Rosita sandarkan keningnya pada kaca jendela. Sayu matanya melintasi hamparan sawah dan pepohonan yang berlarian di ambang jalan. Hamparan senyum pada baliho-baliho yang bertumpu pada tubuh pohonan itu tak kalah banyak dari badan padi yang rebah—yang sesak oleh bual dan rayu.
Di batas jalan itu, melintas satu baliho besar yang membikin mata rosita tertambat ke dalamnya. Lelaki paruh baya dengan garnish senyum penuh kharisma. Setidaknya, begitu kesan Rosita kepadanya. Di ujung bawah sebelah kanan terdapat kalam yang mencolok, ‘Presiden Pilihan Kita’, dengan jenis aksara balok sebagai penanda pesan utama.
“Kak Ita,” sapa seorang gadis remaja di sebelahnya, “minum dulu, Kakak pucat sekali, masuk angin tah?”
“Cuma kurang tidur saja, Din.” Rosita meyakinkan.
“Tadi malam Dini kan sudah bilang, ‘Kak Ita tidur saja. Hari ini Kakak butuh banyak tenaga,’” ujar Dini sambil membuka kotak karton putih yang sedari tadi dipeluknya. Disodorkannya kepada Rosita segelas air kemasan bersama dadar gulung yang terpulas hijau terang. “Lantas siapa yang mau menyelesaikan bungkusan-bungkusan ini?” Balas Rosita sambil mengangkat kudapan yang diterimanya.
Mendengar jawaban itu, Dini bergeming. Diobok-oboknya tasnya yang bergantung pada sandaran bangku penumpang di hadapannya. Diangkatnya ke depan muka Rosita sebutir pil merah muda, “kalau perut sudah terisi, Kak Ita minum obat anti mabuk ini. Bagi orang yang jarang bepergian jauh seperti kita, harus selalu sedia obat anti mabuk kendaraan adalah sebuah kewajiban. Supaya tidak muntah dan dibilang kampungan,” lanjut Dini ditambah tawa.
Beberapa gigit kudapan tergelincir sudah lewat tenggorokan Rosita. Tak dirasakannya manis untidi dalamnya. Tawar lidahnya terlihat dari gelagat bibirnya yang mulai tampak pucat. Rosita lanjut menelan pil yang Dini beri kepadanya. Tak berapa lama, matanya mulai mengantuk. Bahunya yang tegang perlahan nyaman ia sandarkan pada jok Bus sewaan berkapasitas 60 orang yang membawa serta rombongan dari desa menuju Jakarta. Tempat di mana mereka akan berjumpa dengan sang mantan Bupati yang amat mereka kagumi, cintai dan gandrungi. Dada Rosita yang berdebar sedari malam karena tak sabar menanti suka cita kini mulai mereda. Terbayar sudah lelahnya dua tahun ini. Berjuang di berbagai medan pertempuran demi memenangkan sang pemimpin idaman.
***
Malam itu, gerimis datang beberapa iris di pasar tempat Rosita mengais rezeki berjualan sego sambel. Kedai kecil ini menjadi ladang usaha Rosita meladeni perut-perut lapar orang-orang pasar pada rentang pukul sebelas malam hingga subuh menjelang. Tentu, warung berzirah papan yang telah lapuk ini pula yang menjaganya dari dingin angin malam dan rintihan air kala hujan. Namun, sebulan sudah lamanya Rosita bekerja sendirian. Tentu itu membikinnya kerepotan, tatkala segalanya ia kerjakan tanpa bantuan. Rosita ambil alih semua tugas Hasyim, suaminya, seperti mengangkat galon air, memikul beras, mengantar makan ke lapak-lapak pelanggan, sambil tetap mengurus bagiannya sendiri yaitu memasak, mencuci dan melayani.
Bukannya tak mampu ia membayar seorang dua orang pekerja. Tetapi uang itu harus betul-betul ia perhitungkan datang dan perginya. Semuanya lantaran hutang judi sang suami yang dua bulan lalu Rosita baru ketahui, setelah seorang penagih datang ke rumahnya bersama caci dan maki. Sementara diterima keduanya sumpah serapah, Hasyim hanya berdiam diri. Setelah kejadian itu, para penagih hutang datang silih berganti. Lantaran itu pula, hari demi hari dipenuhi percekcokan sepasang suami-istri ini. Bahkan hal remeh temeh sering kali menjadi pemantik api. Sepasang kekasih ini tak lagi cakap membaca keadaan. Hilang akalnya, tumpul rasanya.
Keduanya telah lupa, bahwa benih asmara telah melingkupi mereka sejak belia. Mereka telah lupa, bahwa cinta dan janji setia telah diikrarkan sebelumnya, tatkala keduanya memutuskan mengangkat layar di atas lautan hidup selepas lulus SMK.
“Mas, kamu taruh di mana plastik hitam yang barusan di sini?” tanya Rosita kepada Hasyim.
“Plastik yang mana?”
“Yang hitam Mas, tadi kusimpan di bawah meja. Isinya ada tepung, cabai, sayuran juga bumbu-bumbu,” nada Rosita mulai meninggi. Satu dua pelanggan yang tengah menyuapkan gorengan mulai melirik pada mereka.
“Lha, Kamu gak ngomong plastik itu isinya apa.” Hasyim mencoba meredam karena ia tahu betul apa ujungnya.
“Iya lantas sekarang mana?”
“Karena kamu taro di bawah, jadi kupikir itu sampah. Jadi, aku buang.”
“Astagfirullah Maaaas. Kamu ini kenapa tidak tanya dulu? Kenapa Mas selalu bikin kita berdua sial? Modal kita terbatas, sekarang kau malah buang modal terakhir itu. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Sudah habis harta kita lantaran ulahmu. Berjudi, mabuk, apa lagi? Main perempuan juga? Sudah gila, edan, buyan pulo,” Rosita tak hentinya merutuki, merembet, merepet kemana-mana, menyesali nasib yang menimpanya. “Nyesel aku nikah sama kamu!”
Mendengar ujung kalimat itu, darah Hasyim tiba-tiba naik ke ujung kepala, sontak ia lempar pisin bertumpang risol dan bakwan yang diraihnya dari depan mulut pelanggan. lemparannya meluncur hampir mengenai badan Rosita lalu pecah berkeping menubruk etalase kaca. Para pelanggan melongo dan bingung. Takut mereka kalau-kalau turut campur ke dalam soal laki-bini.
“Sampean pikir aku gak nyesel kawin dengan sampean! Sepuluh tahun kawin, gak bisa sampean kasih aku anak! Wadon mandul!” Runtuh sudah benteng kesabaran Hasyim. Maka yang keluar adalah bendungan keluh yang selama ini ia pendam. Kini, telah pecah hati keduanya. Detak jam dan angin malam seakan berhenti akibat canggung. Para pelanggan yang tengah mengunyah tempe bacem seketika itu kelu lidahnya, tertunduk pandangannya, laiknya bocah yang kena bentak sang bapak.
Sesaat segalanya seakan berhenti bergerak, hingga akhirnya hening pecah lantaran isak tangis yang tak lagi mampu ditahan Rosita. Air mata mendera mulut dan pipinya. Sementara di hadapannya, Hasyim termangu, gemetar tangannya, lemas kakinya menahan sengal amarah yang kini mulai menguap ke udara. Tak satu pun kata berani lompat dari mulutnya, hanya sesal yang kini mengganjal. Seketika Hasyim berbalik dan pergi tanpa sepatah kata, meninggalkan malam yang kian dingin melumat tubuh-tubuh yang membisu. Sejak saat itu, tak pernah Hasyim kembali. Tinggallah Rosita seorang diri.
***
Malam itu, saat gerimis datang beberapa iris, Gepeng datang menagih ke satu-satunya tempat Rosita menghindarkan diri dari rumah yang kerap dirongrong para parewa. Di antara mereka, Gepenglah yang paling getol mengetuk pintu rumah. Sampai tercetak wajahnya dalam ingatan Rosita. Ia tagihkan sisa piutang Hasyim pada Rosita. Sepandai apapun Rosita mengiba, merajuk, menghinakan diri, menjelaskan bahwa Hasyim sudah hilang bagai ditelan bumi, tiada Gepeng mau mengerti. Perabotan seisi rumah telah habis sudah, hanyalah alas tikar untuk tidur dan beberapa potong pakaian yang tersisa. Sehari-hari Rosita bertahan dengan penghasilannya yang tak seberapa, tentu karena hampir seluruh keuntungannya ia sisihkan untuk menyelesaikan piutangnya.
“Maaf Bang, sumpah, uangnya belum ada. Malam ini jualan saya sepi lantaran hujan. Abang lihat sendiri,” rajuk Rosita.
“Heleh, ora urus! koen iki ra iso dipercaya. Kemarin bilangnya sesuk, sesuk. Saiki bilang ra ono! Wis, mending koen dadi Lonte, supaya bisa mbayar utang!” mendengar itu, Rosita naik pitam, diraihnya cangkir beling di hadapannya. Ia lempar sekencang-kencangnya hingga tepat mengenai pelipis Gepeng. Cangkir itu pecah berkeping-keping, sementara Gepeng meringis kesakitan menahan darah yang mengucur dengan kedua tangannya. Gepeng hendak melompat masuk ke dalam kedai namun dengan cepat para penjaja menghentikan.
“Lonte asu! Jiancuk! Badjingan! Awas koen! Bangsat!” Gepeng bersungut-sungut menahan murka yang menyesaki dadanya. Para penjaja di sekitar kedai semakin ramai menghampiri, menyapih Gepeng. “Awas koen! Lonte asu!” Dengan terpaksa, sambil tetap menekan lukanya, Gepeng pergi meninggalkan bercak-bercak darah yang tercecer di mana-mana.
Beberapa ibu paruh baya yang kiosnya berdekatan, memeluk Rosita, berupaya memberi tenang. Rosita duduk, mengobati lemas kaki dan dadanya. Perlahan kerubungan berkurang hingga akhirnya menghilang. Detik dan menit telah pergi, adonan marah dan tangis di hati Rosita berangsur surut. Ia bersiap lagi meladeni mulut-mulut para pemburu rezeki di antara lelap penghuni kota.
Beberapa saat kemudian, langit dini hari lebih terang dari biasa. Langit merah saga yang memuntahkan bara-bara api yang beterbangan berkendara asap kelabu. Para penghuni pasar mulai berhamburan keluar berharap bisa melihatnya sendiri dengan mata kepala. Beberapa dari mereka berlari menuju asal cahaya yang jaraknya tidak seberapa. “Kebakaraaaan! Kebakaraaaan!” Jerit seseorang berlari memberi warta kepada siapa saja. Menyaksikan itu, Rosita turut pergi menuju lokasi, meninggalkan kedainya yang masih berantakan akibat peristiwa tadi.
Langit merah saga, yang memuntahkan bara-bara api, yang tidak tunduk dihujam gerimis.
Para penduduk desa bahu membahu memadamkan api, dengan apa saja yang mereka punyai. Sebab menunggu mobil pemadam adalah sangsi, karena markasnya berada amat jauh dari sini.
Rosita tiba di muka, seketika, lagi-lagi dirangkul badannya oleh tangis dan marah yang kini semakin tiada beda. Bu RT bersama Dini, anaknya, berlari menghampiri menopang bahu Rosita yang tumbang.
“Sabar nduuuk, sing sabar. Gusti Allah sayang kamu nduk,” ucap Bu RT melelehkan air mata, “nelongso nasibmu. Jauh kamu datang dari pulau seberang. Dibawa bojomu kemari coba cari peruntungan. Lama nikah durung punya anak, kelilit hutang, eh bojomu malah minggat. Dan sekarang rumahmu satu-satunya juga ludes kebakaran,” air mata Bu RT semakin deras bercucuran. “Kak Ita pingsan Mak,” tandas Dini kepada ibunya. Raksasa merah belum kenyang, dengan lahap ia gerus satu-satunya harta yang tersisa.
***
Seminggu sudah Rosita tinggal di kedai. Tawaran Bu RT untuk tinggal sementara di rumahnya dengan lembut ditolak Rosita. Sementara permintaan Dini untuk membagikan kisah inidi tiktok tentu tak bisa lagi-lagi ditampiknya. Tak butuh waktu lama, konten itu mendapat banyak sekali dukungan. Kisah Rosita membangunkan banyak orang untuk turut menuntut keadilan, tidak terkecuali Bapak Bupati yang sangat terkenal dermawan dan getol menyambangi warganya yang tertimpa petaka.
Pagi itu, saat matahari jatuh sepenggalah, Pak Bupati disertai tim menyambangi kedai Rosita. Lantaran itu, kondisi pasar jadi lebih ramai dari biasa. Banyak yang datang hanya untuk berfoto dan salaman dengan sang pemimpin idaman. Betapa kaget Rosita ketika tiba-tiba ditodong kamera. Tim Pak Bupati kemudian dengan sigap mengatur tempat duduk supaya kamera lebih leluasa merekam Pak Bupati dengan Rosita bicara. Dengan penuh empati, kecermatan serta perhatian, Pak Bupati berhasil menarik Rosita keluar dari persembunyian untuk secara lengkap, secara gamblang dan secara jujur meluapkan beban di dadanya. Para penonton di lokasi pun tak sadar meneteskan duka, tak terkecuali Pak Bupati. Hatinya yang lembut seakan tertusuk duri.
“Sudah ya nduk tidak perlu risau ya, tidak perlu bersedih. Ini semua sudah takdir gusti Allah. Sedih sesaat, wajar. Tetapi setelah semua itu, kita harus bangkit ya. Jangan larut dalam kesedihan, larut dalam kehilangan. Nduk, rumahmu akan saya bangun kembali. Hutang piutangmu akan saya lunasi. Saya juga akan berusaha sekuat tenaga mengusut soal terbakarnya rumahmu. Menyoal suamimu, saya doakan kamu agar tabah. Ingat nduk, kamu itu masih muda, cantik, juga gigih. Jalan hidupmu masih amat panjang dan lapang.” Pak Bupati kemudian mengelus kepala Rosita seolah kepada anaknya sendiri. Luruh hujan dari mata Rosita. Tak terkira baginya, ada lelaki yang masih bisa dipercaya. Riuh tepuk tangan bergemuruh menyaksikan peristiwa haru-biru itu. Hilang semua gundah di dada Rosita. Ia temui kembali sosok Bapaknya yang telah tiada, yang mampu membelanya dari segala beban dan duka.
Sejak saat itu, telah Rosita putuskan untuk membalas budi baik Pak Bupati. Maka ketika Pak Bupati mengikuti kontestasi politik tertinggi sebagai calon presiden, Rosita putuskan untuk penuh mendukungnya sukarela. Perjuangan Rosita tidak hanya kampanye dari warga ke warga, tetapi juga melalui sosial media yang kini ia tekuni di sela-sela usaha. Tampaknya, dialognya dengan Pak Bupati viral, membikinnya diserbu pengikut yang menaruh iba.
Dua tahun sudah Rosita menekuni menjadi salah satu bagian penting simpul relawan Pak Bupati. Ia merasa telah menemukan kenikmatan dan tujuan sebagai seorang relawan, yang bisa menyalurkan cinta dengan tulus, ikhlas tanpa syarat ajuan. Maka ketika Pak Bupati dinyatakan menang dalam pemilu Presiden, bukan alang-kepalang, bukan main Rosita senang. Diundangnya para warga ke rumah guna menggelar tasyakuran, dibaginya para yatim piatu santunan uang dan makan. Rosita pikir, bahagia ini bukanlah miliknya seorang.
Pasca-kemenangan itu, pesta rakyat akan segera digelar di sebuah stadion megah di Jakarta. Dengan uang tabungan yang tersisa, Rosita menyewa bus kapasitas 60 orang untuk memboyong warga desa. Jelas, para warga desa merasa bahagia atas ajakan itu. Tapi tentu tidak bisa diangkut semua. Hanya yang masuk kriteria versi Rosita yang boleh ikut.
“Kak Ita, Kak, bangun kak, kita sudah sampai,” Dini guncang tubuh Rosita agar lekas membuka mata, sebab mimpi telah menjadi nyata. Perlahan Rosita luruskan badannya. Dipicing-picingkannya matanya menembus jendela, sekadar memastikan bahwa mereka sudah di tempat yang benar adanya.
Di luar bus, orang-orang telah memadati lapangan parkir, jalanan hingga gerbang stadion. Bendera-bendera yang tak pernah dikenalnya berkibar memadati langit Jakarta. Perlahan para warga desa, Dini dan Rosita merangsek masuk. Tak lagi dirasanya pening kepala dan pucat bibirnya. Suka yang memadati ruang hati Rosita telah berubah menjadi tenaga. Rosita dan rombongannya terus memaksa agar sampai tempat terdekat dengan panggung. Supaya lebih jelas melihat pidato Pak Bupati, pikirnya.
Pak Bupati yang kini telah bertransformasi menjadi Pak Presiden mulai terdengar suaranya lewat pengeras-pengeras suara. Rosita dan rombongannya terus berjuang hingga akhirnya sampai di tempat yang sempurna. “Paaak! Ini saya Pak! Rosita!” Rosita berteriak sekuat tenaga supaya Presiden bisa dengar. Merasa suaranya belum cukup terdengar, ia lanjutkan merangsek semakin ke depan. Setibanya di bibir panggung, para petinggi partai di sekeliling Presiden memerintahkan pasukan pengawal khusus untuk menghentikan Rosita. Maka seorang laki-laki berpakaian serba hitam merangkul pundak Rosita. Seketika suara gemuruh pesta rakyat menghilang tidak terdengar sebab kuping Rosita berdenging. Lutut yang barusan kokoh seketika menjadi lunglai. Laki-laki berpakain serba hitam itu, Rosita mengenalnya. Hanya, kini, ada bekas luka di pelipisnya.
Tangerang, 2023