Ramadan Terbilang Sunyi

Vincent van Gogh (1853-1890) sebelum berpuasaaku telah lebih dulumenahan badaidi pelupuk mata menjelang sahurdi malam yang riuhkesunyian telah lebihdulu menetap air mata berjalanmengarungi tubuhhingga menetespada waktu berbuka di antara riuh sukaria keluargaaku masih merawat sunyi dasawarsa aku masih ingin bersamanamun kulihat raga dan jiwamuseperti gelap yang ditelanmalam, bahkan aku tak sempatberbicara setelah engkau berkata; “kaulah … Baca Selengkapnya

Panduan Mencintai Hujan

Anton Mauve 1838-1888 1)tanamlah tumbuh-tumbuhandi halaman hatimulalu bersihkanlah segalasampah yang bersarangdi sel-sel darahmu kelak, ketika kau bertemuhujan, tumbuhan itu akantumbuh-berkembangmenjaga aliran sungaidarahmu dan merawatkesuburan kulitmu 2)rawatlah hewan-hewandi hutan pikiranmulalu berilah makan agarekosistem akalmu terjagadari para pemburu kelak, ketika bertemuhujan, hewan-hewan ituakan bernyanyi riangdan menghalau segalamacam propaganda yangdatang di memori ingatanmu 3)setelah itu, hujanakan mencintaimujauh sebelum … Baca Selengkapnya

Mempuasai Muhammad dan Puisi Lainnya

David Cox (1783-1859) Mempuasai Muhammad perjalananku sedalam lautsetinggi gunung, seluas cakrawalamelesat cepat bagai berjuta cahaya:Allah, Allah, Allah —aku menujuMumelewati cermin masjidil-haramke bayangan masjidil-aqsa, mencatatperdamaian dan peperanganyang terekam album semesta kini ziarahku mengais segala musimsegala gerak pengembaraandan segala puncak langit ilahi:kehidupan para pendahuluberagam kitab pedoman itulahir dalam jiwaku. Mempuasai Isa dengan segala takdirMumenghidupkan akuwahyu yang merasuki … Baca Selengkapnya

Di Ambang Pertaruhan dan Puisi Lainnya

Fritz Lach 1868-1933 Di Ambang Pertaruhan pada hutan yang menggema suara pohon-pohonAku adalah berbatuan lumut penyembah hujanadakalanya seperti patahan kayu hanyut ke alir laut sepi sebagai kawan sunyisendang hati meramu doa-doaberharap menginang datang di dermagaentah perahu-perahu pembawa jantung debarentah kapal kecil pembawa segudang kupu-kupu namun pada ladang gersang ituengkau menghias langit haru birumenjelma merpati putih … Baca Selengkapnya

Kalender Pekerja dan Puisi Lainnya

L. Crusius (1897) Kalender Pekerja Kau jumat sore,Semringah menunggu berbuka dengan sepiring Sabtu dan segelas Minggudi rumah sewaan tempat lapar biasa mengintip di celah malamkau duduk, menghitung lembar demi lembar waktu untuk pulangDi hadapan tanggal, bakwan itu pun tanggaldengan nasi yang tak sempat matangkarena magrib keburu datangKau teguk saja sepi itu, sendirianSampai kau bimbang antara … Baca Selengkapnya

Semilir Angin dan Puisi Lainnya

Karl Isakson (1878 – 1922) Semilir Angin aku hanya ingin terbangmelintas luka meditasi waktumencari titik temuwajah bumi dan kaki langit aku juga harus merdekameluncur dari kumpulan sejarahmelukis kisah pertemuanwajahmu yang muram aku sudah bersedihmenemukanmu dalam sepimenyimpan cerita kita rapat-rapatwajah dunia yang terasingkan. Tubuh di tubuhku, hanya adasebelah sayap dari pisauberkarat. la tersembunyidi sebaris tulang iga … Baca Selengkapnya

Ketiadaannya Ada di Mana-mana dan Puisi Lainnya

Georges de Feure (1868-1943) Ketiadaannya Ada di Mana-mana ketiadaannya ada di mana-mana terbaca pada sesumbar siur para leluhur & segulung wajah kusut yang menyingkapkan patahnya duniajuga pada langit bersih dengan sedikit awanatau sepasang bola mata yang menatap ngarai mendung cakrawala gelap-pekat doa terpancar dalam murka keinginanterang sulur-sulur jiwa menyembul dalam iman yang pasang-surutterpancar pula pada … Baca Selengkapnya

Apa Artinya Ini? dan Puisi Lainnya

Walter Gramatté (1897–1929) Apa Artinya Ini? ini malam sudah pagiaku sepenuhnya menangissepenuhnya tak tahu rasa sakit iniberasal dari angin cinta yang suram atauwarna dosa kian menampakkan cahaya ini gelas sudah kosongaku masih merasakan sakit yang samamerasakan liputan kelam tak terkirasebelum menyesap anggur kesendiriankuatau sesaat diri berlumur lumpur seluruhnya ini tarhim sudah memanggilaku bego selalu jauh … Baca Selengkapnya

Separuh Aku Serupa Bayang-bayang

Ernst Ludwig Kirchner (1880-1938) Aku minum bulandari cangkir retak warisan leluhuryang tak pernah benar-benar mati—hanya pindah alamat ke dalam nadi. Gunung kugulung seperti tikar sembahyang,kuselipkan di bawah ketiak kota.Sungai kusuruh berdiri tegak,ia berubah menjadi tiang listrikyang menyetrum doa-doa setengah matang. Angin hari ini tidak sopan—ia menertawakan bambuyang tumbuh miring karena terlalu lama hormat. Burung bangau … Baca Selengkapnya

Malam Tenggelam dan Puisi Lainnya

Pinckney Marcius-Simons (1867-1909) Malam Tenggelam malam hampir tenggelam di sunyi ruang tengahuli itu masih hangat dengan bayang-bayang lamasuaranya masih ada dalam dadapenuh kerak doa ruang tengah masih kosong, hanya ada kesan bergelantunganseperti baru kemarin,bau samping itu merebah di lantai, di kursi, di waktu merindui mungkin cara yang naif bagi pengelanadi antara air mata dan air … Baca Selengkapnya