Setelah lama berjalan menurun melewati pohon-pohon purba, akhirnya Prabu Anom dan si Lengser sampai juga di dataran tinggi (Puncak Cisarua) Kota Pakuan. Terlihatlah dengan samar-samar pemandangan keraton Pakuan Pajajaran, hunian-hunian para penduduknya, sungai Ciliwung, sungai Cisadane, dan juga sungai Cipakancilan.

“Lihat, Raden, dari dataran tinggi Kota Pakuan ini, walau samar-samar bisa kita pandang lanskap wilayah Kota Pakuan Pajajaran.” Lengser menarik napas yang tersengal-sengal. Sebuah siasat untuk mengajak Prabu Anom beristirahat dengan mengajaknya melihat pemandangan.

“Betul, Lengser. Di sini pula terkenang tempat rehatnya sang pertapa Bujangga Manik—Ameng Layaran—Prabu Jaya Pakuan, salah satu pendahuluku ketika mengembara ke ujung timur.” Jawab Prabu Anom sambil terus berjalan.

“Tunggu sebentar, Raden. Kemarilah, lihat!” 

“Ada apa, Lengser?” Prabu Anom berbalik dan menghampiri si Lengser.

“Apakah Raden sudah tahu di mana posisi yang dipilih Prabu Jaya Pakuan sewaktu beristirahat di sekitar sini?”

“Ya tak tahu, Lengser. Memangnya kamu tahu?”

“Tentu saja tahu. Di situlah ia duduk beristirahat, di batu pangcalikan.” Lengser menunjuk ke arah batu besar yang bidang atasnya datar. Tak lama ia menghampiri batu itu, duduk dan memperagakan bagaimana Prabu Jaya Pakuan duduk. “Di sinilah ia mengipasi badannya yang kelelahan, duduk bersila dan memandang wilayah Pakuan Pajajaran.”

“Sebentar, apakah kamu serius soal cerita ini, atau kamu berbohong agar kita beristirahat di sini karena kamu kelelahan?”

Heiheee, Raden tahu saja saya lelah. Tapi soal cerita itu saya tidak berbohong, Raden, tempat ini benar-benar pernah menjadi tempat beristirahatnya Prabu Jaya Pakuan.”

“Baiklah kalau begitu, kita istirahat terlebih-dahulu di sini. Tapi, sambil lanjutkan cerita soal Kuta Tambageu dan Ratu Arum Sugara.”

“Memangnya Raden tak mau mengenang terlebih-dahulu Prabu Jaya Pakuan di sini?”

“Tak usah, Lengser. Saya sudah mengetahui semua kisah tentangnya.”

“Tapi Raden kan belum pernah bertemu dengan Prabu Jaya Pakuan. Raden harus tahu cerita tentang ketampanan Prabu Jaya Pakuan, yang bahkan lebih tampan dari kakek Raden sendiri, yang sudah lebih-dahulu menyandang gelar Siliwangi.”

“Eeey, apa maksud kamu, Lengser!”

“Tenang, Raden, saya bukan bermaksud menghina, dan itu bukan saya juga yang bilang loh. Begini, saya ceritakan saja. Pada suatu hari, ketika Prabu Jaya Pakuan pulang dari pengembaraan pertamanya dari wetan, ia menemui ibunya karena mesti menunaikan rindunya. Nah, sewaktu ibu dan anak itu sedang bercengkerama, ada seorang perempuan bernama Jompong Larang keluar dari istana tempat dia bekerja sebagai pelayan Putri Ajung Larang Sakean Kilat Bancana. Jompong Larang keluar dari keraton, menyeberangi sungai Cipakancilan dan tiba di istana Pakuan. Di situ dia melihat Prabu Jaya Pakuan yang sedang mengunyah sirih di pesanggrahan. Jompong Larang menyebutnya sebagai rahib yang datang dari Timur. Ia terpesona oleh ketampanannya.”

Mendengar kisah itu, Prabu Anom sedikit acuh tak acuh. “Sebentar Raden, sabar. Ini inti ceritanya: Saking kagumnya pelayan itu bergegas kembali ke istana tempat dia bekerja dan memberitahukan hal itu kepada majikannya, Putri Ajung Larang. Jompong Larang memberitahukan bahwa di Pakancilan ada seorang pria yang amat tampan dan bisa menjadi pasangan yang cocok bagi Putri Ajung Larang. Dia juga memberi tahu bahwa nama pria itu bernama Prabu Jaya Pakuan, dan dia lebih tampan daripada Banyakcatra atau Silihwangi, atau keponakan Tuan Putri sendiri. Dikatakannya pula bahwa rahib itu adalah kekasih idaman, ditambah seorang pria yang amat memahami kitab suci—dan bahkan bisa berbicara dalam bahasa Jawa. Begitu mendengar hal yang diucapkan Jompong Larang, Putri Ajung Larang yang saat itu sedang menenun, seketika itu juga jatuh cinta dan penuh harap1. Dia meninggalkan pekerjaannya dan beranjak ke ruang dalam menyiapkan peralatan selengkap-lengkapnya untuk meminang Prabu Jaya Pakuan.”

“Sudah?” Jawab Prabo Anom. “Walaupun saya tak pernah melihatnya, tentu saja lebih tampan saya kan Lengser?” Desak Prabu Anom.

“Hahaha, ya ya ya, Raden, tentu saja Raden jauh lebih tampan.”

“Mengapa tertawa? Apakah kamu meledek saya, Lengser?”

“Tidak, Raden. Tentu saya berkata sesuai penglihatan saya.”

“Baiklah. Sekarang kisahkan kelanjutan Kuta Tambageu dan Putri Arum Sugara.”

“Begini, Raden. Saya akan melanjutkan ceritanya sesuai apa yang saya ingat saja, mohon maaf bila ada peristiwa yang terlewati atau tak lengkap ya.”

“Ya, tak apa-apa.”

“Waktu itu di Kuta Tambageu yang menjadi ratu adalah Nyai Ratu Arum Sugara, bukan Arum Sagara atau Sagara Arum. Ratu Arum Sugara adalah wareng ke Ki Lutung. Suaminya mati karena ditipu oleh Ki Wangsa Damba di Talaga Barat. Mulanya, Ki Wangsa Damba itu sangat menghormati dan patuh pada Ratu Arum Sugara dan suaminya. Ternyata rasa hormat dan kebaikannya itu hanya siasat saja, agar ia bisa mendapatkan Ratu Arum Sugara.”

“Bagaimana cerita kematian suaminya Nyai Ratu itu, Lengser?”

“Peristiwanya itu ketika Ki Wangsa Damba mengajak berburu ke hutan. Belum sampai ke hutan, di sungai Cibehet, suami Ratu Arum Sagara ditikam leher dan punggungnya dengan belati. Tak hanya itu, ia juga langsung didorong ke sungai Cibehet. Ketika itu, suami Ratu Arum Sagara berada di depan, kewaspadaannya tentu saja tak awas. Seusai itu Ki Wangsa Damba lalu kembali ke istana dan memberi kabar pada Ratu Arum Sugara.

“Ampun beribu ampun, Nyai Ratu. Sang raja, sang raja, telah tewas! Ia hanyut di sungai Cibehet karena terpeleset dan tertusuk ranting pohon. Ketika hamba bergegas akan menolongnya, tiba-tiba tiga ekor buaya menerkam raja, mencabik-cabik seluruh badannya tanpa tersisa. Hamba tak bisa menyelamatkannya, hamba meminta beribu ampun.”

Mendengar apa yang diberitakan Ki Wangsa Damba, Ratu Arum Sugara berteriak, menangis, dan lemas tak berdaya. Para dayangnya lalu membawanya ke kamar. Wangsa Damba menyeringai dan berkata dalam hatinya, “Tinggal selangkah lagi aku akan memiliki Nyai Putri sepenuhnya dan kerajaan ini seutuh-utuhnya. Dengan menyetubuhi Nyai Putri dalam keadaan lemas tak berdaya, aku akan menjadi raja Kuta Tambageu.”

Malam tiba. Semua penghuni istana berkumpul di pendopo, membuat riungan duka beriring lantunan doa-doa untuk sang raja. Pada momentum itulah, Raden, ketika Ratu Arum Sugara di kamarnya tak dijaga ketat para prajuritnya, Ki Wangsa Damba memulai aksinya. Ki Wangsa Damba menyelinap pelan-pelan dan masuk ke dalam kamar. Dilihatnya seseorang sedang tidur. Dengan seluruh hasrat nafsunya yang berada di dalam diri ia keluarkan. Namun, seseorang yang tidur itu ternyata bukan Putri Arum Sugara, melainkan dayang tua yang sedang absen dalam upacara duka di pendopo. Dan ketika Ki Wangsa akan menyetubuhinya, dayang tua itu berteriak sekencang-kencangnya. Seluruh istana mendengar, ribut kepanikan, bergegas dan segera berlarian ke pusat suara. Mendengar jeritannya, Ki Wangsa langsung terbirit-birit, berlari secepat kijang, melompat bagai bajing, segera keluar dari istana.

Apa yang terjadi setelah itu? Ki Baung Rancah, salah seorang pengawal Putri Arum melihat seseorang berlari dari arah kamar dan dikejarlah secepat kilat. Karena saking cepatnya, Ki Wangsa tersusul. Terjadilah perkelahian yang sengit antara keduanya. Lalu Ki Barodjagang menyusul membantu Ki Baung Rancah. Ki Wangsa mulai tersudut karena dua lawan satu. Karena merasa tersudutkan, akhirnya Ki Damba kabur menggunakan saipi angin ke arah Pelabuhan Kelapa.”

“Setelah itu, setelah itu apalagi yang terjadi, lengser?” Potong Prabu Anom.

“Mereka berdua tak mengejarnya, Raden. Sebab sudah tahu siapa dalangnya, akhirnya mereka memilih mengumumkan ke seluruh penghuni istana, ke seluruh negara terlebih dahulu, bahwa Wangsa Damba-lah yang membunuh sang raja dan berniat menyetubuhi Nyai Ratu. Tapi tak hanya itu, Raden. Ki Wangsa Damba yang berhasil lolos dari kejaran itu tak benar-benar kabur dan menyerah. Sebab, lanjutan ceritanya, mengisahkan bahwa selama berbulan-bulan dalam pelarian, Ki Wangsa akhirnya kembali ke Kuta Tambageu. Ia menaiki kapal yang besar, bahkan tiangnya terbuat dari tembaga. Ia kini menyamar menjadi Raja Keling yang berniat melamar Putri Arum Sugara.”

“Bagaimana ia bisa menjadi raja, Lengser. Apa yang membuatnya menjadi raja itu?”

“Tidak ada yang tahu bagaimana prosesnya, Raden. Sebab yang pasti, Ratu Arum Sugara, setelah lama berduka dan menyendiri itu akhirnya pulih juga. Dan bahkan kini ia sudah terpincut oleh seorang Mantri Karang, bernama Ki Bagus Jalakancana.”

“Apakah Ki Damba berhasil merebut Putri Arum dari Ki Bagus, Lengser?”

“Sabar, Raden. Kisahnya masih lumayan panjang. Tapi jika Raden ingin langsung ke ending ceritanya, akan saya berikan jawabannya.”

“Eih, jangan Lengser. Ceritakan secara bertahap.”

“Ketika Ki Wangsa yang menyamar jadi Raja Keling sudah tiba di Kuta Tambageu, ia disambut para penghuni istana dengan ramah. Tanpa banyak fafifu, Raja Keling lalu mengatakan apa maksud kedatangannya. Dengan penuh keyakinan ia mengatakan bahwa, jika Ratu Arum mau menjadi istrinya, prameswari-nya, Raja Keling tak akan lagi memelihara banyak perempuan, dan Ratu Arum akan memiliki dua negara, negara Kuta Tambageu dan negaranya, ditambah ia sudah menyiapkan keraton yang indah mempesona. Namun, apa yang dikatakan Ratu Arum? Ia tak menolaknya, tetapi meminta waktu agar ia bisa berpikir dan menimbang ulang sekaligus memohon petunjuk pada leluhurnya, pada restu mendiang suaminya yang telah tiada.”

“Tak hanya itu, Raden,” sambung Lengser, “ia juga menemui Ki Bagus dan menceritakan semuanya. Ki Bagus dengan pikiran matangnya menyarankan agar Ratu Arum tak menerima begitu saja lamarannya. Sebab ada hal janggal. Sejauh apa yang diketahui Ki Bagus, seharusnya jika seorang raja melamar itu tak mungkin hanya datang membawa satu kapal. Dan anehnya lagi raja itu tak membawa rombongannya. Ki Bagus juga menyarankan, lebih baik beri syarat-syarat yang sulit dipenuhi, karena nanti tepat ketika bulan sedang purnama, Ki Bagus akan memusnahkannya dengan ilmu kasundaan.”

“Setelah itu, bagaimana kelanjutannya? Apakah Ki Bagus berhasil membunuhnya?”

“Ternyata Ki Bagus menyusun siasat lain dengan Ki Baung Rancang dan Ki Barodjagang. Ki Bagus menjaga Ratu Arum, Ki Baung Rancah dan Ki Barodjagang menyamar ke Pelabuhan Kelapa menjadi awak kapalnya Raja Keling. Siasat itu untuk membuktikan apakah Raja Keling adalah raja dari negeri seberang atau bukan. Alhasil, setelah awak kapal lainnya dibuat mabuk oleh tuak khas Kuta Tambageu, terbongkarlah bahwa Raja Keling adalah Ki Wangsa Damba. Ki Barodjagang lalu kembali ke Kuta Tambageu untuk melaporkan hasilnya ke Ki Bagus.”

“Apakah Ki Wangsa kabur lagi, Lengser?” tanya Prabu Anom.

“Tidak, Raden. Ketika informasi itu sudah sampai ke Ki Bagus dan Ratu Arum, Raja Keling alias Ki Wangsa yang diberikan hunian sementara di sisi timur keraton sedang bersantai. Sesegera mungkin Ki Bagus dan Ki Barodjagang menghampiri Ki Wangsa untuk melenyapkannya. Raden tahu apa yang terjadi? Ketika mereka sampai menemui Ki Damba, tentu saja terjadi perkelahian dahsyat. Entah bagaimana ilmunya, Ki Wangsa semakin kuat saja dan menyudutkan Ki Bagus dan Ki Barodjagang. Perkelahian itu langsung dilihat oleh Ratu Arum. Tiba-tiba, Ratu Arum teringat akan resi di Gunung Hambalang, Resi Dulang Suntak. Semakin tersudut, semakin gusar hati Ratu Arum. Ternyata, Raden, ingatan Ratu Arum itu sampai ke Resi Dulang Suntak, dan Resi Dulang sedang menonton pula di Gunung Hambalang perkelahian mereka.”

“Apakah Resi Dulang itu lalu menolong Ki Bagus?”

“Ketika perkelahian itu menyudutkan Ki Bagus, dan Ki Barodjagang sudah jatuh tak berdaya, akhirnya Ratu Arum menolong Ki Bagus dengan memukul kepala Ki Wangsa dengan dahan sebesar pingping dengan sekeras-kerasnya. Setelah dipukul Ratu Arum, Ki Wangsa ngajongkeng dan tercebur ke rawa-rawa karena saking pusing dan gelap penglihatannya. Menariknya, Raden, setelah tercebur, Ki Wangsa berubah wujud menjadi ikan Sidat yang amat besar dan memiliki tanduk. Melihat Ki Bagus semakin tersudut, sebagai paman, Resi Dulang Suntak lalu melantunkan mantra untuk Ki Bagus, dan seketika mantra itu merubah wujud Ki Bagus menjadi ikan Gabus yang juga sama besarnya. Perubahan wujud itu menjadikan pertarungan mereka semakin sengit.”

“Dan inilah intinya, Raden,” lanjut si Lengser, “Ketika pertempuran semakin sengit, Ki Wangsa yang menjadi Sidat itu seketika mencuri celah dan menyerang Ratu Arum. Tepat ketika akan sampai ke Ratu Arum, Resi Dulang di Gunung Hambalang melantunkan mantra dan merubah Ratu Arum menjadi Burung Kuntul: badannya berbulu putih, sayapnya berwarna biru, dan jambulnya berwarna emas. Serangan Ki Wangsa akhirnya tak mengenainya, karena Ratu Arum seketika terbang. Di Gunung Hambalang Resi Dulang lalu berkata:

‘Nyai Ratu Arum Sugara, sepanjang masih ada si Wangsa Damba dan Sidat di dunia ini, Kuta Tambageu tak akan bisa damai-tenteram. Kamu harus pindah ke wilayah barat, carilah olehmu wilayah barat sungai Cipamingkis: di sana ada lembah yang diapit dua gunung kecil, di situlah dirikan wilayah Kuta Tambageu yang baru, di wilayah lamamu akan saya hilang-gaibkan. Kamu dan Bagus bersabarlah melakoni burung dan ikan, sebab nanti akan datang waktunya kalian berubah menjadi manusia lagi, tepat ketika nanti di hilir Kuta Tambageu terbuat suatu jalan yang menyambungkan barat dan timur, dan bertemunya aliran sungai ciliwung dengan sungai ciaruteun. Dan untuk Wangsa Damba, sepanjang Cikiyas (Cikeas?) masih bermuara ke Cilingsir (Cileungsir?), kamu akan selamanya menjadi Sidat, diburu-buru oleh anak cucu: keturunan Raja Bakasida dan Nyai Ratu Arum Sugara.’

“Bagaimana dengan isi Kuta Tambageu, Lengser? Apakah digaib-hilangkan atau dipindahkan ke yang baru?”

“Ada yang pindah dan ada yang tidak, Raden. Sebab, daripada pindah, toh bukannya mending digaibkan sekalian. Penghuninya yang pasti pindah. Proses berdirinya Kuta Tambageu yang baru di sisi sungai Cipimingkis (Cipamingkis?) empat puluh hari ketika Ratu Arum sudah pindah. Selagi Ki Bagus dan Ratu Arum masih menjelma ikan dan burung, Kuta Tambageu yang wilayahnya menggunung itu akan terlihat serupa telaga. Kelak, ketika mereka sudah menjadi manusia lagi, perlahan-lahan telaga itu akan kering dan terlihatlah Kuta Tambageu yang ramai penghuninya, ramai segala-segalanya: sebab peristiwa itu serupa dengan perayaan perjodohan Ki Bagus dan Ratu Arum, yang kelak disebut Bupati Sindur dalam lakon Tunggul Kawung Bijil Sirung!”

“Bagaimana dengan Ki Wangsa Damba, Lengser?”

“Ki Wangsa yang menjelma Sidat akan meributkan suasananya. Karena Ki Damba mengambil Ronggeng di atas panggung, ia diarak rakyat Kuta Tambageu. Dan di waktu itulah akan terbuka Talaga Pataruman.”

“Mengapa terbuka Talaga Pataruman?”

“Karena manusia Sunda akan ribut dengan manusia Sunda lainnya.”

“Mengapa sesama orang Sunda itu malah ribut, Lengser?”

“Karena banyak yang tak suka pada manusia Sunda, Raden. Ketidaksukaan itulah yang menjadikan orang-orang Sunda saling dihasut satu sama lain agar berkelahi, sesama saudara agar saling menikam satu sama lain.”

“Apalagi yang menyebabkan manusia Sunda tidak disukai, Lengser?”

“Sebab unggul dari tanahnya, dari alamnya, dari ilmu-pengetahuannya, dari banyak hal pokoknya. Bahkan selalu unggul dari hal tidak apa-apa: tidak apa-apa dihasut pendatang, tidak apa-apa dijajah pendatang, tidak apa-apa kepala diinjak-injak. Semuanya selalu tidak apa-apa.”

“Eeeeh serius dong, Lengser!”

“Tigarius, Raden.” Jawab Lengser tanpa pertimbangan.

Beubeunguk Lengser! Yasudah, kita lanjutkan cerita yang lainnya, tentang bagaimana jika kita yang menemukan haur (bambu) merah yang jatuh dari Kayangan itu, Lengser?”

“Eiiih, Raden. Nanti saja kalau menanyakan hal itu. Kita sudah terlalu lama bukan rehat di sini? Sebaiknya kita segera pulang ke keraton. Sebab, saya mendengar bisikan bahwa kelak, setelah burak-nya negara ini, ada para pendatang dari negeri seberang yang menemukan peninggalan-peninggalan negara kita ini. Mari kita bergegas melenyapkan saja semua kemungkinan yang akan mereka temukan dari warisan peninggalan kita ini.”

“Tak usah menjawab, Raden,” sambung si Lengser, “Karena kelak, di waktu mendatang, negara ini bukan kalah oleh negara tetangga, bukan kalah oleh bangsa sendiri, tetapi karena pikukuh yang semula menganut yang esensial dikalahkan oleh doktrin yang artifisial.”

Dengan perasan-perasaan yang campur-aduk mereka melanjutkan perjalanan. Mereka terus berjalan menurun melewati Putih Birit, menyeberangi sungai Cilingga, mengambil jalan pintas dan sampai ke Peusing, lalu ke Talaga Hening, menurun ke Bangkis, nenyeberangi sungai Cihaliwung, melewati Tajur Nyanghalang, Suka Beureus, Tajur Mandiri, Nangka Anak, Pakeun Caringin, dan terus berjalan ke Pancawara. Lalu mereka tiba di Windu Cinta, di halaman luar keraton, lalu melewati Pakancilan, Umbul2, dan sampailah kembali di Pamoyanan. 

sebelum kuhunuskan dan kutikam puisi ke jantung waktu, telah kuasah larik-larik ini di medan makna, saat fenomena hidup berperang sebagai kesatria: o, makaya: bunuhlah mantra, bunuhlah mantra!
dan ketika mulai kutikam puisi ke jantung waktu, bait-bait menghadirkan jeritan nenek moyangku, di mana darah waktu memuncratkan wajah-wajah tanpa nama dari berjuta-juta umat manusia: ya, makaya: lenyapkan mantra, lenyapkan mantra!
maka, dalam tubuh waktu itu sejarah kalah telak di hadapanku, sebab puisi-puisiku lahir dalam kubur keniscayaan, menyerang jarak antara ruang dan kejadian: hung, kalam!


  1. Fragmen kisah dalam naskah Bujangga Manik (Tiga Pesona Sunda Kuna: 2009) ↩︎
  2. Meminjam rute perjalanan Bujangga Manik ↩︎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *