Ilustrasi: ariants aditya
Setelah Dana Indonesia/raya, apa yang berubah pada ekosistem seni pertunjukan? Setelah miliaran rupiah dana publik mengalir ke seni pertunjukan selama beberapa tahun terakhir, apa sebenarnya yang berubah? Pertanyaan-pertanyaan berikut mengajak kita untuk membaca ulang ekosistem seni pertunjukan Indonesia setelah aliran Dana Indonesia/raya. Apakah sekarang lebih banyak pertunjukan atau lebih banyak proposal? Apakah energi seniman kini lebih banyak dipakai untuk mencipta, atau untuk memenuhi administrasi? Apakah kualitas karya ikut meningkat atau hanya jumlah produksinya? Jika dana bertambah, apa indikator bahwa seni pertunjukan kita benar-benar berkembang? Lebih banyak karya? Lebih banyak eksperimen? Atau sesuatu yang lain? Setelah pertunjukan selesai, apa yang benar-benar tersisa? Apakah karya-karya itu masih hidup? Masih dipentaskan? Masih dibicarakan? Masih memengaruhi praktik kelompok lain? Ataukah selesai bersamaan dengan laporan pertanggungjawaban? Atau sedang menikmati dana yang tersisa melalui penyiasatan? Dana publik membuka akses. Tapi apakah akses itu benar-benar merata? Siapa yang kini lebih mudah memperoleh dukungan? Komunitas kecil? Daerah? Nama-nama baru? Atau mereka yang sudah memiliki pengalaman menyusun proposal? Atau justru yang “punya akses”? Apakah Dana Indonesia/raya melahirkan ekosistem atau hanya proyek? Apa bedanya? Ekosistem berarti hubungan antarkomunitas, regenerasi, penonton, ruang, kritik, jejaring, dan keberlanjutan. Mana yang benar-benar bertambah? Proyek berarti … (yah, pahamlah artinya ini). Apakah seniman menjadi lebih berani atau justru “cari jalan aman”? Ketika ada mekanisme seleksi, apakah seniman terdorong mengambil risiko ideologis dan artistik? Atau dengan sadar (atau tidak) memilih ide yang dianggap lebih mungkin lolos pendanaan? Apakah kita mulai mengukur keberhasilan seni dengan besarnya hibah? Atau siapa yang lebih sering dapat hibah? Apakah percakapan kita kini lebih sering tentang “siapa yang lolos” daripada “apa yang dipentaskan” dan “apa dampaknya bagi ekosistem”? Kalau suatu saat nanti Dana Indonesia/raya dihentikan, apa yang akan tetap hidup? Komunitasnya? Penontonnya? Model kerjanya? Kolaborasinya? Atau justru hampir semuanya ikut berhenti? Sekarang giliran Anda. Setelah beberapa tahun Dana Indonesiana/raya hadir, apa satu perubahan terbesar yang Anda rasakan dalam seni pertunjukan Indonesia? Positif maupun negatif.
Demikian bombardir pertanyaan-pertanyaan dari Instagram @kalabuku, sengaja saya menukilnya karena saya suka penanggapannya. Sejumlah pertanyaan itu membuat saya berpikir keras dan merenung seperti gunung. Jujur, saya belum punya jawaban atas semua pertanyaan di atas, tapi saya ingin semua yang ditanyakan itu punya tempat dalam tulisan ini. Semoga bukan karena saya, setuju atau tidak, pendukung atau tidak, pengaju atau tidak, tapi karena adanya kemungkinan jawaban yang menyeluruh ada pada para pelaku teater itu sendiri. Paralel secara gugatan, pembelaan, komentar, prasaran, maupun yang membijaksanai. Sedangkan bisa saya cuma bersyukur bahwa pernah ada pihak yang memberondong begitu banyak peluru melesat ke jantung ekosistem seni pertunjukan kita.
Sementara, saya terbiasa mencipta dari keadaan yang ada. Saya tidak tahu apa pernyataan saya ini sesuatu yang patut disyukuri, terlalu aneh, dianggap bodoh, kurang percaya diri, cemen karena tidak mencoba, atau bisa dibilang tolol di tengah sistem anutan dan pengkondisian dalam seni pertunjukan. Tapi ajaibnya ialah saya tidak pernah diberi kesempatan untuk menyerah sebelum mencoba, tidak pernah dikasih peluang untuk terlalu sibuk mengeluh, tidak pernah diizinkan untuk tunduk pada segala tantangan, dan tidak pernah dibiarkan untuk terjebak dalam suatu keadaan yang dikondisikan. Sebab dana Indonesiaraya terbesar yang dianugerahi Allah kepada saya ialah lingkungan penuh kreativitas, serta sedulur-dulur kreatif yang senantiasa membersamai saya di sekeliling panggung teater, dan mereka ini ialah orang-orang biasa yang tangguh-tahan menjalani disiplin artistik dengan seluruh hidup yang mereka punya.
Saya, bersama mereka, tidak terbiasa menunggu sesuatu (yang belum tentu datang) sebelum mencipta. Tidak bergantung pada gedung yang representatif. Tidak termenung membayangkan dana yang turah-turah. Tidak termangu menantikan gambaran aktor yang istimewa. Adapun satu di antara “tidak” yang mereka yakini ialah ikut tidak lemah dalam kondisi kayak apapun dan tidak melemahkan satu sama lain.
Gairah kerja kreatif mereka bukan karena dorongan keadaan yang mapan maupun ideal, melainkan dari suatu keadaan yang selalu diliputi kekurangan dan serba keterbatasan sumber yang kembang kempis. Mereka hanya bermula dari penalaran dan penyadaran akan kenyataan hidup sehari-hari. Dari kebiasaan mengolah segala keterbatasan yang dihadapi. Dari penderitaan yang selama ini hampir memenuhi di semua lini kehidupan. Dari tantangan yang memanggil-manggil diri menjelajahi kemungkinan penanggapan atas suatu keadaan. Dan dari semua inilah sumber tenaga kreatif mereka yang kemudian menjadi keberanian memandang dari segenap jurusan.
Berteater (dalam hal ini pemanggungan puisi) bersama mereka, bagi saya, adalah selain untuk tribute to Pakde Uki, juga untuk menjalin berbagai ragam ungkap dan gaya ucap komunikasi sosial, menyeimbangkan antara aksentuasi pribadi dan aksentuasi massa, memberi sikap untuk merespons gerak-gerik tak wajar, dan mengutarakan bahasa yang memihak. Memihak di sini bukan berarti menggadaikan teater dengan menyusun atau mengurus skema proposal yang tembus, juga bukan menyempitkan teater menjadi pamflet politik yang mengambang di permukaan, tetapi teater sebagai alat baca agar kita menaruh kepedulian dan perhatian estetis pada apa yang marjinal, apa yang dikuburkan, apa yang ditutupi, apa yang dibuang, apa yang tak dikenal, dan apa yang dianggap sebagai “tak berharga”.
Karena itu saya kira soal komunikasi pemanggungan puisi ini boleh jadi hal yang lumrah saja. Selayaknya orang sedang “ngobrol” biasa. Berproses untuk saling memahami dan dipahami.
Pemanggungan Puisi
“Bermacam pola pemanggungan puisi, oleh penyair atau bukan, berangkat dari kepentingan yang tidak selalu sama. Ada yang berorientasi kepada ‘kebaruan’ pola itu sebagai ekspresi kesenian, tapi ada juga untuk kepentingan komunikasi sosial itu sendiri. Aksentuasinya berbeda, pada keseniannya dan pada komunikasinya. Sehingga fungsi alat bantu yang non sastra itu pun berbeda pula. Pola yang berorientasi kepada ‘kebaruan kesenian’, menganggap cukup berkomunikasi dengan lingkaran atau lingkungan kesenian saja. Tapi pola yang aksentuasinya adalah komunikasi itu sendiri, melihat bahwa yang penting justru adalah pergaulan atau jangkauan yang seluas-luasnya,” ini adalah pernyataan penyair Emha Ainun Nadjib yang saya kutip karena batasan yang ada pada saya.
Sementara itu, saya terus mencoba berada pada denyut di antaranya: baik komunikasi sosialnya maupun inovasi keseniannya. Upaya mensintesakan antara keduanya barangkali merupakan pencarian gairah menjelajahi berbagai bentuk eksperiman pemanggungan puisi, dan ini hanyalah percobaan alit agar selalu ada dinamika plus kesegaran dalam kehidupan puisi. Mengingat seluruh pemanggungan puisi sama-sama berusaha ingin mengkomunikasikan puisi, hanya saja kemungkinan jangkauan komunikasinya akan berbeda, penetrasinya juga meluas atau mendalam, dan tekanannya berbeda-beda pula.
Pada pemanggunan puisi ini, gelagatnya ialah karakter pertunjukan, panggung, teatrikalisasi, performance, dengan segala tuntutan dan resikonya.
Musuh Saya Adalah Monoton
Berulang latihan, saya bertatap pandang dengan monoton. Seolah-olah ia selalu berdiri di atas panggung. Saya tak tahu dari mana ia datang. Kenapa ia senantiasa hadir. Sampai dibuatnya tak bisa saya mengelak. Ia bagaikan gelombang provokatif. Dan saya membayangkan diri seperti seorang peselancar, selalu berusaha mengendarai ombak tantangan di dalam mengarungi pemanggungan puisi. Darinya saya belajar jangan hilang keseimbangan, daya, dan pemahaman yang fresh mengenai arus suasana serta arah makna.
Monoton pulalah yang selama ini merangsang penjelajahan saya terarah pada medan komunikasi sosial dan inovasi seni agar bisa saling berkelindan. Untuk mencapainya seakan-akan saya mendengar ia berujar: “ingatlah, orang yang sungguh-sungguh memanggungkan puisi biasanya justru takut monoton.”
Saya memandangi wajahnya yang dingin. “Jadi monoton itu apa sebenarnya? Banyak orang menganggap monoton itu datar-datar saja, biasa-biasa saja, kering kerontang dari makna puisi.”
Ia tertawa kecil. Kali ini ia tampil sebagai “paspampus” (Pasukan Pengamanan Puisi), yang bertugas mengawal keberadaan puisi dalam hal menyampaikan makna, membangkitkan suasana, sekaligus mengalirkan perasaan yang ada di dalam puisi secara lebih optimal. Tapi saya semakin yakin bahwa ia adalah musuh yang menantang diri saya sendiri. Menantang seberapa berdayanya kreativitas saya. Menantang seberapa dalam kedalaman hati saya. Menantang seberapa sanggup pemanggungan puisi dalam menghidupkan suasana. “Jadi ketika pemanggungan puisi gagal berkomunikasi, bukan berarti penonton tak mengerti, bukan pula monoton begitu merajai, melainkan, barangkali karena pemanggungan puisi ini terlalu memuja bentuknya sendiri,” timpal monoton.
Saya mengernyit. Tak bisa menjawabnya. Yang tersisa cuma pertanyaan, “tapi kenapa tak dinikmati saja monoton itu?”
Belum selesai tanya-jawab saya dengan monoton. Muncul beberapa orang yang saya undang untuk menonton presentasi pertunjukan (yang masih belum ada apa-apa selain musik dan pengadeganan), tapi mereka sudah menyerukan “monoton” dengan nada tinggi. Saya diam sambil membatin, “tunggu sabar tanggal mainnya. Tunggu sampai benar-benar melihat secara keseluruhannya.” Mudah saja bagi saya menerima keluh-kesah monoton mereka, tetapi saya cemas kalau penglihatan mereka mengenai pemanggungan puisi hanyalah melulu soal perbandingan antara drama puisi (yang sedang diusahakan) dengan drama prosa yang sedemikian banyak memenuhi panggung pertunjukan kita. Keduanya inikan jelas berbeda.
Saya khawatir kalau keberadaan antar drama itu dibiarkan mengalir dalam pemahaman yang serupa, taklah mengherankan jika suatu saat nanti diskusi yang berlangsung hanya berkutat dalam urusan drama konvensional, bahkan lebih dangkal lagi itu urusan administrasi naskah dan struktur pengisahan. Andaikan kita melihat seekor “gajah”, kemudian dengan serempak orang bilang itu gajah, padahal ada yang cuma melihat ekornya, gadingnya, tubuhnya, kakinya, belalainya, dan lain sebagainya. Jadi kenapa pemanggungan puisi ini tidak dilihat semata-mata dari penampilan puisinya terlebih dahulu?
Bukankah ketika kita membaca sebuah buku puisi, biasanya tak semua puisi dapat mudah dimengerti secara utuh, tak semua puisi dalam buku tersebut bisa langsung dipahami maknanya dari awal puisi hingga akhir puisi, dan tak satupun buku puisi yang keseluruhan isi puisinya tampil begitu terang dalam benak pembaca. Dari kumpulan puisinya paling pol 1 atau 2 puisi yang teringat lekat dan menggores hati.
Lalu, kenapa kita tidak terbiasa melihat sesuatu sebagaimana yang dilihat secara sungguh-sungguh saja. Ini pemanggungan puisi yang mungkin jarang ditemukan pertunjukannya, sebagian orang mungkin baru melihat pertama kali atau pernah berulangkali, jadi ketika mau menuntut bilang saja “buruk rupa”, sehingga tak perlu lagi menagihnya untuk menuruti struktur anutan sebagaimana yang ada pada drama prosa atau konvensional.
Sedulur-dulur Kreatif yang Membersamai Pemanggungan Puisi
Pemanggungan puisi ini tidak mulai dari cita-cita, melainkan dari satu keinginan yang sederhana, agar kehidupan puisi yang sepenuhnya dijalani oleh Pakde Uki tak mati-mati. Agar puisi-puisi yang ditulisnya yang mungkin tak dikenal tetap mampu memberi magi dan pesona. Agar kita belajar mengerti mana orang-orang yang mesti dijunjung seperti Pakde Uki yang karena kesetiaan dan kecintaan pada jalan yang tak dilalui banyak orang ini.
Saya, beserta seluruh tim pertunjukan, baik yang disorot cahaya maupun yang di belakang layar, memulai pertunjukan tribute ini dari niat yang sederhana, kata yang bersahaja, dan cinta seperti biasanya. Memulai pemanggungan ini dari “kantong bolong” dan “dompet kosong”. Memulai persiapan ini dari segala keterbatasan yang membentang. Memulai garapan ini dari tawaran menyambut tantangan di dalam kehidupan. Inilah segenap daya yang ada pada teater.
Saya menulis ini berkat rasa syukur tak putus-putus dan kenangan yang bersahaja. Andaikan suatu hari dulur-dulur kreatif membacanya, atau jika kelak ada seseorang yang belum sempat saling berkenalan, biarlah ia tahu bahwa saya pernah berproses bersama sekelompok manusia biasa yang menjaga lilin-lilin kecil teater agar tetap nyala, meskipun keringat mereka selalu dilupakan zaman.
Saya dikelilingi orang-orang biasa yang sama-sama menempuh jalan yang mungkin, barangkali, memang tak ditempuh orang banyak. Jalan ini bernama teater, langkahnya penuh luka-luka, dan pengembaraan ini tanpa tepi. Di jalan ini, kepada mereka lebih banyak saya meminta daripada memberi. Saya minta mereka berperan, bermain, bernyanyi, menyiapkan artistik, menata panggung, dan tetek-bengek lainnya. Padahal, tak saya janjikan kemegahan apapun pada mereka selain capek yang berarti dan memberi harga pada lelah. Semoga tulisan ini pada suatu nanti bisa berarti, saya ingin kembali memeluk mereka satu-satu, mendekapnya erat-erat dalam ingatan akan kenangan, dan karena hutang rasa saya bertumpuk-tumpuk pada mereka, maka beribu ucapan terima-kasih saya pasti tak pernah cukup buat melunasinya.
Aktor-aktor yang bermain dalam pemanggungan puisi ini hanya sekumpulan orang-orang biasa. Meski jauh dari kata sempurna, setidaknya mereka amat istimewa di hati saya. Ada Fikri yang selalu bisa saya andalkan untuk mengatasi setiap keadaan genting teater, tanpanya tak pernah terbayangkan oleh saya bagaimana jika pada pemanggungan puisi ini tak ada dirinya, atau kelak jika saya memulai garapan kembali ia tak lagi berdiri di samping saya. Ada Akbar yang karena spontanitas hidupnya penuh kesigapan dan kesiapan diri dalam menerima tawaran bermain berarti siap menanggung tantangan, ia teruji dan saya adalah saksinya. Ada Reni yang walaupun agak “lola” tapi kehadirannya selalu menyertai kegembiraan berproses, apalagi untuk kebutuhan hal pengadeganan ia mudah mengerti, tapi di luar pertunjukan, lebih baik tak usah berharap banyak padanya, sebab yang ia tahu hanya hidup menggembirakan. Dan tiga orang lagi ialah orang-orang baru yang karena, atau dengan kesempatan ini, mereka bersedia untuk terlibat. Ada Acil yang susah-susah gampang dipahami segala liuk alur pikirannya, tapi semangatnya begitu menggebu-gebu sampai ia sendiri yang langsung menagih peran kepada saya, ia punya daya juang yang terlatih dan menjadi salah satu aktor yang terus belajar mencari. Ada Nia yang entah bagaimana proses mulanya, tiba-tiba ia hadir di hadapan saya dan bersedia untuk mengambil rasa lelah, daya adaptifnya bisa dibilang oke dan positioning dirinya selalu tepat ketika berada di tengah urakannya berproses pemanggungan puisi ini. Ada Alfi yang sedemikian gemar mengeksploratif dirinya untuk berbagai macam karakter yang fresh, sehingga dengan mudah ia dapat menyerap kebutuhan pengadeganan tiapkali saya menawarkan tantangan, dan ia selalu punya cara untuk menantang tawaran saya kembali dengan pencarian bentuknya sendiri.
Di lain sisi, ada para pemusik: Deri, Adang, Tao, Faqih, Bertus, dan Farhat, mereka ini kumpulan musik secara pribadi, yang terus saling menyelaraskan satu sama lain demi harmoni, kesemuanya ini sangat saya harapkan dalam setiap pemanggungan puisi, sebab puisi-musik-pemanggungan selalu menyertai hidup kami secara bersama-sama: kapan saja ketika dibutuhkan pemanggungan puisi atau di mana saja ketika diminta bermain musik puisi selalu siap laksanakan, kecuali, ya tahu sendirilah. Ada Pini yang mengerti agar saya tahu mesti mengantarkan keluh kesah ke mana, siapa yang mau menampung segala kerepotan dalam persiapan pertunjukan, walau betapapun ceplas-ceplosnya, tapi segala urusan yang luput di belakang layar sepenuhnya saya serahkan padanya, dan selalu saja ia mampu mengatasinya meskipun harus menanggung rintih lebih banyak. Ada Bowo sang desainer grafis yang hampir mengisi seluruh kebutuhan visual, setidaknya dalam kerja-kerja kreatif saya, tampaknya ia paling mengerti bahasa saya ketika menyampaikan suatu gambaran tak ideal, sampai sejauh ini hanya ia yang saya percayakan mampu mewujudkan bayangan saya yang sukar dijelaskan melalui bahasa saya sendiri, tapi kemudian karena kelincahan jarinya ini menjadi sesuatu yang enak dipandang. Ada Andy yang kali pertama ini saya bisa berproses dengannya, ia mengambil tugas yang paling rentan akan gesekan dan rawan akan ketegangan, ia tulang punggung yang menghubungkan saya dengan banyak hal di luar jangkauan, ia gelanggang tempat kami berdua sering berseteru dan saling mendamprat, demi terciptanya suatu keadaan kenikmatan dalam berproses. Ada Adam yang terus menjalin benang putus disambung kembali, mengurai apa saja yang kusut agar tali bisa diulurkan dan dibentangkan ke banyak pihak, yang lalu menjahitnya jadi satu ikatan yang punya kemungkinan buat berjejaring secara luas, dan ia seperti namanya sendiri, bagaikan wajah panggung yang pertama jauh sebelum lampu dinyalakan.
Untuk nama-nama lain yang belum saya sebutkan satu per satu, semoga bukan karena saya tak hafal, tetapi karena keterbatasan yang ada pada diri saya. Tentu nama-nama yang belum sempat diucapkan ini, barangkali sedang memproses kisah tersendiri dalam hati, dalam pikiran, dan sedang mendekam di kedalaman batin saya saat ini. Pun apa yang saya tuliskan ini digerakkan oleh keringat orang-orang biasa yang sedang berjalan bersama saya merancang-bangun suatu pertunjukan. Kesemuanya ini bisa sesederhana berarti saya hanya ingin kembali mendekap semua yang terlibat, baik kru maupun segenap tim pertunjukan, yang sama-sama berpeluh-keringat tanpa pernah menagih imbalan.
Tunggu Giliran Mati
Setiap orang dibebaskan memaknai “Tunggu Tanggal Mainnya” menurut khas masing-masing, saya pun mengartikannya sebatas tunggu giliran mati, sehingga tidak perlu memperdebatkan antar pemaknaan ini. Karena hidup di dunia adalah latihan, main yang sejati ialah ketika berada di panggung keabadian. Pemanggungan puisi ini hanyalah usaha menyicil setoran ke langit, tapi jangan lantas kemudian dituding: “sama Tuhan kok bertransaksi.” Sama sekali tidak, tapi juga bisa dikatakan transaksi dalam spektrum yang lebih luas. Hutang ini hanya berlaku jika pembayangan kita akan kehidupan yang telah dianugerahi Allah kepada semuanya ini aslinya cuma pinjaman, maka sudah semestinya tindakan kita juga menyangkut hutang-piutang dalam banyak hal.
Sesederhana Allah telah meminjamkan kita sesuatu, lalu kita beritikad untuk mengembalikannya, meskipun kita tahu bahwa seluruh hutang hidup kita kepada Allah takkan pernah cukup terbayarkan, takkan pernah bisa terlunaskan, takkan pernah tuntas untuk ditunaikan. Ditambah bertumpuk-tumpuk hutang saya kepada seluruh teman-teman yang terlibat dalam pemanggungan puisi ini, yang telah mengucurkan begitu banyak keringat, rasanya mustahil untuk saya lunasi.
Hutanglah yang membuat tidak ada alasan untuk menghabiskan lebih banyak waktu hanya dengan menunggu. Karena waktu hanya akan terasa seperti siput. Sedangkan bagi orang yang mencari berbagai kemungkinan adalah yang lebih siap dengan beragam tantangan kreatif. Sebagaimana bagi aktor, panggung tidak dimulai saat lampu menyala, melainkan saat kita berani untuk berjarak terhadap hp yang sedemikian melekat. Karena kenikmatan berproses ialah ketika kita mengejar kemungkinan, maka waktu juga akan berlari memburu kita.
Aktor yang sering latihan di luar jam latihan adalah yang paling banyak punya “saldo” buat membayar segala penawaran kreatif, ia punya daya tawar-menawar yang cukup buat menutupi seluruh kekurangan yang ada pada saya. Aktor yang senantiasa mencari di luar jam latihan adalah yang paling siap silih “backup” apapun yang luput dari jangkauan pandangan saya, ia punya bargaining position buat menyingkap keterbatasan yang ada pada saya.
Sementara teater yang saya jalani ialah yang saya membayangkan sebagai teater “abdan abdiyya”. Teater (bersama orang-orang) biasa yang mengabdi. Teater yang mengabdi pada suatu cara penanggapan masyarakat terhadap banyak hal yang tak wajar di dalam kehidupan. Teater buat setoran kepada Allah, sekaligus pelayanan terhadap sesamanya, demikian juga pada sesuatu yang berkaitan langsung dengan hajat hidup orang banyak.
Tunggu giliran mati ini seperti kata Simbah saya Emha: “Dalam hidup, saya memegang satu prinsip bahwa kita semua sedang antre. Tapi lucunya, kita tidak tahu berapa nomor urut kita. Dan yang lebih gawat, tidak ada loket informasi yang bisa ditanya. Maaf, saya ini urutan ke berapa, ya, menuju mati?”
Ulet, Liat, Liar, Nakal
Empat patah kata itu berasal dari ungkapan Pakde Uki langsung kepada saya. Diucapkannya kata-kata itu setelah beliau menonton pertunjukan saya sebelumnya. Saya tidak tahu pasti apa maksudnya dan apa artinya. Barangkali saya hanya bisa memaknainya bahwa setiap upaya meraih nilai selalu ada konsekuensi: kesetiaanlah yang membuat diri berkorban tanpa pernah merasa penuh pengorbanan dan bersiaplah untuk menanggung lebih banyak kesepian dalam pengembaraan pengabdian hidup ini.
23 Juli 2026

