ilustrasi: zera yudhistira
Ada cara lain untuk mengingat revolusi Indonesia. Kita bisa mulai dari sebuah stasiun kereta api.
September 1945. Kabar kemerdekaan sudah menyebar. Kekuasaan lama belum benar-benar pergi. Jepang masih ada, tentara Sekutu mulai berdatangan, orang-orang Belanda mencoba kembali. Meski republik telah diproklamasikan, tetapi kantor-kantor masih bekerja dengan sistem lama. Gudang masih menyimpan barang, dan senjata masih berada di tangan mereka yang sebelumnya berkuasa.
Karena itu, pertarungan segera bergeser ke tempat-tempat yang membuat kekuasaan itu bisa bekerja. Di Bogor, stasiun kereta api menjadi salah satunya.
Pada September 1945, Stasiun Kereta Api Bogor yang masih dikuasai Jepang diambil alih oleh Lasjkar Tjiwaringin 33 pimpinan Harun Kabir[1]. Inisiatif pengambilalihan semacam ini kemudian berlanjut di sejumlah kota lain, dengan para pemuda dan pekerja kereta api mengambil alih fasilitas-fasilitas perkeretaapian.
Peristiwa semacam ini dalam sejarah kita mudah saja untuk kita letakkan sebagai catatan kaki. Satu laskar mengambil satu stasiun, lalu perhatian sejarah begerak ke peristwa-peristiwa yang dainggap lebih besar.
Stasiun mudah luput karena ia tampak seperti bangunan biasa. Peron, rel, loket, ruang kepala stasiun, gudang, serta jadwal keberangkatan. Tapi dalam revolusi, semua yang tampak biasa itu berubah arti dan menjadi urat nadi.
Siapa yang menguasai stasiun memiliki kemungkinan untuk menggerakkan orang, barang, informasi, pasukan, makanan, senjata, dan kabar. Rel membuat sebuah kota tersambung dengan kota lain. Kereta membawa orang dalam jumlah besar sekaligus. Gudang menyimpan barang. Kantor menyimpan administrasi. Jalur transportasi menentukan siapa yang dapat bergerak dan siapa yang harus tinggal.

Foto karya fotografer G.J. Aalderks koleksi
Natioonal Archief, Belanda
Maka ketika orang-orang merebut stasiun, mereka sedang merebut kemampuan untuk mengatur gerak masyarakat. Di sinilah sejarah revolusi menjadi menarik ketika kita mengalihkan pandangan dari panggung ke tempat-tempat di mana revolusi benar-benar dikerjakan.
Kemerdekaan tidak menunggu negara selesai bekerja
Di Spanyol, sepuluh tahun sebelum Bogor, buruh kereta api juga pernah melakukan hal yang sama. Ketika kudeta militer 1936 meletus dan negara Republik goyah, CNT-FAI mengambil alih jaringan rel di Catalonia bukan lewat undang-undang atau dekrit, melainkan lewat kerja yang sudah mereka kenal sehari-hari. Masinis tetap menjalankan kereta. Petugas sinyal tetap mengatur jalur. Bedanya, sekarang mereka menjalankannya untuk diri mereka sendiri, bukan untuk pemilik lama.
David Graeber pernah menulis bahwa direct action pada dasarnya adalah cara memendekkan jarak antara kehendak dan tindakan—antara apa yang orang inginkan dan apa yang bisa langsung mereka kerjakan, tanpa menunggu izin turun dari yang berwenang. Ketika Lasjkar Tjiwaringin 33 mengambil alih stasiun Bogor, mereka sedang menutup jarak yang sama itu. Jarak antara kemerdekaan yang sudah diproklamasikan dan kemerdekaan yang belum benar-benar bisa dioperasikan.
Dalam sejarah kereta api Indonesia, para pekerja berada di posisi yang khas. Mereka menjalankan sistem tersebut setiap hari dan karena itu memiliki pengetahuan yang melekat pada praktik kerjanya. Ketika kereta api diambil alih, pengetahuan itu ikut berpindah tangan. Para pekerja kemudian menggunakannya untuk menjalankan kereta api setelah kekuasaan lama disingkirkan.
Dan Bogor punya posisi menarik dalam cerita ini. Stasiun Bogor berada di ujung jalur yang menghubungkan kota tanpa kerisauan ini dengan Batavia. Pada masa revolusi, jalur tersebut menjadi bagian dari arus manusia dan barang yang bergerak di antara wilayah-wilayah yang sedang bergolak.
Kita tahu dari catatan mengenai masa revolusi Bogor bahwa stasiun dan pos-pos kereta menjadi bagian dari wilayah yang diperebutkan. Dalam pertempuran 1945, pasukan Tubagus Muslihat menyerang posisi-posisi yang dikuasai Inggris di sekitar stasiun Bogor. Stasiun menjadi salah satu titik strategis dalam perebutan fasilitas kota.
Bayangkan sebuah stasiun pada masa itu. Orang datang membawa berita. Orang pergi membawa senjata. Gerbong membawa bahan makanan. Kereta membawa pengungsi. Tentara bergerak melalui jalur yang sama.
