Ketika Layar Menggantikan Langit Sore: Sebuah Esai tentang Masa Kecil yang Hilang

Ketika Layar Menggantikan Langit Sore: Sebuah Esai tentang Masa Kecil yang Hilang

Edwin Austin Abbey (1852 – 1911)

Konon, kita memang selalu merasa kehilangan, salah satunya adalah masa kecil. Bagaimana pun, waktu takkan pernah bisa terulang. Masa lalu takkan pernah memiliki mesin waktu untuk menyambangi kita hari ini. Secara harfiah, itu benar-benar realitas atau kenyataan yang tak bisa ditolak. Kadang, pada suatu malam, ketika sunyi menyerang, hanya ingatan yang mencoba berbicara dengan kita. Tapi, kita hanya diam sebab dimensi hari ini dan dimensi masa lalu tidak akan pernah terulang. Bayangan-bayangan inilah yang dapat hadir ketika kita mendengarkan lagu-lagu gubahan Senandung Mubarock ini, sambil bengong meratapi malam dan membandingkan kita hari ini dan kita di masa lalu.

Ada sebuah sore di dalam ingatan yang tidak pernah benar-benar pergi. Bukan sore yang direkam kamera, bukan pula yang tersimpan dalam folder foto di ponsel atau di cloud. Sore itu hanya hidup di tempat paling lembut dalam dada, bayangan sepasang sandal jepit yang ditancapkan tegak di tanah gersang sebagai gawang, bola plastik lusuh yang ditendang penuh semangat tanpa teknik, dan teriakan anak-anak yang membelah udara kampung sampai ibu-ibu harus berteriak dari jauh menyuruh pulang. Lirik “Masa Kecil” dalam album Senandung Mubarock Volume 1 membawa kita kembali ke sore itu dengan cara yang amat sederhana namun menyengat: “Sendal jadi gawang / Bola aku tending / Bermain layang-layang / Terjatuh palaku peang.” Empat baris itu bukan sekadar kenangan pribadi sang penulis. Ia adalah potret kolektif sebuah generasi yang tumbuh dengan luka lutut, wajah merah kepanasan, dan hati yang penuh keceriaan. Tentu, generasi yang percaya bahwa azan magrib adalah kesepakatan bahwa permainan selesai dan menjadi penanda pulang.

Adakah ingatan itu di kepala dan hatimu yang sibuk memikirkan pekerjaan, keluarga, kendaraan, rumah, harta, dan jabatan? Jika ada, bukankah itu rindu? Lirik itu berbicara dalam bahasa kerinduan yang terang-terangan: “Sejenak aku teringat / masa kecilku dulu / saat aku bermain / bersama teman-temanku.” Ia menandai bahwa kadang kita hidup di masa kini yang sibuk, yang bising, yang penuh kewajiban. Namun, kadang ketika menunggu macet, menunggu kendaraan umum, atau sedang duduk istirahat jam kerja, tiba-tiba tersedot ke belakang oleh satu gambar kecil masa lalunya. Kerinduan semacam ini bukan nostalgia yang manis dan mewah. Ia datang seperti angin sore yang tiba-tiba, membawa aroma tanah setelah hujan, dan sebelum kita sadar, kita kadang tersenyum-senyum sendiri.

Lalu kau teringat anak-anak hari ini, anakmu yang hidup di tahun ini. Ia duduk di atas sofa, punggung membungkuk, mata terpaku pada layar tablet, ponsel, atau laptop. Jarinya bergerak lincah, matanya nyaris tidak berkedip, dan ketika dipanggil makan, ia hanya bergumam tanpa menoleh. Di luar jendela, sore berjalan tanpa ada lagi yang menyambut. Rumput di halaman tumbuh tidak terusik, tanah yang tidak mengenal becek. Pohon mangga di kebun Pak Haji berdiri sepi tanpa ada tangan kecil yang memanjatnya. Bandingkan ini dengan gambaran dalam lirik: “Bermain sepedahan / bermain hujan-hujanan / bermain mobil-mobilan / bermain sampai petang.” Betapa jauhnya jarak antara kedua dunia itu. Satu dunia diisi tubuh yang berlari, jatuh, dan bangkit sedang satu dunia lagi diisi tubuh yang diam, tapi pikiran yang berpacu di dalam layar. Keduanya mungkin sama-sama bahagia, tapi hanya salah satunya yang meninggalkan bekas di kulit dan di tanah.

Yang paling mencolok dari perbedaan itu adalah soal tubuh dan ruang. Anak-anak masa lalu mengenal dunia melalui fisik mereka. Ingatlah, mereka tahu bagaimana rasanya hujan di ubun-ubun, bagaimana sakitnya lutut yang tergores kerikil, bagaimana lelahnya kaki yang mengayuh sepeda di tanjakan kecil, bagaimana adrenalin terpacu saat berlari di kegelapan ketika bermain petak umpet sampai hampir malam. Tanah adalah guru pertama mereka; gravitasi adalah hukum pertama yang mereka pahami bukan dari buku, melainkan dari terjatuh. “Terjatuh palaku peang” — baris itu bukan keluhan, ia adalah lencana keberanian yang dikenakan dengan bangga meski lewat sakit dan tangis. Sementara anak-anak hari ini mengenal dunia melalui layar. Mereka tahu cara men-swipe, cara skip iklan, cara minta top-up, tapi belum tentu tahu cara membaca arah angin dengan mengemut jarinya lalu diacungkan ke langit, atau cara menangkap capung tanpa mematahkan sayapnya.

Sadar atau tidak, sebenarnya gadget bukan sekadar mainan. Ia adalah ekosistem yang lengkap, sistematis, dan tertutup. Jika salah penggunaan, gadget hanya akan menjadi suatu benda yang tidak ada ruang kosong yang perlu diisi oleh imajinasi, karena semua sudah diisi sebelum imajinasi sempat bergerak. Kekakuan anak-anak sekarang pada gadget bukan semata soal ketergantungan psikologis, tapi ini juga soal atrofi kreativitas yang terjadi perlahan, seperti otot yang tidak pernah dipakai. Dunia digital memberikan segalanya dengan sangat mudah, dan kemudahan yang tanpa henti itu, paradoksnya, justru membuat anak-anak semakin tidak mampu menghadapi dunia nyata yang penuh hambatan dan ketidakpastian.

Lagu “Nanti Kita Beli Nanti” menambahkan dimensi lain yang menarik dalam perbandingan ini. “Nanti kita beli nanti / kata ayah tanpa dosa / nanti kita beli nanti / ayah buat ku kecewa.” Kekecewaan itu nyata dan menyakitkan, tapi di baliknya tersembunyi sesuatu yang berharga yaitu bahwa anak-anak dulu belajar bahwa tidak semua yang diinginkan bisa langsung didapatkan. Mereka belajar menunggu, belajar menerima “tidak” sebagai jawaban yang sah, belajar bahwa keinginan harus diperjuangkan atau ditunda. Penantian itu membentuk mental yang tangguh dan rasa syukur yang lebih dalam ketika akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan. Kontrasnya dengan anak-anak sekarang sangat tajam. Di era satu klik, hampir semua keinginan bisa terpenuhi secara instan. Orang tua yang tidak ingin melewatkan momen, atau yang merasa bersalah karena sibuk bekerja, seringkali menutupi absennya waktu berkualitas dengan membelikan semua keinginan anknya tanpa memikirkan hal lainnya. Akibatnya, anak-anak tumbuh dengan toleransi yang sangat rendah terhadap frustrasi, dan itu adalah bekal yang rapuh untuk menghadapi kehidupan.

Lihat saja bagaimana peristiwa ”tantrum” terjadi pada seorag anak kecil. Anak kecil zaman dahulu pun mengalaminya, namun tak sama kejadiannya. Ketika seorang anak menginginkan sesuatu dia akan merengek, dia akan menangis, sampai nekat jongkok dan tak mau bernajak sebelum keinginannya terpenuhi. Tapi, ketika orang tuanya pergi, anak itu akan mulai berpikir: kehilangan orang tua di pasar lebih menakutkan dari pada kehilangan kesempatan mendapatkan keinginannya. Mungkin itu yang tidak terjadi pada anak di zaman sekarang.

Lalu ada soal tayangan dan dunia imajiner. Lirik “Masa Kecil” menyebut sederet karakter yang ikonik: “Ksatria Baja Hitam / Detektif Conan / Goku dan Shin Chan / Novita Doraemon / Go Go Power Ranger / Jin dan Jun.” Nama-nama itu bukan sekadar daftar acara TV, tapi momen khas di hari Minggu yang selalu ditunggu-tunggu. Tokoh-tokoh itu ditonton Bersama di ruang keluarga, kadang berdesakan dengan sepupu, kadang sambil rebutan remot dengan adikk atua kakak, dan menjadi bahan percakapan saat bermain di sore hari. “Kamu jadi Goku, aku Vegeta!” adalah kalimat yang memulai petualangan bersama di halaman belakang. Anak-anak sekarang juga menonton, bahkan lebih banyak, tapi seringkali sendiri, di kamar, dan menggunakan earphone. Konten yang dikonsumsi lebih personal dan lebih fragmentaris seperti shorts, reels, konten yang kurang dari satu menit. Dunia imajiner mereka menjadi lebih privat, lebih individual, dan ironisnya, lebih sepi meskipun mereka dikelilingi oleh ratusan “teman” online.

“Fragment Mainan Baru” menyentuh satu kebenaran yang pahit namun perlu didengar: “Dan kini aku membeli / hal-hal kecil yang dulu jauh dari mimpiku / dan kini aku miliki / apa yang dulu katamu tak dijual.” Ketika dewasa, sang pencerita akhirnya mampu membeli semua yang dulu tidak mampu ia dapatkan. Tapi, lalu ia sadar bahwa memiliki benda-benda itu tidak sepadan dengan memiliki kehadiran orang tua: “Kini aku mengerti memiliki mu jauh lebih indah dari sekedar memiliki apa pun di dunia ini.” Ini adalah pelajaran yang keras dan terlambat. Banyak orang tua hari ini, tanpa sadar, mengulangi kesalahan dalam versi terbalik. Orang tua sekarang memberikan semua benda sebagai pengganti kehadiran dan untuk alasan agar anak bisa ”tenang” dan ”tidak mengganggu”. Anak mendapatkan layar, tapi kehilangan tatap muka. Mendapatkan akses tak terbatas ke internet, tapi tidak mendapatkan tangan yang menggenggam saat bermain di taman. Lagu ini adalah surat cinta yang juga peringatan bahwa benda tidak bisa menggantikan manusia, dan teknologi tidak bisa menggantikan pelukan.

Ada ironi besar yang perlu kita hadapi: generasi yang dulu bermain tanpa gadget sekarang adalah generasi yang paling aktif memperkenalkan gadget kepada anak-anaknya. Mereka, yang merasakan sendiri betapa berharganya masa kecil yang berlarian di bawah sore hari, justru kini menjadi orang tua yang dengan bangga membelikan tablet untuk anak yang belum genap dua tahun. Alasannya beragam mulai dari agar anak tidak rewel, agar anak “tidak ketinggalan zaman”, agar anak bisa belajar lebih awal. Tapi “bermain sampai petang” dalam lirik itu bukan sekadar aktivitas fisik. Itu adalah proses pembentukan jiwa, pelatihan sosial, dan pelajaran tentang kebebasan dan batas yang dipelajari langsung dari dunia nyata, bukan dari aplikasi parenting. “Tak kan pernah terulang / masa-masa yang indah / tak kan hilang ditelan zaman / masa kecilku” . Senandung Mubarock tahu sesuatu yang dalam bahwa masa itu tidak akan terulang, dan justru karena itu ia begitu berharga. Tapi, generasi kini mungkin tidak akan merindukan hal yang sama, karena yang mereka miliki tidak meninggalkan bekas di tanah dan di lutut, hanya di riwayat tontonan dan histori pencarian.

Namun demikian, ini bukanlah ajang untuk menghakimi anak-anak sekarang, bukan pula untuk mengidealkan masa lalu secara buta. Setiap zaman membentuk manusianya sendiri, dan mungkin anak-anak hari ini sedang mengembangkan kemampuan yang tidak kita bayangkan, kemampuan untuk bernavigasi di dunia informasi yang kompleks, untuk berpikir lintas platform, untuk berempati dengan orang-orang yang tidak pernah mereka temui secara fisik. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang layak kita jaga dari “masa kecil” yang dirayakan dalam lirik Senandung Mubarock yaitu keberanian untuk bosan, keberanian untuk jatuh, keberanian untuk bermain tanpa tujuan lain selain bermain itu sendiri. Sore yang dalam kenangan itu adalah sore yang mengajarkan bahwa hidup paling terasa nyata bukan di dalam layar, melainkan di atas tanah, di antara rumput-rumput dan Semak, di bawah langit, bersama orang-orang yang sungguh-sungguh hadir. Mungkin, tugas kita yang sudah terlanjur dewasa adalah memastikan bahwa anak-anak hari ini, meski tumbuh di zaman layar, masih sempat merasakan setidaknya suatu sore mereka masih bisa berlari, jatuh, dan tertawa di bawah langit yang tidak ada tombol paused-nya. Dan, tugas Senandung, terus menyanyikannya, mungkin sebagai peringatan yang terdengar sumbang oleh telinga manusia musik elektronika dan jedagjedug!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *