Di Pamoyanan. Sudah berhari-hari Prabu Anom beristirahat, bahkan si Lengser belum juga bangun dari tidur pulasnya serupa kerbau yang mendengkur. Kini, setelah cukup beristirahat, dan usai merumuskan beberapa poin hasil dialognya dengan Resi Handeula Wangi, waktunya Prabu Anom meneruskan pencarian atas apa-apa yang masih diselimuti halimun. Dibangunkanlah si Lengser yang sedang tertidur nyenyak. Namun, si Lengser tak kunjung bangun juga, dengkurnya itu tetap nyaring-bersuara.
Tak habis pikir, Prabu Anom akhirnya membangunkan si Lengser dengan membekap mulut dan hidungnya. Alhasil, terbangunlah si Lengser dengan rasa ngorejat.
“waaanying, siapa ini!” Gerutu Lengser sambil terperanjat.
“Tidur weh tidur sampai maot sekalian.” Jawab Prabu Anom.
“Eh, Raden. Hampura, hampura, saya kira serangan dari kulon dan wetan. Heiheee.”
“Bangun, Lengser, sudah waktunya kita membahas kisah-kisah lampau yang telah terjadi dan kisah-kisah baru yang telah menanti itu.”
“Hemmm, baru beberapa menit saya tidur, Raden.”
“Bebenguk sia beberapa menit, kamu sudah tidur 3 hari 3 malam.”
“Hehehe, maaf Raden namanya kecapean, kadang tak ingat waktu dan tak ingat hari.”
“Segera bersiap-siap, saya tunggu di Hutan Samida, kita akan ngobrol di sana.”
Prabu Anom berjalan keluar dari keraton melewati Pakancilan, melewati Windu Cinta, berjalan menanjak dan sampailah ke Hutan Samida. Di Hutan Samida beragam jenis pohon-pohon purba yang rimbun-besar sekaligus tua usianya itu menghalau sinar matahari untuk menyentuh tanah. Suasana begitu sejuk, dan halimun tipis masih menyelimuti pepohonan.
“Jadi ingat Prabu Jayadewata ya, Raden.” Celetuk Lengser sambil berjalan menghampiri Prabu Anom yang tengah duduk di bawah pohon.
“Ya, hutan ini akan terus berkaitan dengannya, seorang raja yang memiliki dua gelar sekaligus: dari Sunda dan dari Galuh.”
“Kita akan mengenangnya terlebih-dahulu, atau langsung ke kisah selanjutnya, Raden?”
“Langsung saja, Lengser. Urusan Prabu Jayadewata bisa lain waktu kita bahas. Sebab, saya masih cukup penasaran mengenai haur yang jatuh dari Kayangan itu, bagaimana jika kita yang menemukannya? Apa yang akan kita dapatkan?”
“Tak ada gunanya untuk kita, Raden. Namun, menurut cerita, haur itu akan berguna untuk Tukang Mantun, karena akan berguna untuk menunjang saungnya yang hendak roboh.”
“Yeee, naon boa bebenguk. Tapi, apakah kamu masih bisa menerka-kira, ketika nanti saya naik ke Mandala itu akan seperti apa peristiwanya?”
“Ya tak tahu, Raden. Walaupun kadang bisa dijangkau oleh Lingga di Gunung Gorowong yang ditatah alam wali suci bumi: bumi sebagai ruang kembara sebelum mati. Kalau hal-hal serupa itu tentu bisa saya jelaskan, Raden. Dan suci, nilai penyempurnaan sebelum menemui mati, sedangkan alam merupakan dimensi untuk yang hidup sekaligus mati.”
“Lalu wali apa, tadi kamu menyebutkan kata wali?”
“Nah, tentang wali saya tak menemukannya, Raden. Untung sih, sebab jika saya tahu sebelum saya mati, saya akan mati dalam penyesalan.”
“Apa sebabnya itu bisa terjadi, Lenger?”
“Hoream, Raden, bisa dibilang saya itu hidup salah, mati juga salah. Kalau hidup begini, kadang mau tak mau dan suka tak suka harus menyaksikan segala peristiwa yang dialami keturunan Sunda yang rumit sekaligus penuh masalah ini. Kalau mati, agaknya tak ada mandala yang siap menerima saya, Raden: ke Mandala Kasungka, tak ada yang berani memeriksa saya. Ke Mandala Parnana, yang berjaga malah menyembah saya. Ke Mandala Karna dan Mandala Rasa, pintu-pintunya malah terbuka sendiri. Ke Mandala Seba dan Mandala Suda, sama saja terbuka begitu saja. Ke Mandala Jati, penghuninya malah meminta bako.”
“Lalu ke Mandala Samar?” Potong Prabu Anom.
“Kalau saya ke Mandala Samar, Raden, saya akan pusing mendengarkan Sanghyang-Sanghyang berkisah tanpa usai, dan malah membuat banyak aturan yang malas saya turut-dengarkan. Itulah mengapa saya memilih di sini saja, Raden.”
“Bukankah Mandala itu bagus tempatnya dan serba indah, tercukupi lahiriah dan batiniah, Lengser?”
“Bagus, indah, atau tercukupi semuanya itu ciptaan kemauan manusia saja, Raden. Atau buruknya pun ciptaan pikiran manusia sendiri. Di Mandala itu tak bisa disamakan dengan apa yang ada atau terjadi di dunia ini, Raden. Selalu saja terbalik: jika di sana baik—di sini bisa saja buruk. Atau sebaliknya, jika di sana indah—di sini bisa saja tak indah.”
“Jika begitu, lalu apa sebenarnya kehidupan atau kematian ini, Lengser?”
“Raden, hidup maupun mati itu jika kita mengamini apa yang agama Pajajaran pegang percayai, tak ada yang baik maupun yang buruk. Baik atau buruk itu jika diandaikan sebagai Mandala Pajajaran, akan serupa dengan tergantung siapa yang melihat, jika ia menyukainya pasti akan ia anggap baik, sebaliknya jika ia menganggap buruk tentu saja akan melihatnya sebagai keburukan.”
Lengser menghampiri salah-satu pohon kihara, tak lama melanjutkan bicaranya, “Begini, Raden. Sekarang mah apapun itu urusan Mandala, jika kelak Raden bertakhta menjadi raja, jangan sampai urusan mandala masuk ke urusan negara, atau sebaliknya urusan negara masuk ke urusan mandala. Sebab, jika keduanya itu Raden satukan, sebagai raja Raden telah menyatukan sesuatu yang bukan lajur-alurnya. Negara harus hidup-menghidupi masyarakatnya, sedangkan Mandala harus hidup-menghidupi dunia. Capaiannya berbeda dan daya ciptanya juga berbeda. Daya cipta itu pada setiap raja ataupun manusia tentu akan berbeda, tak mungkin bisa sama.”
“Coba jelaskan lebih rinci apa yang kamu maksud daya cipta, Lengser!”
“Daya cipta, Raden, daya sebagai penglihatan pikiran dan perasaan yang disebut lamunan. Misal begini, jika seorang raja daya ciptanya tak diasah, tentu ia akan rabun ketika melihat mana yang benar dan mana yang salah. Jika demikian, bukankah sebagai raja ia akan menghancurkan negaranya sendiri secara perlahan? Nah, urusan mandala adalah urusan laku-lampah manusia kepada penciptanya. Hal itu tentu banyak sekali prosesinya, biasanya dan paling umum adalah proses persembahan atas alam kehidupan dan semesta kematian. Seorang raja paripurna harus memahami hal-hal tersebut, jika tak sampai memahaminya yang didapat hanya pangperangan sanekala.”
“Apa yang disebut pangperangan sanekala?” Potong Prabu Anom.
“Pangperangan Sanekala adalah peristiwa yang biasanya terjadi 450 sekali dalam hidup ini, Raden. Perang itu akan merebutkan persoalan bebener dan kabener yang diributkan manusia masa lalu dan masa kini.”
“Jika begitu, lalu siapa yang paling benar antara masa lalu dan masa kini?”
“Tak ada yang bisa menjawab siapa yang salah dan siapa yang benar, Raden. Tapi yang pasti, Raden, perang sanekala tidak melulu berkutat pada salah dan benar, tetapi karena monyet hitam yang kehilangan hutannya di buana kulon, lalu migrasi dan mempengaruhi buana kita. Kelak, perang sanekala yang terjadi itu, terhitung kelima kalinya.”
“Siapa yang akan unggul dalam perang itu, Lengser?”
“Tentu saja yang unggul itu yang mengadu-dombakannya, Raden. Selama perang sanekala 1 sampai 4, yang unggul selalu saja pemegang atas terjadinya keributan itu sendiri.”
“Memangnya siapa yang mengadu-dombakan perang itu, Lengser?”
“Silih berganti, Raden. Semula Mandah hitam. Lalu kedua Mandah hitam dan Mandah putih berbarengan saling mengadu-dombakan. Setelah itu, perang ketiga dihasut oleh Mandah putih dan Mandah hijau. Keempat oleh Mandah hijau dan Mandah hitam saling memporakporandakan. Dan perang kelima oleh Monyet merah yang menyamar menjadi Mandah hitam dan Mandah hijau. Raden harus tahu, perang itu kelak dihentikan bukan karena Mandah dan Monyet menyerah, bukan pula oleh manusia, tetapi karena Sang Rumuhung Sanghyang Tunggal menghadirkan Monyet Sunda tanpa warna: yang selalu ditunggu-tunggu ketika datang marabahaya sekaligus ketika datang nelangsa.”
“Sebentar, Lengser, saya belum begitu memahami uraian cerita itu. Sebetulnya apa yang diributkan monyet dan madah itu?”
“Tentu saja hal itu kiasan, Raden. Intinya yang dibahas adalah… di dunia ini tak ada agama yang mengajarkan kaumnya untuk melakukan perang kepada agama lain. Tentu, semua agama di dunia ini tak menyuruh umatnya untuk menjelek-burukkan agama lain. Dan yang pasti, yang seharusnya mengerti tentang agama itu adalah manusia itu sendiri, bukan Madah ataupun Monyet.”
“Hadeh, kenapa mesti pakai hiasan sih. Ngomong begitu kan lebih mudah memahaminya.”
“Kiasan adalah metode berkarya secara turun-temurun masyarakat kita, Raden. Kelak Raden akan menjadi raja, seharusnya Raden sudah mulai memahami apa-apa yang menjadi kiasan. Sebab persoalan agama itu, Raden, yang harus dipegang adalah sembah sekaligus sujud untuk kehidupan kita di alam kematian, bukan untuk kehidupan hari ini. Dan agama itu serupa peta untuk kita bisa menempuh koordinat titik mandala, dengan agama kita akan diterangi jalannya, diluruskan arahnya.”
“Terus, apalagi setelah itu?”
“Sebagai raja, Raden harus adil, tetapi adil bukan hanya untuk sebangsa saja. Raden harus adil kepada semua bangsa dan semua kalangan. Lalu harus tahu siloka ayakan dan siloka aseupan. Sebab, jika seorang raja gagah perkasa plus pintar tak terkira, namun tak adil kepada semua kalangan, ia serupa penari topeng yang pentas di depan orang-orang yang sedang sakit gigi. Artinya, mereka memang terlihat tersenyum riang melihat pertunjukannya, tapi senyum riangnya terpaksa karena mereka takut akan hukuman, sebab yang sedang tampil itu adalah seorang raja.”
“Mengapa kamu seperti selalu menyudutkan saya sebagai calon raja, Lengser, agar tak seperti yang kamu ceritakan? Memangnya ada apa dengan seorang raja?”
“Raden. Sejak zaman dahulu, sejak zaman para pendahulumu, persoalan raja adalah persoalan negara dan bangsa. Tentu saja saya tak bermaksud menyudutkan Raden. Saya hanya mengingatkan apa-apa yang mungkin bisa seorang raja lupakan ketika ia sudah menjadi raja. Sebab, Raden, seorang raja harus benar-benar memahami apa yang ada di balik kebenaran. Selama ini manusia Sunda selalu kalah telak berhadapan dengan kebenaran sejati. Maka, sudah waktunya kini, hari ini dan kelak ketika Raden naik takhta sebagai raja, Raden harus bisa membawa manusia Sunda untuk menaklukan perang sanekala, dan Raden harus bisa mencitrakan Ratu Adil.”
“Memangnya apa yang menjadi nilai-nilai Ratu Adil?”
“Selain harus mengetahui apa yang dialami masyarakatnya, membenahi kehidupan masyarakatnya, membawa jalan kesejahteraan bagi seluruh masyarakatnya, Ratu Adil harus mengerti siapa jelema sahulu bedul, siapa buhaya saawak jelema. Seorang raja yang bisa mencitrakan Ratu Adil, ia pasti akan mengerti haeuk owa tina tangkal di jero leuweung, kelik hideung keur nangtang hujan, seyak angin anu mendoy-mendoykeun kaso dina tegalan. Artinya, segala peristiwa yang akan terjadi di dalam negara, di dalam bangsa, di dalam masyarakat, seorang raja harus siap menjadi tameng terdepan agar seluruh negara, bangsa, dan juga masyarakatnya aman dan sejahtera. Semoga Raden bisa memahami apa-apa yang memang akan sulit untuk dipahami. Renungkanlah, maknailah.”
Seketika kisah tertunda. Tak ada yang tahu apa jawaban yang dilontarkan Prabu Anom ketika mendengar luapan pembelajaran yang dikemukakan si Lengser. Namun fragmen kisahnya membawa ke latar Talaga Warna. Di Talaga Warna, ada seseorang yang mendapat titipan. Seseorang itu sedang bertapa di dalam telaga, matanya buta, namun kelak pada waktunya ia akan bisa melihat bintang-gemintang di cakrawala tak berujung. Setelah melihat bintang-gemintang di cakrawala, ia lalu mendapat suatu pesan bahwa: yang bisa melihat tak selalu waspada, yang dikaruniai hidup tak selalu sadar, dan yang sunda tak selalu mengenali kesundaannya.
Sekarang, tak boleh melanjutkan kisah yang jauh jangkauannya, kecuali kisah yang akan dialami di depan mata.
“Lengser! Saya penasaran, di mana lokasi awal-mula dayeuh Sunda ini?”
“Di sana, Raden, di gunung yang kini masih ada dan masih bisa kita kunjungi. Tandanya adalah, di gunung itu banyak pohon yang daun dan bunganya berwarna putih. Bahkan bekas kandang badak juga masih ada di sekitar sana. Oya, Raden. Kelak, banyak orang-orang yang penasaran, mencari-cari seperti apa mahkota yang dipakai Raja Sunda. Padahal, Raden, kelak mahkota itu dilemparkan ke dasar Talaga Warna. Tak seorang pun bisa mencarinya, apalagi mengambilnya.”
Pamunah
Pun! Sapun! Kepada seluruh Karuhun di Mandala Samar, ya kepadanyalah yang mengetahui segala kisah yang lampau, yang mengetahui jalur-alur tapak samar Pakuan Pajajaran.
Paralun! Kepada siapapun yang tahu kisahnya dan tahu maknanya, dan kepada yang telah menuduh saya tersesat di labirin tanda tanya, tersesat dalam pencarian jalan pulang ke Pakujajar, ke Hanjuang Siyang dan Handeuleum Siyeum, ke Tegal si Awat-awat, dan ke Kalang Perang Sunda Panglokatan: pun! Tunjukkanlah saya pada peta kebenarannya.
Paralun! Inilah saya sajikan Rajah Pamunah, karena saya telah berkisah bagai seorang juru pantun yang mengambil daluang jadi larapan, yang membedah Telaga Sabdanarwa menyebabkan keriuhan rasa penasaran atas kedalamannya: pun! Jika kisah saya melewati jalurnya, membabat kisah-kisah yang tak semestinya, tuntunlah saya pada inti kesalahannya.
Ahung nya Paralun! Jika dalam kisahnya ada yang tersakiti hatinya, terganggu pikirannya, terlukai segala-galanya, karena kisahnya berbelok, menyeberang, dan salah arah, berikanlah ruang permaafannya.
Sapun!

