Karena telat, saya tidak menonton pentas studi—seperti yang sudah-sudah—perpanjangan pertunjukannya adalah diskusi, namun terkadang lebih mirip evaluasi celaan, kritik hinaan, komentar rendahan, dan segala puja-puji langitan maupun yang membumi tanpa memahami bargaining position satu sama lain. Ujug-ujug sekali sebagai orang yang tidak jelas ini, saya diminta hadir untuk membersamai lingkaran tersebut, padahal sedikitpun saya tidak tahu apa dan bagaimana pementasannya. Alhasil, saya hanya duduk diam plus mendengarkan seluruh pembicaraan mengenai sirkulasi pertunjukan hingga pertautan antar pikiran di sekitarnya.
Saya kok prihatin melihat diskusi sesudah pertunjukan, serta banyak ekosistem ketergantungan dan program-program pengkondisian yang sejenis itu. Apa kita yakin hari esok akan terjadi suatu diskusi yang suara-suaranya tidak hanya terungkapkan dari sekian banyak penonton kepada sutradara, tetapi para pemain juga berani (lantaran telah diberi kesempatan) untuk memberikan tanggapan yang secara umum dianggap paling berhak membicarakan segenap proses pertunjukannya.
Tentu saja keprihatinan saya ini tidak rasional. Karena yang saya prihatinkan itu belum cukup terbukti mewarnai gelanggang secara kemenyeluruhan, sebab saya bukan orang lapangan yang memerhatikan gerak-gerik “drama berakhir dengan diskusi” (meminjam istilah Wiratmo Soekito). Barangkali ini hanya perasaan awak saja.
Namun demikian, secara pribadi saya tetap “nggelar kloso” sebelum duduk. Andaikan peristiwa yang menggelisahkan itu tidak saya alami, tak mungkin saya merasakan bahwa saya terlambat, lebih tepatnya memang lelet, memahami bahwa apa yang dimaksud dalam puisi-puisinya Pakde Uki yang kemudian saya gubah menjadi “Tunggu Tanggal Mainnya” ini telah disadari betul oleh para pemain yang bakal mementaskannya?
Sebagaimana pemanggungan tribute, niat mulanya adalah untuk mentakzimi dan mengenang 100 hari Kepulangan almarhum. Gagasan utamanya adalah “nguri-uri” puisi-puisinya dengan pola pemanggungan, entah disebut deklamasi sajak panjang atau semacam drama puisi, yang agaknya lain dari yang kita lihat, yang akan dipentaskan selama dua malam berturut-turut dari tanggal 31 Juli hingga 1 Agustus mendatang.
Di titik inilah, saya dan orang-orang yang berdiri di sekeliling panggung teater, baik di dalam Paseduluran Lidah Daun maupun para inisiator yang dengan kerelaan hati plus kesediaan waktu turut membersamai proses “hari raya” Pakde Uki, berharap bahwa para sahabat, teman, keluarga, dan murid-muridnya beliau bisa bertemu kembali di-“Tunggu Tanggal Mainnya”. Upaya alit ini barangkali suatu perkenalan dengan keluasan puisi-puisinya, yang tentu saja melibatkan pemaknaan penonton maupun pembaca yang sama-sama sedang menempuh sebagai pembelajar kehidupan yang kita alami dan hayati bersama. Setidaknya di titik ini, nanti, kita bisa mengalami perjumpaan satu sama lain.
Tulisan ini tidak disusun seperti kerangka kerja penyutradaraan sebagai sumber penciptaan, melainkan sekedar pencatatan biasa agar tidak mudah lupa. Kalau bagi orang pemasaran disebut strategi campaign. Jadi jelas ini bukan metode. Paling-paling cuma brosur pemahaman. Sebatas informasi atau promosi tentang suatu produk pertunjukan. Dan sekarang, saya akan menyampaikan sejumlah amatan berdasarkan pencarian repot sendiri, yang akan membawa saya untuk membongkar niat, alasan, dan kegagalan dalam segala bentuk kekaryaan saya yang belumlah apa-apa. Karena setiap penjelajah atau macam nyamuk seperti saya, merasa perlu mencatat apa yang telah dan baru akan dijelajahinya, sehingga brosur yang saya tuliskan ini berfungsi sebagai pertimbangan buat siapapun yang ingin menjelajahi ke wilayah yang sama maupun yang mungkin akan melangkah lebih jauh.
