Berbuka Puisi ter-ilham-i ketika kami membayangkan dari sekian banyak proses menyantap menu hidangan sewaktu berbuka puasa itu, kami tergerak untuk ikut menyediakan ruang yang menampung hidangan berupa puisi sebagai teman menyantap takjil. Ditambah, kita ketahui bersama, dunia spiritual-religius sering menghampiri kita pada Bulan Ramadhan: tadarusan, solawatan, hanca-quran, dan seterusnya. Pembayangan itulah yang entah seperti menuntun kami untuk menyediakan rubrik (serial ramadhan) Berbuka Puisi.

Maka, kami mengajak kepada siapapun untuk merefleksikan kehidupan puasa ini ke-dalam wujud puisi. Mengenai isinya, puisi-puisi (di rubrik Serial Ramadhan Berbuka Puisi) tentu akan berkutat seputar ramadhan dan puasa melalui wujud puisi, lepas bagaimana para penyair merefleksikannya, kami tak akan ikut-campur dan memberi catatan-catatan khusus lainnya. Pokoknya sebebas-bebas penyair saja, yang penting peristiwa dan fenomenanya berkutat pada ramadhan dan puasa.

Sejalan dengan itu, tentunya setiap penyair memiliki kesan, pesan, dan pandangan-perenungannya sendiri ketika memesrai puasa di bulan ramadhan ini. Dan wahana puisi (Serial Ramadhan Berbuka Puisi) ini akan kami hidangkan di web halimunsalaka.com nantinya setiap menjelang berbuka puasa, rutin menyapa pembaca setiap harinya, sampai ramadhan berakhir. Sebab, kata Sapardi, kita bukan Nabi yang bersabda, maka bersajaklah – maka berpuisilah.

Berbuka Puisi ter-ilham-i ketika kami membayangkan dari sekian banyak proses menyantap menu hidangan sewaktu berbuka puasa itu, kami tergerak untuk ikut menyediakan ruang yang menampung hidangan berupa puisi sebagai teman menyantap takjil. Ditambah, kita ketahui bersama, dunia spiritual-religius sering menghampiri kita pada Bulan Ramadhan: tadarusan, solawatan, hanca-quran, dan seterusnya. Pembayangan itulah yang entah seperti menuntun kami untuk menyediakan rubrik (serial ramadhan) Berbuka Puisi.

Maka, kami mengajak kepada siapapun untuk merefleksikan kehidupan puasa ini ke-dalam wujud puisi. Mengenai isinya, puisi-puisi (di rubrik Serial Ramadhan Berbuka Puisi) tentu akan berkutat seputar ramadhan dan puasa melalui wujud puisi, lepas bagaimana para penyair merefleksikannya, kami tak akan ikut-campur dan memberi catatan-catatan khusus lainnya. Pokoknya sebebas-bebas penyair saja, yang penting peristiwa dan fenomenanya berkutat pada ramadhan dan puasa.

Sejalan dengan itu, tentunya setiap penyair memiliki kesan, pesan, dan pandangan-perenungannya sendiri ketika memesrai puasa di bulan ramadhan ini. Dan wahana puisi (Serial Ramadhan Berbuka Puisi) ini akan kami hidangkan di web halimunsalaka.com nantinya setiap menjelang berbuka puasa, rutin menyapa pembaca setiap harinya, sampai ramadhan berakhir. Sebab, kata Sapardi, kita bukan Nabi yang bersabda, maka bersajaklah – maka berpuisilah.

Semilir Angin dan Puisi Lainnya

Karl Isakson (1878 – 1922) Semilir Angin aku hanya ingin terbangmelintas luka meditasi waktumencari titik temuwajah bumi dan kaki langit aku juga harus merdekameluncur dari kumpulan sejarahmelukis...

Ketiadaannya Ada di Mana-mana dan Puisi Lainnya

Georges de Feure (1868-1943) Ketiadaannya Ada di Mana-mana ketiadaannya ada di mana-mana terbaca pada sesumbar siur para leluhur & segulung wajah kusut yang menyingkapkan patahnya duniajuga pada...

Apa Artinya Ini? dan Puisi Lainnya

Walter Gramatté (1897–1929) Apa Artinya Ini? ini malam sudah pagiaku sepenuhnya menangissepenuhnya tak tahu rasa sakit iniberasal dari angin cinta yang suram atauwarna dosa kian menampakkan cahaya ini...

Separuh Aku Serupa Bayang-bayang

Ernst Ludwig Kirchner (1880-1938) Aku minum bulandari cangkir retak warisan leluhuryang tak pernah benar-benar mati—hanya pindah alamat ke dalam nadi. Gunung kugulung seperti tikar...

Malam Tenggelam dan Puisi Lainnya

Pinckney Marcius-Simons (1867-1909) Malam Tenggelam malam hampir tenggelam di sunyi ruang tengahuli itu masih hangat dengan bayang-bayang lamasuaranya masih ada dalam dadapenuh kerak doa ruang tengah...

Pesan dari Kematian dan Puisi Lainnya

Dance of Death; Death Ponders (1919) Pesan dari Kematian Pembukaan,Tanpa emoticon, aku izinkan kepadamu. Sebentar,Sebentar lagi,Tunggu sebentar lagi,Aku,Datang untuk mencintaimu. Dan kau tau.Kau...

Maharumi dan Puisi Lainnya

(Frank Hector Tompkins 1847-1922) Maharumi kusebut namanya perlahan—nyaris seperti berbisik, sebab aku tahu: Kau Pendengar yang Baik. rindu ini diam-diam tumbuh, di saat jawaban atas doa terasa jauh...

1.1 di antara 2.3 dan Puisi Lainnya

Henry John Stock (1853-1930) 1.1 di antara 2.3 dengan terbata-bataAku menjelma iblis yang berdoapada malam ini aku mengingkari janjibenang merah kisah cinta selesai sudah malam ini terasa...

Petualangan Hujan dan Puisi Lainnya

Gustave Den Duyts (1850 – 1897) Petualangan Hujan Kita bercengkrama dengan hujan tentang daun-daun yang basah di ujung jemarimumenjadi sesutau wangi yang dikejar anginkarena merasa sudah lama...