Nyi Mangle Lahir dari Rasa Kecewa

Nyi Mangle Lahir dari Rasa Kecewa

cover majalah mangle edisi 1

Saya percaya bahwa masyarakat Jawa Barat ketika mendengar atau membaca nama Manglé, sudah pasti akan langsung tertuju pada majalah berbahasa Sunda. Sebuah majalah yang walaupun jalan hidupnya tertatih-tatih, kini tetap bertahan. Karena sejak 1957 hingga hari ini, walau berubah secara lokasi terbitan dan struktur kelola-redaksinya, Mangle masih terbit-beredar sebagai ruang pengkaryaan Sastra Sunda dari generasi lama ke generasi baru. Namun, saya juga percaya bahwa tidak banyak masyarakat Jawa Barat mengetahui duduk perkara kelahiran Mangle, yang selain menawarkan jalan lain dari apa yang sebelumnya sudah disajikan Majalah Warga sebagai pendahulunya, juga terdapat gejala menarik dalam kesaksian pendirinya yang cukup bersinggungan. Dua peristiwa itu akan coba saya bahas dalam tulisan kecil ini. 

Mangle (1957) dan Warga (1951) sama-sama lahir dan terbit di Bogor. Keduanya memiliki julukan yang cukup menarik jika ditelusuri secara mendalam: Majalah Warga sebagai Ki Warga dan Majalah Mangle sebagai Nyi Mangle. Entah bagaimana awal-mula persoalan julukan itu lahir, dan bagaimana pemilihan gendernya itu dicipta-bentukkan oleh para pendirinya. Karena sejauh ini, belum saya temukan penyoal tersebut yang membahas duduk-perkaranya. Maka, untuk membahas gejala remang itu, saya rasa, tak ada jalan lain—selain harus memasang serangkaian praduga-kira sebagai peta penjelajahannya.

Ketika saya membaca julukan “Ki dan Nyi” itu, yang saya tangkap tentu saja tak mungkin julukan semacam itu hanya candaan semata kalangan dunia permajalahan/pers Sunda, tetapi mungkin memiliki maksud tersendiri dari bagaimana jejak ingatan kolektif para pendirinya plus atas dua kepribadian medium yang tumbuh dari akar yang sama; namun bercabang ke arah yang berlainan puncak capaiannya. Sebab, pembacaan saya mengenai Ki Warga (konten isi majalahnya) cukup tegas, agak keras kepala, dan condong ke ranah pergerakan politik plus kebudayaan. Sedangkan Nyi Mangle (konten isi majalahnya) cukup lembut, ulet, dan memilih jalan kesenian plus kebudayaan sebagai huniannya. 

Dua jalur persimpangan itu tentu seharusnya tidak datang dari langit sebagai wangsit. Ia seharusnya lahir dari sebuah peristiwa pemaknaan yang mengarah ke proses kreatif seperti apa dan bagaimana akar sekaligus haluan capaian majalahnya. Dengan begitu, tangkapan saya mengenai julukan itu, mungkin didasari atas suatu pemaknaan ulang dari mitologi Aki Nini Pangebonan, yang selain menjaga Dewi Sri/Nyi Pohaci sebagai jelmaan padi/penghidupan, juga dimaksudkan sebagai penjaga atas serangkaian hidup kebudayaan, dalam hal ini hidup-kembangnya kesusastraan Sunda. Itulah kemungkinan yang sejauh ini tercerna dalam rasio-empiris saya. Entah, mungkin ke depannya akan berubah-berkembang ketika mendapat sumber atau mendapati gejala-gejala baru lanjutan.

Pada Mulanya adalah Kecewa

Dalam sebuah wawancara yang termuat di Kalawarta Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS: No.1 Maret-Juni 1995) berjudul, “Pek Wae Rek Ditaluar Mah”, Wahyu Wibisana salah satu penggagas nama Mangle (selanjutnya akan disebut Nyi Mangle) itu mengenang bahwa benih majalah ini selain tumbuh dari dan atas cita-cita mendirikan sebuah permajalahan yang baru, juga berasal pula dari kekecewaan yang sangat personal. Sebelum menjadi salah satu “tujuh sekawan” pendiri Nyi Mangle, Wahyu adalah kontributor sekaligus bagian dari keredaksian Majalah Warga (selanjutnya disebut Ki Warga).

