Pada hari rabu—22 april 2026, tepat ketika Hari Bumi dirayakan, saya berdiri di Kampung Pensiun-Cianten, Desa Purwabakti, Kecamatan Pamijahan—Kabupaten Bogor, dan memandang reruntuhan rumah warga yang diakibatkan oleh banjir dan longsor. Tanah yang basah sedikit menggunung itu, yang berbau akar plus lumpur, kiranya adalah suasana yang tidak bisa diutarakan sekalipun oleh kata-kata. Melihat peristiwa itu, saya ujug-ujug terkenang akan kisah (lalakon) yang dituturkan Mbah Kaca, yang saya dengar sekitar tahun 2020, (salah seorang warga Purwabakti yang dianggap setengah waras oleh tetangga dan sanak saudaranya) mengenai kisah runtuhnya “Taman” dan meluapnya “Air”. Jika kita lebih percaya bahwa Mbah Kaca setengah waras, mengapa kisah itu tidak hanya diketahui oleh masyarakat Purwabakti (atau Mbah Kaca) saja, tetapi diceritakan pula oleh masyarakat Puraseda, misalnya tuturan yang Mbah Rohman dan Mbah Adja (yang oleh masyarakatnya sama sekali tidak dianggap setengah waras) itu beritahukan pada saya. Desa Purwabakti dan Puraseda sendiri secara kesamaan dinaungi oleh pegunungan Halimun Salak, orang-orang yang bisa kita sebut sebagai masyarakat penghuni lereng dan lembah.
Kisah itu (folklore), menariknya konon telah hidup secara turun temurun dari mulut-mulut orang tua yang tinggal menunggu besok atau lusa berakhir laku hidupnya. Pada intinya dan secara singkat, kisahnya itu menceritakan bahwa, suatu hari aliran sungai yang telah diubah-ubah oleh tangan manusia itu, yang dibendung, dialihkan, dipaksa mematuhi lanskap wilayahnya, pada waktunya (wayah) akan berbalik pulang kepada jalannya semula, menyebabkan air bah yang meluap. Lalu, “Taman” (istilah lokal untuk menamai pegunungan Halimun Salak) hamparan pegunungan yang melingkupi desa, pada waktunya akan bergerak, melongsor-timbunkan apa yang ada di bawah dan sekitarnya, serta akan mengembalikan tata letak alam kepada kehendak yang lebih purba dari kehendak apa yang diharapkan manusia.
Mendengar kisah setengah ajaib-memukau itu, dan sebelum terjadi bencana di kedua wilayah tersebut, tentu sebagai manusia yang kurang senang dengan dimensi kegaiban—saya acuh tak acuh mendengarkannya. Tapi kini, ketika melihat apa yang terjadi, saya rasa kerja folklore (untuk mengatakan kisah-kisah yang diturunkan secara turun-temurun) di satu sisi bukan dongeng semata. Ia suka tak suka mengais pula dimensi ilmu pengetahuan. Sebab realitasnya, Desa Purwabakti kini berada di Ring-1 kawasan Geothermal, tepatnya di sekitar Gunung Halimun Salak (sedangkan wilayah Desa Puraseda berada di Ring-1 kawasan Geopark Pongkor). Kita tentu akan langsung sadar, pengeboran urat bumi demi energi itu telah berlangsung beratus-tahun, yang secara dampak akan mengubah tekanan dalam perut bumi, akan mempengaruhi pergerakan air bawah tanah, dan tentu saja akan melemahkan struktur geologi yang menopang lereng-lereng di atasnya. Ilmu bumi modern dengan segala instrumen metode plus jargonnya, saya rasa, baru kini mulai mendokumentasikan apa yang sudah lama diketahui oleh ingatan kolektif masyarakat kita sendiri, dan sialnya itu diturunkan melalui sebuah lalakon.
Ketika saya mengelaborasi kisah yang diceritakan (lisankan) dan apa yang mesti saya tuliskan terhadap peristiwa bencana itu, kata Pucklore muncul dan terucap dalam benak saya. Kesadaran atas istilah itu, saya rasa, bukan hanya karena momentum longsor dan banjir, bahkan melebihi kesadaran saya sendiri yang kelongsoran plus kebanjiran fenomenologi atas peristiwa tersebut. Entah, apakah kesadaran ini mencoba menguji saya yang selama ini berdiri di persimpangan yang lebih mendesakkan persoalan estetika postmodern, dibanding belajar tentang pengetahuan lampau yang sedang sekarat. Karena pengetahuan (folklore) itu sendiri tidak berbicara dalam bahasa yang digemari generasi saya, bahkan secara umum tidak diakui oleh kaum elite ataupun kekuasaan laku kerjanya.
Mencari Peta yang Lisan dan yang Tertuliskan
Seusai mendapati istilah Pucklore secara ujug-ujug itu, sesegera mungkin saya mencari belantara sumber: dari lokal, nasional, dan bahkan internasional terkait adakah istilah itu pernah dipakai, jika ada siapa yang menginisiasinya, dimaksudkan pada arti dan bermakna apa, dan seterusnya. Pencarian cepat yang saya tempuh, belum saya dapati penjelasan tentang istilah Pucklore secara detail-mendalam itu pernah digunakan untuk, oleh siapa, dan untuk apa, sebab yang saya temui malah istilah: Folklore, Fakelore, dan Fucklore. Dari ketiga istilah itu, kesamaan bunyi (dan sedikit arah tinjauan) hanya dapat ditemui pada istilah Fucklore. Dengan demikian, sebelum memasuki wilayah kemungkinan Pucklore yang hendak saya tempuh, kiranya perlu untuk kita ulas istilah ketiganya sebagai pijakan sekaligus lawan atau ruang dialognya.
Pertama, Folklore, kita tahu bahwa folklore merupakan warisan pengkaryaan paling terbuka yang dimiliki manusia. Ia tidak lahir dari tulisan seseorang, melainkan dari kerja budaya antar mulut ke mulut yang berlangsung selama berabad-abad. Ia anonim bukan karena pengarangnya tak dikenal, melainkan karena pengarangnya adalah semua orang sekaligus tidak ada seorangpun yang berhak mengklaimnya. Folklore hidup dalam penularan dan penyebaran plus akan berubah sedikit demi sedikit setiap kali diceritakan ulang, seperti sungai yang menggeser tepiannya tanpa pernah berhenti mengalir. Namun kini, Folklore terancam menjadi artefak yang mungkin akan lenyap-terkubur. Dampaknya, selain bermula dari kerja transkripsi akademik yang hanya tersimpan di rak perpustakaan dan tidak pernah kembali kepada masyarakat yang melahirkannya, ia juga masih sering disakralkan sedemikian rupa, sehingga tidak bisa disentuh, tidak bisa diteruskan, dan tidak bisa hidup berkembang. Kesakralannya itu sendiri serupa penjara, dan suka tak suka akan menjadi kuburan hidupnya.
Kedua, Fakelore, suatu istilah atau pandangan yang dipopulerkan oleh folkloris Amerika, bernama Richard Dorson pada 1950, sebagai upaya mereaksi fabrikasi identitas yang menyamar sebagai tradisi rakyat. Paul Bunyan salah satu contoh klasiknya, si penebang pohon raksasa Amerika, sebuah karakter yang diciptakan oleh kepentingan industri kayu, lalu dipasarkan sebagai legenda asli rakyat Amerika. Fakelore lebih dari sekadar tipu muslihat yang berpura-pura tua. Ia memakai kostum keaslian untuk menjual sesuatu, baik itu pariwisata, komoditas politik, maupun narasi nasionalisme yang butuh ornamen validasi. Di Indonesia, kita tidak kekurangan contohnya, ada brosur-brosur wisata yang memanipulasi cerita rakyat, festival budaya yang menampilkan versi steril dari tradisi yang sesungguhnya yang jauh lebih liar dan kompleks, bahkan pengakuan warisan budaya yang lebih didorong oleh rivalitas antar negara atau bahkan antar kotanya sendiri daripada penghormatan sejati kepada komunitas yang menghidupinya.
