dok. halimunsalaka (h.p)
Telaga di Matamu
lalu;
jam menunjukkan pukul sekian-sekian:
pagi merambat jadi siang,
siang perlahan mengendap jadi malam
aku terpekur dalam diam,
membiarkan waktu merayap tenang;
segala yang lama terurai perlahan
dan aku, tanpa kata, hanya berdiri
menjadi saksi bisu bagi waktu yang tak pernah berhenti
langkahku pun terhenti
dalam sunyi yang mendalam,
dan di sela detik yang tak terdengar,
kutemukan sebuah ruang yang teduh
seperti telaga yang kudapati di matamu
hening, dalam, dan penuh rahasia
aku terdampar di sana,
menenggelamkan rinduku yang paling sunyi,
menyelami diam yang menyegarkan kalbu
sampai gelap pun menjelma kawan yang lembut,
dan aku pun lupa
bagaimana cara pulang.
Jakarta, 2026
Amor Fati
; dalam diam
aku membaca tanda-tanda semesta
yang tersembunyi di balik repetisi
dan merelakan dirimenjadi bagian dari gerak itu sendiri,
tanpa peta, tanpa pamrih.
; dengan kepercayaan penuh pada arah yang samar,
seperti arus yang mengalir pelan namun pasti,
membawa yang dilepaskan menuju samudra luas tak bertepi,
tempat segala yang hilang perlahan kembali.
tanpa tergesa, tanpa suara.

