cover: zera yudhistira
PROLOG
Kebudayaan tidak tumbuh di ruang yang netral. Ia selalu punya tempat, punya zaman, dan punya orang-orang yang berusaha membuatnya hidup. Di Bogor, ruang itu berpindah-pindah: dari panggung pertunjukan, sanggar, komunitas, kampus, jalanan, hingga ruang-ruang alternatif yang muncul ketika ruang resmi tidak lagi cukup menampung gagasan.
Timeline ini bukan usaha untuk menyusun sejarah secara lengkap. Ia adalah potongan-potongan ingatan tentang bagaimana ruang kebudayaan di Bogor dibuka, diperebutkan, dibangun, dan diperluas. Dari 1950-an hingga hari ini, perubahan ruang juga berarti perubahan cara orang berkumpul, berkarya, bersuara, dan menentukan sendiri apa yang dianggap penting bagi kotanya.
Lalu, ruang seperti apa yang sedang kita bangun hari ini?
Pertanyaan itu membawa kita keluar dari nostalgia. Sebab sejarah kebudayaan bukan sesuatu yang sudah selesai ditulis. Ia terus berlangsung setiap kali seseorang membuka ruang untuk bertemu, menciptakan karya, menyimpan arsip, atau menolak membiarkan ingatan hilang begitu saja.
Membuka Ruang Kreativitas
1950-1970
Pada 1950-an, Bogor secara ruang mulai diisi oleh aktivitas-aktivitas kesenian yang berlangsung di antara kehidupan kota. Nama-nama kelompok sandiwara muncul dalam pemberitaan, pertunjukan digelar di gedung-gedung, sekolah, dan auditorium hotel, sementara majalah menjadi tempat tulisan dan gagasan mengenai kesenian beredar. Di tengah situasi kota dan negara yang terus berubah, terdapat individu-individu yang bertemu untuk berlatih, menulis, bermain drama, membaca puisi, dan mempertunjukkan karya.
Pekan Seni Drama Bogor yang pertama diselenggarakan pada 1955. Delapan organisasi pelajar dan kelompok sandiwara di Bogor mengambil bagian dalam rangkaian pertunjukan yang berlangsung di beberapa tempat. Kegiatan serupa kembali hadir pada tahun-tahun berikutnya. Nama-nama kelompok seperti Teater Bogor, Tunas Muda, Teater Penggemar, Kuntjup Harapan, Kenanga Club, dan Lembaga Seni Drama Cabang Bogor tercatat dalam berbagai pertunjukan dan festival. Dari satu panggung ke panggung lainnya, para pelaku kesenian saling berjumpa, membawa naskah, pengalaman, dan cara masing-masing dalam mengemas pertunjukan.
Kehidupan kesenian juga meninggalkan jejak di halaman-halaman majalah. Warga, Mangle, dan Baranangsiang merekam sebagian dari lalu lintas gagasan yang berlangsung pada masa itu yang berkutat di wilayah sastra, sosial, politik, sejarah, dan kebudayaan. Berbagai tulisan bergumul di seputar penelusuran sejarah, berita pertunjukan, pembacaan puisi, polemik sastra, dan perbincangan mengenai kebudayaan membuat aktivitas kesenian di Bogor memiliki jangkauan yang lebih panjang daripada waktu sebuah pertunjukan berlangsung.
Memasuki 1960-an, sejumlah kelompok mengalami perubahan. PASENDRA berkembang menjadi Studi Teater Bogor, Teater Angkasa lahir di lingkungan RRI Bogor, dan pertunjukan terus berlangsung di berbagai tempat. Auditorium Hotel Salak menjadi salah satu ruang yang digunakan untuk latihan dan pertemuan para pelaku teater. Pada masa inilah Iwan Simatupang menetap di Bogor dan berinteraksi dengan lingkungan teater setempat. Kehadiran orang, kelompok, naskah, majalah, dan pertunjukan tersebut meninggalkan lapisan-lapisan ingatan yang memperlihatkan kehidupan kreatif sebuah kota.
Jejak periode 1950-1970 ini membawa kita pada Bogor yang sedang membuka ruang bagi kreativitasnya sendiri. Ruang itu hadir dalam ingatan sebuah pertunjukan, halaman majalah yang telah menguning, nama-nama yang tercetak dalam daftar pemain, atau sebuah gedung yang pernah dipenuhi orang untuk menyaksikan sandiwara. Sebagian ruang tersebut mungkin telah berubah bentuk atau bahkan tidak lagi digunakan untuk kegiatan kesenian. Namun dari arsip-arsip yang tersisa, kita masih dapat menelusuri bagaimana orang-orang pada masa itu menemukan tempat untuk berkarya dan saling bertemu.
1950-1952
Teater Nasional, Bogor. Dipimpin oleh Achjad Hamzah, organisasi ini awalnya bernama Organisasi Keluarga Pecinta Seni Tunas Muda, yang berdiri pada tanggal 1 September 1952. Pementasan yang tercatat oleh Boen S. Oemardjati (1971) diawali dari pementasan “Sayang Ada Orang Lain” karya Utuy Tatang Sontani, pada tanggal 14 Agustus 1956.
Pada 21 Desember 1952 Teater Bogor berdiri dan dipimpin oleh Endang Achmadi. Pada awal berdiri bernama Persatuan Penggemar Sandiwara Indonesia (PPSI). Pada Desember 1955, konon atas saran dari Asrul Sani berganti nama menjadi Teater Penggemar Indonesia, dan kemudian pada awal 1960-an menjadi Teater Penggemar Bogor, yang lebih dikenal dengan nama Teater Bogor.
Tahun 1950-an teater hidup dan berkembang di Kota Bogor dengan lima buah organisasi teaternya, seperti Teater Bogor, Teater Nasional, Teater Gamipentas, Teater Indonesia, dan Teater Raksa Budaya.
Majalah Warga mulai terbit di Bogor tahun 1951 sebagai ruang penerbitan dan sirkulasi gagasan, yang diasuh oleh Nanie Sudarma, Wahyu Wibisana dkk.
Kehidupan drama Indonesia Modern mulai berkembang tahun 1950-an dan berpusat di 4 kota: jakarta, Bandung, Bogor dan Jogja.
1953-1954
DAFTAR PERTUNJUKAN
- Persatuan Penggemar Sandiwara Indonesia (PPSI)/ Teater Bogor, Bogor. 1953. KRISIS MORIL karya R. Soeripto. Gedung Nasional, Bogor, 31 Januari 1953.
- Persatuan Penggemar Sandiwara Indonesia (PPSI)/ Teater Bogor, Bogor. KRISIS MORIL karya R. Soeripto. Gedung Nasional, Bogor, 14 Pebruari 1953. Pementasan ulang dilakukan karena banyaknya permintaan.
- Persatuan Penggemar Sandiwara Indonesia (PPSI)/ Teater Bogor. DOKTER KAMBODJA karya Trisno Sumardjo. Sutradara Endang Achmadi. Mei 1953.
- Persatuan Penggemar Sandiwara Indonesia (PPSI)/ Teater Bogor. ANTARA ANGGREK DAN MELATI karya B.M. Thahar. Sutradara Endang Achmadi. Agustus 1953.
- Persatuan Penggemar Sandiwara Indonesia (PPSI)/Teater Bogor. BAHAGIA KEMBALI karya Martini Ros. Sutradara Tony Fatoni. April 1954.
- Persatuan Penggemar Sandiwara Indonesia (PPSI)/ Teater Bogor. WANITA karya Endang Achmadi. Juni 1954.
- Persatuan Penggemar Sandiwara Indonesia (PPSI)/ Teater Bogor. TJITRA karya Usmar Ismail. Sutradara Azis Windya. Agustus 1954.
- Persatuan Penggemar Sandiwara Indonesia (PPSI)/ Teater Bogor. KEN AROK DAN KEN DEDES karya Muhammad Yamin. Sutradara Endang Achmadi. Agustus 1954.
Juli 1955
Di Bogor pada tahun 1952-1955 terjadi gelanggang Polemik Sajak Sunda melalui Majalah Warga.
Pekan Seni Drama Bogor tanggal 5-25 Juli 1955, di kota Bogor diadakan Pekan Seni Drama yang diikuti oleh organisasi-organisasi pelajar. Agenda ini diadakan di tiga tempat, yaitu di Gedung Nasional,, Aula SPMA, dan SMA. Adapun Juri dari PSDB terdiri dari MA Salmun, Asrul Sani, dan Emar Suradimadja.
Peserta: Persatuan pelajar SMP 3 (PPSMP), Keluarga SGA, Dewi Sri Bogor (Himpunan Pelajar SPMA), KSM, Keluarga SGB, Keluarga SMA, Pelajar Taman Pendidikan PAMEKAR, Persatuan pelajar penggemar Sandiwara Indonesia.
November 1956
Tanggal 16 dan 17 November 1956, untuk pertama kalinya kita melihat sandiwara mahasiswa yang diselenggarakan oleh MASYARAKAT MAHASISWA BOGOR dalam Dies natalisnya yang ke VI bertempat di Gedung Nasional.
Di tahun yang sama, Pekan Seni Drama Bogor 1956 mendapati sebuah kritikan yang ditulis oleh Bintang Ketjil dalam Aneka, 1 September 1956 menyoal pemberian penghargaan terhadap peserta acara tersebut.
1957-1961
Tahun 1957, Majalah Mangle terbit menyusul sebagai gerak perpanjangan penerbitan setelah Majalah Warga. Mangle sendiri didirikan oleh Oeton Moechtar, Rochamina Sudarmika, Wahyu Wibisana, Sukanda Kartasasmita, Saléh Danasasmita, Utay Muchtar, dan Alibasah Kartapranata. September 1957, dua drama sunda berjudul “Dua Utusan” dan “Suling jeung Peuting” dipanggungkan di Bogor oleh Teater Penggemar Bogor.
Geliat teater Bogor pada tahun-tahun ini diperhitungkan dan disandingkan dengan Jakarta, Surabaya, Solo, dan Jogja. Hal ini memicu perdebatan antara Wirawan Respati dengan Semiadji di Aneka, 1958. Di tahun yang sama juga kegiatan teater ini erat hubungannya dengan deklamator atau pertunjukkan puisi.
1959 merupakan tahun ke lima Pekan Seni Drama Bogor yang diikuti oleh Teater Penggemar Bogor, Raksa Budaya Bogor, Kuntjup Harapan Cabang Bogor, Kenanga Club Bogor, Lembaga Seni Drama Tjabang Bogor, dan Tunas Muda Bogor.
DAFTAR PERTUNJUKAN 1960 – 1961
- Teater Bogor. HANJO karya Yukio Mishima, terjemahan Anta Somawidjaja. Sutradara Wirawan Respati. April 1960.
- Teater Bogor. AYAHKU PULANG karya Usmar Ismail.
- Teater Bogor. PERTAHANAN TERAKHIR karya Endang Achmadi
- Teater Bogor. ORANG KASAR karya Anton Chekov, terjemahan WS Rendra. Sutradara Bustaman Halimy. November 1961.
- Teater Bogor. TANDA SILANG karya Eugene O’Neill, terjemahan WS Rendra. Sutradara Bustaman Halimy. Desember 1961.
Tahun 1960/1961 Majalah Baranangsiang lahir dan ikut meramaikan geliat pengkaryaan di Bogor, majalah ini didirikan oleh R. Oeton Moechtar, Saléh Danasasmita, Mochtar Kala dkk. Agustus 1961 Iwan Simatupang mulai menetap di Hotel Salak Bogor di Kamar 52.
1962-1967
Pada dekade 1960-an Sastrawan Sunda yang bermukim di Bogor mengumumkan serta menerbitkan seri naskah Pantun Bogor tuturan juru pantun Aki Buyut Bajurambeng (yang menurut pengumpul dituturkan tahun 1908).
Di Kota Bogor pada tahun 1962 menjadi awal mula terwujudnya gagasan Federasi Teater Kota Bogor yang diketuai oleh Taufiq Ismail dan kemudian gagasan ini pada November di tahun yang sama dibawa ke Forum Musyawarah Teater tingkat Nasional di Jogjakarta yang dengan gagasan itu terbentuklah Badan Pembina Teater Nasional indonesia pada 2 Desember 1962 (BPTNI).
Pada 1964 Gedung Nasional Bogor yang merupakan satu-satunya gedung yang cukup representatif bagi kegiatan teater di Bogor dibongkar.
Pada 1965 terjadi sebuah kevakuman di wilayah perteateran Bogor, mengenai kevakuman ini sendiri Willy Kanugi memperkuat bahwa kevakuman ini dimulai sejak tahun 1963.
Pada 1966 Umar Machdam bersama Eman Sulaeman pada tanggal 11 Juni 1966 mengubah PASENDRA menjadi STUDI TEATER BOGOR (STB).
Pada 1967 terbentuk Teater Angkasa di bawah naungan RRI Bogor oleh Eman Sulaeman. Di pertengahan tahun yang sama, kelompok Studi Teater Bogor intens latihan di Auditorium Hotel Salak Bogor. Di sana STB dengan mesra rutin bercengkrama dengan Iwan Simatupang.
DAFTAR PERTUNJUKAN 1968 – 1970
- Studi Teater Bogor. PANGERAN WIRAGUNA karya Mochtar Lubis. Sutradara Umar Machdam. Produksi: Panitia Pendiri Jajasan Kesedjahteraan Pemuda Peladjar Indonesia Bogor. Gedung BDK Bogor, 2 Mei 1970.
Studi Teater sejak berdirinya, telah menghasilkan 20 produksi, diantaranya 5 kali muncul di layar televisi. Pementasan mereka yang paling belakangan adalah “Orang Kasar” (Anton Chekov) pada tanggal 16 Oktober 1970 di Aula FKH IPB Bogor.
Membangun Ruang Bersama
1970-2000
Jika pada periode sebelumnya orang-orang mulai menemukan dan menghidupkan ruang untuk berkesenian, pada dekade-dekade berikutnya kehidupan kebudayaan Bogor memperlihatkan sesuatu yang lain: ruang itu mulai dibangun bersama. Kesenian tidak hanya hadir sebagai peristiwa yang sesekali berlangsung di atas panggung atau di dalam gedung. Ia tumbuh melalui pertemuan yang berulang, melalui kelompok yang memiliki kebiasaan berkumpul, melalui orang-orang yang datang dengan ketertarikan yang sama dan kemudian menciptakan kegiatan mereka sendiri.
Dalam pengertian ini, komunitas menjadi penting bukan semata-mata karena ia menghasilkan pertunjukan, pameran, pembacaan, atau penerbitan. Komunitas menyediakan kemungkinan untuk belajar menjadi pelaku kebudayaan. Di dalamnya seseorang dapat menemukan teman berkarya, mengenal bentuk kesenian tertentu, mencoba sesuatu yang baru, berpindah dari penonton menjadi pemain, dari pembaca menjadi penulis, atau dari peserta menjadi pengelola kegiatan. Pengetahuan tentang bagaimana sebuah kegiatan dibuat tidak hanya diperoleh dari buku atau lembaga, tetapi dari keterlibatan langsung dan dari orang-orang yang lebih dulu mengerjakannya.
Teater memberikan salah satu gambaran paling jelas mengenai kehidupan semacam ini. Kelompok-kelompok yang tumbuh di Bogor tidak hanya memiliki sejarah pementasan masing-masing, tetapi juga berada dalam lingkungan yang memungkinkan para pelakunya saling berhubungan. Pembentukan Liga Teater Bogor pada 1981, yang menghimpun 17 kelompok, dapat dibaca dalam konteks tersebut. Yang penting dari peristiwa ini bukan hanya jumlah kelompok yang bergabung, melainkan munculnya kesadaran bahwa kelompok-kelompok yang sebelumnya memiliki ruang kegiatannya masing-masing dapat mengenali dirinya sebagai bagian dari kehidupan teater yang lebih luas.
Hal serupa tampak dalam perkembangan komunitas sastra pada 1990-an. Pemetaan komunitas sastra di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi pada 1998 mencatat lima komunitas sastra di Bogor dengan kegiatan yang mencakup diskusi, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, dan penerbitan. Catatan tersebut memberi gambaran mengenai sastra yang hidup dalam skala yang lebih dekat dengan keseharian: dalam pertemuan kecil, percakapan, pembacaan, dan hubungan antaranggotanya. Sastra tidak hanya hadir sebagai sesuatu yang telah selesai dalam bentuk buku, tetapi sebagai aktivitas yang terus dikerjakan dan dipelajari bersama.
Seni rupa memiliki dinamika yang serupa, meskipun dengan bentuk ruang yang berbeda. Pameran bersama menjadi kesempatan bagi para perupa untuk memperlihatkan karya sekaligus mengenali keberadaan satu sama lain. Pameran Gelar 50 Pelukis Empat Kota di Bogor pada 1995, misalnya, mempertemukan perupa dari berbagai latar dan generasi dalam satu ruang. Di luar peristiwa-peristiwa besar semacam itu, keberadaan kelompok dan perupa yang mengadakan pameran bersama menunjukkan bahwa kehidupan seni rupa juga memiliki jaringan sosialnya sendiri.
Karena itu, periode ini mungkin lebih tepat dipahami bukan melalui pertanyaan tentang seberapa banyak karya yang dihasilkan, tetapi tentang bagaimana orang-orang menciptakan kondisi agar kehidupan kebudayaan dapat terus berlangsung. Sebuah kelompok membutuhkan tempat untuk berkumpul. Sebuah pertunjukan membutuhkan orang yang mengurusnya. Sebuah diskusi membutuhkan orang-orang yang bersedia datang dan berbicara. Sebuah pameran membutuhkan jaringan yang mempertemukan seniman, karya, ruang, dan pengunjung. Di balik setiap kegiatan terdapat kerja-kerja yang sering kali tidak masuk ke dalam sejarah karya itu sendiri.
Dari sini, komunitas dapat dilihat sebagai salah satu bentuk infrastruktur kebudayaan yang paling penting pada periode ini. Ia tidak selalu berupa lembaga dengan gedung, anggaran, atau struktur organisasi yang mapan. Kadang ia hanya berupa kelompok kecil yang bertemu secara rutin, sanggar, lingkungan kampus, atau jaringan pertemanan. Namun melalui ruang-ruang semacam itulah pengetahuan, pengalaman, selera, dan cara bekerja berpindah dari satu orang kepada orang lain. Apa yang diwariskan bukan hanya karya, melainkan juga cara untuk menciptakan karya dan cara untuk menciptakan ruang bagi orang lain.
Namun setiap ruang bersama juga menyimpan kemungkinan untuk menghilang. Kelompok dapat bubar, tempat berkumpul dapat berganti fungsi, kegiatan dapat berhenti, dan hubungan yang pernah mempertemukan banyak orang dapat terputus. Tidak semua yang pernah berlangsung meninggalkan arsip yang lengkap. Sebagian hanya tersisa dalam foto, poster, katalog, majalah, atau ingatan orang-orang yang pernah terlibat. Karena itu, sejarah kebudayaan pada periode ini tidak hanya terdiri dari apa yang masih dapat kita temukan, tetapi juga dari banyak hal yang keberadaannya kini hanya dapat kita duga melalui jejak yang tersisa.
Perubahan semacam ini membuat kehidupan kebudayaan Bogor semakin sulit ditempatkan dalam satu pusat. Ia tersebar di antara berbagai kelompok dan ruang, dengan sejarah yang tidak selalu berjalan bersamaan. Ada kelompok yang bertahan lama, ada yang hanya muncul sebentar, ada yang berganti nama dan anggota, sementara sebagian lainnya meninggalkan jejak yang kemudian diteruskan oleh orang-orang yang pernah tumbuh di dalamnya.
Mungkin justru di situlah karakter penting periode 1970–2000 dapat ditemukan. Kehidupan kebudayaan Bogor tidak lagi hanya mencari ruang, tetapi mulai menciptakan ruangnya sendiri melalui kerja bersama. Kebudayaan tumbuh sebagai sesuatu yang dikerjakan secara kolektif: melalui pertemuan, percakapan, latihan, organisasi, pertukaran gagasan, dan kerja yang sering kali berlangsung jauh dari sorotan.
Apa yang kemudian diwariskan dari periode ini bukan sebuah bentuk kebudayaan yang tunggal, melainkan kebiasaan untuk berkumpul dan menciptakan kemungkinan baru. Tetapi warisan semacam itu tidak pernah otomatis bertahan. Ia membutuhkan orang-orang berikutnya untuk mengambilnya, mengubahnya, bahkan mungkin meninggalkannya demi sesuatu yang baru.
Maka, ketika memasuki awal abad ke-21, persoalannya kembali bergeser. Ruang-ruang bersama yang pernah dibangun telah meninggalkan jejak dan pengalaman bagi generasi berikutnya. Tetapi bagaimana generasi baru menggunakan warisan itu ketika kota, teknologi, cara berkomunitas, dan cara berkesenian ikut berubah?
1971-1972
Studi Teater Bogor pada tanggal 21 dan 22 Januari 1971, menampilkan sebuah sandiwara Lionel Abel, lewat terjemahan Mohammad Diponegoro berjudul “Kematian Odysseus” di Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki.
20 Desember 1971 diadakan sebuah diskusi lintas kota yang dihadiri oleh Remaja dan Pecinta Teater Jakarta serta apresiator sastra Kota Bogor. Acara ini dinaungi oleh Kelompok Kumbara Bogor yang juga dihadiri oleh anggota dari Bengkel Teater Yogyakarta dan Studi Teater Bogor.
Tahun 1971, terjadi perdebatan mengenai penting atau tidaknya keberadaan Dewan Kesenian di Bogor antara M. Ryana Veta dengan Deddy Roamer.
Rapat di Kantor Kotamadya Bogor pada tanggal 1 Desember 1971 yang lalu, antara Pemerintah Daerah Bogor dengan para seniman, gagasan untuk mendirikan dewan itu timbul, dimulai dengan suatu ide untuk mendirikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesenian (BPPK).
Wacana pembuatan Dewan Kesenian ini mengikuti geliat yang dimulai dari berdirinya Dewan Kesenian Jakarta pada 1968.
Oktober 1971. Di bulan ini KUMBARA (Kumpulan Bocah Kreatif) mulai meramaikan kegiatan kebudayaan di Kota Bogor.
Awal tahun 1972, Kelompok Kumbara yang dipimpin oleh F.X. Puniman mengadakan acara “Apresiasi Seni dan Sastra ke IV” dengan mengundang Dewan Kesenian Djakarta (DKD). Pokok utama diskusi pada acara ini adalah membahas soal wacana Teater dimasukkan dalam kegiatan intra-sekolah.
Februari 1972 Emmanuel Subangun dari Jakarta berceramah tentang ”Amir Hamzah sebagai penyair Mistik” dengan mengetengahkan puisi-puisi karya almarhum yang terkumpul dalam ”Buah Rindu” dan: Nyanyi Sunyi”. Dalam agenda ini Kumbara mengajak siswa-siswi SMP Regina Pacis, SMP Budi Mulia, SKKA, SMP Mardi Yuana dan dari Seminari Stella Maris untuk berpartisipasi.
19 Maret 1972, terdapat kritikan terhadap lingkungan kesenian di wilayah kampus Bogor yang diutarakan oleh Ukar R. Kritik yang kontekstual pada wilayah kesenian ini didasari dengan adanya perubahan sistem pendidikan di kampus-kampus tersebut.
Seminar Bahasa Indonesia (Konsorsium Ilmu-ilmu Sosial dan Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) di Puncak-Bogor, seminar ini berlangsung pada tahun 1972 yang dihadiri di antaranya oleh: Sutan Takdir Alisyahbana, Abdul Hadi W.M., Mochtar Lubis, Asrul Sani dkk.
1973-1978
Pada 6–7 Mei 1973 di Gedung Wanita Bogor, Studi Teater Bogor (STB) menggelar “Malam Dua Drama” — produksi ke-23 mereka, dengan Achmad Syahab sebagai Pimpinan Produksi. Dua lakon yang ditampilkan, “Lalat” dan “Rombengan dari Khayangan”, keduanya karya dan sekaligus disutradarai sendiri oleh Umar Machdam.
Pada Desember 1973 STB mementaskan naskah “Sandiwara” karya Putu Wijaya di Taman Ismail Marzuki (TIM) dan mendapatkan respons dialektis dari penulis naskahnya dan pengamat lainnya.
Pada 13 Mei 1973, Teater Remaja Bogor tampil untuk pertama kalinya di TIM dengan mementaskan sebuah drama anak-anak berjudul “Putra Mahkota dan Tukang Tenung”.
Tanggal 21 dan 22 Agustus 1974, Dewan Kesenian Surabaya bekerjasama dengan Dakwah Mujahidin Surabaya akan menggelarkan sebuah pementasan drama kolosal, “Salman El Farisi” oleh rombongan Studi Teater Bogor di Gedung Mitra.
Di tahun 1974 ini juga terdapat keresahan Umar Machdam selaku pionir Studi Teater Bogor terhadap persoalan ekosistem teater di Bogor yang mana ia berniat untuk menyudahi perjalanan STB.
Tetapi pada tahun 1975 STB berencana mementaskan pertunjukan dari naskah “Rabiatul Adawiyah” di Surabaya.
Tahun 1978 Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa melangsungkan Penataran Sastra di Tugu Puncak Bogor yang dihadiri oleh Uka Tjandrasasmita, James Dananjaya, Rachmat Djoko Pradopo dkk.
1980-1982
Sepeninggalan STB ini hingga 1980 terjadi kevakuman luar biasa di dunia perteateran Bogor hingga tahun 1981.
Tahun 1981, Liga Teater Bogor (LTB) didirikan dan diisi oleh 17 kelompok Teater Remaja di se-Kota Madya Bogor. LTB ini dipimpin oleh Daniel Mool dari teater Arsvita, sebagai Ketua Umum didampingi oleh Im Kharamah (Studi Teater Bogor) dan Yana WS dari bengkel Seni Samarawita masing-masing sebagai Ketua I dan Ketua II. Sedangkan sekretaris dan wakilnya dipercayakan kepada Moh. Noer hidayat (Grup Refleks) dan Youdi Wahyudi (Kelompok Teater Huru-Hara). Sementara itu, beberapa teaterawan kampiunan di kota hujan Bogor ini seperti Yusrin, Iwan Mantra, Tasdik Nasution dan Heru memperkuat perhimpunan ini.
Di tahun 1981 ini meski Bogor mengalami kebangkitan namun hal itu tidak sejalan dengan mapannya ekosistem kesenian di Bogor, hal ini diperkuat oleh catatan pihak Gelanggang Remaja yang merupakan pusat pengembangan Olahraga dan Seni di Bogor terdapat 17 grup seni pentas drama, belum termasuk yang tidak terdaftar.
Tahun 1982, BOGOR STUDY CLUB menyelenggarakan Festival Teater Sewilayah II Bogor (Bogor, Cianjur, dan Sukabumi).
1988-1989
7 Mei 1988, Serikat Seniman Gelanggang Remaja “Dipokersen” berdiri di Bogor. Kelompok ini diisi oleh Struktur kepengurusan sebagai pucuk pimpinan dipegang oleh tiga orang unsur Ketua Umum: Yana WS, Ketua I merangkap Ketua Harian: Aep Firdaus, Ketua II merangkap tugas Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Ir Asep Gunawan.
Kongres Bahasa Sunda V diadakan tahun 1988 di Cipayung, Bogor.
Pada 1989, Dipokersen mementaskan Pantomim Ultra Show. Pementasan ini dilangsungkan di aula Gelanggang Olahraga Remaja Bogor.
1990-2000
Pada tahun 1991 Unviersitas Pakuan Bogor yang mempunyai Fakultas Sastra mengadakan Seminar Nasional Sastra dan Sejarah Pakuan Pajajaran.
Pada tahun 1992 Konferensi Internasional Kesusastraan ke-IV, dilangsungkan di Bogor.
29 April – 29 Mei 1995, di Center Hall, Internusa Plaza Bogor, sebuah pameran besar seni rupa dihelat. Tajuknya “Gelar 50 Pelukis Empat Kota”. Pameran ini memajangkan karya Barli Sasmitawinata, Henk Ngantung, Jeihan, Popo Iskandar, Remmy Sylado, dan Sujana Kerton.
Pada tahun 1997 Ki Mujar Sangkerta melakukan Pameran bersama seni rupa di kawasan Istana Bogor.
Sanggar Seni Kimia Analisis AKA (Saseka) berdiri pada 16 April 1999 dan memiliki tiga unit, musik, seni rupa dan sastra (yang memiliki nama Teater Cawan).
Memperluas Ruang Kebudayaan
2000-2023
Memasuki awal abad ke-21, kehidupan kebudayaan di Bogor tumbuh di tengah ruang kota yang semakin beragam. Kampus, kafe, gedung pertunjukan, ruang pamer, taman, pusat perbelanjaan, hingga ruang yang semula tidak dirancang untuk kegiatan seni mulai menjadi tempat orang berkumpul dan berkarya. Batas antara ruang kesenian dan ruang keseharian semakin cair. Pertunjukan dapat berlangsung di gedung kesenian, pameran hadir di ruang publik, sementara pertemuan sastra tumbuh dari kampus dan komunitas.
Komunitas menjadi salah satu kekuatan penting dalam membentuk ruang tersebut. Teater Pawon berdiri di lingkungan Universitas Ibn Khaldun Bogor pada 2000, disusul berbagai kelompok dan komunitas sastra seperti Kelompok Pasar Sastra Leuwiliang, Perempuan Puisi, dan Warung Telisik Sastra. Dalam seni rupa, Jejak & Spirit Seni Rupa Bogor (2012), Bogor Sehati (2013), hingga berbagai kegiatan Bogor Art Movement pada 2014–2015 memperlihatkan kecenderungan serupa. Penggunaan ruang seperti Underpass Kebun Raya menunjukkan bahwa karya tidak selalu harus menunggu galeri untuk bertemu dengan publik. Kota itu sendiri dapat menjadi bagian dari pengalaman berkesenian.
Dalam sastra, buku, pembacaan, diskusi, festival, dan komunitas membentuk jalur pertemuan yang semakin beragam. Bogor Kasohor terbit pada 2012, Kelompok Pasar Sastra Leuwiliang berdiri pada 2013, Sekolah Menulis Indonesia hadir pada 2014, dan berbagai kegiatan berlangsung di kampus, Balai Kota, maupun ruang komunitas. Pada 2017, sembilan komunitas berkolaborasi dalam Hujan Buku. Dua tahun kemudian, Rekkam Art Festival mempertemukan musik, teater, tari, seni rupa, workshop, dan komunitas di Taman Ekspresi. Ruang kebudayaan semakin sering hadir bukan sebagai bangunan tetap, melainkan sebagai peristiwa yang tercipta ketika orang berkumpul dan berkarya.
Pandemi kemudian mengubah pengalaman tersebut. Ketika pertemuan fisik terbatas, aktivitas kebudayaan berpindah ke ruang digital. Setelah pandemi, kebutuhan terhadap ruang fisik kembali terlihat. Kehadiran Bogor Creative Center pada 2021, bersama perpustakaan, taman, dan ruang publik lainnya, membuka kemungkinan baru bagi kegiatan seni, literasi, dan komunitas.
Namun bertambahnya tempat tidak berarti persoalan ruang selesai. Ada ruang yang lahir dari inisiatif komunitas, ada yang disediakan institusi, ada yang hanya bertahan sementara, dan ada yang berubah mengikuti kebijakan maupun fungsi kota. Karena itu, yang penting dari periode 2000–2025 bukan sekadar bertambahnya kegiatan kebudayaan, melainkan perubahan cara kebudayaan mengambil tempat. Ia menjadi semakin cair, tersebar, dan bergantung pada orang-orang yang bersedia menghidupkannya.
Dalam proses itu, kesenian turut memproduksi pengalaman tentang Bogor. Kota tidak lagi sekadar menjadi lokasi berlangsungnya kegiatan, tetapi masuk ke dalam karya, buku, pameran, festival, percakapan, dan ingatan. Underpass menjadi ruang pamer, taman menjadi ruang pertunjukan, kampus menjadi ruang komunitas, dan ruang digital menjadi tempat baru bagi karya untuk bertemu publik. Kebudayaan ikut membentuk cara sebuah kota dipahami dan dihuni.
Tetapi dari sini muncul pertanyaan yang lebih mendasar: siapa sebenarnya yang memiliki ruang untuk kebudayaan? Apakah ruang kebudayaan lahir karena kota menyediakannya, atau karena orang-orang menciptakannya bahkan ketika ruang itu belum tersedia?
Arsip periode ini memperlihatkan bahwa kehidupan kebudayaan Bogor dibangun melalui kerja yang terus-menerus: berkumpul, membuat karya, menerbitkan buku, mengadakan pertunjukan, menggelar pameran, dan mengubah ruang sehari-hari menjadi ruang bersama. Sebagian ruang masih ada, sebagian berubah, sebagian hilang. Namun pengalaman yang berlangsung di dalamnya meninggalkan jejak.
Maka, periode 2000–2023 bukanlah akhir dari sejarah ruang kebudayaan Bogor. Ia adalah salah satu titik dalam rantai panjang yang dibentuk oleh orang-orang yang datang sebelum kita, membuka ruang, menghidupkannya, lalu meninggalkan sebagian pengalaman itu kepada generasi berikutnya.
Apa yang kita lihat di ruang pamer ini pernah menjadi masa kini bagi mereka. Apa yang kita kerjakan hari ini kelak akan menjadi arsip bagi orang-orang yang datang setelah kita. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya apa yang pernah ada di Bogor, tetapi apa yang ingin kita tinggalkan ketika ruang yang kita hidupkan hari ini menjadi bagian dari masa lalu.
2000-2005
Tahun 2000 UKM Teater Pawon didirikan di Universitas Ibnu Khaldun Bogor.
Himpunan Perupa Bogor mengadakan Pameran Seni Rupa di Gedung LIPI Bogor 2000, Pameran Seni Rupa di Plaza Ekalokasari Bogor pada tahun 2001.
Di antara tahun 2000 hingga 2002 Warung Sastra Diha berdiri dan aktif berkegiatan sastra di Bogor, kelompok ini berdiri atas inisiasi Diah Hadaning.
Benih Teater Karoeng sudah muncul sejak tahun 1999 (diawali dengan kelompok Most Crazy People). Baru pada sekitar tahun 2001 Teater Karoeng dijadikan nama kelompok itu. pada 12 Juli 2003 Teater Karoeng meresmikan keberadaannya dengan mengadakan sebuah pementasan tunggal pertama yang berjudul “Tumirah Sang Mucikari” karya Seno Gumira Adjidarma.
2008-2010
Pada pertengahan periode ini, Warung Telisik Sastra berdiri dan cukup aktif mengadakan agenda kesusastraan di Bogor, kelompok ini diinisiasi oleh mahasiswa kampus IPB.
KOPI Sastra (Komplotan Penulis Imajinasi Sastra) didirikan pada 17 Oktober 2008 oleh Wahyudi dan Helmy Fahruroji. Kelompok ini menghasilkan kurang lebih 6 volume majalah.
Temu Teater Mahasiswa Nusantara (Temu Teman) dilaksanakan di Bogor dan diinisiasi oleh Keluarga Teater Kampus Bogor (KTKB) pada tahun 2010. Di tahun yang sama ini juga Festival Drama Juang tercipta dan mampu bertahan hingga 2019. Festival ini ditujukan kepada teater pelajar di Bogor.
2011-2015
Pada tahun 2012 Parade Teater Kampus Bogor mengadakan paradenya untuk pertama kali.
Pada tahun 2012 berlangsung Pameran Jejak & Spirit Seni Rupa Bogor.
Bogor Kasohor (Antologi Puisi) terbit pada tahun 2012 diinisiasi oleh Grup Persahabatan Menulis (GPM)
Pada 28-29 Desember 2012. Study Teater Dipokersen mementaskan Drama Monolog “KUCING HITAM” Karya Edgar Allan Poe.
Sanggar Seni Teater RAS berdiri pada tahun 2013.
TEATER PRABU mempersembahkan “R & B Enam” (Ramadhan Berseri VI) pada 27 Juli 2013.
Pada tahun 2013 diadakan Pameran Seni Rupa Bogor Sehati.
Tahun 2013, ARtERI berdiri dan cukup aktif mengadakan agenda kesusastraan di Bogor seperti Balaréa Budaya (2013) dan Mimbar Sastra Bogor (2014). di tahun yang sama juga, di ujung barat Bogor, Kelompok Pasar Sastra Leuwiliang (KPSL) berdiri dan cukup aktif mengadakan agenda kesusastraan di Bogor.
Produksi ke-II Teater KaliYuga berjudul “Solilokui Naninu” Karya & Sutradara: Bram L. Gerung, dipentaskan tahun 2013 di Gedung Kesenian Kamuning Gading Kota Bogor.
Pameran Instalasi Bogor Art Movement di Underpass Kebun Raya Bogor 2014.
Pada 20 April 2014 KPSL mengadakan acara Mimbar Sastra Bogor 2014. Acara ini menyajikan Seminar Sastra dan Pergerakan Perempuan, bersama Khrisna Pabichara & Ratna Ayu Budhiarti dan Peluncuran Buku Antologi Puisi Penyair Bogor “Bogor dalam Komposisi”, bersama Mugya Syahreza Santosa. Acara ini dilangsungkan di Balai Kota Bogor.
Pada tahun ada Pameran Bogor Art Movement dengan mengangkat tema “Menilik Ruang Publik“ di tahun yang sama ini juga Afrizal Malna, Zen Hae, Langgeng Prima membentuk komunitas sastra di Dramaga.
2017-2019
Perempuan Puisi berdiri dan intens berkegiatan di Bogor dimulai pada tahun 2016 dan masih memiliki keterkaitan dengan Kelompok Pasar Sastra Leuwiliang.
Pameran Bogor Artventure 2017.
Pada 29 – 2 April 2017, Sembilan komunitas di Bogor berkolaborasi dalam acara Hujan Buku di Bogor yang diselenggarakan di Kedai Boeana dan SMA Bosowa Bina Insani. di tahun yang sama ini terbit juga buku antologi Buitenzorg: Bogor dalam Puisi Penyair Nusantara.
Pameran bersama 27 Perupa Bogor 2019.
Tahun 2019 Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) se-Jabodetabek dan wilayah lain di Indonesia kumpul di Taman Ekspresi untuk tampil di acara Ruang Estetik Karya Kreatif Anak Muda (Rekkam) Art Festival #5 Bogor.
Pada 28 Agustus – 7 September 2019 terbit buku (Act)plorasi yang menghimpun kegiatan sarasehan, dokumentasi karya, hingga pertunjukan teater.
2021-2023
Pada 19-27 Juni 2021 ada pameran bersama Perupa Perempuan Bogor n’ Friends dengan tema “While I Was @rt Home” di Rancamaya Bogor.
Bogor Creative Center (BCC) hadir di pusat kota dan menjadi medium baru kesenian di Bogor pada tahun 2021.
Pameran Kepameran tahun 2022 diselenggarakan oleh Kolonian sebagai alih wahana dari tulisan yang tertampung di websitenya.
Pada 20-22 Januari 2023 Bogor Literature Festival diselenggarakan di BCC. Di tahun yang sama Kolonian mengadakan festival kembali dengan nama acara Kolonian Punya Festival yang juga diselenggarakan di BCC.
Halimun Salaka terbit sebagai media yang mewarnai geliat kesusastraan, kebudayaan, dan kesejarahan pada tahun 2023.

ilustrasi: zera yudhistira
catatan: tulisan ini telah lebih dulu terbit dalam bentuk zine berjudul “Membaca Ulang Kesenian di Bogor 1950-2023” yang disusun oleh Zera Yudhistira, Tenu Permana, Teguh Tri Fauzi, dan Indra Maulana pada acara Pekan Sastra Bogor 19-20 September 2026.