Konon, apa yang tidak mampu diungkapkan lewat sajak, maka mungkin dapat disuarakan lewat teater. Tapi saya merasa pernyataan ini belum lengkap, karena ada kemungkinan lain di mana keduanya bisa saling berkelindan tergantung pada komitmen sosial dalam proses penciptaan artistiknya. Kemungkinan ini tentu sudah mafhum dikenali sebagai drama puisi, ialah suatu wilayah yang banyak menyimpan mahakarya realis-puitis Lorca, Goethe, dan barangkali juga kita punya Rendra. Sebagian dari karya-karya mereka punya kemampuan untuk menjadikan puisi sebagai alat untuk menyoroti penindasan, ketidakadilan, dan kedalaman hati manusia. Terkadang juga untuk mengatakan hal-hal yang paling lugas sekalipun.
Drama puisi adalah drama yang digulirkan oleh kata-kata, di mana seluruh citraan-suasana-peristiwanya kudu dihidupi dalam pembayangan akan kata-kata.
Ketika saya menggubah “Tunggu Tanggal Mainnya” berbahan puisi-puisinya Pakde Uki, bersyukurlah saya dianugerahi rasa ngeri-ngeri penasaran sebagai seorang pemula, yaitu kesempatan untuk menentukan subjek (sekedar menyebut temuan karakter pemain, misalnya, Si Hati Hamba, Si Waras Diri, Si Mata Sosial, serta three in one Paduan Corong) yang saya rasa sudah “klik” ditambah “klop” dalam pemanggungan puisi, dan menurut sebagian pembaca yang telah saya kirimkan naskahnya, juga menganggap ini seia-sekata puisi hidup Pakde Uki.
Karena materi pokoknya adalah puisi-puisinya beliau, maka itu berarti tentang periode kepenyairannya, yang dalam pemanggungan ini saya mencoba membedah personalitas dirinya menjadi beberapa karakter yang “di-amsali” untuk berbicara dalam bentuk puisi. Inipun belum tentu membuat puisi jauh lebih mudah dipahami apalagi dapat diterima. Lebih khusus lagi, “Tunggu Tanggal Mainnya” pada suatu nanti mungkin beberapa dari penonton tidak sepenuhnya siap untuk apa yang mereka dapatkan, sebab penempuhan ke alam pembayangan memang tidak mudah. Penonton harus membiasakan diri dengan puisi sampai pada titik di mana mereka secara sadar memperhatikan, bukan puisinya, melainkan suatu interpretasi atas puisinya, kemudian berkembang menjadi makna puisinya.
Namun, saat ini, karena keterbatasan yang diderita puisi, saya percaya bahwa dalam drama puisi, segala sesuatu yang perlu dikatakan mestilah dicukupkan, sebab puisi dalam hal ini berdaya-guna untuk menemukan situasi yang sulit diungkapkan. Tetapi jika puisi itu memiliki jangkauan yang begitu luas sehingga dapat mengatakan apapun yang seharusnya dikatakan, baik dalam keadaan-situasi-kondisi-suasana dramatis tertentu yang telah mencapai titik intensitas sedemikian rupa yang memungkinkan puisi menjadi ungkapan alami, di mana emosi dapat diungkapkan secara puitis.
Tantangan terberat dari “Tunggu Tanggal Mainnya” yang saya hadapi adalah bagaimana caranya terhindar dari monoton, bagaimana caranya menyampaikan hal-hal aktual tanpa kekenesan, serta bagaimana caranya mengungkapkan hal-hal sederhana yang sedemikian dekat hidup kita tanpa terdengar berlebihan. Terutama sekali ialah bagaimana caranya menyeimbangkan antara pembacaan puisi yang berbicara dalam bahasa yang sederhana dan karakter yang berstatus eksplorasi sambil mengoceh dalam bentuk puisi, sebab kalau tak seimbang berarti dapat disimpulkan bahwa tak perlulah ada drama puisi jika keberadaan drama prosa selama ini sudah memenuhi kebutuhan pertunjukan secara dramatis.
Tapi ini bukan soal puisi harus didramatiskan, juga bukan cuma soal drama puisi. Arti pertunjukan ini tidak hanya terletak pada kata-katanya, melainkan pada keluasan-kedalaman-keutuhan berdasar konteks dan nuansanya.
Saya tidak menyangkal bahwa puisi-puisi Pakde Uki memiliki kualitas puitis yang berbeda dari yang lain, kecuali setelah saya mengalih-wahanakan ke dalam bentuk drama puisi “Tunggu Tanggal Mainnya”, maka siapapun boleh menyangkal kepada saya. Karena untuk menjadi puitis dalam drama, seorang dramawan harus tangguh-tahan konsisten puitis dalam ruang lingkupnya yang sedemikian terbatas. Dalam kondisi seperti inilah, drama puisi barangkali juga tentang karakter-karakter yang hidup dalam kehidupan namun berbicara secara puitis dan tetap menjadi manusia aktual. Aksentuasi drama puisi itu erat dengan komitmen sosial, meskipun pada umumnya lebih dibatasi oleh konvensi puitis berdasar pengkondisian tertentu, dan atau oleh konvensi ketergantungan kita tentang apa yang dianggap puitis dari sekedar drama puitis dalam bentuk puisi.
Seiring saya mencoba memahami permasalahan drama puisi, serta menyadari syarat dan ketentuan yang berlaku agar dapat dibenarkan, saya menjadi bergairah menjelajah, bukan karena alasan saya sendiri untuk terus menulis dan memanggungkan “penjelajahan tanpa peta” bentuk ini, tetapi juga alasan yang lebih umum yakni “terus tanding budaya puisi” dengan berbagai media ekspresinya di dalam suatu pemanggungan.
Alasan pulalah yang pada mulanya melandasi sekian banyak kerja-kerja pemanggungan. Hampir seluruh kredo-kredo kesenian yang dimapankan seperti, “Kegagahan Dalam Kemiskinan” Rendra, “Bertolak Dari yang Ada” Putu Wijaya, “Teater Tanpa Selesai” N. Riantiarno, “Teater Saja, Teater Murni” Ikranegara, “Dari Apa yang Telah Ada” Wisran Hadi, “Teater Tanpa Penonton” Danarto, dan berbagai pengucapan lainnya yang aslinya cuma alibi. Demikianlah supaya tampak trendi, alasan itu diumumkan bersamaan dengan kemunculan ide yang segar, gagasan yang tajam, dan konsep yang jitu. Lain daripada itu juga alasan bisa dimaksudkan sebagai suatu prinsip dasar, pandangan hidup, dan pedoman estetika yang dipeluk erat disiplin artistiknya masing-masing.
Alasanlah yang membuat diri kita berani mempertanyakan sesuatu, mengambil tindakan, dan menjangkau apa yang dituju. Alasanlah yang dapat memengerahui tindakan apa yang akan kita lakukan. Untuk apa tindakan ini kita lakukan. Dan dalam kondisi kejiwaan seperti apa kita harus melakukannya. Andaikan untuk nilai, lantas nilai apa yang hendak kita raih dalam hidup ini. Keputusan seperti apa yang akan kita buat untuk meraih nilai ini. Tiap keputusan mengandung apa yang kita korbankan dan ada konsekuensi yang harus kita tanggung. Kemudian apa dan siapa yang kita butuhkan atau tidak sangat kita harapkan untuk memenuhi alasan kita.
Kini teater kita mulai dipenuhi kontemporer, sebagian lain masih percaya pada alasan. Kadang bahkan alasanlah yang meneguhkan hati kita untuk terus menjelajahi kemungkinan wilayah yang begitu luas meski peta semakin jauh dari selesai, sehingga pengembaraan ini seperti tak berujung, tak bertepi. Kadang hanya perlu alasan untuk tidak berhenti berjuang. Tapi demi menghidupi alasan semua ini, ada harga yang harus dibayar, ada pengorbanan yang harus dikorbankan, dan ada konsekuensi yang harus ditanggung. Apapun keadaannya tak apalah karena dengan alasan, kita bisa memberi lelah yang berarti, kita punya harga pada sesuatu yang bernilai, atau paling tidak, alasan seperti brosur agar kita sedia menjalani dan melakukan sesuatu dengan cara kita, dengan berkesenian hanya untuk menjaga martabat manusia dan kemerdekaan jiwa, misalnya.
1 Juli 2026