Di sebuah kota yang sedang mengalami keruntuhan kekuasaan, stasiun adalah tempat bertemunya berbagai bentuk gerak. Karena itu, merebut stasiun berarti mengganggu kemampuan lawan untuk mengatur gerak. Dari sini, revolusi kemudian terlihat seperti persoalan yang sangat material.
Siapa yang menguasai tanah, jalan, dan kereta?
Siapa yang bisa menggerakkan makanan, orang, dan kabar?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering hilang ketika sejarah revolusi ditulis sebagai parade nama besar. Padahal sebuah republik harus bergerak sebelum ia bisa menegakkan kekuasaannya. Dan agar bisa bergerak, republik juga bergantung pada pekerjaan sehari-hari yang terus berlangsung.
Salah satu tempatnya adalah dapur
Di Bogor, Edi Sudarjat dalam Bogor Masa Revolusi 1945–1950 mencatat keberadaan divisi dapur umum dalam Batalyon O yang dipimpin oleh Hj. Siti Aisjah binti H. Salen. Dapur ini memiliki bagian memasak, pengumpulan bahan makanan, dan distribusi. Kebutuhan yang harus ditanggung mencapai sekitar 200 orang pasukan setiap hari.
Dua ratus orang. Setiap hari.
Coba berhenti di angka itu sebentar.
Berapa banyak beras, kayu bakar, air, peralatan, tenaga, dan waktu yang dibutuhkan untuk memasak bagi dua ratus orang, terutama ketika perang membuat bahan makanan sulit didapat dan setiap perjalanan membawa risiko kehilangan nyawa.
Di sinilah kita menemukan wajah lain revolusi.
Perang tidak menghentikan pekerjaan yang membuat orang bisa terus hidup. Dapur tetap menyala. Beras harus dicari, panci harus dicuci, luka harus diobati, pakaian harus dijahit. Ada orang yang harus disembunyikan, ada keluarga yang menunggu kabar, dan ada anak-anak yang perlu ditenangkan ketika suara tembakan terdengar. Semua itu adalah pekerjaan yang menjaga kehidupan tetap berlangsung di tengah perang.
Jejak-jejak pekerjaan itu kemudian dapat kita temukan dalam dokumen-dokumen organisasi perempuan setelah Proklamasi, yang memperlihatkan betapa luasnya kerja yang mereka lakukan.
Dar Mortir atau Dariyah Soerodikoesomo dan Lasmidjah Hardi misalnya, mengorganisasi dapur umum untuk menyediakan makanan bagi pegawai negeri dan para pejuang ketika pertempuran membuat toko-toko tutup dan lalu lintas terputus. Dapur umum juga berkembang di berbagai kecamatan untuk membantu pengungsi dari wilayah yang terkena serangan.
Dalam catatan lain tentang gerakan perempuan, dapur umum disebut sebagai pekerjaan penting untuk memastikan para pemuda yang berada jauh dari rumah dan berada di garis perjuangan tetap mendapatkan makanan. Perempuan bekerja di kota, desa, dan kampung untuk mengurus kebutuhan tersebut.
Dapur bahkan dapat menjadi pos informasi dan tempat perlindungan. Dari sana, perempuan terlibat dalam berbagai pekerjaan, dari menjadi penghubung, menjahit kebutuhan pakaian dan perlengkapan, hingga melakukan perjalanan melewati garis demarkasi. Catatan organisasi perempuan menunjukkan bahwa semua itu dilakukan dalam situasi ketika keamanan mereka sendiri tidak pernah benar-benar terjamin.

sumber: tempo.co
kemerdekaan-indonesia-1945-1949-321306
Maka kata “dapur” terasa terlalu kecil. Di dalam dapur ada logistik. Di dalam logistik ada strategi. Di dalam strategi ada keberlangsungan. Dan di dalam keberlangsungan ada politik.
Hj. Siti Aisjah dan orang-orang yang bekerja bersamanya mungkin tidak berdiri di depan kamera dengan senapan. Tetapi dua ratus orang tidak dapat bertahan di lapangan tanpa kerja yang mereka lakukan.
Dan ya, revolusi memang membutuhkan orang-orang yang mengambil alih stasiun dan orang-orang yang berjuang di garis depan. Tapi revolusi juga membutuhkan orang yang membuat orang yang merebut dan menembak tetap bisa bergerak. Di antara keduanya ada kerja yang terus berlangsung, meski sering tanpa nama dan tanpa panggung. Dan dari sanalah revolusi sebenarnya dibangun.
[1]Harun Kabir meski dari kalangan menak Sunda tapi dalam masa revolusi, ia dan laskarnya memiliki koneksi kuat dengan jejaring pemuda progresif di Jakarta, termasuk kelompok Menteng 31 yang dimotori oleh Sukarni.
***
catatan: tulisan ini telah lebih dulu terbit dalam bentuk zine berjudul “Sejarah Kepahlawanan Bogor dalam Bara Revolusi” yang disusun oleh Bogor Litera pada acara Pekan Sastra Bogor 19-20 Oktober 2026.
