Bike to Garden sebagai Bentuk Manifesto Pertahanan dan Perlawanan

Bike to Garden sebagai Bentuk Manifesto Pertahanan dan Perlawanan

“Kami terlahir dari keterasingan yang berlalu-lalang di antara keheningan hutan dan bisingnya jalanan. Kami adalah akar yang terhimpit beton-beton liar, kami tetap bertahan dan akan tumbuh berkembang walau sering terabaikan.”

Di antara banyaknya kaum muda-mudi desa yang berkelana ke kota-kota, sebagian dari kami masih memilih bertahan menjadikan desa sebagai ruang untuk berproses dan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Bertani masih menjadi pilihan ini bukan karena kami memiliki lahan sendiri, bahkan kami tidak mempunyai lahan, dan kami hanya menumpang-meminjam lahan milik petani dengan sistem pembagian hasil. Bagi kami, ini salah satu solusi untuk kita yang ingin bertani, tanpa harus memiliki lahan. Ini merupakan sebuah solusi bagaimana kita bisa bekerja sama dengan para petani yang memiliki lahan, namun kekurangan tenaga ketika menggarap lahannya. 

Mengapa bagi kami bertani tidak harus memiliki lahan sendiri?

Sebab, bagi kami bukan tentang seberapa luas lahan yang ditanam. Kita bisa mengambil peran dalam membantu mengolah lahan atau dalam penjualan hasil panennya dengan sistem yang seadil-adilnya. Namun lebih dari itu, persoalan ini mengarah kepada harapan tentang bagaimana kita bisa hidup berkelanjutan dengan tetap mempertimbangkan alam sebagai tempat untuk semua kehidupan.

Bike to garden kembali digaungkan, bukan sesuatu hal yang baru. Waktu itu kami bersama kawan-kawan Mitra Bhumi pernah berkegiatan bersama dengan berkunjung ke Kebun Anarki, istilah yang kami berikan kepada kebun tersebut. Sebab, menurut informasi yang kami dapat, kebun itu membawa persoalan bahwa si ibu pengelola lahan mencoba menjaga dan mempertahankan tanahnya sendiri dari orang-orang yang merasa memiliki kekuasaan. Si ibu di paksa untuk menjual tanahnya yang nantinya akan dibangun unit-unit perumahan. Ketika sebagian warga tergoda dengan rayuan-rayuan manja untuk menjual tanahnya, si ibu ini dengan tegas menolaknya. Ini bukan karena si ibu tidak membutuhkan uang. Baginya tanah, air, dan udara yang sehat adalah sumber kehidupan yang harus kita jaga dan rawat bersama-sama, bukan malah memonopolinya hanya demi kesenangan dan keuntungan semata.

Si ibu hanya tinggal berdua bersama anak asuhnya, keseharian mereka bertani dan lahan mereka tidak begitu luas, tapi mereka bisa menanam kebutuhan dapur sendiri. Bayangkan, mereka juga sambil memelihara ayam, kambing, dan ikan. Bagi kami itu terlampau keren, the real ketahanan pangan. Ternyata berbicara ketahanan pangan sebenarnya bisa kita mulai dari halaman rumah kita sendiri, tidak perlu lahan yang luas apalagi sampai harus merusak hutan dengan begitu edan. Fuck your system men!

Kami sebagai kaum muda merasa berbangga dan berbahagia, tapi di satu sisi begitu  malu menyaksikan si ibu yang usianya mungkin sudah lebih dari setengah abad masih kuat memegang cangkul sebagai aktivitas sehari-hari. Bukan hanya kuat, tapi si ibu berani melawan arus dan bertahan dari keganasan zaman. 

Semangatnya harus menyebar! Dan bike to garden ini bukan soal bersepeda dan menanam, kita harus menyusun ulang masa depan yang berkelanjutan!

Bike to garden kalau menurut kawan-kawan dari Mitra Bhumi sebagai “campaign untuk kembali ke basic”. Yah, jelas movement ini bukan sekedar ikut-ikutan tren bersepeda ke alam atau membahas jenis-jenis sepeda yang kalcer beserta onderdilnya yang berjuta-juta, kami tidak peduli dengan itu semua. Dan bike to garden bukan sekedar bersepeda ke kebun, lebih dari itu ini tentang mengintegrasikan kedua elemen ke dalam ruang yang sama sebagai bentuk pertahan dan perlawanan. Kami kembali menanam, kami ingin belajar kemandirian pangan, kami ingin hidup berkelanjutan, kami tidak mau selalu bergantung terhadap sistem kapital. Ingat, revolusi hijau sudah terlalu banyak mengubah kebudayaan kita dalam bercocok tanam, petani dibuat ketergantungan terhadap pemodal besar, cara bertaninya sudah tidak lagi mempertimbangkan alam, tidak ada kesakralan, tidak berkelanjutan. Miris!

Jelas, ini bukan salah para petani, ini salah negara, ini salah pemerintah, dan ini juga salah kita sebagai generasi muda yang tidak mau terjun terlibat dalam dunia pertanian. Lihat saja berdasarkan data sensus pertanian di indonesia usia rata-rata petani itu 50 hingga 55 tahun ke atas, di usia yang sudah tidak lagi muda atau produktif, mereka masih harus mencangkul tanah, menanam harapan, berharap hasil panen tidak akan gagal, belum lagi harus memikirkan kerumitan-kerumitan yang dibuat oleh orang-orang kapital.

Negara seakan membuat sistem yang membuat kita semakin jauh dari kebudayaan kita, mengeksploitasi alam dengan sangat berlebihan, seakan manusia dan alam dua hal yang terpisahkan. Lihatlah sebagai contoh bencana di Aceh dan Sumatra, warga lokal selalu menjadi korban pertama atas keserakahan negara, ketika alamnya dirusak yang paling pertama terdampak adalah orang-orang yang memang tinggal di dekat lokasi sekitar. Mereka yang telah merusaknya hanya duduk manis melihat dari kejauhan menikmati kemewahan dari hasil mengeksploitasi alam. Kami tidak mau itu terjadi juga di kampung halaman kami, kami tidak mau kalian datang saat tanah sudah tidak bisa lagi di tanam, air bersih sulit kami dapatkan, udara sudah tercemar dan kalian datang seakan pahlawan karena membawa bantuan kemanusiaan. Fuck you men! Kita harus mulai menjaga dan merawatnya dari sekarang, jangan menunggu kerusakan baru berteriak L A W A N!

Kini sudah waktunya yang muda ambil peran, biarkan orang-orang tua kita beristirahat, beri mereka ruang untuk menikmati masa tua yang tenang tanpa harus memikirkan kerumitan yang diciptakan oleh orang-orang kapital. Menjaga Tanah Menjaga Kehidupan itu jangan hanya dijadikan slogan atau hanya dipertontonkan kehidupan petani dalam gedung pertunjukan dengan begitu apiknya, namun tidak berdampak, dan nihil dalam tindakan. Jelas, kita butuh solusi yang nyata juga bukan hanya sebatas euforia.

Let’s farm and have fun, but still consider nature as a place for the life of all creatures. Farm enough, have fun as needed!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *