Chairil Anwar: Tubuh yang Rapuh, Ingatan yang Kaku

Chairil Anwar: Tubuh yang Rapuh, Ingatan yang Kaku

Ada penyair yang hidupnya terasa seperti sebuah kalimat pendek, tetapi kalimat itu terus bergema setelah titiknya jatuh. Chairil Anwar adalah salah satunya. Ia lahir pada 26 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara, dan meninggal di Jakarta pada 28 April 1949 dalam usia yang baru menginjak dua puluh enam tahun.[1] Ia lahir bukan sebagai monumen, melainkan sebagai tubuh: muda, gelisah, keras kepala, cepat menyala, cepat habis. Kita mengingatnya sebagai suara yang datang dari sebuah zaman yang sedang belajar menjadi modern, sebuah zaman di mana Angkatan 45 sedang merumuskan bahasa dan kesadaran estetik baru bagi Indonesia yang baru merdeka.[2] Mungkin justru karena modernitas itu belum sepenuhnya punya rumah, maka Chairil hadir seperti seseorang yang mengetuk pintu dengan tergesa-gesa. Ia tidak menunggu dipersilakan masuk. Ia mendobrak.

Untuk memahami apa yang Chairil dobrak, perlu dipahami lebih dulu apa yang hendak dirobohkannya. Sebelum Angkatan 45, sastra Indonesia modern didominasi oleh Pujangga Baru, sebuah gerakan yang, meski penting dalam membangun kesadaran nasional, cenderung menghasilkan bahasa yang agung, gagah, dan penuh wibawa retoris.[3] Bahasa adalah kendaraan cita-cita kolektif, bukan pengakuan individu. Chairil bersama Asrul Sani dan Rivai Apin yang kemudian menerbitkan antologi bersama Tiga Menguak Takdir (1950)[4]—membawa sesuatu yang berbeda: bahasa yang kasar, patah, jujur, dan fisik. Bahasa yang berkeringat. Bukan bahasa yang memerintah, melainkan bahasa yang merasakan. Dalam pengertian itu, Chairil bukan hanya penyair. Ia semacam peristiwa fisiologis dalam sejarah bahasa Indonesia: ia membuat bahasa itu berkeringat, dan dengan itu, membuat bahasa Indonesia menjadi manusia.

Ketegangan itu paling terasa dalam “Aku” (1943), salah satu puisi paling dikenal dalam khazanah sastra Indonesia modern.[5] Baris pertamanya sudah merupakan deklarasi posisi: Aku ini binatang jalang / Dari kumpulannya terbuang. Ini bukan metafora romantis tentang seniman yang terasing. Ini adalah pernyataan ekologis: seorang makhluk yang tidak memilih dan tidak dipilih oleh kawanannya. Yang kemudian menyatakan: Biar peluru menembus kulitku / Aku tetap meradang menerjang. Ada sesuatu yang secara fisik terbaca di sini, tubuh yang ditembus, tetapi menolak berhenti. Dan kesimpulan puisi Aku mau hidup seribu tahun lagi bukan sebuah deklarasi optimisme. Hal itu adalah keputusasaan yang memilih untuk berpura-pura sebagai keberanian; sebuah penolakan terhadap kematian yang justru membuktikan betapa nyatanya ancaman kematian itu. Puisi-puisi Chairil seakan lahir dari keadaan tubuh yang sadar bahwa waktu tidak panjang, dan justru karena itu mendesak, bergolak, tidak sabar dengan keheningan.

Puisi itu tidak lahir dari ruang hampa. Tubuh yang berbicara dalam “Aku” adalah tubuh yang sungguh-sungguh sedang dihancurkan oleh waktu. Chairil Anwar mengidap tuberkulosis dan sifilis, dua penyakit yang pada zamannya belum bisa ditangani secara efektif.[6] Ia meninggal pada usia dua puluh enam tahun dengan diagnosis resmi tifus, meskipun tubuhnya sudah lama digerus berbagai penyakit yang datang bersamaan.[7] Dengan mengetahui ini, kita membaca puisinya secara berbeda. Baris Luka dan bisa kubawa berlari / Berlari / Hingga hilang pedih peri bukan hanya kiasan tentang penderitaan eksistensial. Ini adalah laporan dari seseorang yang benar-benar merasakan luka di dalam daging. Maka puisi dalam dirinya tidak pernah tampak sebagai hiasan. Puisi adalah alat bertahan. Puisi adalah cara tubuh yang sedang sekarat menolak untuk diam. Puisi adalah bentuk terakhir dari keberanian ketika daging mulai mengerti bahwa ia fana.

Dalam “Derai-derai Cemara,” nada itu mencapai kedalaman yang berbeda. Puisi ini ditulis menjelang akhir hidupnya, dan mengandung salah satu baris yang paling telanjang dalam seluruh korpus puisi Indonesia modern: Hidup hanya menunda kekalahan.[8] Baris ini bukan kalimat orang yang pesimis. Ini adalah kalimat orang yang tahu persis ia akan kalah, namun tetap memilih untuk hadir, untuk menulis, untuk bersuara. Di sinilah perbedaan antara Chairil dan banyak penyair lainnya menjadi nyata: ia tidak menulis tentang kematian sebagai tema. Ia menulis dari dalam kematian yang sedang berlangsung di dalam tubuhnya. Dan “Diponegoro”, Di depan sekali tuan menanti / Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali[9] menunjukkan bahwa kesadaran akan kekalahan itu—tidak membunuh kehendaknya untuk terlibat. Kegelisahan menjadi bahan bakar, bukan hambatan. Itulah yang membuat puisi-puisinya terasa seperti tindakan nyata, bukan sekadar ekspresi.

Tetapi ada sisi Chairil yang jarang masuk ke dalam narasi peringatan, dan ketidakhadirannya itu sendiri sudah merupakan sebuah gejala yang perlu dicermati. Sejumlah puisi yang beredar atas namanya adalah adaptasi, terjemahan, atau saduran dari karya penyair asing tanpa atribusi yang eksplisit. “Nisan” (1942),[10] misalnya, memiliki kemiripan struktural yang signifikan dengan karya penyair Belanda H. Marsman.[11] H.B. Jassin, kritikus yang paling berjasa mendokumentasikan dan membela Chairil, berpendapat bahwa yang terjadi adalah sebuah proses transformasi kreatif yang sah, bukan pencurian.[12] Perdebatan ini tidak pernah selesai, dan mungkin memang tidak perlu diselesaikan secara sepihak. Yang penting adalah bahwa perdebatan ini ada, dan bahwa menghilangkannya dari narasi tentang Chairil adalah cara paling halus untuk mengubah seorang penyair yang kompleks dan kontroversial—menjadi simbol yang nyaman dan steril. Chairil yang sesungguhnya bukanlah figur yang mudah dirapikan. Ia hidup di tengah ketegangan antara orisinalitas dan penyaduran, antara keberanian dan keterbatasan, antara semangat yang membara dan tubuh yang compang-camping. Itulah kompleksitasnya, dan itulah yang membuatnya menarik.

Di titik inilah paradoks besar menjadi nyata. Semakin keras ia menulis tentang tubuh yang hidup dan rapuh, semakin mudah ia berubah menjadi tubuh simbolik yang mati. Setelah ia wafat, Chairil tidak lagi sepenuhnya milik puisinya. Ia milik peringatan. Milik pidato. Milik poster. Milik upacara. Milik kalender. Dan di sini pun terdapat sebuah persoalan yang menarik: Indonesia mengenal dua peringatan berbeda yang dikaitkan dengan namanya. Tanggal 28 April, hari wafatnya, diperingati sebagai Hari Puisi Nasional—sebuah konvensi kultural yang telah berlangsung selama beberapa dekade.[13] Sementara itu, sejumlah komunitas sastra mendorong tanggal 26 Juli—hari lahirnya—sebagai Hari Puisi Indonesia, sebagai pernyataan bahwa puisi seharusnya dirayakan dari kehidupan, bukan dari kematian.[14] Dualitas ini bukan sekadar persoalan administratif kalender. Ia mencerminkan pertentangan yang lebih dalam tentang cara kita memosisikan seorang seniman dalam ingatan kolektif: apakah melalui kematiannya yang memberi kita tanggal yang rapi dan narasi yang tertutup, atau melalui kehidupan dan karyanya yang terus menuntut keterlibatan aktif?

Kecenderungan merayakan kematian seorang seniman lebih dari karya hidupnya bukan kekhasan Indonesia. Filsuf dan sejarawan budaya Pierre Nora menyebutnya sebagai pembentukan lieux de mémoire, situs-situs ingatan yang mengkristalkan sejarah menjadi simbol yang aman dan mudah dikonsumsi, menggantikan ingatan hidup yang lebih cair dan tidak nyaman.[15] Dalam konteks Indonesia, gejala ini dapat dilihat dalam cara kurikulum sastra di sekolah lebih banyak mengajarkan Chairil sebagai nama—dan tanggal daripada sebagai karya yang bisa dianalisis dan diperdebatkan.[16] Kita mengajarkan bahwa Chairil adalah “Pelopor Angkatan 45,” bahwa ia lahir tahun ini dan mati tahun itu, bahwa “Aku” adalah puisi tentang individualisme. Tetapi kita jarang mengajak murid—atau diri kita sendiri—untuk duduk bersama baris-baris puisinya dan merasakan apa yang terjadi di dalam bahasa itu sendiri: ketegangan sintaksis, ritme yang terputus, kejujuran yang tidak berdiplomasi. Kematian bisa dijadikan tanggal. Puisi tidak bisa. Puisi, bila masih hidup, akan terus mengganggu.

Maka pertanyaannya bukan sekadar: mengapa kita lebih suka memperingati kematian Chairil daripada menghidupkan puisinya? Pertanyaan yang lebih produktif adalah: kondisi apa yang perlu ada agar puisi Chairil, bukan nama Chairil, bisa terus hidup dan relevan? Jawabannya tidak tunggal, tetapi setidaknya menunjuk ke beberapa arah. Pertama, kurikulum sastra yang bergeser dari hafalan periodisasi ke analisis teks yang sesungguhnya—yang mengajak siswa berhadapan langsung dengan baris-baris puisi, bukan hanya dengan biografi pengarangnya. Kedua, ruang publik yang memberi legitimasi pada pembacaan puisi bukan hanya di panggung formal dan upacara resmi, melainkan dalam percakapan sehari-hari. Dan ketiga, yang mungkin paling menantang adalah kesediaan kita sebagai pembaca untuk menghadapi ketidaknyamanan yang ditimbulkan puisi, yang sungguh-sungguh hidup. Puisi yang hidup tidak selalu patuh pada seremoni. Ia bisa membuat kita malu. Ia bisa menolak fungsi dekoratif yang sering kita berikan padanya.

Chairil Anwar tidak menulis dari kenyamanan. Ia menulis dari tepi, dari pinggir napas, dari ambang tubuh yang sedang bernegosiasi dengan ajal, dari posisi seseorang yang tahu bahwa waktu yang tersisa tidak cukup untuk basa-basi. Dalam “Derai-derai Cemara,” ia menulis dan aku manusia rindu akan kematian[17], sebuah baris yang tidak bisa dikutip dalam pidato peringatan tanpa menimbulkan keganjilan, karena ia terlalu jujur, terlalu terbuka, terlalu sulit dijadikan ornamen. Mungkin justru itulah ukuran terbaik sebuah puisi: apakah ia masih bisa mempermalukan kita? Apakah ia masih punya kekuatan untuk mengganggu?

Barangkali tugas kita bukan sekadar mengenang Chairil Anwar, melainkan membiarkan kegelisahannya tetap mengancam. Bukan mengurusnya menjadi legenda yang rapi, melainkan terus berhadapan dengan kompleksitasnya—termasuk sisi-sisinya yang tidak nyaman: tubuh yang sakit, karya yang diperdebatkan, bahasa yang kasar, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ia sempat jawab sepenuhnya karena waktu habis sebelum kata terakhir ditulis. Di sanalah Chairil yang sesungguhnya masih hidup, bukan di tanggal peringatan, bukan di poster, bukan di nama jalan, melainkan di dalam puisi itu sendiri, yang terus mengetuk, terus memanggil, terus meminta kita membaca ulang dengan mata yang belum lelah dan hati yang belum terbiasa.


[1]Chairil Anwar lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dan wafat di Jakarta pada 28 April 1949. Lihat H.B. Jassin, Chairil Anwar: Pelopor Angkatan ’45 (Jakarta: Pustaka Jaya, 1956), hlm. 1-15.

[2]“Angkatan 45” adalah istilah yang dipopulerkan oleh kritikus H.B. Jassin untuk menamai generasi sastrawan Indonesia yang muncul sekitar masa kemerdekaan 1945. Chairil Anwar dianggap sebagai figur sentralnya. Lihat H.B. Jassin, Angkatan ’66: Prosa dan Puisi (Jakarta: Gunung Agung, 1968); lihat juga A. Teeuw, Modern Indonesian Literature, vol. 1 (The Hague: Martinus Nijhoff, 1967).

[3]Pujangga Baru, didirikan tahun 1933 oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, dan Armijn Pane, merupakan gerakan sastra yang mengedepankan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dengan gaya yang cenderung romantik dan nasionalistik. Lihat Boen S. Oemarjati, Bentuk Lakon dalam Sastra Indonesia (Jakarta: Gunung Agung, 1971), hlm. 32-50.

[4]Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin, Tiga Menguak Takdir (Jakarta: Balai Pustaka, 1950). Judul antologi ini dipilih secara polemis sebagai respons terhadap dominasi tokoh Pujangga Baru Sutan Takdir Alisjahbana.

[5]Chairil Anwar, “Aku,” dalam Deru Campur Debu (Jakarta: Pembangunan, 1949). Untuk edisi kritis yang memuat seluruh karya Chairil beserta variannya, lihat Pamusuk Eneste (ed.), Chairil Anwar: Karya Lengkap (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997).

[6]Kondisi kesehatan Chairil Anwar didokumentasikan dalam beberapa sumber biografis. Lihat Sjumandjaja, Chairil Anwar: Sebuah Perjalanan (Jakarta: Pustaka Jaya, 1981); lihat juga A. Teeuw, Modern Indonesian Literature, vol. 1 (The Hague: Martinus Nijhoff, 1967), hlm. 108-113.

[7]Penyebab kematian resmi Chairil Anwar adalah tifus (typhoid fever). Lihat H.B. Jassin, Chairil Anwar: Pelopor Angkatan ’45, hlm. 213. Kondisi tubuhnya yang sudah digerus tuberkulosis dan sifilis sebelum wafat menjadi konteks penting bagi pemahaman terhadap puisi-puisinya.

[8]Chairil Anwar, “Derai-derai Cemara,” dalam Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1949). Baris ini sering dikutip sebagai bukti kesadaran mortalitas Chairil yang sangat intens dan tidak terbungkus retorika.

[9]Chairil Anwar, “Diponegoro,” dalam Deru Campur Debu (Jakarta: Pembangunan, 1949). Puisi ini sering dibaca sebagai puisi heroik nasionalistik, namun ketegangan di antara keberanian dan kesadaran kekalahan di dalamnya jauh lebih kompleks daripada sekadar semangat juang.

[10]Chairil Anwar, “Nisan,” dalam Deru Campur Debu (Jakarta: Pembangunan, 1949). Puisi ini dipersembahkan untuk neneknya yang wafat pada tahun 1942.

[11]Hendrik Marsman (1899-1940) adalah penyair ekspresionisme Belanda. Kemiripan struktural antara karya Chairil dan Marsman pertama kali dikemukakan secara serius dalam perdebatan sastra Indonesia tahun 1950-an. Lihat Ajip Rosidi, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (Bandung: Binacipta, 1969), hlm. 86-92.

[12]H.B. Jassin, Chairil Anwar: Pelopor Angkatan ’45 (Jakarta: Pustaka Jaya, 1956), hlm. 45-67. Jassin menggunakan istilah “pengolahan kreatif” untuk menggambarkan praktik adaptasi Chairil dan membedakannya dari plagiarisme dalam pengertian yang sempit.

[13]Peringatan Hari Puisi Nasional pada 28 April merujuk pada tanggal wafat Chairil Anwar (1949). Ia telah berlangsung selama beberapa dekade sebagai konvensi kultural-literer, meskipun tidak memiliki payung hukum resmi setingkat Keputusan Presiden.

[14]Gerakan untuk menetapkan 26 Juli sebagai Hari Puisi Indonesia dimotori oleh sejumlah komunitas sastra sebagai respons terhadap kesan bahwa peringatan puisi bertumpu pada kematian, bukan kehidupan dan kelahiran karya. Lihat Jamal D. Rahman, “Chairil Anwar dan Persoalan Hari Puisi,” Majalah Sastra Horison, 2013.

[15]Pierre Nora, “Between Memory and History: Les Lieux de Memoire,” Representations, No. 26 (Spring 1989), hlm. 7-24. Nora membedakan antara memoire vecue (ingatan yang hidup) dan lieux de memoire (situs ingatan yang mengkristalkan sejarah menjadi simbol yang statis dan mudah dikonsumsi).

[16]Kritik terhadap kurikulum sastra Indonesia yang terlalu berfokus pada hafalan nama dan periodisasi, bukan analisis teks, telah dikemukakan oleh berbagai pengajar sastra. Lihat Riris K. Toha-Sarumpaet, “Sastra dalam Pendidikan,” dalam Sastra Masuk Sekolah (Magelang: IndonesiaTera, 2002), hlm. 15-28.

[17]Chairil Anwar, “Derai-derai Cemara,” dalam Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1949). Baris ini muncul dalam konteks suasana senja dan kemerosotan tubuh yang menjadi latar keseluruhan puisi tersebut.

  • pegiat sastra dan literasi dari Tangerang, Banten. Aktif merawat Komunitas Roeang Kata sekaligus penyelia Malam Puisi Tangerang sejak 2013.

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *