Adolfo Hohenstein (1895)
“Akhirnya kau mau bicara denganku, setelah semalaman diam.” kata Herman, setengah tersenyum, “Aku senang.”
Sekar menyisir rambutnya yang tergerai sampai punggung dengan jari. “Aku diam bukan karena marah,” katanya. “Aku cuma capek.”
“Capek kerja, atau capek karena aku?”
“Dua-duanya, mungkin,” kata Sekar.
”Kau terlalu banyak pikiran. Ingat, kau harus selalu tenang, Sayang.” untuk sesaat mereka berdua tersenyum.
Februari di Jalan Braga adalah romantisme terbaik yang dimiliki Bandung. Lampu-lampu gedung tua peninggalan Belanda itu berkedip pelan dan bias di balik hujan. Sebuah kafe kecil berdinding bata itu menyala kuning, jendela-jendelanya berembun kedinginan. Di sudut kasirnya, lampion merah kecil sisa hiasan Imlek masih tergantung bersama aksara keberuntungan yang belum diturunkan. Itu semua berdampingan canggung dengan hiasan merah muda khas hari kasih sayang. Ya. Ini awal tahun 2006, tahun ketika kafe yang menjadi tempat berbincang yang asyik mulai banyak tumbuh di kota besar
Mesin espresso yang mendesis, melengkapi hujan yang jatuh berirama di luar. Di sudut lain, terdengar sebuah lagu Bintang Kehidupan dari Nike Ardilla yang mengaduk malam dengan berbagai macam perasaan yang tak pernah ada di menu.
“Lagu ini,” kata Herman sambil menginat sesuatu, “lagu yang sering kita dengar waktu pacaran, kan?”
“Kau selalu bilang begitu untuk lagu apa pun yang menyedihkan.” kata Sekar tersenyum, dan dunia terasa baik-baik saja.
“Sebentar lagi sebelas tahun kematiannya. Kau penggemar sejatinya, kan?” rayu Herman. Tangan Herman yang mendekati tangan mulus Sekar berhenti di tengah meja, seolah ragu menyentuh tangan Sekar atau tidak.
Sekar mengangguk pelan. “Aku ingat, orang-orang di kampus membicarakan kecelakaan itu. Rasanya, kematiannya menjadi kehancuran hati setiap wanita kala itu.”
”Juga kehancuran hati lelaki sepertiku.” sesaat keduanya diam. Mereka seperti berkhidmat mengenang sesuatu yang telah lama hilang meski bukan miliknya.
Seorang pelayan datang membawa makanan yang dipesan Herman sebelumnya. Sekar sepertinya tidak suka dengan pesanan yang datang. Herman memesan risoles dan beberapa kue cokelat, Sekar bilang terlalu berminyak untuk malam hujan. Tapi untungnya, dua mangkuk sup krim jagung kesukaan Sekar bisa menjadi penawar amarah yang pas.
”Di musim hujan, kita butuh yang berkuah dan hangat, kan?” tegas Herman. Mereka akhirnya tersenyum. Sepuluh tahun bersama cukup membuat mereka menjadi pasangan yang hafal cara mengalah tanpa perlu bertengkar soal hal kecil.
Di meja sebelah, sepasang muda-mudi saling menyuapi kue kemudian tertawa lumayan keras untuk lelucon yang mungkin tidak terlalu lucu. Tangan mereka bertautan di atas taplak putih seperti dua burung yang enggan berpisah. Namanya malam kasih sayang, banyak orang yang berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa cinta mereka baik-baik saja. Mungkin juga, termasuk Herman dan Sekar.
Lalu, entah bagaimana, seperti air yang perlahan menemukan celah di dinding, percakapan mereka bergeser.
“Namanya Bunga?” kata Sekar pelan, seperti mengucapkan sesuatu yang sudah lama ia simpan di bawah lidah. Ia jelas menunggu waktu yang tepat, atau sudah tak kuat menahannya.
Herman tidak menjawab segera. Sendoknya berhenti di tengah mangkuk sup.
“Aku tidak kenal,” katanya. Suaranya datar, terlalu datar untuk terdengar jujur.
“Aku melihatnya sendiri,” kata Sekar. Matanya mulai berkaca meski suaranya masih terkendali. “Di halte bus dekat kantorku. Kau menggandeng tangannya. Kau memeluknya, lalu menciumnya.” Suasana berubah jadi lebih canggung.
Pelayan itu datang lagi membawa nampan kecil dengan setangkai Bunga Peoni yang masih basah oleh embun pendingin. “Bunga impor,” katanya ramah, “didatangkan jauh-jauh dari Kunming khusus untuk malam ini. Setiap pasangan dapat satu tangkai sebagai hadiah dari kafe kami untuk hari kasih sayang.” Ia meletakkannya di antara mangkuk sup dan gelas air hangat di meja itu, lalu berlalu tanpa curiga.
Sekar memandangi bunga itu lama sekali, lebih lama dari yang seharusnya. Dari pandangannya, seolah bunga itu menjadi suatu petanda.
“Bunga yang cantik. Persis sepertimu.” kata Herman. “Kau tahu, Bunga Peoni memang selalu begitu. Di negeri asalnya, orang menyebutnya ratu dari segala bunga.”
“Aku memang suka bunga. Tapi sekarang, kita sedang membicarakan ’Bunga’ yang lain.” kata Sekar. Suaranya mulai retak di ujung kalimat. Herman hanya tersenyum, menghela napas panjang, seperti orang yang sudah lelah menjelaskan sesuatu yang tak akan pernah selesai dijelaskan.
Di luar, hujan makin deras. Bulir-bulir itu menetes dari atap seng warung seberang, seperti jari-jari kecil mengetuk kaca. Orang-orang di kafe itu tampak tak peduli.
“Dia menunggu bus?” kata Herman tiba-tiba, seakan membela diri dari tuduhan yang belum sepenuhnya diucapkan.
”Kau yang lebih tahu.” Sekar memalingkan wajahnya yang cantik ke arah jendela.
“Kalau memang aku bersamanya, kenapa tidak kuantar dia pulang? Aku punya mobil.” tegas Herman.
“Tapi kau menciumi rambutnya,” kata Sekar, “di depan orang-orang, seolah tak peduli. Dan kau menggenggam tangannya.” Sekar mulai menatap mata Herman yang menampakkan banyak pertanyaan. ”Keturunan Cina dengan rambut yang tergerai sampai punggung. Benar-benar seleramu.”
“Tak seperti yang kau pikirkan, Sayang. Aku….”
“Aku melihat kalian. Aku ada di sana, tapi kau tak peduli!”
“Tapi, kau kenal dia?”
Sekar diam sebentar, seperti mencari sesuatu di ruang gelap dalam dirinya sendiri. Ada jeda yang cukup lama sebelum menjawab. Jeda yang tak disadarinya sendiri.
“Aku pernah bertemu dengannya,” katanya akhirnya. “Entah di mana. Aku lupa. Tapi aku tahu, aku yakin sekali.”
Herman menatapnya lama. Di luar, sebuah mobil melintas, cahayanya memantul sekilas di kaca jendela. Sekilas, cahaya itu membuat wajah mereka berdua tampak terbakar sesaat, lalu padam.
”Kau mengenalnya, tapi aku tidak. Kurasa, di kota ini, seharusnya semua temanmu kukenal. Kita bukan siapa-siapa di sini.”
Sekar mengepalkan tangannya di atas meja, buku-buku jarinya memutih. “Tak usah berpura-pura, Herman.” katanya. Suaranya bergetar. “Kau harus tahu, waktu kau menciumnya, kau tampak bahagia. Wajahmu hanya tersenyum, dan dia memelukmu. Kemesraan yang sempat kukira hanya kau berikan padaku. Aku salah besar.” Sekar menunduk kemudian tetesan air mata mulai jatuh ke pangkuannya.
“Aku tak mungkin melakukannya.” kata Herman, suaranya melunak. “Laki-laki yang mencintaimu ini, tak akan pernah melakukan hal hina seperti selingkuh.” Herman melihat ke arah Bunga Peoni dan mengambilnya.
”Aku benar-benar tak mengenalmu.” kata Sekar, ”Tenang saja. Seumur hidupku, ini bukan kali pertama aku merasa sehancur ini.”
“Seumur hidupku,” kata Herman, “aku hanya bersumpah untuk mencintaimu, menyayangimu, dan melindungimu. Aku tak mungkin berkhianat. Kau tahu itu, kan, Sayang?” Herman berniat memberikan Bunga Peoni itu pada Sekar.
“Tapi ada Bunga di antara kita!” kata Sekar tegas, dan Herman urung memberikan Bunga Peoni itu.
“Bunga itu bukan siapa-siapa,” kata Herman. “Yang penting adalah cinta kita. Kalau bunga bisa menyakitimu sebegini rupa, mungkin bunga memang tak pantas lagi jadi lambang kasih sayang.”
“Yang tak pantas itu kau,” kata Sekar, suaranya kini tegas. “Sebaiknya kita berhenti di sini. Jangan pernah bertemu lagi setelah malam ini.”
Sepuluh tahun bersama memang bukan waktu yang sebentar untuk lika-liku percintaan. Herman menatap Sekar seolah baru pertama kali melihatnya sungguh-sungguh. Dia teringat peristiwa tragis delapan tahun lalu yang menimpa Sekar. Peristiwa kejam yang siapa pun tak sanggup membayangkannya.
“Kau hanya akan kehilangan aku,” kata Sekar, “bukan Bunga. Selama ini mungkin aku cuma angin yang lewat, tak berarti bagi lebah yang cepat atau lambat hinggap di bunga yang lebih segar.”
”Aku hampir kehilanganmu delapan tahun lalu. Aku tak rela jika harus benar-benar kehilanganmu malam ini, Sayang.”
Pelayan itu datang setelah Sekar memanggilnya dengan hanya melambaikan tangan.
“Kami bukan pasangan,” kata Sekar pada pelayan itu, suaranya tiba-tiba datar dan dingin, berbeda sekali dari suaranya semenit lalu. “Tolong bawa kembali bunga itu. Berikan pada dua orang yang benar-benar sepasang kekasih, yang tidak sedang berbohong satu sama lain di meja mereka.”
Pelayan itu ragu, hampir menolak. ”Tapi itu dari….”
Belum sempat pelayan itu menjelaskan, Sekar mengancam akan mengadu pada manajer bahwa pelanggannya dibuat tidak nyaman. Pelayan itu pun membawa kembali Bunga Peoni itu dari meja. Wajahnya kebingunan saat akan pergi.
“Yang membuatmu tidak nyaman,” kata Herman, matanya tak lepas dari wajah Sekar, “bukan kafe ini, bukan bunga itu, bukan aku. Tapi rasa sakit karena kekecewaan lama. Dan kaulah yang membangkitkannya sendiri, malam demi malam, tanpa kau sadari.”
“Dalam kasus ini, penyebabnya adalah kau dan perempuan bernama Bunga itu,” kata Sekar, keras kepala.
“Kalau itu benar, mengapa kau tidak mencegahku? Kau ada di sana.” tanya Herman, suaranya sabar, terlalu sabar untuk seseorang yang dituduh berselingkuh.
“Aku tak bisa langsung menghampirimu waktu itu,” kata Sekar. “Aku tak kuat menahan sakitnya. Aku capek.”
Herman mengangguk seakan telah mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Ia melangkah ke sisi meja, lalu berlutut sebentar di samping kursi Sekar, dan memeluknya pelan, seperti memeluk sesuatu yang bisa pecah kapan saja jika ia terlalu erat.
