Vincent van Gogh (Dutch, 1853-1890)
Sepi.
Bukan sepi yang hampa tanpa bunyi, melainkan sepi yang riuh di dalam dada. Seolah seribu gamelan dimainkan tanpa irama, hanya menyisakan bising yang tak kunjung jua menemukan harmoni. Begitulah kiranya suasana batin Rengganis tiap senja tiba, tatkala langit Bandung, kota yang menjulang bak mercusuar ambisi, mulai diselimuti jingga yang melenakan.
Di sudut kamar indekos yang sempit, dengan jendela menghadap lorong yang selalu basah oleh cucuran AC tetangga, Rengganis menyandarkan punggungnya pada tembok yang telah mengelupas catnya. Jemarinya yang ramping mengusap layar ponsel; benda pipih itu seakan menjadi satu-satunya penghubung dirinya dengan semesta yang ia rindukan: Baskara.
Bukanlah Baskara nama seorang dewa, melainkan nama seorang pemuda yang nun jauh di seberang sana, di tanah Deli Serdang yang berbukit-bukit dan penuh legenda. Baskara, pemilik mata yang teduh dan tutur kata yang menyejukkan, adalah anugerah tak terduga yang singgah di laman kehidupannya melalui jaringan nirkabel, sebuah keajaiban modern yang mempertemukan dua jiwa dari dua kutub yang berbeda.
Mereka bertemu di sebuah forum diskusi daring, mulanya hanya sebatas pertukaran pandangan tentang puisi dan sejarah Nusantara. Lambat laun, percakapan itu merambat, menyentuh relung-relung pribadi yang paling sunyi. Baskara yang merantau di Medan, mencari nafkah sebagai buruh di pabrik karet, dan Rengganis yang berjuang menggapai gelar sarjana sambil bekerja paruh waktu di kota kembang, menemukan kesamaan nasib: sama-sama merangkai asa di tengah keterbatasan.
Hubungan mereka, andai kata harus diberi nama, bukanlah ‘percintaan’ yang lazim diucapkan. Tiada janji-janji yang terpatri dalam pelukan hangat, tiada kecupan di bawah rembulan nyata. Yang ada hanyalah pengakuan. Pengakuan akan rasa suka yang tulus, sebentuk kekaguman yang menjelma menjadi rasa sayang yang mendalam, terangkum dalam aksara dan suara yang melintasi ribuan kilometer.
“Rengganis,” tulis Baskara suatu malam, setelah Rengganis usai menceritakan letihnya berdiri selama delapan jam di gerai kopi, “aku tak pernah merasa begitu dekat dengan seseorang yang tak pernah kujamah tangannya. Hati ini, seolah telah kau labuhkan di dermaga sunyi dan hanya engkau yang tahu kuncinya.”
Rengganis tersenyum getir membaca pesan itu. Rasa haru dan sesak berpadu. “Baskara,” balasnya, mengetik dengan hati-hati seolah setiap huruf adalah pecahan kaca, “kabut di sini terasa lebih hangat sejak kau hadir. Keramaian kota tak lagi terasa mencekik, sebab aku tahu, di seberang sana, ada seseorang yang turut merawat api di tungku harapanku.”
Inilah komitmen mereka: komitmen tanpa ikatan. Sebuah ikrar batin untuk saling menjaga hati, memupuk kerinduan, dan menabung. Menabung, bukan sekadar uang di bank, melainkan menabung keberanian, menabung mimpi, dan terutama, memangkas jarak. Mereka berdua tahu betul, bahwa cinta di masa kini tak hanya terhalang oleh restu orangtua atau perbedaan kasta, melainkan juga oleh ongkos perjalanan dan kestabilan ekonomi.
Baskara, dengan upah yang pas-pasan, harus menyisihkan separuh gajinya untuk keluarganya di kampung. Sisanya, ia putar agar bisa bertahan hidup di tanah rantau. Rengganis pun demikian, uang hasil keringatnya lebih banyak tersedot untuk biaya kuliah dan sewa kamar yang kian mencekik. Pertemuan fisik? Itu hanyalah ilusi yang mereka rajut bersama dalam khayalan, menjadi penyemangat agar roda kehidupan terus berputar.
“Kapan, Baskara?” tanya Rengganis suatu ketika, setelah mendengar cerita Baskara yang harus lembur demi mengejar target upah tambahan. Nada suaranya di telepon terdengar seperti lirihnya angin di puncak bukit.
“Kapan apanya, Manisku?” balas Baskara dengan suara berat yang selalu berhasil menenangkan jiwa Rengganis.
“Kapan kita bisa benar-benar bertemu? Bukan di layar ponsel, bukan di alam mimpi. Kapan aku bisa melihat senyummu tanpa jeda jaringan? Kapan?” Suara Rengganis mulai bergetar.
Baskara terdiam sejenak. Keheningan itu terasa panjang, seolah waktu pun enggan bergerak. “Rengganis,” ujarnya perlahan, memanggil nama itu dengan intonasi penuh ketulusan, “sebentar lagi. Aku sedang bekerja keras, Rengganis. Aku sedang merangkai satu demi satu pecahan koin agar ia menjelma menjadi sayap yang bisa membawaku terbang ke kotamu. Bersabarlah, kekasih hatiku. Sabar adalah mata uang yang paling mahal harganya dalam hubungan kita ini.”
***
Di malam yang dingin, Rengganis seringkali mengenakan selendang pemberian Ibunya di kampung, memeluknya erat seolah selendang itu adalah Baskara. Ia membayangkan bau keringat Baskara, bau tanah yang melekat pada tubuhnya setelah seharian bekerja keras. Ia membayangkan kehangatan tatapan Baskara yang hanya bisa ia lihat melalui foto buram di ponselnya.
Baskara sering bercerita, bahwa ia selalu menyempatkan diri melihat langit yang sama dengan yang Rengganis lihat. “Ketika aku melihat bintang yang paling terang, aku meyakini itu adalah cermin matamu, Rengganis. Ia menatapku, memberikan kekuatan. Jarak ini hanyalah angka, Sayang. Yang nyata adalah rasa yang bersemayam ini, rasa yang tak lekang walau dibakar api cemburu dunia.”
“Aku tak cemburu pada dunia, Baskara,” bisik Rengganis pada ponselnya yang seolah menjadi wadah bagi jiwanya. “Aku cemburu pada waktu. Waktu yang terus berjalan, sementara kita hanya mampu menyentuh bayangan. Aku takut, Baskara. Aku takut kerinduan ini menjadi fosil, menjadi kenangan yang tak sempat menjadi kenyataan.”
Ketakutan itu adalah hantu yang paling sering menghantui mereka. Bagaimana jika salah satu dari mereka lelah? Bagaimana jika godaan dunia maya—perkenalan baru, sentuhan fisik yang nyata—merenggut komitmen tak bernama ini?
Namun, setiap kali keraguan itu menyeruak, Baskara akan mengirimkan sebaris puisi yang ia tulis sendiri di sela-sela istirahatnya. Puisi-puisi yang merangkai kata-kata seindah Syair Siti Zubaidah, penuh metafora dan diksi yang mencerminkan harapan purba, dan menjanjikan kesetiaan abadi.
“Awan di langit Deli, ia pun sama dengan yang menyelimuti Bandung,
Adalah saksi bisu, janji tak terucap yang kusebut cita.
Menghitung hari, bukan dengan jari, melainkan dengan denyut nadi,
Agar kelak, takdir sudi mempertemukan kita, mengikat raga dan hati.”
Membaca itu, air mata Rengganis sering tumpah. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kelegaan. Kelegaan bahwa ia tidak sendiri dalam penantian yang sunyi ini. Kelegaan bahwa ada hati lain yang sama kerasnya berjuang untuk mimpi yang sama.
Mereka telah sepakat. Jika nasib baik berpihak, jika rezeki tak lagi sempit, dan jika Tuhan merestui, mereka akan bertemu. Pertemuan itu, bukan untuk sekadar mengakhiri rindu, tetapi untuk memulai sebuah kisah nyata yang telah lama mereka ukir dalam aksara maya. Mereka tak berani menamakan hubungan mereka, sebab takut Tuhan cemburu dan memisahkan mereka. Biarlah ia mengalir seperti air, tanpa nama, tanpa label, hanya sepasang hati yang saling mencinta dan berjuang demi sebuah pertemuan.
Waktu terus merayap. Tahun pun berganti. Saldo tabungan Baskara mulai memperlihatkan angka yang cukup untuk membeli tiket ke Bandung, pulang-pergi, bahkan menyewa penginapan sederhana. Saldo tabungan Rengganis pun, sedikit demi sedikit, berhasil ia kumpulkan sebagai modal untuk menjamu tamu spesial dari seberang pulau.
***
Suatu subuh, menjelang azan berkumandang, ponsel Rengganis berdering. Ada pesan dari Baskara.
“Rengganis, Sayang. Dua minggu lagi, hari Sabtu. Aku telah mengambil cuti. Tiket telah berada di genggamanku.”
Air mata Rengganis mengalir deras. Kali ini, tangis itu adalah simfoni kemenangan. Ia tak membalas dengan kata-kata, ia hanya merekam suara isaknya, mengirimkannya pada Baskara.
Beberapa saat kemudian, Baskara membalas dengan sebuah rekaman suara, suara baritonnya terdengar bergetar menahan haru, “Jangan menangis, Cintaku. Jangan. Simpan air matamu untuk hari Sabtu itu. Kita akan bertemu. Dan saat itu tiba, aku akan memastikan bahwa setiap detik yang kita habiskan dalam penantian, akan terbayar lunas dengan setiap detik yang kita habiskan bersama, di dunia yang nyata.”
Rengganis memeluk ponselnya, menciuminya berulang kali seolah sedang mencium Baskara yang sebenarnya. Kerinduan yang selama ini ia tabung, kini menemukan muaranya. Jarak yang memisahkan mereka, kini tinggal hitungan hari. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi setelah pertemuan itu, apakah kisah mereka akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius, ataukah rintangan lain akan muncul. Namun, saat ini, yang mereka tahu, cinta mereka telah melewati ujian waktu dan jarak, terawat dalam kesederhanaan dan komitmen batin.
Di balik tembok indekos yang kusam, Rengganis memejamkan mata, membayangkan hari Sabtu yang dinanti. Ia tahu, kisah mereka adalah sebuah solilokui dua jiwa yang terpisah raga, sebuah lagu sunyi yang dinyanyikan dalam hati, menanti saatnya nanti, untuk bersenandung bersama di bawah langit yang sama.
