Pemanggungan Puisi: Mengungkap yang Tak Terucapkan

Pemanggungan Puisi: Mengungkap yang Tak Terucapkan

Nicolaes Muys (1740 – 1808)

Satu di antara alat yang dipergunakan oleh umat manusia untuk kembali menghubungkan dirinya kepada Tuhan seru sekalian alam kehidupan dan untuk saling menyambungkan dirinya satu sama lain adalah kata. Tatkala sejumlah kata dirangkai, disusun, dan dikomposisikan untuk mewakili dan menyampaikan suatu makna, kita menyebutnya kalimat. Kemudian di antara sekian banyak cara manusia menyusun kata dan merangkai kalimat, terdapat suatu bentuk atau formula yang—barangkali kita percaya suatu modus-ungkap yang bernama puisi.

Puisi-puisi ditulis, kemudian dikomunikasikan dengan cukup tulisan itu sendiri, dan atau dengan lisan. Dua pola komunikasi ini merupakan dua dunia yang amat berbeda. Puisi ditulis (kumpulan, antologi, media puisi, rubrik koran, surat-menyurat, dan sebangsanya) menyelinap ke dalam diri seseorang secara lebih personal, khusus dan intim. Sedangkan puisi dengan lisan (poetry reading, deklamasi, penampilan penyair, dramatisasi puisi, teatrikalisasi puisi, puisi gerak/koreografi puisi, musikalisasi puisi, pemanggungan puisi, dan berbagai macam eksperimen puisi lainnya) berlangsung dalam alam komunikasi yang lebih kolektif sifatnya. Aksentuasinya lebih merupakan aksentuasi massa. Sehingga dalam menggapai sasarannya, komunikasi lisan umumnya lebih luas jangkauan kuantitatifnya. Tapi secara kualitatif komunikasi tulisan bisa lebih unggul.

Puisi dengan segala “tabiat” komunikasinya terkadang “bagai pinang dibelah dua”, artinya puisi yang hanya dikomunikasikan tulisan pada umumnya lebih pasif, sementara puisi dengan komunikasi lisan mempunyai kemungkinan yang lebih luas untuk aktif, meskipun tetap ada keterbatasan yang lain. Puisi dalam komunikasi tulisan amat tergantung pada kebutuhan pembaca di pasaran, tetapi puisi bukanlah produk “best seller” sebagai komoditi, sehingga tak bisa dijanjikan kemegahan buku puisi apapun pada penyairnya selain seret lakunya dan terbata-bata. Sedangkan berbagai modus yang ditempuh oleh komunikasi puisi lisan, sebutlah pemanggungan, juga mengandung resiko-resiko, keuntungan sekaligus kerugian didera oleh monoton. Karena dalam pemanggungan puisi, pertemuannya bukan lagi puisi dengan pembaca di kamar, tetapi antara interpretasi puisi tersebut yang menjadi karakter pertunjukan dengan para spektator yang sebagian alamnya berkarakter massa.

Setakat ini menjadi jelaslah bahwa komunikasi puisi tulisan dengan lisan adalah dua provider yang sama sekali berbeda. Meskipun tak jarang keduanya saling melengkapi “bagai aur dengan tebing”, saling bahu-membahu antara penyair dengan puisinya, antara sebuah puisi dengan kumpulan puisinya, antara puisi untuk dilisankan dengan puisi dibaca-selami secara tulisan, dan tampaknya berlaku seperti kata Rendra, setiap sajak punya rezekinya masing-masing.

Pun tiap puisi ditulis memiliki alamat yang dituju. Puisi terasa menawarkan modus komunikasi yang berbeda, karena pendekatan terhadap tulisan tidak hanya terjadi dalam ruang personal yang intim dengan keragaman kualitas pemahaman pembacanya, melainkan juga berlangsung secara bersama-sama yang melandasi visi pada kualitas pemanggungan: baik sebagai komunikasi sosialnya maupun inovasi keseniannya. Kemungkinan jangkauan pemaknaan puisi tersebut terarah atau diarahkan pada prosedur interpretasi melalui seluk-beluk penghayatan, penalaran dan penyadaran. Maknanya sebagai tulisan seolah telah terbentang atau dibentangkan di atas panggung yang bisa dimaknai berulang plus ditafsirkan kembali sesuai tanda dan penanda.

Pemanggungan puisi, barangkali, upaya alit untuk meningkatkan makna terhadap kata. Telah kita jumpai sekian banyak puisi ditulis tapi tak cukup dengan tulisan itu ia berkomunikasi. Meskipun kata-kata merupakan wujud verbal dalam puisi, tetapi mewujudkan begitu saja tulisan belumlah mencukupi. Ia ternyata membutuhkan modus komunikasi yang lain seperti pelisanan maupun pemanggungan dengan beragam karakter pertunjukan, pola ekspresi, dan sistem ungkapnya. Di titik inilah pemanggungan harus berusaha menampilkan aspek-aspek yang implisit dari puisi, misalnya, mengungkap yang tak terucapkan ataupun menyampaikan yang tak dituliskan.

Maka, dengan tabiat komunikasinya yang berbeda, pemanggungan puisi akan selalu membuka kemungkinan ruang-ruang yang lain dari yang sebatas kita jumpai dalam tulisan. Terlebih pemanggungan ini diaksentuasikan dengan sejumlah elemen pertunjukan yang beragam, sehingga yang mengemuka tak hanya tubuh para aktor-pembaca, melainkan juga set dan artistik yang digarap sedemikian rupa.

Dalam mereguk makna kata-kata, para aktor-pembaca lebih mengandalkan cara pembacaannya pada pelisanan yang sesuai karakter pertunjukan, seraya tetap memberi aksentuasi pada bagian-bagian yang dianggapnya menjadi “sentral” citraan-suasana-peristiwa serta visi-gagasan puisi. Tentu saja ini bukan soal bagaimana puisi harus didramatiskan, sebab pemanggungan puisi yang berarti tidak hanya terletak pada kata-katanya, melainkan juga pada keluasan-kedalaman-keutuhan berdasarkan konteks dan nuansanya.

Sementara, pemanggungan puisi dapat diartikan sebagai proses menguak kemungkinan jalan lain ke komunikasi puisi atau pengalihwahanaan atau penyajian dari mengubah tulisan menjadi sebuah peristiwa pertunjukan. Kadang ia bisa dihidupi dalam pembayangan akan kata-kata. Tak jarang ia merupakan hasil mengolah dan merancang-bangun dari fragmentasi puisinya tanpa kehilangan daya tariknya sebagai pemanggungan puisi.

Hal inilah yang membuat komunikasi puisi, dalam kerangka luas sosialisasi puisi, merupakan bagian yang amat penting dari penjelajahan artistik pribadi sekaligus pertumbuhan seni pertunjukan. Komunikasi puisi itu hanya pergaulan, tegur sapa, silaturahmi, sesrawungan, bukan justru menciptakan keasingan—meskipun dalam pemahaman, agaknya perlu disisakan sedikit keasingan agar gairah menjelajahi terus ditempuh.

22 Agustus 2026

* Tulisan ini ditujukan sebagai prasaran dalam Forum Dramaturgi Jakarta edisi 6 bertajuk “Dari Puisi ke Dramaturgi” pada Sabtu, 29 Agustus 2026, Balai Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki.

  • Aktif berteater bersama Paseduluran Lidah Daun. Menulis puisi, esai, dan sejumlah drama. Tinggal di Pamulang, di padepokan Rumah Tumbuh Muthmainah.

    Lihat semua pos

Tinggalkan komentar