Johann Baptist Drechsler (1756-1811)
Burung Gereja
aku membangun sarang
di atap rumah Tuhan
dari jerami dewi sri
yang terhampar
di tanah surgawi
: sehelai kasih, segumpal kisah
kun! jadilah rumah
setiap kali aku pulang ke rumah Tuhan
orang-orang memandang tajam ke arahku
seakan melempariku batu pertanyaan
tentang bagaimana caraku sembahyang
padahal sembahyangku hanya puisi:
membelai angin setiap hari
mengibas waktu hidup ini.
Dengan Puisi Kutantang Waktu II
memasuki ronde kedua, puisi yang kutikamkan ke jantung waktu itu dengan perlahan ia cabut, keluarlah jeritan nyaring dari berbagai ruang, menyerang telingaku dan merasuki tubuhku
o, dikum-diragum; enyahlah duka, enyahlah duka
bagai diserang tifus aku menggigil tak sadarkan diri, dan waktu merebut puisiku sambil menikamkannya ke jantungku
ya, dikum-diragum; matilah duka, matilah duka
maka, dalam tubuhku itu kenangan kalah telak oleh waktu, sebab puisi-puisinya lahir dalam napas kehidupan, menyerang jarak antara rindu dan dendam
: ong, samapun! namaku Indonesia, namaku Indonesia.
Burung Walet
telah punah beragam kisah
ketika musim ditandai siul
para pemburu
dan
di hutan hanya ada dendam
segala luka terjebak dalam
goa penderitaan
yang
tak mengenal batas usai
maut menerkam
selalu
waktu berulang kali
membisu.
Bogor, 2026