Ketiga, Fucklore, sebuah istilah yang diinisiasi oleh Will Shetterly dan Emma Bull, yang bermula dari lingkaran penulis fiksi fantasi (lagi dan lagi) Amerika pada akhir abad ke-20. Fucklore berupaya mencapai puncak tertinggi pemberontakan. Ia lahir dari kemarahan terhadap kemapanan tradisi yang digunakan sebagai alat penindasan, tradisi yang dipolitisasi, tradisi yang dikomersialkan, atau tradisi yang dijadikan dalih untuk mengekang kreativitas seseorang. Fucklore membedah Folklore dengan semangat punk, kebebasan, konfrontatif, dan sengaja menghancurkan romantisme masa lalu untuk meneriakkan kebenaran individu-kelompok secara radikal. Saya melihatnya, jika Folklore adalah ruang arsip sejarah, maka Fucklore adalah orang yang melempar bom ke jendela ruang arsip sejarah itu sendiri. Namun, Fucklore dalam keberaniannya, saya rasa membawa serangkaian capaiannya atas masalahnya sendiri: ia menghancurkan tanpa menawarkan bangunan pengganti. Ia terlalu asyik dengan energi destruktifnya, sehingga lupa bahwa ada sisi lain pengetahuan dalam Folklore yang pada dasarnya sungguh berharga.
Selain dari ketiga itu, sebetulnya ada dua istilah lain yang mengarah kepada geliat folklore, dan kiranya perlu kita singgung sebagai batu pijakan lainnya sebelum memasuki ruang Pucklore. Istilah Folkloresque dan Urban Legend (Legenda Urban). Folkloresque, istilah yang secara sistematis dirumuskan oleh Michael Dylan Foster dan Jeffrey A. Tolbert dalam The Folkloresque: Reframing Folklore in a Popular Culture World (2016), sebuah fenomena di mana karya budaya populer seperti, film, komik, video game, novel, dan seterusnya, yang meminjam estetikanya, suasananya, atau struktur folklore tanpa benar-benar mengklaim bahwa itu bersumber pada geliat folklore. Ia menghadirkan rasa dari sesuatu yang tampak kuno, mistis, dan berasal dari mulut rakyat, padahal ia bermula dari produk dapur industri budaya modern. Sedangkan Urban Legend adalah istilah yang dipopulerkan oleh folkloris Jan Harold Brunvand melalui serangkaian bukunya sejak 1980-an, yang secara kerjanya ia merujuk pada cerita-cerita yang beredar secara lisan, di antara masyarakat modern kota, yang dipercaya sebagai kejadian nyata oleh penceritanya meskipun sering kali tidak dapat diverifikasi haluannya.
Berbicara mengenai keduanya, kiranya folkloresque cenderung mengambil kulit folklore dari simbolnya, ikonnya, suasana gelapnya, tapi tanpa benar-benar mengambil isi yang sesungguhnya. Ia seperti meminjam tanpa berhutang. Ia mengeksploitasi estetika ketakutan dan keajaiban yang dibangun oleh komunitas selama berabad-abad, lalu menjualnya kembali kepada komunitas itu dalam bentuk yang sudah steril, sudah dipasarkan, sudah aman untuk dikonsumsi. Lalu, Urban Legend kiranya mengacu pada kerja ambiguitas, ia tidak pernah mengklaim dirinya sebagai fiksi, ia selalu hadir sebagai kisah nyata yang dialami seseorang dari seseorang. Di sinilah Urban Legend lebih dekat ke struktur Folklore klasik daripada Folkloresque yang bergerak melalui kepercayaan. Namun, Urban Legend jelas berbeda dari Folklore dalam hal akarnya: jika Folklore klasik tumbuh dari hubungan komunitas dengan lingkungan ekologis dan kosmologis mereka secara bergenerasi, Urban Legend tumbuh dari kecemasan-kecemasan baru yang dihasilkan oleh kehidupan kota modern, ketakutan terhadap orang asing, terhadap teknologi, terhadap institusi yang tidak dapat dipercaya.
Dengan demikian, setelah menyusuri peta posisi berbagai sumber istilah di atas, peta Pucklore yang sedang saya bangun adalah bahwa, Folklore berdiri sebagai sumber; Fakelore berdiri sebagai penipuan yang mengaku sumber; Fucklore berdiri sebagai bom yang dilempar ke arsip sumber; Folkloresque berdiri sebagai industri yang meminjam estetika sumber; dan Urban Legend berdiri sebagai sumber yang masih hidup tapi sudah kehilangan tanah garapannya; maka Fucklore, saya rasa, harus menyatukan semuanya, berdialog dengan semuanya, berdiri tidak lebih atas dan tidak lebih bawah, ia seakan berdiri ambang antara.
Menyusun Medan yang Lisan dan yang Tertuliskan
Melalui berbagai sumber itu, apa yang mesti saya uraikan secara mendalam mengenai Pucklore? Saya rasa, sejak mulanya, apa yang terpikirkan penyoal Pucklore dalam benak saya adalah sesuatu, mungkin seperti ambang, ke dan di antara, sesuatu wilayah folklore dan wilayah realitasnya. Setelah saya mencari sumber lanjutan, ternyata ada suatu kejutan. Kata Puck (úca, Pooka, atau Pwca) sendiri pernah dipakai dalam sosok trickster dalam mitologi Celtic, yang kemudian diabadikan oleh Shakespeare dalam A Midsummer Night’s Dream. Puck itu bukan dewa, bukan iblis, bukan pula pahlawan, ia didesain sebagai makhluk ambang atau liminal yang cerdik dan gemar menyesatkan. Namun, berbeda dengan trickster yang jahat, Puck tidak menghancurkan hutan. Ia menyesatkan orang di dalamnya, agar mereka yang disesatkan dan dalam ketersesatan itu—menemukan keajaiban yang selama ini luput dari mata mereka. Puck bertindak sebagai sesuatu yang mengacaukan plus membuka sesuatu kemungkinan atas hidup, bukan untuk merusak kehidupan itu sendiri.
Membaca kisah si Puck itu, kiranya Pucklore yang hendak saya tuju memiliki visi-misi yang sedikit mirip, tapi tidak benar-benar sama. Jika sebelumnya dibahas Fucklore serupa ledakan yang bermaksud menghancurkan tatanan lama, maka Pucklore saya tujukan sebagai navigasi. Lalu, jika Folklore adalah laku sungai yang mengalir dari generasi hulu ke generasi hilir, maka Pucklore adalah orang yang tahu betul lekukan dan lajur berbagai muara sungai, dan dengan penuh kesadaran menambahkan satu tikungan baru yang terasa seperti sudah ada sejak dahulu kala. Dengan bahasa lain, istilah Pucklore saya upayakan sebagai ambang antara yang lisan dan yang tertuliskan, sebuah kerja pengkaryaan yang secara sadar “mereaksi plus mengarang kembali” kehidupan mitos dan realitas, tapi bukan untuk menipu seperti Fakelore, melainkan untuk menghidupkan esensi atas ke-ambang-annya. Pucklore di satu sisi, agaknya memang dekat dengan jalan lain Fakelore, tapi Pucklore jelas mengais nurani dan kejujuran sejak mulanya.
Misalnya, dalam kerja Pucklore ini, saya bayangkan penulis (pencerita) harus mengakui bahwa karyanya adalah sebuah karangan, yang tentu saja tidak akan ada klaim palsu tentang keaslian kisahnya. Lebih jauh dari itu, tidak akan ada huru-hara bahwa teks kisah ini ditemukan di goa atau diwariskan oleh leluhur secara turun temurun plus secara misterius. Namun, pada saat yang sama, karya Pucklore ditenun dari serat-serat yang sama dengan yang melahirkan Folklore, dari kecemasan dan harapan kolektif, dari ingatan yang setengah terlupa, dan dari pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab oleh satu generasi pun. Lalu Pucklore juga akan mengais dimensi Fucklore yang mempertimbangkan kisah tradisi yang sudah tidak relevan, yang secara sadar mesti dibunuh agar melahirkan kisah baru yang dekat dengan realitasnya hari ini. Tentu saja, ini bukan suatu usaha untuk merekayasa budaya, saya rasa, ini serupa navigasi atas respons organik seorang pengkarya terhadap kenyataan hidup komunitas yang ia tinggali, atau yang ia dapati dari warisan masa lampaunya.
Dengan demikian, pertanyaan yang relevan bagi Pucklore bukan tentang apakah cerita ini benar-benar terjadi di masa lalu?, tetapi apakah cerita ini benar-benar mewakili jiwa kita hari ini? Pada titik tersebut, tentu akan ada pertanyaan lanjutan yang muncul merespons, bukankah banyak penulis besar Indonesia juga sudah melakukan hal yang sama serupa itu, yang menulis dari kecemasan kolektif, mempertimbangkan tradisi, dan sebagainya itu? Apa yang membuat Pucklore berbeda dari karya sastra secara umum yang terinspirasi tradisi-budaya dan sejarah?
Saya rasa, jawabannya bukan terletak pada isi, melainkan pada mode sirkulasi dan niat atas usaha membentuknya. Tentu kita tahu, bahwa sastra bergerak dari pengarang, melalui sebuah teks, dan diperuntukkan kepada pembaca. Dan ada legitimasi yang sering melingkupinya: ada penerbit, ada kritikus, ada penghargaan, dan sastra (modern pada umumnya) bukan hidup karena cerita berkembang di mulut pencerita. Sekarang kita lihat Folklore, ia bergerak dari kisah yang lahir secara komunal, melalui mulut ke telinga, dan diperuntukkan kepada komunitasnya. Legitimasi yang melingkupinya hanya dari kepercayaan kolektifnya itu sendiri. Lalu, persoalan nama pengarangnya jelas anonim, tidak seperti sastra (modern). Teksnya selalu berubah dalam setiap penceritaan pewaris yang bercerita. Maka, Pucklore mencoba tumbuh dengan cara yang serupa folklore (mode lisan) tapi dalam kerja tulisan, mengais fakelore sebagai medan propagandanya, dan menajamkan arah pertimbangannya serupa fucklore.
Ini bukan kebimbangan, tapi dimensi ambang antara. Jelas, Pucklore dengan kesengajaannya yang sadar, dan inilah yang membedakannya dari Fakelore maupun fucklore. Seorang pengkarya Pucklore bagaikan tukang kebun yang menanam benih berbagai tumbuhan fucklore, fakelore, sampai Urban Legend, sebab ia merasa semuanya merupakan tanaman yang bernilai sebagai panganan ilmu pengetahuan. Mungkin saja ini lebih sejalan sinkretisme, sebuah upaya menyatukan segala sesuatu agar melahirkan sesuatu yang lebih baru. Tapi yang jelas, Pucklore harus patuh pada DNA aslinya berbentuk legenda, dongeng, babad, wawacan, mantra, atau silsilah peristiwa yang setengah nyata—setengah mitos, atau cerita berlapis yang membutuhkan komunitas untuk menguraikannya bersama.
Pucklore: Sebuah Manifesto?
Dalam tradisi-kebudayaan Nusantara, khususnya Sunda, ada tegangan produktif antara yang lisan dan yang tertuliskan. Sastra lisan, baik itu carita pantun, wawacan, guguritan, dan sebagainya, hidup dalam kerja pertunjukan, dalam pertemuan antara suara dan telinga. Sementara naskah, baik di media lontar, gebang, dan sebagainya, yang ditulis serupa kitab, menyimpan pengetahuan dalam keheningan aksara yang digoreskan. Namun, yang sering terabaikan adalah bahwa naskah-naskah itu pun tidak pernah sepenuhnya mati dalam bentuk tertulisnya. Mereka hidup kembali setiap kali dibacakan, dan dalam pembacaan itu, mereka akan berubah fragmen kisahnya. Begitu sebaliknya, seorang pendongeng yang melantunkan kisah Para Putera Rama dan Rahwana misalnya, tidak membacakannya persis seperti yang tertuliskan. Ia menafsirkan, menambah, mengurangi, menyesuaikan dengan penonton malam itu, dengan kejadian yang biasanya baru terjadi di kampung itu pada beberapa waktu yang lalu.
Oleh sebab itu, tulisan adalah sebuah titik tolak, bukan ruang penjara. Dan Pucklore mencoba mengambil pelajaran atas dinamika itu. “Yang Lisan” dalam Pucklore adalah energi purba, ia serupa desas-desus di warung kopi, di pos ronda, atau mantra yang diwariskan setengah karena lupa, memori hantu penjaga yang bersembunyi di balik rimbun pohon bambu, atau pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak-anak kepada neneknya di malam yang diterangi obor sebelum marak tenaga listrik. Hal itu, saya rasa, adalah getaran yang ada sebelum kata-kata mampu menuliskan semuanya. Sedangkan “yang Tertuliskan” dalam Pucklore adalah proses kreatif individu, ia keterampilan menggores pena yang memberi struktur pada kabutnya sebuah kisah, yang menangkap getaran berbagai “yang lisan” itu sebelum hilang, yang memberinya bentuk yang cukup kokoh agar dapat dipelajari nilainya di kemudian hari.
Pucklore, saya rasa, tidak harus bertujuan membekukan yang lisan menjadi benda mati di dalam buku. Sebaliknya, tulisan dalam Pucklore berfungsi sebagai ruang menciptakan kembali dan terus berevolusi kembali. Pucklore semacam pertemuan antara otoritas individu (penulis-pencerita yang berani mengambil tanggung jawab menciptakan) dan otoritas kolektif (masyarakat yang berhak mewarisi, mengubah, dan meneruskan). Pucklore tidak memilih salah satu dari keduanya, ia berdiri tepat di titik pertemuan antara mereka. Melalui ambang antara pertemuan itu, saya yakin Bogor bisa mencoba Pucklore sebagai latihan pembelajaran bersama. Sebab kita tahu, Bogor merupakan kota yang kaya akan ingatan, namun miskin bagaimana cara untuk mempertahankan dan mengembangkannya. Ada legenda Prabu Siliwangi yang masih berbisik di tembok dan batu tua tanpa jelas juntrungan kisahnya. Sungai-sungai yang menyimpan nama-nama tapi artinya sudah tidak dimengerti oleh yang menamainya. Bahkan, setiap kampung punya ceritanya sendiri, bagaimana sosok macan, ikan, ular yang bisa berubah wujud, atau tentang pohon yang tidak boleh ditebang karena angker, tentang sumber air di gunung yang dijaga makhluk gaib. Cerita-cerita itu bukan sepenuhnya takhayul. Cerita itu sudah seharusnya dimaksudkan sebagai sistem pengetahuan ekologis-sosial yang disegarkan kembali kisahnya, agar tidak tersimbolkan dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh yang mau mendengarkannya secara cermat dan dengan penuh rasa sabar.
Mari kembali ke persoalan bagaimana peran Geothermal yang mengebor urat gunung Halimun Salak, Geopark Pongkor yang menggali harta karun emas Halimun Salak, dan lalakon Taman dan Air versi Purwabakti dan Puraseda. Saya rasa, kisah tentang taman dan air itu, yang kini secara kenyataannya kita temui sebagai banjir dan longsor, bukan ujug-ujug sebagai bencana tak terduga, melainkan sebagai jawaban alam atas pertanyaan yang selama ini kita abaikan dalam ilmu pengetahuan tutur. Folklore, yang tersebar itu tahu akan prediksi hidup mendatang, walaupun hidupnya kini sedang sekarat di pangkuan generasi yang diwariskannya. Di sinilah Pucklore bukan sekadar gaya-gayaan konsep atau metode, sebab ia dalam cara berpikir dangkal saya, adalah sesuatu yang menyerupai tindakan kebudayaan untuk mendesak kemacetan pengkaryaan untuk pembelajaran hidup bersama. Para pengkarya Bogor khususnya, hari ini memiliki tanggung jawab ganda: selain mendengarkan sisa-sisa Folklore yang masih berbicara dan mendokumentasikannya, harus pula menciptakan Pucklore yang baru—hasil mempertimbangkan folklore lama yang layak untuk diwariskan. Pucklore jelas-jelas bukan teori, ini saya ajukan sebagai jalan lain tentang cara kerja budaya yang harus kita tempuh-jalani.
Syahdan. Di rumah (skriptorium waktu), tepat ketika hujan cukup deras mengguyur tanah Bogor ini, saya masih ingat aroma tanah di Purwabakti ketika siang kemarin saya injak. Bau yang sekali lagi tidak bisa diutarakan oleh kata-kata, tapi jelas akan segera kita kenali oleh siapa saja yang pernah berdiri di tanah yang baru saja longsor, ketika campuran antara perut tanah yang terbuka, akar yang tercerabut, dan air keruh yang masih mengalir mencari lajurnya yang terbendung. Folklore versi Purwabakti dan Puraseda adalah salah sekian contoh lain dari sekian banyak pengetahuan Bogor yang dinaungi folklore itu sendiri. Folklore akan selalu berkata dalam bahasa yang paling arkaik, penuh imaji, penuh peringatan, dan kerja bahasa yang tidak membutuhkan jurnal ilmiah untuk diterbitkan, sebab ia sudah terbit di mulut-mulut masyarakatnya, yang entah sejak kapan. Dan sekali lagi, ilmu pengetahuan modern yang kini baru menyusul, dengan data dan grafik serta metodologinya, hanya untuk mengkonfirmasi apa yang sudah lama diketahui oleh ingatan kolektif leluhur kita.
Itulah mengapa Pucklore lahir dari momentum ambang itu, dari kesadaran bahwa ada jarak yang tidak seharusnya ada antara pengetahuan yang hidup di mulut dan pengetahuan yang dianggap sah oleh institusi kapital. Dan bahwa para pengkarya, para penulis, para pegiat budaya, memiliki peran yang tidak bisa digantikan oleh siapapun, sebab ia akan menjadi jembatan antara kedua dunia itu. Bukan dengan membohongi satu dunia demi dunia yang lain. Bukan dengan mendramatisir yang sudah dramatis atau menyederhanakan yang sudah kompleks. Melainkan dengan mengais dimensi Puck, si trickster yang bermain di ambang antara, yang tahu betul batas-batas hutan tapi tidak pernah mau tinggal di satu distrik saja.
Paralun. Saya tidak bermaksud menawarkan istilah Pucklore ini untuk diamini, bukan pula sebagai gelagat manifesto, sebab saya hanya sebatas menuangkan keresahan yang menimbun diri saya sendiri. Semoga catatan kecil ini, walaupun bahkan belum mewujud setetes pun, setidaknya bisa menjadi peta perjalanan untuk siapapun yang merasa tinggal di antara dua dunia itu, antara yang lisan dan yang tertuliskan, antara yang asli dan yang direka, antara tradisi yang sekarat dan imajinasi modern yang belum menemukan bentuknya, kiranya bisa mencoba peta rekreasi ini. Sebab, apa-apa yang dinaungi pegunungan Halimun Salak, menurut keyakinan penuh saya, masih menyimpan banyak cerita yang belum sempat dilisankan dan bahkan dituliskan. Maka, dengan penuh perasaan yang berbahagia, saya umumkan bahwa Surat-Surat untuk Bogor ke-544 edisi #3 di tahun ini, yang akan dikendarai Halimun Salaka, akan mengarah ke persoalan folklore, fakelore, fucklore, folkloresque, dan urban legend, melalui tajuk Pucklore: yang Lisan dan yang Tertuliskan. Pun!
.
Pamijahan, 22-23 April 2026
.
Sumber Bacaan:
Amoia, A., & Knapp, B. L. 2002. Multicultural Writers from Antiquity to the Present: A Bio-bibliographical Sourcebook. Greenwood Press.
Danandjaja, James. 2002. Folklor Indonesia, Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Grafiti.
Dorson, R. M. 1976. Folklore and Fakelore: Essays toward a Discipline of Folk Studies. Harvard University Press.
Shetterly, W., & Bull, E. (Eds.). 1986. Liavek. Ace Books.
Foster, M. D., & Tolbert, J. A. (Eds.). 2016. The Folkloresque: Reframing Folklore in a Popular Culture World. Utah State University Press.
Turner, V. 1969. The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. Aldine Publishing.
Hyde, L. 1998. Trickster Makes This World: Mischief, Myth, and Art. North Point Press.
Junus, Umar. 1981. Mitos dan Komunikasi. Jakarta: Sinar Harapan

