Lebih Jauh dari Seribu Bulan dan Puisi Lainnya

Lebih Jauh dari Seribu Bulan dan Puisi Lainnya

Paul Nash 1889-1946

Lebih Jauh dari Seribu Bulan

menziarahi malam
menabur bunga pada ruas-ruas hati yang biru lebam
merapal puja-puji pada singgah yang lekas pergi

air mengalir untuk
bebunga yang gagal semi
di telaga perenungan
aku membasuh dada
pada dendam yang bergelantungan

meski ruang tamu terlihat jelas dari ambang pintu
kaki masih terbelenggu untuk datang ke hadapan-Mu

sebab pulang kini lebih jauh dari seribu bulan

dalam marah tak jarang kupinta pertolongan
untuk kembali mengenal perbedaan waktu antara siang dan malam

ada mata-mata yang lambat diistirahatkan
dan hati yang tak kunjung
digerakan

deru papan ketik bersautan
adalah pengganti doa-doa
malam yang batal dipanjatkan

di telaga perenungan

aku menabung pilu untuk
rindu yang tak pernah berkecukupan
dan pinta yang tertunda
kutata rapi sebagai bekal perjalanan

sebab pulang kini lebih jauh dari seribu bulan.

Menjelang Kemarau dan Kita yang Semakin Lelah

kini atap mulai mengering kala waktu merengkuh pagi

semburat cahaya menyelinap
di antara antrian POM bensin

sedikit nakal; menggoda dan mencium tetesan yang terbaring di dahi aspal

aromanya menyeruak,
berlari-lari kecil ke sela-
sela hidung pelanggan

dan cerah mulai singgah di pelataran sore yang kian ramah
langit ikut bersolek menyambut terang yang kian berkelindan
datang menawarkan kudapan; sepotong kemungkinan dan secangkir kehangatan yang samar

ditelan tanpa kata
dan diteguk tanpa tanya

dunia hanya punya dua warna
untuk melukis kepala manusia
saat berganti, semuanya bersorak
namun tak lama jengah,
dan coba mengelak

barangkali manusia memang
selalu jatuh cinta pada pergantian

kemarau dinanti karena
orang senang menari
di bawah cerahnya

tapi tak ada yang tahan pada keringnya
penghujan dinanti karena
tiap rintik menguatkan arti
rumah sebenarnya

tapi tak ada yang betah pada dinginnya

setiap tahun tuhan
memotret hasil lukisan-Nya
menghias, membingkai, menggantungnya di selasar surga
sembari menunggu kepulangan ia menelisik karya lama-Nya

senyumnya mengempis; barangkali iba atau barangkali kecewa

di antara dua warna yang padu-padan
ada satu titik jenuh yang terus bersedu-sedan

ada kita yang semakin lelah
yang kian lindap ditelan gelap
kering layu dibakar sendu
berteriak parau di awal kemarau

dan sore hanyalah hiasan yang tak pernah singgah
di selasar pengelihatan

hangat angin sebatas bayang-bayang di lorong hati

kita yang lelah menanti; merdu denting lonceng kepulangan dan lembut kecupan mentari

sebab tidak ada senja lagi di kilau mata orang mati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *