Syahdan. Dari sekian banyak puisi yang dihimpun dalam antologi ini, dan dengan segala perbedaan karakternya masing-masing telah mengajarkan satu hal, yang kami rasa cukup sejalan dengan uraian Wolfgang Iser dalam The Act of Reading, bahwa makna sebuah teks sastra bukan milik teks saja, bukan milik pembaca saja, melainkan lahir di antara keduanya, dalam segala medan fenomena peristiwa pembacaan itu sendiri. Setiap pembaca yang berbeda akan membawa pengalaman batin yang berbeda, dan karena itu, setiap pembacaan menghasilkan beragam jenis bunga yang berbeda dari benih puisi yang sama.

Kejutan dalam puisi, dengan demikian, bukan tentang sesuatu yang tersembunyi dan tiba-tiba terungkap. Kejutan dalam puisi adalah tentang pengenalan, tentang mendapati bahwa sesuatu yang sudah kita ketahui, yang sudah kita rasakan, yang sudah kita hidupi selama bertahun-tahun, ternyata bisa diucapkan dengan cara yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Shklovsky menyebutnya sebagai defamiliarisasi; Bachelard menyebutnya resonansi; Iser menyebutnya fenomena pembacaan; dan kami lebih suka menyebutnya kejutan di setangkai bunga puisi.

Sebab, bunga itu tidak jatuh dari langit, ia tumbuh dari tanah yang sama tempat kita hidup. Tapi saat bunga itu mekar, dengan warna yang tepat, di waktu yang tepat, di hadapan mata pembaca yang sabar untuk melihat, ia akan terasa seperti kejutan pertama: seolah-olah dunia baru saja mengembalikan sesuatu yang lama dengan cara baru yang indah-mempesona. Dan kami rasa begitulah puisi bekerja, bukan memberi kita sesuatu yang baru, melainkan mengembalikan kepada kita sesuatu yang lama dengan cara yang berbeda dari biasanya, lebih ajaib dan penuh kejutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *