“Yang Lisan” dalam Pucklore adalah energi purba, ia serupa desas-desus di warung kopi, di pos ronda, atau mantra yang diwariskan setengah karena lupa, memori hantu penjaga yang bersembunyi di balik rimbun pohon bambu, atau pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak-anak kepada neneknya di malam yang diterangi obor sebelum marak tenaga listrik. Hal itu, kami rasa adalah getaran yang ada sebelum kata-kata mampu menuliskan semuanya. Sedangkan “yang Tertuliskan” dalam Pucklore adalah proses kreatif individu, ia keterampilan menggores pena yang memberi struktur pada kabutnya sebuah kisah, yang menangkap getaran berbagai “yang lisan” itu sebelum hilang, yang memberinya bentuk yang cukup kokoh agar dapat dipelajari nilainya di kemudian hari.

DOWNLOAD: E-BOOK SURAT-SURAT UNTUK BOGOR EDISI HARI JADI BOGOR KE-544
Pucklore, kami rasa, tidak harus bertujuan membekukan yang lisan menjadi benda mati di dalam buku. Sebaliknya, tulisan dalam Pucklore berfungsi sebagai ruang menciptakan kembali dan terus berevolusi kembali. Pucklore semacam pertemuan antara otoritas individu (penulis-pencerita yang berani mengambil tanggung jawab menciptakan) dan otoritas kolektif (masyarakat yang berhak mewarisi, mengubah, dan meneruskan). Pucklore tidak memilih salah satu dari keduanya, ia berdiri tepat di titik pertemuan antara mereka. Melalui ambang antara pertemuan itu, kami yakin Bogor bisa mencoba Pucklore sebagai latihan pembelajaran bersama. Sebab kita tahu, Bogor merupakan kota yang kaya akan ingatan, namun miskin bagaimana cara untuk mempertahankan dan mengembangkannya. Ada legenda Prabu Siliwangi yang masih berbisik di tembok dan batu tua tanpa jelas juntrungan kisahnya. Sungai-sungai yang menyimpan nama-nama tapi artinya sudah tidak dimengerti oleh yang menamainya. Bahkan, setiap kampung punya ceritanya sendiri, bagaimana sosok macan, ikan, ular yang bisa berubah wujud, atau tentang pohon yang tidak boleh ditebang karena angker, tentang sumber air di gunung yang dijaga makhluk gaib. Cerita-cerita itu bukan sepenuhnya takhayul. Cerita itu sudah seharusnya dimaksudkan sebagai sistem pengetahuan ekologis-sosial yang disegarkan kembali kisahnya, agar tidak tersimbolkan dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh yang mau mendengarkannya secara cermat dan dengan penuh rasa sabar.

