Johann Friedrich Wilhelm Wegener 1812-1879
Sudah sembilan belas hari langit Palangka Raya berwarna kelabu. Ayam jantan tetangga bahkan seminggu ini tak berkokok, ia seperti kehilangan kesadaran dan tak tahu kapan pagi mulai bekerja. Sekolah diliburkan. Anak-anak dikurung di rumah bersama kipas angin yang hanya memindahkan asap dari satu sudut ke sudut lain.
Tiap pagi ponsel-ponsel di kampung kami menyalakan angka indeks pencemaran udara seperti nomor undian, dan kami sudah berhenti membaca angka-angka itu. Kami hanya melihat warna: kuning, kelabu, dan oren-kemerahan. Segala warna itu adalah wujud api yang kini hidup sebagai rasa penderitaan kami.
Bahkan pesan dari Halimun sudah tiga hari mengendap di ponselku. Bukan karena sinyal. Aku hanya sedang tak percaya pada kata-kata. Kata-kata kadang perlu diistirahatkan seperti tanah, dibiarkan bera, supaya tidak habis diperas oleh para cukong.
Kami belum pernah bertemu, aku dan Halimun. Kami berkenalan lewat sebuah majalah sastra daring, tempat karya kami pernah dimuat di edisi yang sama dan sama-sama tidak dibayar. Sejak itu kami hanya bertemu di ruang maya. Ia di Bogor, aku di Palangka Raya. Jarak kami kira-kira satu pulau dan satu laut, tetapi tak pernah terasa sejauh itu di jagat maya dewasa ini.
Pagi ini kubuka juga pesannya.
“Setiap pagi, di sini kabut turun dari lereng Gunung Salak secara perlahan, menyelimuti atap kampung kami, seperti seorang ibu menyelimuti anaknya yang pura-pura tidur. Kala, kabut di sini, sebagaimana namaku Halimun, adalah doa bumi yang tak menuntut jawaban dari langit. Oya, bagaimana keadaanmu di sana, Kala?”
Kalimat itu bagus. Kubaca tiga kali dengan masker di wajah, dan pada bacaan ketiga aku harus berhenti karena batukku datang. Aku tidak marah padanya. Orang tuanya menamainya Halimun, bagiku menjadi wajar bila ia melihat kabut dan mengira semua kabut adalah penyejuk. Hanya saja kabut kami lain. Kabut yang diceritakan Halimun adalah napas gunung. Kabut kami adalah napas tanah yang terbakar. Media nasional menyebutnya “kabut asap”, seakan asap hanyalah sejenis kabut yang kurang beruntung nasibnya.
Di belakangku Abah batuk. Umurnya delapan puluh satu tahun. Ia peladang, separuh orang sungai, separuh orang hulu, sepenuhnya orang huma. Ia duduk di ambang pintu menambal jala yang sudah berbulan-bulan tak bertemu ikan. Tetap ditambalnya tiap malam, katanya, supaya lubang-lubang itu tidak merasa dibiarkan. Melihatnya, aku teringat pada satu larangan yang ia wariskan kepadaku, yang belum pernah kuceritakan kepada Halimun, dan yang kini rasanya sedang diuji oleh seluruh langit di atas kampung halaman kami.
Umurku sembilan tahun waktu itu. Api dari huma kami menjilat kandang ayam di belakang rumah. Ayamnya sebelas; tujuh yang selamat. Aku menendang abu dan berteriak, “Api jahat! Api jahat!” Abah tidak memarahiku. Ia memegang kedua pundakku dengan tangan yang kasar seperti kulit kayu, lalu berkata pelan, seperti membaca sabda dari kitab yang tak sempat ditulis.
“Ingat, dilarang membenci api, Kala.”
“Kenapa memang, Bah? Dia membakar ayam kita.”
“Api itu tamu. Tamu tidak dibenci tuan rumah. Tamu diundang, dilayani, lalu diantar pulang. Kalau kau membencinya, kau akan lupa cara mengantarnya pulang.”
“Tapi kandangnya terbakar habis, Bah.”
“Itu salah tuan rumah yang lengah. Bukan salah tamu.”
Waktu itu aku tidak mengerti. Aku hanya mengerti bahwa ayam-ayam yang hangus itu bukan hukuman bagi api, melainkan bagi Abah sendiri, dan Abah menerimanya tanpa mengelak.
Malamnya kami makan ayam yang tak sempat menjadi apa-apa, dan Abah mengucapkan terima kasih kepada ayam itu, sekaligus minta maaf. Aku tetap tak mengerti apa yang ia pikirkan.
Lebih tak kumengerti lagi ketika Abah ritual menyalakan api. Setahun sekali, setelah menunggu bulan dan arah angin berdamai, ia membuat sekat selebar dua depa di keliling huma. Tetangga datang membawa ember dan parang tanpa dipanggil. Abah meletakkan sirih di tepi huma dan bercakap pelan dengan sesuatu yang tidak kelihatan. Lalu api dinyalakan dari sisi yang melawan angin, kecil dan sabar. Bagi Abah, menyalakan api untuk tamu, entah apa maksudnya.
Api itu tak pernah menyeberang sekat yang telah dibuat Abah. Tak pernah melahap lebih dari yang dibolehkan. Menjelang subuh ia disiram, diinjak, diperiksa satu per satu, dan Abah duduk di tepi huma sampai asap terakhir pergi. Sepemahamanku ketika cukup dewasa kini, itulah yang ia sebut mengantar tamu untuk pulang.
Aku tak pernah membenci api, sungguh. Itu janji yang kusimpan sejak umur sembilan tahun, dan sudah delapan belas tahun kini masih kutepati. Tetapi pagi ini aku tak tahu lagi apakah janji itu masih bisa ditepati oleh orang yang matanya perih setiap hari dan paru-parunya seperti kain pel yang diperas terlalu sering.
Kuketik balasanku dengan ibu jari yang gemetar pada Halimun.
Jangan kirimi aku puisi tentang kabut. Kirimi aku hujan saja, kalau kau tahu cara mengirimnya dari Bogor.
Pesan itu hanya mendapat satu centang, dan centang itu bertahan sampai malam.
**
Akhir September, Halimun mengirimiku pesan. Aku membacanya di beranda yang jarak pandangnya samar oleh asap, sambil menunggu listrik menyala.
“Tadi pagi aku menggoreng pisang dan tanganku tiba-tiba berhenti. Minyak ini dari mana, Kala? Aku menikmati makanan dan terpikir keadaan tanah yang sedang terbakar di tempatmu. Selama ini aku menulis tentang kabut seolah ia kesejukan yang diberikan hutan. Aku juga membawa tulisanmu kepada kawan-kawanku. Mereka bilang tema karhutla itu musiman, kurang segar. Seperti durian, kata mereka: datang setahun sekali, baunya ke mana-mana, lalu orang lupa. Aku ingin membenci mereka. Aku bagaikan kobaran api. Dan yang menakutkan, Kala, aku merasa lebih hidup ketika membenci.”
Kubaca berulang-ulang. Lalu kutaruh ponsel di atas tikar dan kutatap asap yang menyelimuti kampungku. Aku kenal rasa itu. Benci itu hangat. Ia memberi tenaga di hari-hari yang menyedot daya hidup, membuat kita merasa punya musuh, dan musuh adalah bentuk harapan yang paling mudah didapat. Tetapi benci, kata Abah, adalah tamu yang tak bisa disuruh pulang. Ia qkqn terus menginap, lalu pelan-pelan memakan isi lemari, lalu kursi, lalu dinding rumah, dan meluas ke seluruh hidup kita.
Kuketik jawaban untuk Halimun.
Jangan menyesali tentang makananmu, atau tentang minyak goreng itu. Menyesal adalah alamat yang keliru, sebab ia berhenti di dalam dirimu. Ingat saja bahwa dapur-dapur di Bogor dan dapur-dapur di Palangka Raya disambung oleh pipa yang tak pernah dibicarakan di rapat mana pun. Orang-orang di kotamu menyebut asap kami “kiriman”. Kata itu enak didengar, karena ia menghapus si pengirim. Padahal tak seorang pun di sini mengirim apa-apa. Kamilah yang menerima kiriman: kiriman neraka yang dialamatkan ke paru-paru kami sendiri.
Sudah dua minggu Abah menolak pindah ke rumah singgah di gedung kelurahan, tempat satu mesin penjernih udara dan oksigen dipakai bergantian oleh dua ratus orang.
“Huma tak bisa kutinggal,” katanya.
Batuknya kini berbunyi seperti orang menyeret peti di lantai kayu. Tetapi malam itu, ketika tak seorang pun bisa tidur, ia menceritakan sesuatu yang belum pernah ia ceritakan, dan sejak itu aku tak berhenti memikirkannya.
Abah bercerita tentang Tingang, burung enggang yang dimuliakan di hulu, seperti cerita yang ia simpan untuk hari paling gelap dan menyesakkan. Pada musim bertelur, Tingang betina mencari lubang di batang pohon tua yang tinggi. Ia masuk, lalu menutup pintunya dari dalam dengan lumpur, kotoran, dan sisa buah yang dikunyahnya, hanya menyisakan celah sebesar paruh. Di dalam gelap itu ia bertelur, dan pelan-pelan merontokkan seluruh bulunya, sampai ia telanjang, sampai tak bisa terbang sama sekali. Selama itu sang jantan terbang pergi-pulang membawa buah, menyuapinya lewat celah. Bila si jantan mati, betina dan anak-anaknya mati. Bila pohonnya roboh, semuanya juga akan mati. Tetapi bila semuanya terjaga, bulu baru tumbuh, dan pada suatu hari ia membobol dinding yang ia bangun sendiri, lalu terbang bertemu kebebasan baru.
“Itu rumah tangga yang benar,” kata Abah. “Yang satu mau telanjang dan memabungkan diri, yang satu mau menyuapi kehidupannya. Kau tahu, Kala, seharusnya konsep negara kita bisa mengadopsi perjuangan hidup Tingang itu.”
“Bagaimana kalau kelak pohonnya terbakar?” tanyaku.
Ia diam lama sekali. “Maka kita harus siap sedia menjaga pohonnya. Karena pohon-pohon di hutan itu, Kala, adalah sumber kehidupan para hewan, bukan hanya Tingang. Dan itu sama seperti kita, mereka menyerahkan diri pada alam,” katanya.
Di huma Abah ada pohon seperti itu, di tepi sebelah timur, tua, selebar pelukan tiga orang. Abah tak pernah menebangnya dan tak mengizinkan siapa pun menebangnya, bahkan ketika harga kayunya membuat orang kampung membicarakannya pelan-pelan di warung. Sudah bertahun-tahun tak ada Tingang yang menempatinya. Ia tetap menjaganya, seperti orang tua menjaga kamar anaknya yang sedang merantau.
Esok sorenya aku membawa makanan ke huma. Di tepi timur, di bawah Batang Garing, kulihat seutas asap setipis benang keluar dari retak tanah. Aku berdiri lama. Gambut kadang menyimpan bara berminggu-minggu, kata orang, tenang seperti orang yang sedang menunggu giliran bicara. Kutimbun retak itu dengan telapak kakiku, kutekan sampai rata, dan tak kuberi tahu siapa-siapa.
Sampai sekarang aku mencoba menyusun alasannya. Karena kupikir benang sehalus itu bisa diinjak seperti semut. Karena aku tahu apa yang terjadi bila ada yang melapor: petugas akan datang dengan kamera dan rompi, memancangkan papan di huma kami, dan nama yang pertama dicatat adalah nama peladang tua yang tangannya paling dekat dengan tanah. Hukum di negeri ini selalu lebih cepat menemukan tangan daripada kanal. Dan karena malu: seorang penulis yang sudah menulis begitu banyak tentang api ternyata tak berani mengakui bahwa ada api kecil di huma keluarganya sendiri.
Malamnya kuketik pesan pendek untuk Halimun.
Kita dilarang membenci api, Halimun. Berilah aku waktu untuk menjelaskan bagaimana persoalan di sini yang kompleks, bahkan seperti tak memiliki ujung pencerahan.
***
Pada malam kedelapan Oktober, Abah terbangun karena mencium bau asap dari arah ladangnya, bau yang berbeda dari asap yang sudah sebulan kami hirup: lebih dekat, lebih basah, seperti bau rumah sendiri yang terbakar.
Kami berlari ke huma membawa ember, dan itu sudah keliru sejak awal, sebab gambut tak bisa dipadamkan dengan air seember-seember. Kami menyiram satu sisi, api pindah ke sisi lain, ke bawah, ke tempat yang tak terlihat. Abah tahu itu. Ia tetap menyiram dengan hati-hati, seperti orang menyuapi yang sakit.
Lalu mereka datang. Bu Tinah muncul dari gelap bersama suaminya dan dua anak lelakinya, membawa jeriken, sekop, dan senter yang cahayanya hanya sampai sejengkal ke dalam asap. Ia tidak berkata apa-apa. Abah juga tidak. Mereka bekerja berdampingan seperti dua orang yang tak pernah bertengkar. Di dalam asap, batuk orang hulu dan batuk keluarga transmigran terdengar sama persis.
Kami menggali parit sedalam dada untuk memotong api yang menjalar di bawah tanah, bergantian, sampai gagang sekop terasa seperti bara. Di tengah galian itu aku baru sadar dari mana api masuk: dari retak di tepi timur, di bawah Batang Garing, tempat kutekan tanah dengan kakiku. Yang kutimbun ternyata tidak mati. Ia hanya pindah ke bawah, ke tempat yang tak bisa kulihat, dan menunggu.
Menjelang subuh, tanah yang menolak basah sepanjang musim akhirnya memperlihatkan air di dasar parit. Tak pernah aku sebahagia itu melihat lumpur. Api berhenti di parit itu, atau parit itu berhasil menipunya bahwa tak ada lagi yang bisa dimakan. Tak seorang pun dari pemerintah datang malam itu. Helikopter baru datang pagi-pagi, ketika semuanya sudah selesai, untuk memotret apa yang kami kerjakan dalam gelap.
Di tepi parit, Abah meletakkan sirih. Ia bicara kepada api dengan suara yang kukira bukan suaranya.
“Pulanglah. Kau bukan tamuku, pulanglah.”
Lalu, nyaris pada dirinya sendiri:
“Yang ini bukan kuundang, Kala. Yang mengundangnya orang lain: yang menggali kanal, yang menjual izin, yang menyuruh orang membakar malam-malam lalu lupa menjemputnya. Dia tak tahu jalan pulang. Kasihan juga.”
Itu kalimat paling ganjil yang pernah kudengar dari lelaki tua yang baru kehilangan separuh humanya. Aku ingin marah padanya, dan pada saat yang sama ingin mencium tangannya. Maka kukatakan apa yang sepuluh hari kusimpan: tentang benang asap, tentang telapak kakiku.
“Tapakmu kulihat kemarin pagi,” kata Abah tanpa menoleh. “Kupikir kau akan bilang sendiri. Aku juga lengah.”
“Bah, aku…”
“Api ini hadir bukan ulahmu, Kala. Ia hadir dari kanal dan surat izin pembangunan. Tapi bagian sebesar telapak kaki itu milikmu, dan bagian itu pun harus kita antar pulang. Menyembunyikan api sama dengan melupakan jalan pulangnya. Lain kali beritahu aku atau orang-orang di sekitarmu.”
Lalu ia terduduk. Mulutnya terbuka, tetapi udara tak mau masuk ke paru-parunya. Kupanggul ia di punggung, laki-laki yang dulu mengangkut sebatang meranti sendirian, kini mulai kehabisan tenaga. Tak lama, datang Bu Tinah dan suaminya membantuku membawa Abah ke gedung kelurahan dengan menggunakan motor, Abah terkulai di lemas. Untuk kali ini, aku berhutang-budi pada keluarga Bu Tinah.
Di dinding kelurahan, di atas mesin itu terpasang burung garuda. Aku menghitung bulunya tanpa sengaja, seperti dulu di sekolah: tujuh belas bulu pada tiap sayap, delapan pada ekor, sembilan belas di pangkalnya, empat puluh lima di leher, tanggal kemerdekaan yang dipecah menjadi bulu. Kami dulu disuruh menghafalnya, dan tak seorang guru pun bilang bahwa burung yang hidup harus rontok. Sambil memegang tangan Abah yang bernapas pendek-pendek, aku berpikir: kami hafal angka bulu itu di luar kepala, dan menolak membaca angka udara. Negeri ini begitu sayang pada bulu lamanya: izin yang bisa dibeli, laporan yang asal menyenangkan atasan, kementerian yang saling menuding, dan satu kata, daerah, untuk tempat yang boleh dikorbankan hidup manusia dan alamnya. Burung yang menolak mabung bukan burung yang abadi. Ia burung yang diawetkan. Dan garuda itu adalah burung yang diawetkan, ia telah kehilangan daya hidupnya, apalagi kebebasannya.
Dokter muda yang menanganinya, dengan mata merah dan mungkin belum tidur dua malam. Ia berkata Abah harus beristirahat di tempat yang berudara bersih. Aku nyaris tertawa. Di mana tempat itu? Mesin penjernih berdengung di tengah aula seperti seorang bapak tua yang dikelilingi anak-anaknya, satu mesin untuk dua ratus orang. Dan itu termasuk tabung oksigen yang bergiliran dipakai. Bukankah hari ini Kalimantan adalah tanah gersang yang penuh asap dan debu?
Paginya aku kembali ke huma. Hitam sejauh mata, hitam yang berpori, seperti arang yang masih ingat bentuk kayunya. Batang Garing masih berdiri. Sisi baratnya hangus sampai pinggang, tetapi ia tegak, dan lubang sarang di dahan tingginya utuh. Di antara abu di akarnya kutemukan sehelai bulu panjang, separuh putih separuh hitam, ujungnya gosong. Aku tak tahu apakah bulu itu rontok dengan sendirinya, atau ditinggalkan seekor burung yang lari dari kobaran api. Kusimpan bulu itu di saku bajuku.
Sorenya, di aula, ponselku bergetar. Balasan Halimun datang setelah berhari-hari.
“Aku tak bisa mengirim hujan, Kala, dan aku malu pernah mengira kabut bisa jadi jawaban. Soal larangan itu, aku masih proses memaknainya. Tapi aku rasa, kita dilarang membenci api karena memang api tak punya tempat di bumi kita ini.
Dan jangan lupa satu hal, Kala. Kau penulis, maka tulislah semua hal yang menjadi keresahanmu. Tulislah kebenaran yang menyelimuti dirimu sendiri. Kebenaran harus dikabarkan, harus dituliskan.”
Kubaca pesan itu di samping ranjang Abah. Sementara di luar, asap terus menyelimuti Palangka Raya dan sekitarnya. Hujan belum datang. Tetapi di dasar parit, di huma kami, air masih menggenang, dan di tengah dengung aula itu aku merasa kata-kata tak punya waktu untuk beristirahat. Ia sekarang perlu ditanami pohon-pohon, agar mengembalikan kondisi hutan, mengembalikan habitat hewan-hewan, dan mengembalikan kesehatan paru-paru kita yang tercemar.

