Klapanunggal: Lawan, Usir dan Menang

Klapanunggal: Lawan, Usir dan Menang

Ilustrasi cover Klapanunggal (Bowo Wijoyo)


Masih dengan semangat folk country ala Iwan Falsnya, Pengantar Pesan merilis single yang bertajuk Klapanunggal. Single ini dimaksudkan menjadi pengantar untuk album pertama mereka yang masih work in progress. Sebelumnya, Pengantar Pesan telah beberapa kali merilis single yang bisa dinikmati di layanan streaming musik digital seperti Spotify, Apple Music, Youtube Music, dan lain-lain. Inilah salah satu bukti bahwa kemajuan teknologi sangatlah berdampak pada segala aspek termasuk kesenian. Semua ada pada genggaman kita.

Klapanunggal menjadi warna baru untuk Pengantar Pesan. Pada karya-karya sebelumnya, Pengantar Pesan yang digawangi oleh Deri Posmen pada vokal dan gitar, Vici Feraldi pada Bass dan Yogi pada drum ini cenderung merangkai garis cerita mengenai bagaimana seseorang bertarung dengan hidupnya. Dengan hadirnya single ini, Pengantar Pesan seolah-olah ingin mengatakan dengan lantang seraya mengepalkan tangan kiri ke udara bahwa kehidupan bukan hanya tentang dirinya saja, ada orang lain yang mesti diberikan semangat dalam perjuangannya melawan kebatilan-kebatilan yang nyata.

Klapanunggal berkisah tentang sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor yang bernama Klapanunggal. Di daerah tersebut telah berdiri dengan congkak dan meresahkan pabrik-pabrik semen yang dikhawatirkan akan mengganggu kelestarian alam dan kesehatan warga sekitar. Dengan progresi chord yang bisa dibilang sederhana, namun tidak menghilangkan esensi perlawanan pada jalan yang benar.

Yudha Bakti Permana (Tunas Muda) sang penulis lagu menuturkan, ia menulis lagu ini ketika di perjalanan menuju lokasi tersebut untuk melakukan aksi solidaritas dan edukasi kepada masyarakat setempat terkait isu lingkungan yang sedang terjadi. Masyarakat harus disadarkan bahwa keadaan sedang tidak baik-baik saja dan akan merugikan banyak pihak. Ia juga merasa sangat perlu membawa isu ini ke khalayak yang lebih luas agar semua orang tau kondisi yang sedang terjadi di sana menggunakan platform musiknya. Hal ini adalah salah satu dari ribuan langkah yang bisa dilakukan oleh seniman dalam melewan atau hanya untuk sekadar berempati.

Liriknya menggambarkan secara lugas keadaan alam dan bagaimana masyarakat setempat menjalankan kehidupannya sehari-hari. Selain itu, lagu ini juga sebagai bentuk support dan bahan bakar semangat kepada masyarakat setempat bahwa mereka bisa berdaulat atas tanahnya sendiri. Pada bagian reffnya menggunakan Bahasa Sunda yang berbunyi: Hayu hayu urang, hayu ngadekeut ulah sieun ulah eraan, dimaksudkan agar dekat dengan masyarakat setempat yang dalam keseharian menggunakan Bahasa Sunda yang artinya: Ayo mendekat jangan takut, jangan malu. Lagu tersebut diakhiri dengan lirik yang sangat ‘melawan’: Lawan, usir dan menang! Ya, kesenian hari ini sejatinya memang mesti begitu; menangkap, mengabarkan, dan mengusahakan perubahan.

  • Tidak suka sepak bola semenjak Frank Lampard pindah dari Chelsea tapi akhirnya menekuni dunia klenik dan senang berkomunikasi dengan jin.

    Lihat semua pos