Ki Warga merupakan majalah berbahasa Sunda yang lebih dulu terbit di Bogor pada 1951, di bawah asuhan Nanie Sudarma, sosok yang menurut beberapa peneliti Sastra Sunda adalah seorang laki-laki (bapak-bapak) yang memakai nama istrinya, karena akrab disapa sebagai Pak Nanie. Ki Warga sendiri lahir dari rahim yang sama dengan denyut kebudayaan dan pergerakan Sunda di Bogor pada masa itu, menjadi corong bagi kalangan Putra Sunda: sebuah organisasi yang menyuarakan kegelisahan atas sentralisme kebudayaan yang, pada masa awal kemerdekaan, dirasakan meminggirkan geliat lokalitas.

Hiji waktu, misalna, Pa Nanié nyerat dina Warga: kokondoreun indit ka Surabaya. Harita téh, Akang jeung rombongan Putra Sunda arindit ka Surabaya, mawa sandiwara “Jumerit”. Mun teu salah mah, dipanggungkeunana téh dina acara pekan pemuda. Nya ari Akang mah bungah wé nu aya, pédah karya sorangan rék dupagelarkeun. Ari Pa Nanié, katingalna téh teu panujueun. Bisa jadi anu ngayakeun éta acara téh di jerona aya unsur PKI-an. Ari Akang mah pan teu nyaho nanaon, da teu pati ngarti kana pulitik. Lantaran disebut “kokondoreun indit ka Surabaya”, Akang téh terus pundung ti Warga. Teu lila ti harita, Akang di-ranéh ku Ibu Uton. “Geus wé ayeuna mah urang nyieun majalah sorangan,” saurna. Ceuk Akang téh, “Nya mangga.” Terus wé baba-rengan jeung nu séjén medalkeun Manglé. Jaman Akang keur jadi guru di Bogor ieu téh, nya, taun 1957.

(Satu waktu, misalnya, Pak Nanie menulis di Majalah Warga: ‘Malas/ Tidak Sudi Berangkat ke Surabaya’. Waktu itu, Akang dan rombongan Putra Sunda berangkat ke Surabaya, membawa sandiwara “Jumerit”. Kalau tidak salah, dipentaskan di acara Pekan Pemuda. Akang waktu itu tentu senang, karena karya sendiri akan dipentas-tunjukkan. Kalau Pak Nanie, kelihatannya tidak menyetujui. Kata Pak Nanie, bisa jadi yang mengadakan acara di pekan pemuda itu ada unsur PKI-nya. Kalau Akang kan tak tahu apa-apa, maksudnya tidak terlalu paham mengenai politik. Gara-gara tulisannya mengenai ‘Malas/ Tidak Sudi Berangkat ke Surabaya’, Akang lalu tersinggung dan kecewa ke Pak Nanie sekaligus ke Majalah Warga. Tak lama setelah itu, Akang diberi nasihat oleh Ibu Uton, “Sudah, sekarang kita buat saja majalah sendiri.” Lalu Akang jawab, “Boleh, silakan.” Setelah itulah bersama-sama kawan lainnya mendirikan Mangle, waktu Akang jadi guru di Bogor, di tahun 1957).

Sebagai kontributor muda, Wahyu sangat mungkin dipenuhi berbagai harapan: bahwa ruang yang diasuh Pak Nanie akan menjadi tempatnya bertumbuh, tempat gagasan dan sajak-sajaknya menemukan pembaca, dan yang lebih penting menemukan penghargaan. Namun harapan itu berbenturan dengan kenyataan lain yang diperolehnya. Ada jarak dan ada sikap pengasuh yang menurut penuturan Wahyu dalam Kalawarta LBSS, tidak sepenuhnya membuka ruang bagi arah yang ingin ia tempuh. Kekecewaan itulah yang kemudian ia utarakan kepada lingkaran pergaulannya: kepada Oeton Moechtar (dan istrinya: Bu Uton), Rochamina Sudarmika, Sukanda Kartasasmita, Saléh Danasasmita, Utay Muchtar, dan Alibasah Kartapranata.

Di sinilah titik balik itu terjadi. Alih-alih membiarkan kekecewaan itu berhenti sebagai keluhan, Bu Uton, perempuan yang juga kolega mengajar Wahyu di sekolah Bogor malah menawarkan sebuah kemungkinan lain, dengan satu pertanyaan kunci: mengapa tidak membuat majalah sendiri saja? Tawaran itu jatuh pada tanah yang subur. Wahyu segera membawa gagasan tersebut ke lingkaran pertemanannya yang lebih luas: mahasiswa dan kalangan intelektual muda Bogor yang biasa berkumpul di sebuah rumah kos di Jalan Kebon Kembang (kini Jalan Dewi Sartika), sebuah rumah kos yang tidak lain adalah milik Rochamina Sudarmika sendiri. Di sanalah diskusi demi diskusi berlangsung, termasuk keterlibatan Saleh Danasasmita, Sukanda Kartasasmita, Ali Basyah, dan Abdullah Romli, yang akhirnya disepakati untuk menerbitkan majalah bulanan berbahasa Sunda. Oeton Moechtar, suami Bu Uton, tanpa banyak berpikir menyatakan diri sebagai penyandang dana. Bahkan menurut catatan yang kemudian beredar di kalangan pewaris Mangle, sebagian modal awal itu berasal dari hasil penjualan perhiasan pribadi Bu Uton.

Alhasil, nama majalah berikut kerangka isinya mulai dicari dan dirumuskan. Ada dua alternatif yang sempat diperdebatkan: Tandang dan Mangle. Tandang, meski gagah, dirasa di lain maknanya terlalu sensasional, karena serupa menantang—mengajak berkelahi, sebuah kesan yang tidak sejalan dengan semangat kebudayaan yang hendak diusung. Mangle, yang dalam bahasa Sunda berarti ranggeuyan kembang atau untaian bunga, yang akhirnya dipilih justru karena esensi kelembutannya. Nama itu kelak berkembang maknanya menjadi simbol hiasan sanggul perempuan dan keris dalam upacara pernikahan Sunda: sebuah penanda keindahan yang menyertai peristiwa penting kehidupan. Dari kekecewaan seorang penulis muda yang merasa tidak menemukan rumah di Warga, lahirlah rumah baru itu: Nyi Mangle, pertama kali terbit di Bogor pada 21 Oktober 1957 dengan oplah 500 eksemplar. Namun edisi perdananya sendiri baru diedarkan tanggal 21 November 1957, itu pun dibagikan secara gratis. Maka, tanggal 21 November itulah yang kemudian ditetapkan sebagai titimangsa atau hari kelahiran Nyi Mangle. 

Dengan demikian, jika kita mengamini pernyataan Wahyu Wibisana, motif lain dari kelahiran Mangle sesungguhnya adalah kisah tentang bagaimana sebuah institusi kebudayaan bisa lahir dari perasaan yang sangat manusiawi seperti rasa kecewa, tersisih, tidak diakomodasi, yang kesemuanya itu menjadi jalur yang dapat ditransformasikan menjadi energi pendirian dan pengkaryaan. Saya rasa, memang pola ini cukup lumrah dan berulang dalam sejarah permajalahan dan sastra di mana pun: media atau sebuah kelompok baru bukan hanya lahir dari perencanaan besar sebuah lembaga pengkaryaan, tetapi juga selalu lahir dari luka kecil seorang individu yang lalu menemukan kawan-kawan segagasannya pada waktu dan ruang yang tepat.

Laboratorium Hidup Nyi Mangle

Jika motif lain dari kelahiran Nyi Mangle bermula dari kekecewaan personal, maka jelaslah pertumbuhannya kemudian menegaskan sebuah perbedaan jalur yang lebih struktural antara dirinya dan Warga. Sejak awal, dalam suasana politik Orde Lama yang menuntut setiap media berafiliasi dengan kekuatan politik tertentu, atau sebagai perwujudan doktrin “politik sebagai panglima”, saya melihat Nyi Mangle justru menegaskan diri untuk tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun. Di bawah kepemimpinan para redaktur perintisnya, seperti Saleh Danasasmita dan Wahyu Wibisana, Nyi Mangle mengambil posisi yang lebih kental sebagai majalah sastra dan kebudayaan Sunda ketimbang media informasi atau corong pergerakan. Hal tersebut kiranya tak perlu dipertegas kembali, karena seharusnya sudah jelas ketika sejak awal ia memilih nuansa ranggeuyan kembang (untaian bunga), bukan panji perjuangan atau sederet kata revolusi lainnya.

Perbedaan dengan Ki Warga ini bukan sekadar soal selera redaksional semata, melainkan soal pilihan eksistensial yang menentukan perjalanan nasib kedua majalah itu di kemudian hari. Warga, yang lekat dengan denyut satu organisasi dan satu babak politik tertentu, pada akhirnya turut surut seiring surutnya panggung politik yang menopangnya. Mangle, yang sejak semula menanam akarnya pada kebudayaan dan kesusastraan, sebuah ranah yang lebih lentur terhadap pergantian rezim, justru menemukan ruang hidup yang panjang. Sekali lagi, mungkin di titik inilah julukan Ki Warga dan Nyi Mangle dapat kita telusuri kembali maknanya yang lebih dalam: Ki Warga bisa kita bayangkan sebagai sosok maskulin yang berdiri di garis depan pertarungan wacana politik-kebudayaan; sedangkan Nyi Mangle adalah sosok feminin yang memilih merawat, membina, dan menghidupi kebudayaan dari dalam, tanpa perlu berhadap-hadapan langsung dengan gelanggang dan medan kekuasaan.

Hal itu bisa kita tinjau dari bagaimana sejak edisi pertamanya dengan sampul muka Ika Rostika, seorang juru kawih dari sanggar binaan Mang Koko, dicetak sebanyak lima ratus eksemplar dan dibagikan secara cuma-cuma. Nyi Mangle seterusnya dan secara konsisten menempatkan dirinya sebagai rumah bagi para pengarang Sunda. Halaman-halamannya diisi oleh sajak, carita pondok (cerita pendek), esai, carita buhun (cerita rakyat lama), guguritan, dan berbagai bentuk sastra lisan-tulis Sunda lainnya, di samping rubrik-rubrik ringan yang menyapa pembaca umum: resep, humor, dan lain sebagainya.

Di bawah pergantian kepemimpinan redaksi dari masa ke masa, setelah Saleh Danasasmita dan Wahyu Wibisana: dari M.H. Rustandi Kartakusumah, Yus Rusyana, Ki Umbara, Saini K.M., hingga Ami Raksanagara dan Abdullah Mustappa, Nyi Mangle melahirkan dan membesarkan nama-nama penting dalam kesusastraan Sunda modern: Rahmat M. Sas Karana, Tatang Sukanda, Us Tiarsa, Aam Amilia, dan tentu masih banyak lagi. Mereka tumbuh bukan di ruang kuliah sastra formal, tetapi berkembang di ruang redaksi dan ruang cetak Nyi Mangle, tempat naskah-naskah muda diuji, ditolak, direvisi, dan akhirnya dimuat: terbit dan beredar. Saya rasa peristiwa itu semacam sebuah laboratorium sastra,  sebuah laboratorium yang bekerja secara senyap, namun konsisten di hadapan lajur waktunya.

Maka tak heran, ketika kita membaca “Company Profil Majalah Mangle: Manglé, Ati Sunda Jati Sunda Jajatén Sunda” (2019), pada masa kejayaannya di dekade 1960 hingga 1970-an, oplah Nyi Mangle sempat menyentuh angka fantastis: sekitar 90.000 hingga 150.000 eksemplar per terbitan. Sebuah pencapaian yang, untuk ukuran majalah sastra daerah di Indonesia, sungguh sangat luar biasa. Angka itu menandakan praduga lain, bahwa apa yang dimuat Nyi Mangle bukan sekadar konsumsi kalangan elite sastra Sunda, tetapi jauh dari itu mungkin telah menjadi bacaan berbagai lapisan masyarakat, sebuah bacaan yang ditunggu setiap minggu oleh masyarakat Jawa Barat khususnya, dan masyarakat Indonesia secara luasnya.

Mangle dalam Dunia Kesusastraan Sunda

Dari uraian di atas, cukup terbaca kemungkinannya bahwa posisi Nyi Mangle dalam peta kesusastraan Sunda bukanlah posisi pinggiran atau yang terkucilkan. Ia adalah salah satu, jika bukan satu-satunya, medium cetak yang secara berkesinambungan menjadi ruang produksi sekaligus distribusi sastra Sunda modern sejak akhir masa kolonial usai hingga era digital hari ini. Ketika media-media sezamannya satu per satu berguguran, seperti: Pajajaran (1949), Panghegar (1952), Warga (1951), Candra (1954), Kiwari (1957), Sari (1963), Sangkuriang (1964), Baranangsiang (1964), Campaka (1965), Kutawaringin (1966), Wangsit (1966), dan lain-lain, Nyi Mangle justru bertahan, beradaptasi dari terbitan bulanan menjadi dua mingguan pada 1962, lalu menjadi mingguan sejak 1965 (setiap hari Kamis). Hal itu, saya rasa, merupakan sebuah ritme pengorbanan sekaligus metode pertahanan yang dapat dipelajari para media/pers hari ini.

Posisi itu menjadikan Nyi Mangle semacam arsip hidup: ia menyimpan jejak perkembangan bahasa Sunda modern, gaya penulisan yang berubah dari masa ke masa, serta pergulatan generasi demi generasi pengarang Sunda dalam menemukan bentuk ekspresinya. Banyak nama yang kelak dikenal luas dalam dunia sastra Sunda, termasuk peraih Hadiah Sastra Rancagé, memiliki jejak awal karier kepenulisan mereka di halaman-halaman Mangle. Dalam pengertian ini, Nyi Mangle bukan hanya media, melainkan institusi pembinaan sastra yang bekerja secara informal plus efektif pembibitannya, jauh sebelum lembaga-lembaga akademik memberi perhatian serius pada sastra daerah.

Persoalan itu membawa secarik pertanyaan yang menyelimuti saya, “Mengapa Mangle bisa berumur panjang?”. Pertanyaan itu barangkali adalah pertanyaan paling penting dari seluruh catatan kecil ini. Entah bagaimana saya menjawab pertanyaan saya sendiri ini. Namun, curiga saya adalah, selain karena Nyi Mangle berpulang pada benih yang ditanam sejak kelahirannya, keputusan Nyi Mangle untuk tidak berafiliasi dengan kekuatan politik tertentu-lah yang menjadi satu faktor penting yang membuatnya tidak ikut tenggelam ketika panggung politik yang menopang media-media sezamannya berganti. Ketika Warga dan sederet nama lain terikat erat dengan nasib organisasi atau golongan politik yang menaunginya, Nyi Mangle memilih berlabuh pada sesuatu yang lebih abadi: bahasa dan kebudayaan Sunda itu sendiri.

Atau, mungkin pula karena konsistensi Nyi Mangle sebagai ruang pembinaan sastra menciptakan ikatan emosional yang kuat antara majalah ini dengan pembacanya. Nyi Mangle tidak sekadar menjajakan informasi yang bisa digantikan media lain, melainkan menumbuhkan rasa memiliki: perasaan bahwa bahasa ibu mereka punya rumah yang terus dijaga tetap hidup. Ikatan semacam ini, saya kira, jauh lebih tahan lama dibanding ikatan berbasis kepentingan politik sesaat. Ditambah bagaimana kesediaan Nyi Mangle untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Dari kantor kecil di Bogor, Nyi Mangle memindahkan pusatnya ke Bandung pada Desember 1962, mengikuti pergeseran pusat gravitasi kebudayaan Sunda modern. Ia mengubah frekuensi terbit sesuai kebutuhan zaman, membuka kanal daring sejak 2012 melalui Mangle online. Tak hanya itu, pada masa-masa sulit seperti belakangan ini, ketika oplahnya merosot tajam dari puncak seratus ribuan menjadi hanya beberapa ratusan-puluhan eksemplar, akibat krisis finansial dan pergeseran kebiasaan membaca masyarakat, ia tetap mencari jalan bertahan, termasuk lewat kerja sama dengan lembaga seperti Universitas Padjadjaran yang belakangan turut membantu pengelolaannya agar penerbitan tidak terhenti.

Barangkali, yang mungkin bisa saya curigai lagi adalah, karena Nyi Mangle lahir bukan dari proyek besar sebuah lembaga, melainkan dari kekecewaan dan keinginan segenggam anak muda (bernama Wahyu Wibisana) untuk membangun sesuatu yang lebih baik dari apa yang mereka rasakan hilang. Semangat semacam itu tentu bermula dan akan berpuncak pada semangat memiliki, bukan sekadar mengelola. Praduga kecil itu kiranya yang menjadi warisan tak kasat mata dari para pendahulu ke penerus Nyi Mangle, yang membuatny tetap bisa berdiri, hadir menyajikan karya, walau mesti tertatih-tatih, tetap terbit hingga hampir tujuh dasawarsa kemudian, atau lebih tepatnya sampai hari ini.

Dari rasa kecewa seorang Wahyu Wibisana terhadap Pak Nanie di Majalah Warga, dari uluran tangan Bu Uton yang mengubah keluh-kesah menjadi ruang kreatif-karya, sekali lagi mari kita katakan bahwa, Nyi Mangle lahir sebagai untaian bunga yang alih-alih layu, justru mekar menjadi salah satu penjaga terakhir napas kesusastraan dan kebudayaan Sunda. Sialnya, kini Bogor seakan melupakan warisan pengkaryaan sastra sekaligus pengetahuan kisah yang sudah dirawat Nyi Mangle. Entah mengapa. Tapi yang pasti, apa yang terjadi di Bogor hari ini, baik tentang jurang kematian kesusastraannya, atau geliat pengkaryaan plus propagandanya, saya rasa adalah sebentuk karma (hukum sebab-akibat), karena tak membaca ulang jalan panjang pengkaryaan pendahulunya, tak mempertimbangkan kembali sejauh mana nilai-nilai yang dapat diperoleh—yang mungkin dapat direaksi-refleksikan, bahkan dilampaui kiwari ini.

Tinggalkan komentar