reimajinasi karya Adolph Tidemand (1814-1876)

“…Maaf, mengindah-indahkan kalimat aku tak mampu
kerna negara belum sejahtera seperti yang kita mau.
Tetapi kutulis puisi kerna berbudaya bukan buaya.
Kau tahu, Ibu pertiwi tak butuh anak-anak durhaka.
Ini negara nuswantara Daulat rakyat semboyannya
di darat laut udara pernah mengayomi dua benua…”

(Uki Bayu Sedjati)

Saya percaya akan satu hal, bahwa sebuah (teks) puisi ketika diwujudkan dalam bentuk pertunjukan di atas panggung, sesungguhnya wahana itu merupakan pembebasan puisi dari bilik sunyinya. Maksud saya, tentang pembebasan kata-kata yang mulanya terkurung di dalam buku (baik cetak maupun digital), yang mulanya dibaca dan hanya hinggap dalam imaji personal semata, seketika memiliki daya dobrak secara massal. Karena ia (puisi) ketika naik ke atas panggung memiliki pelengkap ketubuhan, napas, dan secara sadar memiliki daya suara magi ketika berhadapan dengan banyak orang (penonton).

Kepercayaan itu menemukan tempat ideal untuk saya utarakan, ketika saya membayangkan bagaimana kelak (esok dan lusa) pertunjukan Tunggu Tanggal Mainnya akan dipentaskan oleh Paseduluran Lidah Daun. Sebab dalam pertunjukan ini, saya membaca gubahan Syahruljud Maulana bukan hanya menyusun ulang puisi-puisi Uki Bayu Sedjati menjadi sajian pertunjukan agar menarik ditonton, tetapi jauh dari itu ia sedang berusaha membuka kembali ruang yang sudah lama mungkin kita rindukan momentumnya: sebuah panggung membebaskan puisi dari bilik sunyinya, dari goa terdalamnya, agar bergerak kembali mencari gairah penjelajahan komunikasi hidupnya.

Kebebasan puisi, dalam hal ini pertunjukan puisi Tunggu Tanggal Mainnya, secara terbuka berupaya membebaskan posisi penonton yang biasanya hanya duduk sebagai penikmat alur dramatik dalam drama konvensional, di dalam pertunjukan ini mereka seperti diberi ruang terbuka untuk bercermin seluas-bebasnya pada hidupnya sendiri, pada nasib bangsanya sendiri, dan pada seluruh kekusutan atas peristiwa-fenomena hidup ini, dengan atau tanpa harus menunggu sampai pertunjukannya usai untuk memaknainya. Menariknya, hal itu dikendarai oleh daya hidup atas pelaksanaan kata-katanya, bukan lagi berpuncak pada fragmentasi tangga dramatiknya.

Jauh sebelum itu, sebetulnya gelagat kehidupan puisi Paseduluran Lidah Daun (PLD) tidak bergerak secara baru dalam pertunjukan kali ini saja, ia (PLD) sudah sejak lama berkutat di jagat kehidupan puisi yang saya ringkas menjadi: dari riungan Lingkar Puisi, laboratorium Universitas Lidah Daun, Sadulur Sadayana, lalu bertransformasi menjadi Paseduluran Lidah Daun yang kini bermukim di Rumah Tumbuh Mutmainah sebagai hunian penelitian panjang perjalanan hidupnya. Sebagai salah-satu santri paruh waktunya, saya banyak menyaksikan sekaligus ikut belajar bagaimana menelusuri duduk perkara pertunjukan puisi berpijak, bagaimana posisi pembeda dengan drama konvensional, dan lalu bagaimana keduanya itu mewarnai dunia sastra dan pertunjukan.

Sebagaimana dalam pembelajarannya, PLD sudah menggaris-bawahi kemungkinan sebelum adanya plot, babak, penokohan, dan intensitas tangga dramatik yang menjadi motivasi sekaligus konflik yang berkembang rapi dalam drama konvensional, kemungkinan lain tentang mulanya kerja pertunjukan (puisi) adalah melalui daya kata-kata, daya suara-irama, daya napas yang berhembus, dan daya ketubuhan yang bergerak mengikuti kesemuanya, di mana posisi puisi sudah sedemikian bebas dalam kasus pertunjukannya. Dari Disebabkan Oleh Angin (Vasco da Gama) sampai Tunggu Tanggal Mainnya, apa yang menjadi pangkal sajiannya berkutat pada (sebagaimana diuraikan oleh Syahruljud Maulana adalah) karakter pertunjukan, panggung, teatrikalisasi, performance, yang diberdayakan atas pelaksanaan medium kata-kata (puisi). 

Jika saya coba tarik satu simpul dari seluruh penjelajahan ini, saya kira posisi pertunjukan puisi, khususnya apa yang kelak disajikan Paseduluran Lidah Daun dalam Tunggu Tanggal Mainnya, tidak sepenuhnya bisa dilihat sebagai jalur drama konvensional, dan juga tidak sepenuhnya bisa dilihat sebagai jalur pembacaan puisi (deklamasi atau penampilan puisi ala penyair) yang juga konvensional. Ia (PLD) memungkinkan sengaja berada sekaligus berdiri di persimpangan antara ambang itu: meminjam tubuh dan panggung dari dunia teater, tetapi menolak tunduk pada tuntutan plot dan penyelesaian konflik ala drama; dan lalu meminjam daya kata sekaligus irama dari dunia puisi, tetapi menolak berhenti sebagai teks yang hanya sekadar dibaca menyampaikan makna.

Barangkali, di titik itulah kebebasan puisi kembali pada kenangan purbanya, karena ia tidak terikat pada tuntutan menyelesaikan keseluruhan atas suatu makna dalam serangkaian kisahnya. Kebebasan itu pula kelak bisa dilihat bagaimana pertunjukan puisi ini bebas melompat secara tragik: dari kemarahan sosial menjadi kepasrahan spiritual lewat nyanyian dan doa-doa, dalam satu tarikan napas yang saling melampaui intensitas-lajurnya. Setapak penjelajahan itulah yang membawa saya pada pernyataan bahwa Tunggu Tanggal Mainnya sebagai panggung kebebasan puisi.

Kesan tentang kebebasan itu, saya pahami karena apa yang ditawarkan pertunjukan ini bukanlah kebebasan berekspresi atau performance belaka. Kebebasan yang saya maksud adalah kebebasan dari tuntutan menyelesaikan kisah, kebebasan dari keharusan tokoh untuk berkembang secara spontanitas, kebebasan dari logika sebab-akibat yang mengikat rute jalur drama konvensional. Sejalan dengan itu, yang lebih penting lagi saya kira, adalah kebebasan komunikasi yang disajikannya kepada penonton. Karena pertunjukan puisi tidak sibuk menuntaskan plot, ia punya lebih banyak ruang kosong untuk diisi penonton dengan segenap estetika pengalamannya sendiri. Ruang kosong dalam pertunjukan Tunggu Tanggal Mainnya itu, saya kira, dapat dimasuki penonton ketika puisi mulai menarik napasnya sendiri. Dalam tarikan napas-jeda itulah, kita bisa memasuki nuansa kebebasan puisi di atas panggung ini.

Sejatinya, panggung kebebasan puisi yang coba saya elaborasi ini berpijak pada keistimewaan Tunggu Tanggal Mainnya bagi serangkaian persoalan Indonesia hari ini. Pertunjukan ini hadir bukan hanya sebagai rekaman kegelisahan penyairnya, melainkan sebagai cermin kolektif kita semua, yang selama ini sudah terlalu kenyang diberi asupan kebobrokan pemerintahan, ditambah segala persoalan arah bangsa kita sendiri: baik krisis moral para pemangku kebijakan, kerusakan lingkungan yang kita lihat dengan mata telanjang, kebisingan media sosial yang membuat kita mudah marah tapi cepat lupa, kesalehan yang dipertontonkan tapi tak menyentuh hati nurani, dan sejenisnya—dan seterusnya—tak nampak ujungnya. 

Inilah saatnya, untuk kita bersama-sama menghadiri panggung kebebasan puisi, di mana metafora plus pengandaian paling jujur tentang hidup kita akan tersaji, di mana sebagai bangsa yang cemas dalam ketidakberdayaan, dalam kemarahan, dan dalam kebimbangan akan tersaji. Ketika kita sudah duduk dan menghadap panggung itu, dan ketika lampu panggungnya perlahan menyala, sesungguhnya yang sedang dipentaskan bukan hanya puisi-puisi Uki Bayu Sedjati yang digubah oleh Syahruljud Maulana, tetapi justru seluruh keberanian hidup, kegagalan hidup, kecemasan hidup, dan harapan sekaligus impian hidup kita bersama sedang menunggu kebebasannya sendiri. Kebebasan diri untuk akhirnya siap bercermin: seperti apa wajah kita hari ini, wajah bangsa kita hari ini, dan wajah manusia Indonesia hari ini.

“….derita adalah baju masa lalu
yang kau tinggal di seberang
melewati pintu langsung rebahkan diri,
selalu saja, menangkap isyarat dari tanah…”

(Uki Bayu Sedjati)

Pamulang—Pamijahan, 27-29 Juli 2026

Tinggalkan komentar