Johan Conrad Greive (Belanda, 1837–1891)
Ketika membaca sebuah novel, pembaca sering kali lebih tertarik pada tokoh dan alur cerita daripada latar. Tokoh dianggap sebagai penggerak cerita, sementara latar hanya dipahami sebagai tempat peristiwa berlangsung. Padahal, dalam banyak karya sastra, latar tidak pernah benar-benar netral. Ia bukan sekadar ruang yang ditempati tokoh, melainkan sistem tanda yang menyimpan ideologi, sejarah, dan cara pandang tertentu terhadap dunia. Hal itu tampak jelas dalam Bunga Roos dari Cikembang karya Kwee Tek Hoay.
Novel yang terbit pada 1927 ini dikenal sebagai salah satu karya penting dalam tradisi sastra Melayu-Tionghoa. Banyak kajian telah membahas relasi etnis, posisi perempuan pribumi, persoalan nyai, dan hibriditas budaya yang muncul dalam novel tersebut. Namun, ada satu unsur yang sering luput dari perhatian, yakni latar Buitenzorg. Nama itu muncul tidak hanya sebagai penunjuk geografis, tetapi juga sebagai penanda budaya yang menghadirkan beragam makna. Dalam perspektif semiotik, Buitenzorg dapat dibaca sebagai sebuah teks yang menyimpan jejak kolonialisme, identitas, dan memori sosial masyarakat Hindia Belanda.

Membaca Buitenzorg dalam Bunga Roos dari Cikembang berarti membaca bagaimana sebuah ruang berbicara melalui bahasa sastra. Secara denotatif, Buitenzorg adalah nama kolonial untuk Bogor. Pada masa Hindia Belanda, wilayah ini menjadi salah satu pusat pemerintahan sekaligus kawasan perkebunan yang penting. Iklimnya yang sejuk, bentang alamnya yang hijau, dan kedekatannya dengan Batavia menjadikan Buitenzorg sebagai tempat ideal bagi elite kolonial untuk tinggal dan bekerja. Dalam novel Kwee Tek Hoay, ruang ini hadir melalui kebun-kebun teh, rumah administratur, jalan-jalan perkebunan, dan lanskap pegunungan yang membingkai kisah cinta Oh Ay Tjeng dan Marsiti.
Pada tingkat pertama, Buitenzorg memang hanya berfungsi sebagai latar. Ia menjadi tempat bertemunya tokoh-tokoh dan berkembangnya konflik cerita. Akan tetapi, jika dibaca melalui perspektif semiotik Roland Barthes, makna latar tidak berhenti pada tingkat denotasi. Buitenzorg kemudian bergerak menuju wilayah konotasi dan mitos.
Di sinilah ruang berubah menjadi bahasa. Buitenzorg dalam novel Kwee Tek Hoay tidak hanya merepresentasikan sebuah kota. Ia juga mengandung makna tentang keteraturan kolonial. Segala sesuatu tampak tertata: perkebunan berjalan dengan baik, administrasi berfungsi, dan kehidupan sosial berlangsung dalam hierarki yang jelas. Tokoh Oh Ay Tjeng, sebagai administratur perkebunan, menempati posisi yang relatif mapan dalam struktur tersebut. Kehadirannya menandai posisi kelas menengah Tionghoa yang berada di antara penguasa kolonial dan masyarakat pribumi.
Melalui latar Buitenzorg, pembaca diperlihatkan bagaimana ruang kolonial bekerja. Ia membentuk relasi kuasa, menentukan posisi sosial, dan mengatur batas-batas interaksi antarkelompok masyarakat. Dengan kata lain, Buitenzorg tidak hanya menjadi tempat tinggal para tokoh, tetapi juga menjadi mekanisme yang membentuk kehidupan mereka.
Dalam konteks ini, Buitenzorg dapat dibaca sebagai simbol keteraturan kolonial yang tampak indah di permukaan, tetapi menyimpan ketimpangan di dalamnya. Keindahan alam menjadi salah satu unsur yang paling menonjol dalam novel ini. Kwee Tek Hoay menghadirkan gambaran Priangan yang hijau, sejuk, dan romantis. Kebun teh membentang di lereng perbukitan. Kabut turun pada pagi hari. Pepohonan tumbuh dengan tenang di sepanjang jalan perkebunan. Alam menjadi ruang yang memungkinkan tumbuhnya cinta antara Oh Ay Tjeng dan Marsiti.
Namun, justru di sinilah semiotika menemukan lapisan makna yang lebih dalam. Keindahan itu bukan hanya deskripsi alam. Ia adalah tanda. Dalam konsep Barthes, tanda dapat berkembang menjadi mitos. Alam Priangan yang indah dalam novel ini membangun mitos tentang tanah kolonial yang harmonis dan damai. Pembaca diajak menikmati pesona perkebunan, kesejukan udara, dan romantisme pedesaan. Akan tetapi, di balik keindahan itu terdapat kenyataan sosial yang jauh lebih rumit.
Perkebunan tidak hadir secara alamiah. Ia merupakan bagian dari sistem ekonomi kolonial. Keindahan kebun teh yang dipandang dari kejauhan sesungguhnya dibangun melalui tenaga kerja yang panjang, disiplin yang ketat, dan relasi kuasa yang tidak seimbang. Dalam pengertian ini, kebun teh menjadi tanda ganda. Ia adalah ikon keindahan, tetapi sekaligus indeks dari sistem kolonial yang menopangnya.
Nama Buitenzorg sendiri menyimpan makna yang menarik untuk dibaca secara semiotik. Dalam bahasa Belanda, kata buitenzorg sering dimaknai sebagai “bebas dari kekhawatiran” atau “tanpa kecemasan”. Nama itu mencerminkan imajinasi kolonial tentang sebuah tempat yang nyaman, tenang, dan menyenangkan.
Namun, pertanyaannya adalah: bebas dari kecemasan bagi siapa? Bagi para pejabat Belanda, Buitenzorg memang dapat menjadi ruang yang nyaman. Bagi para pemilik modal, kawasan perkebunan adalah sumber keuntungan. Akan tetapi, bagi Marsiti dan masyarakat pribumi lainnya, ruang yang sama belum tentu menghadirkan ketenangan serupa.
Marsiti hidup dalam posisi yang rentan. Ia mencintai Oh Ay Tjeng, tetapi hubungan mereka dibatasi oleh struktur sosial dan etnis yang berlaku pada masa itu. Cinta mereka berkembang di tengah ruang kolonial yang secara diam-diam telah menentukan siapa yang boleh berada di pusat dan siapa yang harus berada di pinggiran.
Di titik ini, nama Buitenzorg menghadirkan ironi. Ia menjanjikan ketenangan, tetapi menyimpan kecemasan. Ia menawarkan keindahan, tetapi menyembunyikan ketimpangan. Ia tampak sebagai surga tropis, tetapi dibangun di atas struktur kolonial yang kompleks.
Menariknya, Kwee Tek Hoay tidak memilih nama Bogor (Istilah Bogor sebagai nama tempat secara resmi mulai dikenal dan tertulis dalam catatan arsip kolonial Belanda pada tanggal 7 April 1752. Istilah tersebut tertulis sebagai Hoofd Van de Negorij Bogor “yang berarti Kepala Kampung Bogor”, merujuk pada sebuah perkampungan cikal bakal wilayah yang saat ini menjadi Kebun Raya Bogor). Ia menggunakan nama Buitenzorg, nama yang berasal dari bahasa kolonial. Pilihan bahasa ini tentu bukan sesuatu yang kebetulan. Dalam sastra, penamaan selalu memiliki fungsi simbolik.
Nama Bogor akan mengarahkan pembaca pada identitas lokal. Sebaliknya, Buitenzorg membawa pembaca memasuki dunia kolonial yang lebih luas. Nama itu menghadirkan atmosfer Hindia Belanda lengkap dengan struktur sosial, relasi etnis, dan sistem ekonomi yang mengitarinya.
Sebab itu, Buitenzorg dalam novel ini dapat dipahami sebagai tanda linguistik yang membawa muatan ideologis. Ia bukan sekadar nama tempat, melainkan representasi dari sebuah tatanan dunia. Dengan kata lain, bahasa latar menjadi bagian dari strategi naratif yang digunakan Kwee Tek Hoay untuk membangun makna.
Jika sastra adalah cara manusia mengingat pengalaman, maka latar merupakan salah satu media ingatan yang paling kuat. Melalui Buitenzorg, pembaca tidak hanya mengenali sebuah wilayah geografis, tetapi juga memasuki memori sosial Hindia Belanda. Kota, perkebunan, dan pegunungan berubah menjadi arsip budaya yang menyimpan jejak hubungan antaretnis, dinamika kelas sosial, dan pengalaman kolonial.
Di sinilah kekuatan sastra bekerja. Sejarah mungkin mencatat data tentang perkebunan, jumlah penduduk, atau kebijakan kolonial. Akan tetapi, sastra menghadirkan bagaimana ruang itu dirasakan oleh manusia. Sastra memberi wajah pada statistik dan memberi suara pada mereka yang sering kali tidak muncul dalam arsip resmi.
Melalui Buitenzorg, Kwee Tek Hoay tidak hanya menuliskan sebuah kisah cinta. Ia juga menuliskan sebuah ruang yang sarat makna. Pada akhirnya, membaca Buitenzorg dalam Bunga Roos dari Cikembang berarti menyadari bahwa latar bukanlah unsur pelengkap yang pasif. Ia adalah sistem tanda yang aktif menghasilkan makna. Melalui kebun teh, pegunungan, rumah administratur, dan bahkan nama tempat itu sendiri, pembaca diajak memahami bagaimana kolonialisme bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Buitenzorg menjadi bahasa yang berbicara tanpa suara. Ia mengisahkan keindahan sekaligus ketimpangan, romantisme sekaligus kekuasaan, kenyamanan sekaligus kecemasan. Ia adalah ruang yang dapat dibaca sebagaimana kita membaca sebuah teks.
Mungkin sebab itulah karya-karya besar tidak pernah hanya bercerita tentang manusia. Karya-karya besar juga bercerita tentang tempat-tempat yang membentuk manusia. Dalam Bunga Roos dari Cikembang, Buitenzorg bukan sekadar latar. Ia adalah tokoh yang diam, tetapi terus berbicara kepada pembaca tentang sejarah, identitas, dan ingatan yang masih bergema hingga hari ini.
