Manabaya
0
jika leluhurku bukan siwa
dan ayahandaku bukan rawana
mungkin aku tak akan lahir
ke dunia
dalam rahim
kematian bunda
00
patih sombali!
kematian bunda Manondari
adalah dendam seumur hidupku
kepada para dewa
dengarlah, patih sombali!
atas nama Lengkapura dan
atas nama bunda: akan kutanggung
seluruh deritanya: akan kutantang
seluruh dewa di kayangan.
000
akulah Manabaya
akulah manusia
yang lahir dari kematian
yang lahir dari luka
di sini; di palasari;
di bukit simiri-miri;
di atas kuburan
ayahanda dan bunda
aku menantang kalian
segenap dewa!
turunlah ke gelanggang dunia
kupanggil wisnu yang pertama;
brahma kedua; indra ketiga; dan lalu
serentak seluruh dewata; termasuk siwa!
terimalah letusan lahar api
pegunungan dendamku
terimalah tsunami gelombang
lautan dari lakon hidupku.
Manondari
seharusnya
perang
tak pernah
ada
selayaknya kehidupan para dewa
seharusnya
perang
tak punya
makna
karena wanita tumbal pertamanya
tapi mengapa manusia
harus menerimanya;
tapi mengapa manusia
rela melakoninya.
Rawana
karena jiwaku adalah siwa
maka kucari-cari jiwa parwati
kutemukan sita:
kutemukan
kembali
surga.
catatan: tiga puisi di atas merupakan serangkaian perjalanan reflektif-rekreatif ketika membaca naskah Sunda Kuna berjudul “Para Putera Rama dan Rawana”. Naskah tersebut secara kreatif ditulis oleh Pujangga Sunda dalam mengadaptasi serta mengelaborasi Epos Ramayana dari India, sebab kisahnya itu disesuaikan dengan topografi Sunda dan terciptanya penokohan baru dalam jalan ceritanya.

