Jasinga dan Hubungannya yang Silang Sengkarut dengan Bujangga Manik

Jasinga dan Hubungannya yang Silang Sengkarut dengan Bujangga Manik

Syahdan, waktu menjelang lingsir ngulon, tanggal 12 April 2026, saya yang tengah menjalani laku ni’is di rumah Hady, tepatnya di Rongga—Kabupaten Bandung Barat, bak disiram glap seribu. Hal-ihwalnya, kawan saya si filolog sekaligus penyalin lontar kondang ini, ujug-ujug menanyakan suatu pertanyaan di luar dugaan, “apakah kau menemukan Bujangga Manik?”, tepat di sela-sela aktivitas mendongeng saya mengenai fokus perjalanan saya akhir-akhir ini bersama kawan-kawan Bogor Barat ke Jasinga.

Awalnya saya pikir saya salah dengar, namun setelah saya pastikan dengan menanyakan ulang maksud pertanyaan yang baru ia lontarkan, Hady lantas berdiri menapaki lantai rumah panggungnya. Dengan menjinjing samping kotak-kotaknya, ia berjalan menuju lemari buku (sekalian lontar-lontar salinannya) seraya mengambil segepok kitab tebal. Sigra, ia lempar pustaka besar itu tepat di hadapan sebatang Djarum Coklat yang terparkir di tepian asbak keramik khas apoteker yang entah ia dapat dari mana. Tanpa sempat membaca judul si kitab, Hady dengan tangkas membuka lembar demi lembar selayaknya buru-buru mau pamer sesuatu yang ada di dalam buku itu pada saya.

“Tah, tingali!”, pungkas Hady.

Sekejap penglihatan saya menyisir lembaran yang ditunjuk Hady, yang lantas saya sadar bahwa buku yang dibuka oleh Hady itu adalah A Dictionary of The Sunda Language of Java karangan Tuan Besar Jasinga, Jonathan Rigg (1862). Masalahnya, bukan buku itu yang mengejutkan buat saya, melainkan uraian yang ia tunjukan. Secara verbatim seluruh kutipan pada kamus itu saya tampilkan sekaligus saya terjemahkan sebagai berikut:

Bujangga Manik, the name of Ratu Guriang, or the king of the mountain spirits. Bujangga means a serpent. In India the worship of serpents is adopted into the Brahminical system. In particular it is found in Cashmere. On Java and Bali there existed an adoration of serpents (Vasuki) and the Bujangga’s appear originally to have been worshippers of serpents, who afterwards coalesced with the sect of Siwa.

(Bujangga Manik, nama Ratu Guriang, atau raja roh gunung. Bujangga berarti ular. Di India, pemujaan ular diadopsi ke dalam sistem Brahmana. Secara khusus, hal ini ditemukan di Kashmir. Di Jawa dan Bali terdapat pemujaan ular (Vasuki) dan kaum Bujangga tampaknya awalnya adalah pemuja ular, yang kemudian bergabung dengan sekte Siwa.)

Apa yang aneh dari selarik cerita obrolan saya dan Hady di atas? Mari, saya beberkan sedikit letupan kecil dari konteks cerita di atas.

Begini pembaca yang budiman, posisi Jasinga atau dalam hal ini wabil khusus “Kampung Cicanggong” di Desa Koleang, yang menjadi daerah spesifik yang saya datangi ketika pergi ke Jasinga, sejak awal abad ke-20 telah dikenal sebagai pundi-pundi penghasil naskah Sunda Kuno. Notulen van de Algemeene en Bestuurs-vergaderingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen keluaran tahun 1912 menjadi kesaksian pertama yang mengemukakan temuan-temuan naskah yang ada di sana berikut juga laporan wawancara berbahasa Sunda dari “pemilik” naskah-naskah tersebut, yakni Ki Manan (belakangan setelah saya bersama dengan rekan-rekan Halimun Salaka sowan ke daerah Cicanggong, dan orang ini kemudian makamnya dikeramatkan oleh warga setempat).

Menurut pendataan Aditia Gunawan dan Munawar Holil, naskah-naskah asal Cicanggong yang saat ini disimpan di Perpusnas berjumlah tujuh naskah (terdiri atas bahan gebang serta lontar). Dua di antaranya yang sudah terbit dalam bentuk suntingan teks adalah Sang Hyang Tatwa Ajñana oleh Tien Wartini dkk (2011) dan Cerita Putera Rama dan Rahwana oleh J. Noorduyn & A. Teeuw (2009). Namun demikian, sebelum heboh-heboh penemuan naskah itu abad ke-20, kurang lebih 60 tahun sebelumnya Jonathan Rigg—tuan tanah yang sudah disinggung di atas—berhasil menulis kamus bahasa Sunda “khas” Jasinga. Menurut hemat saya pribadi, kamus ini cocok sekali disebut sebagai rawayan, yakni jembatan bambu khas Sunda yang suka dianalogikan pada orang Baduy dengan maksud mengungkapkan peran mereka sebagai penghubung dunia lama dan baru. Kamus Rigg itu mungkin tidak setebal kamus Coolsma yang hidup di masa yang lebih kemudian, namun jelas di dalam kamus Rigg muncul rekaman kosakata arkais (Sunda Kuno?).

Menariknya, dalam proses penulisan kamus itu, Sang Tuan Jasinga yang hobi berguru pada guriang ini, mengaku dibantu oleh seorang juru pantun bernama Ki Gembang. Konon, kata senior filologi saya, Ilham Nurwansah, Ki Gembang ini orang asli Cicanggong!

Lalu, kembali lagi pada cerita saya di bagian paling atas, sampai dengan hari hakikatnya para peneliti percaya bahwa nama Bujangga Manik yang muncul dalam lontar berkode MS. Jav. b. 3 di Bodleian Library ini, baru diperkenalkan kembali di panggung kebudayaan Sunda sejak terbitan pertama J. Noorduyn akan sinopsis singkat Bujangga Manik dan keterangan topografi Pulau Jawa yang ada di dalamnya tahun 1982. Noorduyn sendiri mengakui bahwa ia menjumpai naskah itu di tahun 1960-an ketika melawat ke Inggris dan berusaha membaca naskah itu via media faksimil di Bogor. Dengan demikian, bagaimana bisa Rigg (dan tentu Ki Gembang yang membantunya) mengetahui nama Bujangga Manik yang baru diketahui tepat 100 tahun setelah mereka menerbitkan Kamus Sunda-Inggris itu?

Jelas, jawaban paling mendekatinya adalah bahwa Jasinga (mungkin sekali Cicanggong secara spesifik) merupakan satu-satunya daerah di Tanah Sunda yang tercatat memiliki memori mengenai Bujangga Manik hingga abad ke-19. Terlepas dari bahwa pemverian makna pada kamus Rigg mungkin terkesan agak acak kadut, sebab jauh dari bayangan Bujangga Manik pada naskah, tapi kesamaan penulisan nama dan ejaan yang muncul pada kamus Rigg dan naskah Bujangga Manik luar biasa memukau bagi saya. Artinya, kalau benar informasi soal Bujangga Manik itu Rigg dapatkan di Jasinga, nama itu benar-benar dihayati dan dilekatkan dalam memori kolektif masyarakat setempat, maksudnya dalam bentuk tradisi tutur penting, semacam pantun atau bahkan sumber tertulis!

Dikenalnya Bujangga Manik di Jasinga sampai era Rigg ini (mungkin sekali sampai sekarang?), juga sekali lagi memperkuat kedudukan Cicanggong sebagai wilayah yang terkait dengan tradisi karesian era Sunda Kuno. Saya ingat betul, ada beberapa pendapat yang menganggap bahwa Cicanggong belum bisa dianggap sebagai skriptorium (sentra penulisan naskah), karena naskah-naskah yang ditemukan di sana pun tidak menyertakan keterangan tempat penulisan yang berhubungan dengan lokasi Cicanggong hari ini. Juga, kuantitas naskah dari Cicanggong juga tidak sebanyak saudara timurnya—Ciburuy di Garut.

Namun, buat saya yang berlatar belakang pendidikan antropologi dan arkeologi, aspek tekstual tidak selalu menjadi penentu kebenaran sejarah (izin ya teman-teman sejarawan). Pola pemukiman, sistem kemasyarakatan, tradisi pertanian, religi dan tentunya memori kolektif masyarakat Cicanggong, juga aspek yang tak kalah penting dalam menentukan skema kebudayaan mereka di masa lampau yang gemilang—yang buat saya secara subjektif adalah sebuah karesian itu sendiri. Mungkin lain kali, lain waktu, lain wahana, saya cerita lebih lanjut soal menyoal yang saya sebutkan itu.

Wallahualam bissawab.

  • penulis sekaligus peneliti yang menggeluti dunia arkeologi dan sejarah kebudayaan. Karirnya sebagai penulis di mulai sejak 2019 sewaktu masih duduk di bangku kuliah di Program Studi Arkeologi UI, yang mana Ia aktif menulis di beberapa jurnal ilmiah arkeologi dan sejarah. Sejak lulus dari Program Magister Antropologi UGM di penghujung tahun 2022, Alnoza bekerja sebagai peneliti untuk Intellectual Property (IP) dari perusahaan Anantarupa Studios. Dan kini aktif mengasuh Bujangga Manik Society.

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *