Malam itu, jalanan Bogor bergerak dengan ritme yang berbeda.
Arus motor memenuhi jalan-jalan utama. Klakson meraung tanpa jeda bak bahasa baru yang hanya dipahami orang-orang yang sedang bergembira. Anak-anak muda berdiri di pikap sembari mengibarkan bendera biru dan berteriak: Juara. Juara. Juara.
Orang-orang melambatkan kendaraan hanya untuk melihat keramaian lewat. Jalan Pajajaran, SSA, Tugu Kujang, titik-titik yang biasanya dikendalikan ritme kendaraan dan disiplin lalu lintas, mendadak berubah menjadi ruang perayaan.
Negara tetap hadir malam itu. Polisi berjaga. Lampu merah menyala. Marka jalan masih terlihat. Tetapi semua itu seperti kehilangan daya mutlaknya untuk beberapa jam.
Kota sedang mengalami penangguhan.
Hari itu, Minggu 24 Mei 2026, Persib Bandung resmi menjadi jawara liga Indonesia untuk ketiga kali berturut-turut. Dan seperti yang sudah-sudah, kemenangan Bandung menjalar ke banyak kota di Jawa Barat, termasuk di kota yang sedang saya hidupi.
Dan seperti banyak warga lain yang tumbuh besar bersama sepak bola Jawa Barat, saya menyaksikan konvoi itu dengan perasaan yang complicated.
Bertahun-tahun setelah lulus SMA, saya sebenarnya sudah mengambil jarak dari sepak bola Indonesia. Ada terlalu banyak alasan untuk pergi: liga yang sering terasa seperti ruang gelap penuh mafia, kekerasan antarsuporter yang ada dalam lingkaran setan, juga rasa capek melihat sepak bola Indonesia berkali-kali jatuh ke lubang yang sama.
Tetapi malam itu ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat saya diam-diam bertahan di trotoar lebih lama untuk menyaksikan.
Lalu menjelang malam bubar, saya membaca cuitan akun @tb_bebarsari—yang saya duga kuat pasti Zen RS sendiri yang mengetiknya—tentang “kalender rakyat”. Isinya kurang lebih begini:
Kalender Rakyat adalah saat orang-orang yang kalah dalam hidup sehari-hari, babak belur dalam penghidupan sepanjang tahun, menguasai jalanan kota dan menihilkan aturan-aturan kekuasaan.
Dan cuitan itu membikin saya menyaksikan konvoi itu sama sekali berbeda.
Selama ini jalan raya bekerja seperti lorong disiplin. Orang bergerak mengikuti panah, lampu, marka, dan aba-aba. Kota modern memang dibangun untuk keteraturan, kata kawan saya suatu hari. Ia menyukai efisiensi, kelancaran, keterbacaan, dan kontrol.
Tetapi malam ketika Persib mencetak sejarah dan konvoi meluap ke jalan-jalan utama, kota seperti kehilangan wataknya yang biasa. Jalanan mendadak terasa longgar. Orang-orang bergerak tanpa terlalu peduli pada ritme yang sehari-hari mengatur hidup mereka.
Di titik ini saya teringat pada Henri Lefebvre yang dalam The Production of Space menulis bahwa ruang tidak pernah netral. Ruang selalu diproduksi oleh kekuasaan, ekonomi, dan kepentingan politik. Kota dibentuk agar tertib, efisien, dan mudah dikendalikan. Karena itu, ketika ribuan orang turun ke jalan dan mengubah fungsi ruang secara massal, yang terjadi sesungguhnya adalah disrupsi terhadap tata ruang resmi.
Dan penguasaan ini terasa sangat teritorial.
Setiap flare yang menyala seperti penanda bahwa ruang sedang diklaim. Setiap chant yang diteriakkan berulang-ulang terdengar seperti deklarasi kepemilikan. Tubuh-tubuh manusia bergerak memenuhi jalan dengan cara yang hampir menyerupai pasukan. Mereka berputar dari satu titik ke titik lain, mengisi pusat kota, mengambil alih simpang-simpang utama, lalu menciptakan peta emosionalnya sendiri di atas kota resmi.
Di situ yang berubah bukan hanya suasana perayaan, melainkan juga relasi manusia dengan ruang kota
Massa tidak lagi hadir sebagai pengguna jalan, konsumen, atau individu-individu yang bergerak sendiri-sendiri. Mereka hadir sebagai tubuh kolektif yang memenuhi, menguasai, dan menghidupkan ruang secara babarengan.
Tentu pengalaman seperti ini tidak otomatis revolusioner. Struktur sosial tidak runtuh hanya karena satu malam konvoi. Kapitalisme tetap tegak dan orang-orang tetap kembali bekerja di hari seninnya. Tetapi pengalaman kolektif semacam ini meninggalkan semacam ingatan sosial: bahwa kota ternyata tidak selalu harus tunduk sepenuhnya pada ritme kerja, disiplin administratif, dan keteraturan yang setiap hari mengatur hidup warga.
Itulah mengapa Zen RS menyebutnya sebagai utopia yang diberi napas.
Utopia itu hadir dalam bentuk yang sangat fisik. Orang-orang memenuhi jalan, bernyanyi bersama, bergerak tanpa komando yang kaku, lalu merasakan pengalaman langka: hadir sebagai bagian dari kerumunan yang memiliki daya. Untuk beberapa jam, kota dipenuhi tubuh-tubuh yang bergerak bukan untuk bekerja, berbelanja, atau mengejar produktivitas. Mereka hadir hanya untuk merayakan sesuatu secara bersama-sama.
Dan utopia semacam itu memang singkat.
Paginya kota kembali normal. Jalan dibersihkan. Orang-orang kembali bekerja. Tetapi pengalaman singkat itu meninggalkan ingatan tubuh. Ada kesadaran kecil yang diam-diam tertanam, bahwa ruang kota ternyata sangat mungkin direbut kembali oleh warganya sendiri.
Karena itu konvoi bisa dibaca sebagai latihan.
Latihan berkumpul.
Latihan memenuhi ruang.
Latihan menguasai teritorial kota.
Sejarah memperlihatkan bahwa setiap gerakan massa selalu dimulai dari kemampuan dasar semacam itu. Reformasi Indonesia 1998 diawali oleh mahasiswa dan warga yang mulai terbiasa memenuhi jalan dan menduduki ruang publik bersama-sama. Hal serupa juga terlihat dalam Mei 1968 di Prancis maupun Arab Spring ketika ruang kota berubah menjadi titik berkumpul manusia dalam jumlah besar.
Orang harus terbiasa hadir bersama di tengah kerumunan. Harus terbiasa bergerak dalam ritme kolektif. Harus terbiasa merasakan bahwa dirinya bukan sekadar individu yang terpisah, melainkan bagian dari tubuh sosial yang mampu memenuhi dan mengubah ruang sekitar.
Stadion, konser musik, demonstrasi, pasar malam, pengajian akbar, sampai konvoi sepak bola bekerja sebagai ruang pembelajaran sosial tentang bagaimana massa dibentuk. Di Indonesia, ruang-ruang semacam itu semakin penting karena kota modern semakin miskin ruang komunal.
Taman dipagari aturan. Trotoar dibersihkan dari nongkrong. Nongkrong terlalu lama sering dianggap mengganggu ketertiban. Anak muda dipaksa berkumpul di kafe agar kehadirannya tetap terhubung dengan konsumsi. Bahkan banyak ruang publik hari ini hanya bisa diakses jika seseorang punya uang.
Dalam situasi semacam itu, konvoi sepak bola menjadi salah satu sedikit momen ketika ruang kota kembali terbuka bagi siapa saja. Orang datang tanpa tiket masuk. Tidak ada kurasi kelas sosial. Semua bercampur dalam ruang yang cair dan bising: buruh, mahasiswa, pengangguran, tukang parkir, anak sekolah, pegawai minimarket, pengemudi ojol.
Pengalaman publik semacam ini menjadi semakin langka di kota modern. Orang bekerja di gedung yang sama tetapi asing satu sama lain. Tinggal di gang yang sama tetapi tidak punya pengalaman kolektif bersama. Konvoi menciptakan momen ketika individu-individu tercerai-berai itu kembali merasa menjadi keramaian bersama.
Dan massa selalu memiliki energi politik, bahkan ketika ia belum diarahkan ke mana-mana.
Itulah sebabnya Zen RS menyebut pentingnya kalender rakyat. Rakyat memerlukan momen-momen ketika mereka bisa merasakan dirinya sebagai kekuatan kolektif. Distopia akan terasa mutlak jika seluruh hidup hanya diisi rutinitas individual: bekerja sendiri, lelah sendiri, pulang sendiri, takut sendiri.
Kalender rakyat memberi jeda terhadap situasi itu.
Tetapi jeda semacam itu tidak bisa lahir dari ruang kosong. Ia membutuhkan medium yang mampu mengumpulkan orang dalam jumlah besar, mempertemukan emosi yang terisolasi, lalu mengubahnya menjadi pengalaman bersama. Dan di banyak kota di Indonesia, sepak bola masih menjadi salah satu medium paling kuat untuk itu.
Dalam salah satu refleksinya tentang olahraga, Albert Camus pernah mengatakan bahwa segala yang ia ketahui tentang moralitas dan kewajiban manusia justru ia pelajari dari sepak bola. Kalimat itu terdengar berlebihan sampai kita melihat bagaimana klub diwariskan hampir seperti tradisi keluarga. Ayah membawa anaknya ke stadion. Anak tumbuh bersama lagu-lagu tribun. Kesetiaan diturunkan lintas generasi bahkan ketika klubnya ada dalam kekalahan berulang.
Di Bogor, hal ini menjadi menarik karena kota ini sebenarnya tidak memiliki klub sepak bola mapan yang benar-benar mampu menjadi pusat identitas kolektif warga dalam jangka panjang. Baik PSB Bogor maupun Persikabo 1973 berkali-kali berubah bentuk dan kehilangan akar emosionalnya.
Kekosongan inilah yang akhirnya diisi Bandung. Persib menjadi semacam identitas pinjaman bagi banyak warga Bogor yang tumbuh tanpa klub lokal yang stabil, kuat, dan konsisten hadir di level tertinggi. Karena itu kemenangan Persib terasa sebagai kemenangan bersama bagi banyak orang Bogor.
Dan mungkin karena menyaksikan semua itu secara langsung, hubungan saya dengan sepak bola perlahan terasa berubah lagi. Setelah bertahun-tahun menjaga jarak dari liga Indonesia, saya justru kembali melihat sepak bola sebagai ruang pertemuan yang semakin langka dimiliki kota-kota hari ini.
Saya akhirnya sadar bahwa mungkin saya harus kembali mengikuti sepak bola lokal. Mungkin juga kembali mendukung Persib Bandung seperti waktu SMA dulu. Di Bogor sendiri, munculnya Rainfall FC sebagai klub alternatif juga membuat saya ingin nyetadion lagi.
Dan alasannya ternyata sederhana. Saya rindu melihat orang-orang berkumpul dan merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Untuk beberapa jam, mereka bisa tertawa, bernyanyi, dan mengambil alih kota bersama-sama. Dan mungkin karena itu pengalaman singkat semacam ini terasa semakin mendesak, penting dan berharga.
