kau pernah mendengar cerita Santiago?
Si tua tolol yang bergelar Salao dan tubuhnya dikurung oleh beragam bentuk terburuk dari ketidakberuntungan,
Apakah kau juga ingin berlayar dengannya, bercakap-cakap perihal tanah merah atau laut megah?”
“Aku bukan Santiago, namun menarilah denganku sebagaimana Rumi menadah hujan bila kau ingin hidup, mungkin kau akan segera berakar ke bawah dan berpucuk ke atas. Sebab Ka handap teu akaran, ka luhur teu pucukan lebih buruk dari Salao.
Dan yakinlah dunia masih ingin menyaksikan sebiji tumbuh dari ari-ari kau.”
Maka yang maha Zat akan Turun bersama hujan bertuah
Sebab bulan menua
Tanah menua
Angin menua
langit menua
kian
Menua
Menelusup ke tubuh kita.
Februari, 2026