“Aku mengerti.” katanya, suaranya rendah, dekat sekali dengan telinga Sekar. “Kemarin, aku menjemputmu di halte dekat kantormu, Sayang. Kau bilang, kau sangat pusing waktu itu. Makanya aku langsung memelukmu, membawamu ke dalam mobil dan kau langsung tertidur di mobil.” bisik Herman.
Sekar terdiam sejenak. Dia mencoba mengingat sesuatu. Tubuhnya kaku seperti sedang mempertahankan sesuatu yang perlahan runtuh di tangannya sendiri.
Herman memeluknya lebih erat, menahan gemetar di bahu Sekar. “Tak pernah ada perempuan lain. Perempuan yang kau lihat bernama Bunga itu,” katanya, “adalah kau sendiri. Kemarin, aku menggandengmu, memelukmu, menciummu, di halte dekat kantormu.”
“Tapi aku melihatnya,” kata Sekar, suaranya mulai pecah, “bukan merasakannya. Aku ada di belakang halte itu. Aku cuma bisa melihat, Herman. Aku tak bisa apa-apa.” tangisannya kembali pecah.
Herman mencium kening lalu pelipisnya. Herman mengatakan bahwa ia sangat mencintainya, menarik tangan Sekar pelan, mengajaknya pulang. Sekar menepis. Meski lemah dan dengan suara terbata, Sekar berkata bahwa mereka sudah tak punya hubungan lagi.
“Sekar,” kata Herman, memegang kedua tangannya, “Percayalah padaku. Kau pasti bisa melewati ini.” air mata Herman meleleh di pipinya. Herman mencoba menahan sabar dan memahami perempuan yang menjadi istrinya itu. Dia ingat, ini bukan yang pertama Sekar menuduhnya selingkuh dengan istrinya sendiri.
Sekar terlihat kebingungan, mencoba mencari kesalahan dalam kalimat itu, seperti membolak-balik halaman buku yang sudah lama tak dibaca, tapi tak menemukan satu apa pun.
“Manusia paling konyol,” katanya lirih, hampir berbisik, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Herman, “adalah manusia yang memutarbalikkan fakta demi menyelamatkan dirinya dari kebohongan.”
Herman tidak membalas dengan marah, tidak juga membela diri lagi. Ia hanya mencium kening Sekar, lembut dan cukup lama. Bibirnya menyentuh kening paling dingin, meski isi kepalanya bergejolak.
“Sejak kejadian delapan tahun lalu,” katanya pelan, duduk kembali di kursinya. Ia menggenggam tangan Sekar erat-erat, “kadang, kau melihat dirimu sendiri sebagai orang lain. Dokter bilang itu bisa terjadi karena cara pikiranmu melindungi dirimu dari khawatir. Atau dari sesuatu yang terlalu berat untuk diingat langsung.”
Sekar menangis. Dari mulutnya terucap kata-kata yang tak jelas terdengar. Tapi Herman tahu bahwa Sekar sedang merasa kebingungan dengan semuanya.
“Kau hanyalah korban kebiadaban orang-orang itu. Kau tahu alasan kita meninggalkan Jakarta, kan?” tegas Herman.
Sekar menatapnya, matanya basah. Kali ini ia tidak membantah. Ia hanya diam, seperti orang yang baru saja berhenti berlari dan menyadari betapa jauh ia telah pergi tanpa tahu ke mana.
Mereka duduk dalam sunyi. Ini diam yang menyimpan sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih sulit dari sekadar cemburu.
Akhirnya mereka meninggalkan meja itu, berjalan melewati pasangan lain yang masih bertaburan bahagia di bawah cahaya lilin. Mereka tak tahu apa yang baru saja retak, pulih, kemudian retak lagi dengan cara yang berbeda. Sekar menoleh ke setiap meja yang ia lewati. Tak ada satu pun Bunga Peoni di sana, seolah malam itu memang tak seharusnya ada bunga sejak awal. Dan, hanya di meja mereka, bunga itu pernah diletakkan.

