Seharusnya Memang Tak Ada Bunga

Adolfo Hohenstein (1895) “Akhirnya kau mau bicara denganku, setelah semalaman diam.” kata Herman, setengah tersenyum, “Aku senang.” Sekar menyisir rambutnya yang tergerai sampai punggung dengan jari. “Aku diam bukan karena marah,” katanya. “Aku cuma capek.” “Capek kerja, atau capek karena aku?” “Dua-duanya, mungkin,” kata Sekar. ”Kau terlalu banyak pikiran. Ingat, kau harus selalu tenang, Sayang.” untuk … Baca Selengkapnya