Setelah kita membahas tentang teks Sunda Kuno Para Putra Rama dan Rahwana (PRR atau Pantun Ramayana, naskah L 1102), mungkin akan muncul pertanyaan yang menarik lagi semisal: kok bisa beda ya dengan cerita Ramayana yang populer di kalangan masyarakat? Hal itu jelas bisa saja karena kreativitas itu tak terbatas meski di zaman dahulu ketika PRR itu dituliskan (diceritakan?) arus informasi dan ilmu pengetahuan belum segencar sekarang menerpa ide manusia. Justru, hal itu yang membuat hal ini semakin “ciamik” dengan membayangkan bagaimana orang di zaman dahulu itu telah memiliki teknik gubah cerita yang tinggi.
Salah satu hal yang menjadi kisah ini sangat berbeda dengan kisah Ramayana yang diceritakan di wilayah lain adalah karaktek baru yang muncul dengan nama Manabaya. Dalam khazanah sastra Ramayana yang tersebar di Nusantara, misalkan, tidak ada tokoh yang menyamai karaktekistik secara langsung terkait Manabaya. Ia adalah ciptaan khas tradisi Ramayana Sunda Kuno yang tersimpan dalam naskah PRR. Sementara tokoh-tokoh besar lain dalam naskah ini seperti Rama, Sita, Rawana, Megananda, Bibisana, masih dapat ditemukan dalam tradisi India maupun Jawa. Manabaya hadir sebagai tokoh yang benar-benar baru sebagai putra Rawana yang lahir setelah kematian ayahnya, yang kemudian bangkit sebagai pemimpin bagi para keturunan Rawana untuk membalas dendam kepada keturunan Rama.
Keberadaan Manabaya Sangat Karismatik, Bukan Sekadar Kreasi Artistik!
Manabaya ini merupakan tonggak utama pada struktur cerita yang menopang seluruh bangunan naratif teks Sunda Kuno ini. Tanpa Manabaya, kisah sekuel Ramayana versi Sunda ini tidak mungkin ada dan diwariskan seperti sekarang. Bagaimana tidak, tokoh inilah yang menjadi salah satu tokoh utama dan yang menjadi peran yang menarik dalam posisinya sebagai anak, prajurit, kesatria, seorang pribadi laki-laki maupun anggota keluarga yang dikenal musuh derma yang dibawa Ramadewa.
Kisah Manabaya dimulai dengan adegan yang sarat simbolisme dengan tempo yang begitu pelan membawa ketegangan yang cukup. Ketika Patih Sombali kembali ke Lengkapura, tepatnya ke bukit Si Miri-miri, yang baru saja usai berperang, Sombali menemukan Rawana beserta istri-istrinya terbujur tak bernyawa. Di sana, ia menemukan sesuatu yang tak terduga, yaitu seorang bayi tergeletak di kaki jasad Rawana. Bayi dengan mulut yang masih berlumur darah itu lahir dari luka pada perut ibunya, Manondari, yang meninggal saat masih mengandung. Ia adalah anak yang lahir dari rahim kematian dan menjadi simbol perlawanan dan dendam.
Sombali memandikan bayi itu, membaringkannya dekat pusara ibunya, lalu membawanya ke pertapaan. Ia memberi nama bayi itu Manabaya dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Kelahiran dalam situasi yang sedemikian tragis yakni dari perut ibu yang sudah wafat, di antara reruntuhan kemenangan musuh, langsung menempatkan Manabaya dalam posisi naratif yang unik: ia lahir sudah mewarisi duka, kehilangan, dan dendam, bahkan sebelum ia sempat mengenal dunia. Padahal secara teknis, Manabaya sendiri tidak pernah mengetahui bagaimana perasaan, perjuangan, dan kebencian orang tuanya pada lawan yang akhirnya harus ia lawan juga. Artinya, Manabaya bukan hanya sekadar membawa tekad dendam keluarga, atau dari cerita yang disampaikan Sombali selama merawatnya. Jauh dari itu, ada tekad utama Manabaya yang mengharuskan dirinya memiliki rasa dendam begitu besar yaitu kenyataan di Lengkapura.
Saat Manabaya mengetahui bahwa dirinya lahir tepat di sebelah kedua orang tuanya yang kaku, kemudian dia berusaha untuk memahami konteks peperangan ini. Dia tidak menyaksikan langsung peperangannya, tapi dia melihat bekas peperangan yang tersisa di berbagai tempat di Lengkapura. Hingga dengan kemampuannya, dia kembali membangkitkan pasukan/prajurit ayahnya, juga para patih dan kakaknya sendiri, Megananda. Jika kita pandang lebih jauh, kemampuan yang mahadahsyat ini benar-benar membuat Manabaya menjadi seorang yang takkan terkalahkan. Bagaimana mungkin seorang bisa bisa megalahkan manusia yang bisa membangkitkan mayat (kecuali Ayah dan Ibunya)? Kesaktian yang dimilikinya seakan-akan serupa dengan kemampuan Dewata. Apalagi dengan tekad dendam yang mahadahsyat, pasukan manapun seperti akan dilibas saja olehnya.
Kedatangannya di istana Lengkapura bersama Sombali, membuat pamanya, Bibisana, yang saat itu menjabat Raja di Lengkapura langsung menyerahkan tahtanya. Apalagi saat Manabaya mengaku bahwa dia adalah bayi yang dikandung Manondari dan lahir ketika ibu dan ayahnya itu meninggal, Bibisana benar-benar bahagia seakan akhirnya Raja yang pantas memimpin Lengkapura hadir juga. Seakan-akan Bibisana adalah tokoh lemah yang digambarkan tak memiliki daya upaya untuk melawan balik Lengkawati yang sudah memporak-porandakan kerajaannya. Sekilas, hal ini mengingatkan kita pada tokoh Wibisana yang memang manut dan seperti berpihak pada Rama di kisah Ramayana lainnya. Di kisah ini, Bibisana adalah yang tersisa dari pemimpin atau keluarga Rawana, dan itu menjadi tak aneh jika kita melihat peran karakter Wibisana yang lain di kisah lainnya. Kemudian, setelah Manabaya naik tahta tanpa banyak drama dengan Bibisana, dia langsung mengatur strategi untuk melawan Lengkawati yang saat itu sudah dipimpin oleh Bujanggalawa, anak dari Ramadewa dan Sita pada kisah PRR.
Singkat cerita, Manabaya berhasil memimpin pasukan Lengkapura menuju Lengkawati untuk meminta pertanggungjawaban atas yang dilakukan mereka di bukit Si Miri-Miri. Ternyata dii sana hanya ada Lesmana, Pupalawa atau adik Bujanggalawa, dan pasukan Sugriwa serta Angga Hanoman. Dipertarungan yang sengit tanpa Bujanggalawa itu, Manabaya dengan mudah melibas para punggawa besar Lengkapura. Dengan ajiannya yang bisa membuat musuh ”merasa pusing”, ”tak berdaya”, “lumpuh”, dia merobohkan Puspalawa. Kehebatanya itu jusrtu mengingatkan kita pada sosok Megananda yang memiliki kesaktian dan ilmu gaib. Megananda yang terkenal ahli strategi, memiliki ilmu kebatinan tinggi, dalam cerita PRR tidak ikut dalam perang di Lengkawati bersama Manabaya. Namun, kisah kesaktian Manabaya begitu mencerminkan bahwa kesaktian itu serupa dan mirip dengan kisah Indrajit (Megananda) di cerita Ramayana lainnya.
Setelah perang sekian lama, Bujanggalawa datang dari kahyangan setelah bertemu dengan Ramadewa yang telah meninggal dan berada di sana. Bujanggawala dengan sekejap mata dapat mengalahkan pasukan Lengkapura yang dipimpin Manabaya. Meskipun janggal, namun ternyata kemenangan Bujanggalawa ini dibongkar sendiri oleh Manabaya yang menemukan tiga peran lain yang membantu Bujanggalawa. Manabaya menemukan Ramadewa, Batara Mahadewa, dan Batara Wisnu yang konon diperintahkan Nusia Wenang untuk membantu Bujanggalawa mengalahkannya. Dengan kesaktiannya, Manabaya sempat menculik Ramadewa yang sakti tanpa perlawanan dari kedua Batara lainnya. Hal ini membuktikan bahwa Manabaya memang sesakti itu dan disegani di bumi maupun kahyangan. Sejenak kita pun akhirnya ingat pada kisah Megananda yang berhasil menculik hidup-hidup dan mengalahkan Batara Indra di kisah Ramayana lainnya. Kesaktian keduanya benar-benar digambarkan luar biasa, meskipun keduanya ini juga ”dilumpuhkan” karakternya sendiri oleh di pencerita.
Karena mengetahui bahwa dirinya pasti kalah melawan mereka, Manabaya memutuskan untuk meminta satu permintaan sebelum mengakhiri perang. Dia ingin bertemu dengan ibunya, Manondari, yang kemudian dikabulkan oleh para Batara itu. Di sinilah puncak karismatik Manabaya sebagai tokoh yang dianggap antagonis (karena berasal dari keluarga Rawana) saat dirinya mau mengakhiri perang karena permintaan ibunya. Hal ini seperti menggambarkan bahwa kemenangan sejati justur bukan ketika kita mengalahkan musuh yang kuat sekalipun, tapi bagaimana seorang Manabaya yang ”dikutuk” memiliki dendam sejak lahir bisa memaafkan dan berdamai justru dengan dirinya.
Sisi karismatik ini, muncul dengan begitu elegan meskipun bukan dengan penjelasan dan pengadeganan yang jelas di naskah PRR. Di satu sisi, tokoh Manabaya ini menjadi pengganti sekaligus bangunan karakter baru yang menutupi Megananda (Indrajit) dari kisah Ramayana versi lain. Superioritas Megananda tidak muncul bahkan tidak dilibatkan dalam peperangan melawan Lengawati, padahal Megananda adalah salah satu korban meninggal saat peperangan itu. Seharusnya, Megananda lah yang memiliki dendam lebih besar ketimbang Manabaya karena melihat dan menyaksikan kekalahan dan kehancuran negerinya. Uniknya, Megananda diminta untuk tinggal di istana Lengkapura oleh Manabaya, dan superioritas Megananda yang mahadahsyat (ketika perang) benar-benar tak terceritakan di naskah PRR ini.
Manabaya dan Keasliannya
Nama Manabaya sendiri menarik untuk ditelaah. Nama ini seperti bentuk ”Indonesianisasi” dari nama Sansekerta Manabhaya atau Manobhava yang secara bebas dapat diartikan sebagai “yang lahir dari pikiran/hasrat” atau bisa pula dikaitkan dengan “ia yang membawa bahaya dalam hati.” Dalam konteks naratif Sunda, nama ini seolah merangkum takdir si tokoh yaitu seseorang yang kehadirannya sendiri merupakan pertanda dari konflik yang akan datang. Apalagi dengan kemampuan yang diberikan kepadanya yang begitu mahadahsyat.
Kemampuan yang dimiliki Manabaya sebelumnya, pada dimensi yang melebihi sekadar pemimpin militer biasa. Jika diperhatikan, Manabaya ini seperti penggambaran tokoh yang memiliki kuasa atas batas antara hidup dan mati. Perhatikan: Manabaya lahir dari kematian, lahir setelah kematian, dan memiliki kendali atas ”menghidupkan” orang yang mati. Saya tidak tahu pasti, konon, hal ini bisa saja berkaitan dengan sebuah pemahaman yang dalam kosmologi Hindu-Sunda berkaitan dengan kekuatan spiritual tertinggi. Kebangkitan para pejuang yang gugur juga berfungsi secara naratif sebagai echo atau gema perang generasi pertama (Rama versus Rawana) diulang dalam generasi kedua, dengan pasukan yang sama namun dipimpin oleh generasi yang berbeda. Tentu, ini bukan sekadar keisengan belaka. Seperti menceritakan dan menyampaikan bahwa setelah kejadian hari ini, akan ada kejadian serupa di esok hari dengan tokoh yang berbeda, namun esensinya tetap sama. Mati hanya akhir yang kembali membawa awal yang baru.
Kemudian, penciptaan tokoh Manabaya merupakan sebuah pembalikan (inversion) struktural yang sangat ”cerdas” dan “ciamik”. Dalam kisah Uttarakanda, fokus generasi kedua adalah Kusa dan Lawa yakni putra Rama yang kemudian mendapat pengakuan dari ayahnya. Dalam teks Sunda Kuno PRR, pola ini dibalik yaitu generasi kedua di pihak Rawana-lah yang menjadi pusat cerita, dan justru mereka yang menagih pengakuan dan keadilan atas apa yang terjadi kepada leluhur mereka.
Lebih jauh, kisah Bujanggalawa (putra Rama) dalam teks Sunda Kuno PRR ini justru mencerminkan kisah Manabaya secara simetris. Bujanggalawa pergi ke kahyangan mencari pengakuan dari Rama, ayahnya, yang semula tidak mau mengakuinya dan hanya setelah ia mengalahkan Rama dalam pertarungan barulah Rama mengakuinya sebagai anak. Manabaya, di sisi lain, sudah diakui oleh Bibisana tanpa perlu bertarung. Bayangkan perbedaan simetris ini: satu harus membuktikan diri secara fisik dan yang satunya mendapat legitimasi tanpa banyak drama (seperti diatur sedemikian rupa: Manabaya Sentris). Keduanya adalah anak-anak yang mencari tempat dalam dunia yang sudah dibentuk oleh dosa-dosa generasi sebelumnya.
Perbandingan-perbandingan yang dilakukan pada ulasan ini menegaskan bahwa tokoh Manabaya adalah sumbangan orisinil tradisi Ramayana Sunda Kuno untuk khazanah sastra Nusantara dan dunia. Ia tidak memiliki preseden atau referensi ke dalam atau dari Uttarakanda, tidak dikenal dalam wayang Jawa, dan tidak muncul dalam tradisi Ramayana di mana pun. Ia adalah bukti bahwa para penggubah naskah Sunda Kuno PRR ini, baik itu para dalang (mémén) seperti digambarkan dalam Sanghyang Siksakandang Karesian, maupun para juru carita di lingkaran Kabuyutan, bukan sekadar penerjemah atau penyalin pasif dari tradisi India dan Jawa, melainkan seniman dan pemikir yang mampu menciptakan narasi baru yang secara struktural kompleks dan secara moral mendalam.
Manabaya adalah pahlawan tanpa arah bagi pengikutnya. Ia lahir dari reruntuhan, tumbuh dalam pengasingan, berkuasa melalui pengakuan, dan akhirnya memilih damai atas kesadaran serta ajakan kasih seorang ibu. Dalam dirinya, tradisi Ramayana Sunda Kuno PRR ini tidak hanya mereproduksi warisan India dan Jawa, tetapi mungkin melampaui keduanya dalam hal tertentu, kreativitas masyarakatnya, misalnya. Manabaya menawarkan sebuah visi tentang dunia pascakonflik yang lebih bernuansa, lebih manusiawi, dan dalam kekhasan Sunda yang membuminya lebih dekat dengan kehidupan nyata para pendengar dan pembacanya, dengan geografis yang benar-benar dipikirkan oleh penggubah untuk penikmatnya agar bisa jelas imajinasinya.

