Eduard Majsch (Austria, 1841 – 1904)

Laras detik jam saku perak itu tidak pernah berbohong. Bagiku, denting satu-dua, satu-dua yang beresonansi di dalam cangkang logamnya adalah debar jantung Thomas Karsten yang tertinggal di Semarang.

Di bawah temaram lampu minyak yang bergoyang di langit-langit berjamur, aku menatap rancangan penataan Oudstadt—Kota Lama. Lembar-lembar kalkir itu sudah menguning, baunya berkelindan antara apek kertas tua dan minyak cengkih. Di sudut kanan bawah, tertera tanda tangan tegas dengan tinta legam: Herman Thomas Karsten, 1938.

Aku meraba goresan arang di atas kertas itu. Tuan Karsten, asisten residen penataan kota yang jenius itu, sudah tidak ada di sini. Kenpeitai menyeretnya beberapa tahun lalu, memasukannya ke kamp interniran Cimahi. Namun di kamar pengap di belakang ruko kawasan Sleko ini, cetak birunya masih bicara padaku. Aku, Soewondo, hanya seorang pemuda bumiputera yang dulu beruntung dibayari sekolah teknik olehnya, kini memandangi gambar jaringan pipa pembuangan air Semarang yang serumit urat nadi manusia.

“Mas Wondo, patroli Jepang sudah lewat depan De Javasche Bank. Mereka bawa bayonet telanjang,” Kasmin masuk tanpa mengetuk pintu. Napasnya tersengal-sengal. Bajunya yang terbuat dari kain goni kasar berbau keringat dan keputusasaan. “Kondisi di Candi Baru makin gawat. Pasukan rakyat terjepit di tanjakan. Logistik makanan dan peluru dari Pelabuhan Tanjung Mas tidak bisa lewat jalan utama. Bodjongweg dijaga ketat.”

“Berapa sisa karung yang terkumpul di gudang Johar?” tanyaku sambil melipat kalkir besar itu masuk ke dalam tas kulit tua.

“Ada lima karung beras dan tiga peti amunisi rampasan. Tapi kalau kita nekat lewat pasar, senapan mesin jepang di pos penjagaan bakal menghabisi kita sebelum sempat menyeberang kali,” jawab Kasmin. Suaranya gemetar. Perutnya yang buncit karena busung lapar berbunyi nyaring.

Aku melihat jam saku perak pemberian Tuan Karsten. Jam ini diserahkannya padaku di Stasiun Tawang, tepat sebelum kereta pembawa tawanan Eropa bergerak ke barat. Waktu itu dia hanya berkata pendek, “Wondo, hitung debit airnya, jaga kotanya.”

“Kita tidak lewat atas, Min. Kita lewat bawah,” kataku langsung. “Pakai jalur pipa sanitasi yang menghubungkan Johar sampai ke daerah hilir dekat polder.”

Kasmin melotot. “Gila, Mas? Itu got peninggalan kompeni. Airnya hitam, baunya bisa bikin pingsan. Lagi pula, sekarang pertengahan Agustus, air laut sedang pasang-pasangnya. Kita bisa mati tenggelam kalau air rob masuk.”

Aku tidak membantah ucapan Kasmin. Memang begitu kenyataannya kalau orang melihat dari atas. Tapi aku ingat betul tahun 1938, saat aku duduk di samping meja gambar Tuan Karsten sampai lembur tengah malam. Jari telunjuknya yang bernoda tinta cengkih berulang kali mengetuk rancangan pintu air muara dekat mercusuar. “Perhatikan katup besi ini, Wondo,” katanya waktu itu sambil menyesap kopi tubruknya yang sudah dingin. “Tekanan hidrolik air pasang akan mendorong klep ini menutup sendiri. Alam yang bekerja, bukan manusia. Kota Lama akan kering selama empat puluh lima menit sebelum airnya meluap lagi.”

Aku menatap Kasmin, lalu menepuk kantong beskapku yang berisi jam saku perak itu.

“Pukul satu dini hari, Min. Katup hidrolik di muara akan menutup otomatis karena tekanan air laut. Air di dalam terowongan bakal surut sampai sepinggang. Kita punya waktu persis empat puluh lima menit sebelum pintunya kalah oleh arus balik. Itu waktu kita untuk tembus ke Johar.”

Kami tidak punya pilihan lain. Kelaparan dan peluru Jepang akan membunuh kawan-kawan kami di Candi Baru jika kami hanya diam menyelamatkan diri di kamar ini.

Pukul 00.45 tengah malam, kami sudah berada di mulut bak kontrol (manhole) di belakang Pasar Johar yang gulita. Struktur atap beton melengkung tipis (cendawan) mahakarya Tuan Karsten di atas pasar itu terlihat bagai kolosal yang sedang tidur di bawah langit malam Semarang yang pekat. Kami bergerak bertiga, aku, Kasmin, dan seorang pemuda pelabuhan bernama Basri.

Basri adalah anak pelabuhan totok dari Kampung Melayu dekat kali Semarang. Ayahnya mandor stvedore (kuli bongkar muat) di Tanjung Mas yang tewas dipukuli tentara Jepang karena dituduh menyembunyikan beras.

Basri bergabung dengan kami karena dia tahu setiap jengkal pipa pembuangan air asin yang bermuara ke laut. Dialah yang memastikan bahwa jalur ini masih bisa ditembus.

“Mas Wondo,” bisik Basri sambil membetulkan letak kain sarung yang melilit pinggangnya, matanya menatap tajam ke dalam lubang yang hitam. “Katup di hilir itu sering karatan sejak Belanda pergi. Jepang tidak pernah merawatnya. Kalau sampai klepnya macet malam ini, kita bertiga pulang tinggal nama.”

“Aku tahu, Bas. Makanya kita harus bergerak tepat waktu,” kataku sambil memeriksa jam saku di tangan. “Turun pelan-pelan.”

Begitu kakiku menyentuh dasar got, bau busuk kotoran manusia yang mengendap bertahun-tahun langsung menghantam hidung. Airnya sedingin es, hitam pekat, dan setinggi dada Kasmin. Kami memanggul peti amunisi dan karung beras di atas kepala. Tangan kiriku memegang senter bertenaga baterai karbit yang sininya mulai meremang, sementara tangan kananku memegang jam saku perak yang kubungkus kain minyak agar tidak basah.

Tick. Tack. Tick. Tack.

Suara detak jam itu bergema di dalam lorong melingkar yang terbuat dari bata merah pejal Belanda. Kami berjalan membungkuk. Di atas kepala kami, hanya dibatasi cor beton setebal dua puluh sentimeter, terdengar derap sepatu laras tentara Jepang yang berpatroli. Klak, klak, klak. Kami menahan napas. Jika ada peti yang membentur dinding got, tamat riwayat kami.

“Mas, dadaku sesak,” keluh Basri di belakangku. Gas metana di dalam tanah mulai membuat kepala kami pening.

“Tahan, Bas. Sepuluh menit lagi kita sampai di percabangan bawah Gedung Borsumij,” kataku mencoba menenangkan, walau jantungku sendiri berdebar kencang. Aku terus melihat jarum jam. Pukul 01.15. Katup hidrolik di muara seharusnya sudah menutup sempurna. Air memang mulai surut perlahan hingga sepinggang.

Tiba-tiba saja, sebuah dentuman keras mengguncang bumi.

Jepang tampaknya melepaskan tembakan meriam artileri dari arah Pelabuhan Tanjung Mas untuk menggempur pertahanan pemuda di sektor lain. Getarannya luar biasa hebat. Dinding bata tua di depan kami retak. Sedetik kemudian, terdengar suara gemuruh yang mengerikan dari arah hilir.

“Mas Wondo! Airnya naik lagi!” teriak Kasmin panik.

Senter karbitku menyorot ke depan. Air hitam pekat mendadak bergolak dan merangsek maju dengan cepat. Guncangan meriam tadi pasti telah meruntuhkan dinding pembatas atau merusak engsel katup besi di muara hingga jebol. Air laut langsung tumpah ruah masuk tanpa hambatan.

“Cepat! Lari ke arah tangga keluar dekat Heerenstraat!” teriakku sekuat tenaga.

Kami kesetanan menerjang arus air yang mulai naik ke dada, lalu ke leher. Beban peti amunisi membuat langkah kaki kami menjadi sangat berat. Basri sempat terpeleset, namun Kasmin berhasil menarik kerah bajunya.

Tepat di bawah lubang keluar, air sudah mencapai dagu. Arusnya berputar deras. Tangga besi yang tertanam di dinding bata menjadi satu-satunya harapan.

“Kasmin, naik duluan! Dorong petinya ke atas!” perintahku sambil menahan tubuhnya agar tidak terbawa arus.

Dengan sisa tenaga yang hampir habis karena busung lapar, Kasmin memanjat tangga besi, membuka penutup lubang got di atas sana, dan menarik peti amunisi serta karung beras yang disodorkan Basri. Basri menyusul naik dengan selamat, ditarik oleh tangan-tangan kekar kawan-kawan yang rupanya sudah menunggu di permukaan.

“Ayo, Mas Wondo! Pegang tanganku!” Kasmin menjulurkan badannya kembali ke dalam lubang yang gelap.

Aku mencoba melompat untuk menggapai tangga. Namun sial, ujung celana kainku tersangkut pada besi tulangan beton yang mencuat akibat runtuhan dinding tadi. Aku terjerembab ke dalam air hitam. Aku menelan air got yang asin dan pahit. Ketika aku berhasil menyembul lagi untuk mengambil napas, air sudah menyisakan jarak hanya beberapa sentimeter dari langit-langit terowongan.

“Celanaku tersangkut, Min! Jalurnya macet!” teriakku, suaraku parau, terbatuk-batuk hebat.

“Aku turun lagi, Mas!” Kasmin berteriak histeris.

“Jangan! Airnya penuh dalam hitungan detik! Tutup lubangnya sekarang sebelum airnya meluap ke jalanan dan ketahuan Jepang!”

Air asin terus merayap naik, menjepit dadaku ke langit-langit beton. Di dalam sisa ruang udara yang menyempit itu, kepalaku mendadak melempar ingatan ke tahun 1935, ke pinggiran Kali Semarang yang kumuh saat wabah pes melanda.

Waktu itu aku hanya anak kolong yatim piatu yang tidur di emperan toko, menggigil demam dengan borok di kaki. Orang-orang kulit putih yang lewat selalu menutup hidung dan memalingkan muka. Hanya ada satu orang Eropa yang berhenti. Dia memakai jas putih katun yang longgar, berlutut langsung di atas tanah berlumpur tanpa takut kotor, dan memeriksa nadiku. Orang itu Tuan Karsten.

Dia tidak hanya membayar dokter untuk menyembuhkanku, tapi dia membawaku ke kantornya, memberiku sepasang sepatu pertamaku, dan menyuruhku duduk di depan meja gambar. “Wondo,” katanya sore itu sambil menyodorkan penggaris kalkir, “Kemiskinan ini bukan takdir. Kamu harus belajar, biar bisa bangun rumah yang layak buat bangsamu sendiri.”

Tuan Karsten…memberikan sepotong harga diri kepada anak kampung yang hampir mati menjadi bangkai di jalanan.

Aku tahu waktu kuadratikku sudah habis. Ruang udara di dalam sini hampir nol. Menggunakan sisa oksigen di paru-paruku, aku menyelam sebentar, meraba kantong beskapku yang basah kuyup. Aku tidak bisa melepaskan kakiku yang terjepit besi pejal, tapi tanganku berhasil meraih jam saku perak itu.

Aku muncul ke permukaan untuk terakhir kalinya, menjulurkan tangan kananku tinggi-tinggi menembus lubang got, menaruh jam saku perak Tuan Karsten yang basah ke dalam telapak tangan Kasmin yang gemetar.

“Bawa ini… logistiknya harus sampai ke Candi…” kataku, sebelum air got yang pekat sepenuhnya menutup mulut dan hidungku.

Tangan Kasmin mencengkeram jam itu, dan dari bawah sini, aku mendengar suara penutup besi got dentum menutup. Semuanya menjadi gelap. Air hitam Semarang memenuhi paru-paruku, dingin, namun entah mengapa, aku merasa tugas belajar dari guruku sudah selesai.

~~~

Dua minggu kemudian, akhir Agustus 1945. Jepang benar-benar menyerah kalah setelah bom di negaranya jatuh. Semarang berada dalam suasan pesta pora kemerdekaan yang aneh, penuh selebaran berserakan di jalanan yang dulu ditata dengan rapi oleh Tuan Karsten.

Kasmin duduk sendirian di peron Stasiun Tawang yang berdebu, menatap jam saku perak yang kini diam membisu di tangannya. Jam itu mati total pada pukul 01.45 malam itu, persis ketika air asin merusak roda-roda gigi kuningan di dalamnya.

Seorang kurir yang baru datang dari wilayah barat turun dari gerbong kereta logistik, membagikan lembaran surat kabar Asia Raya edisi lama yang baru sampai ke Jawa Tengah. Kasmin mengambil satu lembar, matanya menyusuri berita kecil di halaman belakang yang luput dari perhatian orang banyak.

Di sana tertulis sebuah maklumat duka: Ir. Herman Thomas Karsten, meninggal dunia di Kamp Interniran Cimahi pada tanggal 8 Mei 1945 karena sakit.

Kasmin mematung di bangku peron. Air matanya jatuh, membasahi kaca jam saku yang sudah buram oleh sisa garam air laut.

Tuan Karsten sudah meninggal berbulan-bulan lalu di dalam barak tawanan yang sempit, jauh sebelum Soewondo menyeret tubuhnya di dalam got Kota Lama demi mengaplikasikan teorinya. Sang guru mati sebagai tawanan perang di tanah yang dicintainya, dan Soewondo, muridnya, mati tenggelam di dalam semen dan bata yang mereka rancang bersama untuk memerdekakan manusia di atasnya. Mereka berdua sama-sama hancur oleh zaman, tanpa pernah tahu bahwa pada akhirnya, kota ini berhasil lolos dari cengkeraman kedua penjajah itu.

Kasmin mendekatkan jam mati itu ke telinganya di tengah bisingnya Stasiun Tawang yang kini riuh oleh teriakan “Merdeka!”. Di dalam kepalanya, detak jam itu tidak akan pernah berhenti. Mereka telah menjadi bagian dari fondasi Semarang yang merdeka.

  • Aditiya Widodo Putra

    Penulis lintas bidang dari Kota Semarang—kota yang mengajarkan saya bahwa pantai dan perbukitan bisa berdampingan, sebagaimana suka dan duka bisa tinggal bersama dalam satu dada.

    Lihat semua pos

Tinggalkan komentar