Bogor dalam Dunia Kesusastraan Sunda: Sebuah Rekreasi

Bogor dalam Dunia Kesusastraan Sunda: Sebuah Rekreasi

Pamuka

Sekitar tahun 2023 pertemuan awal saya dengan naskah plus kisah Bujangga Manik, melalui buku Tiga Pesona Sunda Kuna (2009) olahan Noorduyn dan Teeuw (yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Hawe Setiawan, Undang Ahmad Darsa, dan Tien Wartini). Sejak menuntaskan kisahnya, saya langsung tercengang mendapati kisah salah seorang Pangeran dari Pakuan Pajajaran yang berkelana-mengembara ke ujung Pulau Jawa bagian timur—bahkan sampai ke Bali—dalam usaha penempuhannya untuk mempelajari bahasa-sastra, umumnya ilmu pengetahuan, sekaligus mencari tempat bagi kepulangan jiwanya. Hal itu, sebagaimana sisi lain muatan makna dalam kisahnya, membawa serangkaian gejolak peristiwa tentang: sejauh apapun kita mengembara, akhirnya kedamaian hanya didapat di hati sendiri—di tanah kelahiran sendiri juga.

Pertemuan dengan Bujangga Manik telah memutarbalikkan cara pandang saya dalam meninjau kebudayaan Sunda. Sebab, secara riuh-ramai manusia Sunda selalu mendapat stigma ketokohan Kabayan, yang kita tahu lebih dekat dengan manusia polos, manusia malas, dan sejenisnya, walaupun di lain sisi erat dengan nuansa intelektual plus spiritual. Sedangkan, kisah Bujangga Manik sangat manusiawi, ia mengembara ke ujung Pulau Jawa-Bali dengan berjalan kaki (bukan dengan menaiki awan kinton atau terbang menunggangi kuda bersayap), ia bahkan memiliki visi-misi yang melampaui zamannya: manusia yang sadar akan pentingnya menguasai dan belajar tentang keberagaman ilmu bahasa dan sastra.

Menariknya, ketika saya mulai menggandrungi ketokohan Bujangga Manik itu pada tahun 2023, di Bogor Raya khususnya, kisahnya itu sama sekali tidak dibicarakan, bahkan dari pemberitaan media dan kerja kreatif sastra-budayanya. Selalu saja yang menjadi pembicaraan adalah prasasti tinggalan kejayaan Siliwangi, Siliwangi ngahiang, Siliwangi berkonflik dengan Kian Santang, Siliwangi bertapa-moksa di Gunung Salak, Siliwangi ngangangaaa—dan sejenisnya. Bagi saya yang masih kemarin sore belajar memasuki dunia kebudayaan Sunda, saya sempat berpikir, apakah Bujangga Manik tidak bisa menjadi model dari representasi manusia Sunda, khususnya untuk Bogor hari ini? Apakah hanya dan selalu Siliwangi yang harus menjadi model manusia Sunda, khususnya untuk Bogor hari ini? Dan lalu saya malahan membuat banyak sekali pesta pertanyaan, Siliwangi yang mana sebenarnya yang menjadi teladan masyarakat Sunda, khususnya di Bogor hari ini? Siliwangi pada zaman apa dan siapa? Siliwangi itu apa dan siapa sebenarnya, ia nama dari tokoh seorang raja atau gelar atas kemaharajaan?

Melalui gejolak itu dan dalam mewahanai Halimun Salaka, saya (berikut kawan-kawan lainnya) terus belajar mencari-cari jalan alternatif dalam memandang kesejarahan Bogor, kebudayaan Sunda, juga kerja kreatif kesusastraannya. Dan berpijak pada ketokohan Bujangga Manik itulah kami selalu memberanikan diri ketika menuliskan apa-apa yang tidak dibicarakan, apa-apa yang belum ramai diperbincangkan, dan apa-apa yang tersudut di jurang pengetahuan. Setelah prosesi itu kami tempuh, akhirnya datang satu momentum Bujangga Manik mulai ramai diperbincangkan di Bogor, melalui propaganda seminar yang diselenggarakan Niskala Institute di Kota Bogor (18 Januari 2025), tepatnya di Gedung Bakorwil dengan judul: Bujangga Manik: Kota Bogor dalam Visi Pangeran Sunda abad ke-15, yang dinarasumberi oleh Muhamad Alnoza. Di dalam seminarnya, Alnoza membahas bagaimana ketokohan Bujangga Manik sebagai manusia Sunda sangat ideal untuk dijadikan suatu citra-panutan, karena selain kisahnya erat dengan dimensi humanitarian—juga sangat kosmopolitan pada zamannya, memiliki visi-misi yang sangat visioner dan melek terhadap keragaman bahasa-sastra serta dunia ilmu-pengetahuan secara luasnya.

Seusai seminar Niskala Institute itulah akhirnya masyarakat Bogor Raya mulai mendapat pertimbangan dan membicarakan apa-apa yang mungkin dan yang memungkinkan atas model manusia Sunda. Bahkan, Muhamad Alnoza sebagai narasumber atas seminarnya pada waktu itu—langsung dimintai masyarakat Kota Bogor untuk membikin komunitas Bujangga Manik, agar nilai pembelajarannya bisa diadopsi pada nilai hidup hari ini. Akhirnya, Bujangga Manik Society lahir sebagai komunitas yang menjadi wahana pembelajaran mengenai kisah berikut nilai pembelajaran kehidupan Bujangga Manik.

Dengan demikian, masyarakat Bogor hari ini (khususnya saya berikut kawan-kawan Halimun Salaka), sangat berhutang-rasa kepada Muhamad Alnoza. Sebab, tanpa propagandanya mengenai Bujangga Manik di tahun 2025 itu, sangat mungkin masyarakat Bogor akan menghiraukan plus benar-benar akan melupakan warisan pengetahuan Bujangga Manik. Berbekal fenomena itulah, akhirnya kami (Halimun Salaka) bersama Bujangga Manik Society bersama-sama tergerak untuk membuat Bujangga Manik Writers Festival yang selain berpijak pada pembelajaran Bujangga Manik—juga mengais dimensi kerja-kerja kesusastraan, kebudayaan, dan juga kesejarahan di dalam capaiannya. Selain fenomena itu, duduk-perkaranya cukup terang-benderang: propaganda Bujangga (Manik) Catur Lawang Buana harus segera disajikan! Mengapa?

Sesuatu Perbogoran

Karena sejak zaman Saleh Danasasmita, Eman Soelaeman, bahkan kini Bogor (kota-kabupaten) masih saja berat-sebelah dan selalu berkutat dengan persoalan tinggalan Pakuan Pajajaran yang berfokus pada Prabu Jayadewata (Siliwangi?) serta para keturunannya yang bergumul tak kunjung usai sebagai warisan kehidupan Bogor hari ini. Setiap perayaan Hari Jadi Bogor (yang kini menginjak ke-544) pun selalu begitu, seakan Bogor tak punya kisah lain, warisan lain, yang menjadikan Bogor sebagai ruang pengembaraan atas ilmu-pengetahuan masa lalu. Padahal Bogor jelas bukan hanya itu! Jelas-jelas masa lalu Bogor lebih kompleks dari itu!

Jika kita jujur pada wujud kesejarahan, para raja dan para pangeran itu, atau para tokoh utama elite Ibukota kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran itu, tanpa didukung wilayah penyangga dan tanpa sokongan hidup masyarakatnya, jelas mereka bukan apa-apa dan tidak bisa apa-apa. Cara pandang semacam ini kiranya yang belum kita rumuskan hari ini dan mesti sesegera diolah-edarkan, agar tidak sampai pada laku melulu-dramatisasi masa lalu yang itu-itu saja muatan tokoh ceritanya.

Sejarah, dalam praktik kesadaran di Bogor, kiranya telah menjadi semacam liturgi—dalam serangkaian nama dan peristiwa yang diulang-ulang dengan khidmat—tanpa sungguh-sungguh dipersoalkan, tanpa berani dilihat dari sudut sisi pandang yang lain. Pakuan Pajajaran seolah menjadi satu-satunya kata kunci untuk membuka seluruh kedalaman sejarah Bogor. Atas gejala itulah Siliwangi (untuk mengacu Prabu Jayadewata?) menjadi simbol tunggal yang menanggung seluruh beban identitas, dan para keturunannya menjadi satu-satunya manusia yang dianggap berhak menghuni halaman pertama narasi kebogoran (Sunda umumnya). Padahal, jika kita memandang sejarah dengan jujur, seharusnya sejarah bukan hanya milik mereka yang duduk di singgasana, ia juga milik tokoh-tokoh yang terlupakan, milik masyarakat kecil yang menghuni lembah-pegunungan dan pesisir-lautan.

Maka tak heran jika Bogor memandang sejarah cenderung selalu bersifat elitis. Bukan karena para sejarawan kita tidak kompeten, melainkan karena sumber-sumber yang tersedia berikut cara-mode pembacaannya, serta institusi yang mengolah dan mengedarkan pengetahuan sejarah tersebut, selama ini memang lebih tertarik pada kehidupan elite keraton daripada kehidupan masyarakat luas beserta wilayah-wilayah penyangganya. Ya, kita akui saja Bogor memang sangat politis memandang sejarahnya. Saleh Danasasmita, salah seorang sejarawan Sunda yang tekun dan pernah dimiliki Bogor itu, memang telah memberikan sumbangan besar melalui penelitiannya tentang Kerajaan Sunda, termasuk pembacaannya atas naskah-naskah Sunda Kuna yang tersimpan di berbagai koleksi. Namun, fokus utamanya tetaplah pada kehidupan kerajaan dan kronologi kekuasaan. Eman Soelaeman pun, dalam berbagai tulisannya tentang sejarah dan budaya Sunda di Bogor, tidak sepenuhnya berhasil keluar dari orbit ketertarikan yang sama.

Sungguhpun ini bukan suatu usaha mengkritik laku personal. Ini adalah kritik struktural terhadap cara kita membangun pengetahuan di gelanggang sejarah. Karena kita cenderung bertanya siapa yang memerintah? Ketimbang bagaimana masyarakat hidup? Kita lebih mudah mengidentifikasi sebuah wilayah lewat nama rajanya ketimbang lewat tradisi intelektual-spiritual masyarakatnya yang mengakar-terwariskan. Akibatnya, ketokohan seperti kisah Bujangga Manik yang begitu spesial-memukau dan telah mewariskan nilai pengetahuan bahasa dan sastra, spiritualitas, peta toponimi-topografi, nama-nama kebendaan, panganan, dan bahkan potret kehidupan masyarakat itu pada masanya;  atau kewilayahan seperti Jasinga salah satunya, yang justru menyimpan kekayaan tinggalan naskah, tradisi ilmu-pengetahuan, dan jaringan intelektual lintas budaya, bahkan pada perayaan HJB ke-544 ini, nyaris tak diperbincangkan serius sebagai bagian dari refleksi kesejarahan Bogor.

Maklumat:

Terkecuali, untuk kasus Jasinga, Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor yang walaupun baru melek “tentang warisan wilayah yang dinaunginya” pada hari Rabu, 01 April 2026, ketika kami—Halimun Salaka (HS) dan Bujangga Manik Society (BMS) audiensi plus menyajikan konsep utuh acara Bujangga Manik Writers Festival (BMWF) dengan tajuk “Humanitarian Bujangga Manik dan Revivalisasi Skriptorium Jasinga-Cicanggongsebagai tematik bahasan edisi pertama. Kami menyajikan konsep utuh dalam audiensi itu dimaksudkan agar Disbud mengeluarkan surat rekomendasi untuk kami pergunakan dalam mengajukan dana hibah Kementerian Kebudayaan. Kenapa baru melek? Karena ketika audiensi itu, Disbud sama sekali tak mengetahui apa-apa terkait warisan budaya plus susastra di Jasinga, dan kami cukup kaget akan hal itu. Dari peristiwa itulah, ketika kami sudah menjelaskan apa dan bagaimana potensi warisan budaya di Jasinga dan menjelaskan pula konsep utuh acara yang akan kami laksanakan di sekitar akhir tahun nanti, baru-baru ini kami dibuat terkejut. Terkejutnya, di satu sisi kami cukup senang dan sangat apresiasi setinggi gunung—sedalam laut dengan gerak cepat Disbud yang langsung mengangkat isu Jasinga dalam acara riungan (HJB ke-544) dan sarasehan diskusi budaya & sejarah mengenai warisan Jasinga atas sastra-budayanya (pada hari Selasa-Rabu, 9-10 Juni 2026). Walaupun HS dan BMS tak mendapat undangan atas riuangan itu, setidaknya kami senang bahwa ide-gagasan plus konsep kami bisa ikut diramai-jalankan oleh Disbud. Namun, di sisi lain timbul pertanyaan dalam diri kami, mengapa kami tak mendapat undangan atas riungannya itu ya? Bukankah konsep berikut capaian riungannya itu suka tak-suka berasal dari konsep BMWF yang kami bagikan pada mereka? Apakah mereka tak mengerti, bahwa ide-gagasan atau suatu konsep itu jika digunakan tanpa memberitahu kepada kelompok yang sudah menyusunnya terlebih dahulu secara susah payah, akan mencederai integritas intelektual dan merupakan bentuk pelanggaran norma kesusilaan serta etika akademik? Tidak, kami tak mengatakan bahwa Disbud mencuri ide-konsep kami. Kami juga tak bermaksud gila hormat karena meminta diundang. Kami hanya ingin meminta tanggapan para pembaca sekalian, dari studi kasus di atas itu apakah Disbud mengadopsi (atau memang mencuri?) ide-konsep kami?

Syahdan! Kembali ke persoalan Bogor, yang dalam kerjanya selalu memandang sejarah dalam kaca-mata elitis dan politis. Dalam teori historiografi, fenomena ini kiranya lekat dengan istilah history from above: sejarah yang ditulis dari perspektif mereka yang cukup strategis secara hierarki kekuasaan. Sejarawan E.P. Thompson, dalam karyanya The Making of the English Working Class (1963), yang awalnya ditugaskan sebagai “Working Class Politics 1790-1921”, telah lama mengingatkan tentang bagaimana sejarah yang hanya berkutat pada kaum elite semata adalah sejarah yang timpang, karena akan lupa bahwa esensi kekuasaan elite itu tidak mungkin tegak tanpa seluruh struktur kehidupan masyarakat yang menopangnya. Peringatan secuil dari Thompson ini kiranya cukup relevan untuk kasus Bogor, sebab betapapun agungnya Pakuan Pajajaran, gagah-berani Siliwangi dan para keturunannya, atau kemegahan istana plus Ibukotanya itu tidak mungkin ada tanpa wilayah-wilayah penyangganya, tanpa para resi yang menjaga tradisi ilmu-pengetahuannya, dan tanpa persona-komunitas yang mengolah kerja kreatif bahasa-aksara di pinggiran kekuasaannya.

Pamunah

Humanitarian Bujangga Manik

Kiranya kini sudah waktunya untuk Siliwangi membagi dua atas takhta kekuasaannya di puncak mitologi Sunda (khususnya di Bogor hari ini), dan memberikan kursi itu kepada Bujangga Manik. Walaupun kisah Bujangga Manik masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli mengenai duduk perkaranya tentang, apakah ia merupakan tokoh nyata di masa silam atau hanya karya fiksi yang mencerminkan ketokohan di masa silam. Toh, Siliwangi sendiri secara sumber sejarah juga menjadi dualisme perdebatan pula mengenai duduk perkara ketokohannya. Maka, keduanya secara sumber-data sejarah di kalangan para ahli sama-sama masih belum tersibak kabut rahasia atas kebenarannya. Lalu, apa alasan dan urgensinya membagi dua kursi kekuasaan Siliwangi itu pada Bujangga Manik?

Pertama, selain sebagai seorang pertapa yang menggambarkan bagaimana dunia spiritual-keagamaan pada masanya, juga menyajikan pandangan realistis tentang kehidupan sehari-hari di Sunda (pulau Jawa-Bali umumnya) pada pertengahan hingga akhir abad kelima belas. Sebagaimana kajian terbaru oleh Alexander Joseph West (20 Mei 2021 di Universitas Leiden), menunjukkan bahwa kisah Bujangga Manik memiliki kesamaan yang luar biasa dengan yang ditemukannya dalam teks-teks yang ditulis oleh pengamat asing pada akhir Abad Pertengahan dan awal abad ke-16, bahwa hal itu tampak jelas dari referensi ke berbagai macam benda impor, ke kapal dagang, dan ke tempat-tempat asing sejauh Delhi, Banda, dan wilayah lainnya: bahwa Sunda tidak boleh hanya dicirikan sebagai daerah terpencil. Lanjut menurut Joseph, bahwa Sunda pada akhir Abad Pertengahan memiliki tradisi sastra sendiri, aksara sendiri, dan hubungan dengan masyarakat dan bangsa lain di seluruh belahan bumi. Kerajaan Sunda yang membentang dari Banten hingga Cipamali, telah menghasilkan uang dari perdagangan lada hitam dan manusia yang diperbudak. 

Kedua, ia juga mengatakan kemungkinan terdapat hubungan erat antara Sunda dengan Maladewa. Sebab, kaum elit Sunda pada masa itu, menikmati air mawar dan kapur Barus sama seperti kaum elit Mesir pada masa itu. Lalu pelaut Sunda mengetahui dan menggunakan bubuk mesiu, zat pewarna yang digunakan untuk mewarnai kain di Pakuan secara bersamaan digunakan pula oleh seniman ‘Renaissance’ Italia untuk membuat cat. Menariknya, dunia abad pertengahan lebih ajaib dari apa yang luput kita bayangkan. Pada abad kelima belas itu, produk tumbuhan dan hewan dari wilayah Nusantara yang kini menjadi Indonesia secara rutin diperdagangkan di pasar Afrika, Asia, dan Eropa. Orang-orang di Sunda dan Jawa mengetahui tentang Afrika Timur dan India, mereka pernah mendengar tentang Papua, mereka mengenal orang dan produk Tiongkok secara intim. Pedagang dari Seram melakukan perjalanan dengan perahu mereka sendiri ke Sunda dan Jawa, di mana mereka mungkin bertemu dengan komunitas Tiongkok yang menetap di setiap kota di pesisir, prajurit Makassar yang bekerja sebagai penjaga di kapal-kapal lokal.

Ketiga, Umat ​​Muslim dari Khambhat dan Kairo yang datang untuk membeli cubeb atau menjual empedu pohon ek, para pelancong Kristen Latin seperti Niccolò de’ Conti, dan mungkin (sebagian besar tidak tercatat) para pelancong dari Pantai Swahili atau bahkan seorang pertapa Saivist dari Sunda. Hubungan mereka tersebut telah terjalin selama berabad-abad, bahkan mungkin ribuan tahun. Menurut saya, sejarah kepulauan ini seharusnya tidak ditulis hanya sebagai serangkaian misi diplomatik atau sebagai evolusi lembaga keagamaan dan politik yang terinspirasi oleh India. Kawasan ini merupakan bagian integral dari separuh dunia yang memiliki keterkaitan ekonomi dan budaya. Memahami konteks belahan bumi tersebut meningkatkan pemahaman kita tentang Indonesia, dan pemahaman tentang Indonesia sangat meningkatkan pemahaman kita tentang Abad Pertengahan secara keseluruhan.

Revivaliasi Skriptorium Jasinga-Cicanggong

Jasinga hari ini merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor bagian barat, yang berbatasan dengan Provinsi Banten. Bagi kebanyakan orang, nama ini tidak mengundang asosiasi sejarah yang dramatis sekaligus menarik. Tidak ada monumen besar di sana, tidak ada museum yang merayakan kebesarannya, tidak ada jalan protokol yang menyandang nama tokoh-tokoh besarnya. Jasinga adalah daerah yang lebih dekat dengan frasa: terkubur dalam keheningan sejarah. Namun di balik keheningan itu, Jasinga menyimpan sesuatu yang jauh besar dan jauh lebih penting dari sekadar monumen. Sebab, Jasinga, jika meminjam pernyataan seorang kawan (Muhamad Alnoza) yang bergelut di dunia filologi, arkeologi, dan antropologi, adalah memungkinkan bisa dilihat sebagai bekas wilayah karesian, sebuah kawasan yang dalam tatanan Kerajaan Sunda difungsikan sebagai pusat kehidupan para resi (kaum intelektual-spiritual) yang mengemban tugas memelihara, menafsir, dan mewariskan pengetahuan.

Konsep karesian dalam kebudayaan Sunda bukan sekadar tempat tinggal orang-orang arif-bijaksana, sebab ia sendiri serupa institusi: sebuah wilayah mandiri yang berada di bawah otoritas para resi, terpisah dari otoritas langsung kerajaan, dan berfungsi sebagai pusat pendidikan, pelestarian tradisi, dan produksi teks dan makna. Para resi di karesian itu tidak hanya berdoa dan bermeditasi, dalam kerjanya mereka menulis, menyalin, menafsirkan, dan mengajarkan segala sesuatu yang berkutat pada tradisi ilmu-pengetahuan. Mereka adalah para intelektual kebudayaan Sunda, yang dalam pengertian modern kali ini mungkin serupa kaum ulama di pesantren atau profesor-doktor di perguruan tinggi.

Sebab, Jasinga mewariskan peninggalan naskah di masa Sunda Kuna, sebagaimana dicatat dan disimpan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, naskah-naskah itu berjudul; Langgeng Jati (Kropak 1095), Carita Jati Mula (Kropak 1097), Pakéeun Raga/Sanghyang Tatwa Ajnyana (Kropak 1099), Sasana Sang Pandita (Kropak 1101), Serat Jati Niskala (Kropak 1103), Primbon (Kropak 1104), Kropak 105, dan bahkan Para Putera Rama dan Rahwana (Kropak 1102) yang isinya menarik dalam kerja kesusastraan, berisi fragmen kisah anak Rama dan Rahwana hasil kerja kreatif rekonstruksi-dekonstruksi para pujangga Sunda dalam mengadaptasi Epos Ramayana yang bermula (pada bagian tujuh yaitu Uttarakanda) dari India itu—disesuaikan plus direaksi ulang dengan topografi wilayah plus muatan nilai-nilai khas Sunda.

Tak hanya itu, dalam tulisan Deden Fahmi Fadilah, kita dapat meninjau bagaimana perbedaan kisahnya terletak pada dan terutama dengan ditambahnya tokoh Manabaya yang menjadi anak bungsu Rahwana dari istrinya Manondari, sementara pada versi lainnya, Rahwana tidak memiliki anak bernama Manabaya. Secara garis besar, kisah pada “Para Putera Rama dan Rahwana” ini mengisahkan peperangan dengan alasan balas dendam antara anak dari Rahwana melawan anak dari Rama, yaitu Bujanggalawa dan Puspalawa. Seperti yang kita tahu bahwa pada kisah Ramayana versi lain, anak Rama yang dilahirkan Sinta adalah Lawa dan Kusa, namun pada teks ini memiliki perbedaan penyebutan. Kemudian, penamaan kerajaan Rama dan Rahwana pun berbeda yaitu Ayodhya menjadi Lengkawati, dan Alengka menjadi Lengkapura. Hal-hal tersebut secara tekstual bisa langsung kita cerna sebagai perbedaan yang signifikan antara teks ini dengan versi Ramayana yang lainnya. 

Lebih menarik dari itu, penyebutan nama Hayam Canggong sebagai tokoh pertapa (bukan Valmiki) yang merawat Dewi Sita dalam ”Para Putera Rama dan Rahwana” menimbulkan kesan yang sangat kuat. Dalam tulisannya, Deden menguraikan bahwa Sita yang hanyut dalam peti melewati berbagai sungai dan akhirnya tersangkut pada lukah (perangkap ikan) milik Aki Hayam Canggong yang tinggal di pertapaan. Nama Hayam Canggong ini secara langsung mengingatkan pada nama Cicanggong, sebuah nama kabuyutan di kawasan Koleang, Jasinga. Keterkaitan antara nama tokoh dalam naskah dan nama tempat kabuyutan tempat naskah itu berasal bukan sekadar kebetulan. Ini bisa berarti cara pengarang menancapkan ceritanya ke dalam tanah tempat ia hidup dan berkarya. Dalam teks tersebut pun si pencerita atau narator menyebut tokoh Aki Hayam Canggong dengan Akiing yang berarti Kakekku. Jika demikian, dugaan besar bahwa si pencerita atau narator di kisah tersebut mengakui dirinya sebagai keturunan Aki Hayam Canggong yang konon, memiliki kisah langsung dengan Dewi Sita dan bahkan ikut merawat Bujanggalawa dan Puspalawa, anak Ramadewa. Itu seperti simbolisasi kepemilikan naskah teks tersebut yang artinya kisah ini ”seperti nyata” telah dialami oleh ”kakeknya” si pencerita atau narator. 

Kesusastraan Sunda Mengalir ke Muara

Jauh sesudah itu, Jasinga tak hanya meninggalkan warisan naskah Sunda Kuna. Sebab, pada masa Kolonialisme tercatat nama Jonathan Rigg dari inggris yang bermukim di Jasinga dan membuat Kamus Sunda-Inggris pertama berjudul A Dictionary of the Sunda Language of Java (1862). Hal tersebut bisa kita telusuri ketika membaca tulisan Atep Kurnia, di Jasinga pada 5 Agustus 1862, Rigg mengatakan bahwa sangat berhutang budi pada pembacaannya atas karya-karya tulis pendahulunya, seperti Crawfurd, Marsden, P. Roorda (1835), Wilde (1841), dan orang-orang Eropa lainnya yang meneliti kebudayaan Sunda khususnya. Selain itu, ia juga mengatakan sangat berhutang budi pada Ki Gembang, seorang juru pantun dari Jasinga, yang telah ia undang untuk mementaskan pantun Sunda untuk memperoleh pengetahuan bahasa Sunda. Lalu ia sangat berterima kasih kepada Demang Jasinga Raden Nata Wireja, yang menjadi sumber sekaligus teman diskusinya mengenai keseluruhan kamus tersebut, dan ditambah atas jasa baiknya memeriksa kata-kata Sunda yang sulit selama berbulan-bulan pada tahun 1854.

Periode selanjutnya, Bogor secara luas pada pertengahan abad ke-20, juga meninggalkan semangat berkesenian dan bersastra yang terus merekah melalui majalah-majalah sastra berbahasa Sunda: seperti Mangle, Warga, Baranangsiang, dan berbagai penerbitan serupa yang menjadi oase ekspresi bagi para sastrawan modern. Majalah-majalah ini bukan hanya wahana publikasi, melainkan gerak-gerik komunitas, ruang debat estetika-budaya, dan penjaga keberlangsungan bahasa Sunda di tengah arus nasionalisme Bahasa Indonesia. Misalnya, dalam majalah Baranangsiang (1963), Saleh Danasasmita, Mohtar Kala, dan para penulis lainnya, sangat intens membahas fenomena-peristiwa masa silam terkait Pantun Bogor, Siliwangi, Pakuan Pajajaran, dan berbagai isu kesundaan lainnya—sebagai bahan baku cicilannya dalam menuliskan buku Sejarah Bogor (1983).

Kerja kreatif lainnya mengenai kesusastraan dapat terlacak dengan membaca kesaksian dari Ajip Rosidi dalam buku Otobiografi Hidup Tanpa Ijazah – Yang Terekam dalam Kenangan (2008), bahwa “pada waktu Rendra dari Solo untuk pertama kali berkunjung ke Jakarta, Ardan, Soekanto, dan aku menjemputnya di stasiun Gambir dengan sepeda. Kereta api tiba dari Solo malam hari. Maka Rendra dari stasiun langsung diajak menonton dogér di stasiun lama Senén, setelah menyimpan tasnya di rumah Ardan. Hebatnya, Réndra berani turun ke kalangan, menari dengan dogér. Tentu saja menjadi buah tertawaan dan percakapan kami untuk beberapa lamanya. Sepulang dari Jakarta Rendra menulis sajak mengenai Ciliwung dan penari dogér. Pada kunjungan itu Rendra kuajak menemui H.B. Jassin, Atun (Ramadhan Kartahadimadja), dan lain-lain. Pada kesempatan lain kuajak mengunjungi Mochtar Lubis yang sedang menjadi tahanan rumah sehingga ia pernah berkata—bahwa akulah yang memperkenalkan tokoh-tokoh di Ibukota kepadanya—yang ketika itu merasa sebagai orang daerah. Juga pernah kuajak ke Kebun Raya Bogor, lalu mengunjungi Kang Aoh K. Hadimadja yang ketika itu bekerja di Perkebunan Jasinga Estate dan menginap di sana. Dia (Rendra) menulis sajak tentang Kebun Raya Bogor (Hutan Bogor dan Jalan Bogor – Jasinga). Kang Aoh (Aoh K Hadimadja) sendiri menulis cerita péndek “Artis yang Ulung” yang didedikasikan kepadaku dan Rendra (dimuat dalam buku Poligami, Jakarta, Pustaka Jaya, 1975).”

Tabe, pun! Segala uraian pembahasan di atas tentu memerlukan seorang pengkaji-peneliti yang benar-benar sudah sejak lama bergelut di bidangnya, agar membantu menguraikan apa dan bagaimana duduk perkara mulanya hingga geliat akhirnya. Untuk memulai propaganda Halimun Salaka dan Bujangga Manik Society dalam (pra-) Bujangga Manik Writers Festival, saya bagikan bocoran terkait dua acara seminar yang semoga akan tunai dilaksanakan di Kota Bogor dengan tajuk Dekonstruksi Tritangtu, dan di Kabupaten Bogor dengan tajuk Bogor dalam Dunia Kesusastraan Sunda: dari Bujangga Manik, Jasinga, hingga Mangle. Tunggu tanggal mainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *