foto: handhyka permana
Sampah masih menjadi persoalan domestik di Rutum. Keinginan untuk membersihkan sampah tak kunjung bergayung sambut dengan konsep daur ulang. Pengelolaan sampah tampaknya belum cukup eye catching buat hidup orang-orang yang sehari-harinya habis untuk gembar-gembor tentang mega-praktik kerja sustainability, back to basic, dan jaga alam demi menyelamatkan bumi.
Sebelumnya sampah bukanlah soal utama, karena kedudukannya tidak lebih besar dari masalah-masalah para penghuni Rutum. Sampah belum mendapat tempat yang khusus dalam pikiran tiap pribadi—yang hidup atau singgah di Rutum. Acapkali menerima kunjungan, kami hanya tahu membersihkan. Tapi juga ada saat di mana kami abai dan lalai terhadap sampah. Kemudian ia menjadi bom waktu, setelah pembiaran lama-kelamaan lalu menumpuk dan menggunung. Ia menimbun kami dengan menciptakan kekesalan pada diri yang sadar. Ia menimbulkan kemarahan dalam diri yang terdalam dan tak bisa diungkapkan. Ia pernah mengganti memori indah kami tentang bunga-bunga rambatan di halaman Rutum dengan mengubahnya menjadi wajah sampah berantakan. Kami kalah dan kewalahan sendiri. Hingga tercetus maklumat “bawa kembali sampahmu setelah berkunjung” adalah bukti bahwa Rutum belum mampu mengatasi sampah. Kesadaran Rutum belum bersih, belum sehat, belum total dalam menerapkan gaya hidup bersama.
Tentu saja pembaca bukan orang dungu yang mengartikan “kunjungan” lantas membayangkan Rutum seperti masuk food court, lalu ada pramusaji yang datang membawakan makanan dan minuman, juga ada petugas kebersihan yang membereskan tempatnya. Sebagaimana ketika “kunjungan” membawa sampah, lantas kita berkesimpulan bahwa Rutum tidak boleh dikunjungi lagi. Juga di atas ada kalimat “bawa kembali sampahmu”, terus Anda berpikir, “oh ternyata itu oleh-oleh dari Rutum.”
Sebenarnya saya tidak perlu menjelaskan kembali bahwa di Rutum berbeda dengan pujasera. Rutum tidak punya pembantu maupun pegawai kebersihan, seluruh pelaksanaan terkait pemeliharaan dan perawatan tempat dilakukan secara bersama dengan penuh tanggung-jawab. Belakangan lebih sering kami menanggung, cuma sebagian pribadi yang sadar menjawab. Baru sekarang kami menyadari betapa perlunya menerapkan “kekerasan” atau disiplin Rutum, bahwa kotor adalah kotor, maka harus dibersihkan. Sampah tidak punya kaki untuk pulang ke rumahnya sendiri. Sampah tidak tahu jalan ke mana mestinya. Sehingga setiap orang yang sudah belajar membaca dan agak terbiasa membaca, akan langsung tahu perbedaan-perbedaan antara “kekerasan” dan “kekejaman”. Kalau kekerasan adalah jalan kedisiplinan, sedangkan kekejaman adalah jurang kekasaran. Kekerasan bisa merujuk kriminalitas tertentu, juga bisa diarahkan ke tujuan “ketaatan” dengan maksud pemahaman. Sama halnya ketika orang tua kita bilang: “salat, ya, titik!” Inilah kekerasan niscaya bermaksud baik.
Rutum pernah dihadapkan oleh sejumlah masalah sampah. Banyak ahli hisap bertandang ke Rutum, mereka terlalu fokus klepas-klepus hingga lupa puntung-puntung rokok telah berserakan. Kami mengatasinya dengan menyediakan asbak sebanyak-banyaknya tanpa perlu banyak cincong mengimbau. Tapi sampah seperti peribahasa “mati satu tumbuh seribu”, timbul masalah baru Rutum bak penampungan sampah. Orang-orang kirim limbah kardus dan kertas untuk didaur-ulang oleh Surat Sobek. Bahan melimpah, produksi angot-angotan. Ketidakseimbangan pun terjadi. Dengan segera kami membatasi kiriman limbah tersebut. Kami putar otak plus terang repot waktu membereskan perkara ini.
Sesungguhnya di era sustainability sekarang ini, terutama yang melatarbelakangi kekisruhan adat istiadat yang berakibat meninggalkan sampah di Rutum—barangkali merupakan pantulan dari akhlak hidup di Rutum itu sendiri. Rutum adalah cerminan para pengunjung. Orang yang berkunjung akan mencontoh tuan rumahnya. Kalau tuan rumah tidak segera membereskan piring bekas makan, gelas habis ngopi, dan sendok-garpu yang selalu berkurang jumlahnya karena dibiarkan begitu saja setelah digunakan, maka jangan kaget kalau para pengunjung juga bersikap dan berlaku seolah-olah menyelewengkan ungkapan “berani kotor itu baik”. Tetapi saya tetap husnudhdhan bersangka baik bahwa pada hakikatnya hidup bersama di Rutum tidak setercela itu, kecuali kekerdilan itu menjadi alasan yang mereka wujudkan untuk melampiaskan kedunguan, ketidakjujuran, dan ketidaksadaran dalam lingkungan masyarakat tempat kami tinggal.
Sampah adalah wadag yang mencerminkan diri sendiri. Ia bertugas mengingatkan proses kehidupan manusia. Ia juga menjaga keseimbangan sosial dalam laku hidup sehari-hari. Ia mengajari kami seberdaya-gunanya ilmu akuntansi atau hitung-hitungan atau timbang-menimbang. Kalau kami melakukan ini, kira-kira bakal terjadi apa. Kalau kami membiarkan itu, apa yang akan terjadi nantinya. Pun seharusnya kalau tidak bayar iuran sampah (karena alasan satu dan lain hal yang tidak bisa diungkapkan), maka Rutum mesti bagaimana.
Segala daya upaya telah kami lakukan, seperti tiap tengah malam kami bakar sampah. Terkadang kami pilah-pilih untuk kemudian dikiloin ke rongsokan. Terlampau sering Rutum berbenah dan beberesan. Saya sendiri tiada hari tanpa memegang alat tempur kesayangan yaitu sapu, hampir setiap hari kalau saya di Rutum benda itu selalu berkontribusi aktif mengurangi debu dan segala kekotoran yang mampir ke halaman.
Tetapi “apalah Rutum ini”, kami ternyata ikut terlibat sebagai penyumbang dosa struktural atas sampah kami sendiri. Kami tidak bersih-bersih amat, kekotoran adalah hal yang senantiasa ingin kami bersihkan. Sebab, Rutum telah menjadi ruang gaya hidup, kami akan meneruskan kewajaran hidup bersama dengan mempertimbangkan banyak hal, salah satunya mungkin sustainable, atau dengan metode kontinuasi, bukan komoditas secara tanah mapun ruang hidup, bahkan praktik usaha yang hanya tahu mengejar keuntungan dan kekayaan pribadi maupun segolongan seperti sekarang ini.
29 Mei 2026

