Ernst Ludwig Kirchner (1880-1938)

Aku minum bulan
dari cangkir retak warisan leluhur
yang tak pernah benar-benar mati—
hanya pindah alamat ke dalam nadi.

Gunung kugulung seperti tikar sembahyang,
kuselipkan di bawah ketiak kota.
Sungai kusuruh berdiri tegak,
ia berubah menjadi tiang listrik
yang menyetrum doa-doa setengah matang.

Angin hari ini tidak sopan—
ia menertawakan bambu
yang tumbuh miring karena terlalu lama hormat.

Burung bangau mendaftar jadi pegawai negeri,
sayapnya dilipat menjadi map arsip.

Langit menandatangani kontrak senja
dengan tinta darah yang disamarkan
sebagai diskon akhir musim.

Aku berjalan di atas atap sejarah,
gentengnya rapuh oleh nostalgia.
Di bawahnya, orang-orang menggoreng kenangan
dengan minyak yang sama
yang dulu dipakai membakar kitab.

“Rindu,” kata mereka,
seperti slogan diskon.
Padahal rindu hanyalah pisau tumpul
yang terus diasah pada batu kesabaran
tanpa pernah benar-benar tajam.

Bulan malam ini tak lagi bulat.
Ia segi delapan,
seperti rambu berhenti
yang diabaikan pengendara takdir.

Kudengar bambu berdebat dengan petir:
mana yang lebih keras,
suara patah
atau suara menyerah?

Aku menanam pedang di pot bunga,
menyiraminya dengan kabar palsu.
Besok ia tumbuh jadi mikrofon
yang memekakkan telinga sendiri.
Jika surga adalah taman yang rapi,
maka aku memilih hutan
yang akarnya saling mencekik
demi cahaya yang tak pernah turun tepat waktu.

Dan jika kau bertanya
di mana aku menyimpan cinta—
Aku lipat ia menjadi perahu kertas,
kulepaskan ke selokan kotor.
Biarlah ia belajar berenang
di antara sampah dan pantulan langit,
sampai suatu hari
ia tiba di laut
dan lupa siapa yang pernah melipatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *