Pesan dari Kematian dan Puisi Lainnya

Dance of Death; Death Ponders (1919) Pesan dari Kematian Pembukaan,Tanpa emoticon, aku izinkan kepadamu. Sebentar,Sebentar lagi,Tunggu sebentar lagi,Aku,Datang untuk mencintaimu. Dan kau tau.Kau menanam pohon pisang di kepalaku,dan aku kehilangan Jantung hatimu.Dan kau perlu tau, Pelan tapi mati? Atau pelan tapi happy?“apakah kau telah memesan kematian” Gunungputri, 2024-2026 Jika Suatu Hari Nanti Aku Dipanggil Ayah … Baca Selengkapnya

Maharumi dan Puisi Lainnya

(Frank Hector Tompkins 1847-1922) Maharumi kusebut namanya perlahan—nyaris seperti berbisik, sebab aku tahu: Kau Pendengar yang Baik. rindu ini diam-diam tumbuh, di saat jawaban atas doa terasa jauh. berulang kulangitkan, berjuta kali kutasbihkan.waktu, mengajariku satu hal:Kau memberi apa yang aku butuhkan. sebuah penantian barangkali tak ada yang panjang, akulah yang terlalu sering berpikir pendek. harapan … Baca Selengkapnya

1.1 di antara 2.3 dan Puisi Lainnya

Henry John Stock (1853-1930) 1.1 di antara 2.3 dengan terbata-bataAku menjelma iblis yang berdoapada malam ini aku mengingkari janjibenang merah kisah cinta selesai sudah malam ini terasa mencekamgundah gulana seolah menikamtak bisa aku pungkiri lagiperihal hati iniAku adalah iblis yang sombong dan dengki pada akhirnya aku di ambang pilubunga mawar layu, melati berubah menjadi kayu, … Baca Selengkapnya

Petualangan Hujan dan Puisi Lainnya

Gustave Den Duyts (1850 – 1897) Petualangan Hujan Kita bercengkrama dengan hujan tentang daun-daun yang basah di ujung jemarimumenjadi sesutau wangi yang dikejar anginkarena merasa sudah lama kemarau datang di tanah yang merah Setiba tetes merangkai tualang untuk airPada keruh kita berkacaSepasrah itu kita basahMenunjuk puncak pepohon yang berdendang bersama gemuruh Air takkan bekuMeski waktu … Baca Selengkapnya

Dua Sajak untuk Tuhan

Collage of cut out prints pasted on blue paper Pl 17 (1585) 1)aku membuat perahu kertasdari permulaan ilmu-pengetahuan-sudah kuputuskan, Tuhansejauh manapun keberadaan-Muakan ku-jalani pelayaran ini. 2)dan aku membuat pesawat kertasdari perkembangan ilmu-pengetahuan-itu pun sudah kuputuskan, Tuhansemakin tak kutemui peta jejak-Muakan terus ku-asah cara penerbangan ini. 02:02

Telaga di Matamu dan Puisi Lainnya

dok. halimunsalaka (h.p) Telaga di Matamu lalu; jam menunjukkan pukul sekian-sekian:pagi merambat jadi siang,siang perlahan mengendap jadi malam aku terpekur dalam diam,membiarkan waktu merayap tenang;segala yang lama terurai perlahandan aku, tanpa kata, hanya berdirimenjadi saksi bisu bagi waktu yang tak pernah berhenti langkahku pun terhentidalam sunyi yang mendalam,dan di sela detik yang tak terdengar,kutemukan sebuah … Baca Selengkapnya

Di Tempat Tuhan Memalingkan Wajah

Joaquín Sorolla (1863 – 1923) Muin mematung di ujung anjungan papan. Anjungan itu menjulur ke tengah lautan yang telah kehilangan denyutnya. Tidak tampak gelombang yang berkejaran, apalagi desau yang memecah sunyi; hanya ada hamparan cairan kental yang diam, serupa endapan air cucian piring yang telah lama dibiarkan di dalam ember. Di atasnya, matahari menyerupai bulatan … Baca Selengkapnya

Mencintai Tanpa Jeda dan Puisi Lainnya

Édouard Vuillard (1868-1940) Mencintai Tanpa Jeda Kenangan akan tetap abadi,bahkan dalam ingatan yang patah hati. Bila melupakan adalah obat,lantas bagaimanakah caranya kitamendapatkan dosis yang tepat? Kepergianmu, selekas apapun kau beranjak, ternyata tetap saja meninggalkan jejak. Di kepalaku, kenangan tentangmu selalu tumbuh menjadi penyembuh.Di kenanganmu, aku selalu mencintaimu dengan penuh. Resep melupakan barangkali ada,namun aku memutuskan … Baca Selengkapnya

Lampu Merah Persimpangan Kota

Paul Cadorette (1934-1943) di lampu merahpersimpangan kotadalam perjalananramadhan kali iniaku mencoba banyakmenitipkan nikmat syukuryang kuselipkan di balikdada dalam saku bajuku walaupun aku sadarbahwa kotaku sudahterlalu tua untuk mewadahibanyak luka yang ditanamdan dipupuki olehharapan-harapanku yangpanjang ia selalu tahu caramenumbuhkan kehangatandi segala isi hatiyang kusiramipada setiap garistunggu pemberhentian: batas kenangan dan impian seperti memberikan kebesarankasihNya kepada hujanyang … Baca Selengkapnya

Menelan Hari dan Puisi Lainnya

Hermann Max Pechstein (1881 – 1955) Menelan Hari Kutelan semua harigelap berlapis gelap—ẓulumātun ba‘ḍuhā fawqa ba‘d Di dalam perut waktuaku mendengar satu kalimat perlahan:lā ilāha illā anta, subḥānaka Hausku jadi laut tanpa pantaitubuhku tenggelam,nafsu yang kehabisan udara,dan aku tak menemukan apa punkecuali napas yang tersengal-sengal Bukankah Yunus diselamatkanketika ia lenyap dalam pengakuan? Hari ini aku … Baca Selengkapnya