(Sebuah Pucklore)
Kisah di bawah ini bermula dari Pantun Bogor berjudul Ngadegna Nagara Pajajaran atau sering juga disebut Pakujajar Beukah Kembang, yang konon katanya merupakan tuturan Juru Pantun Ki Buyut Baju Rambeng, lalu diarsipkan oleh Rakean Minda Kalangan, dan disalin ulang oleh Anis Djati Sunda. Kini, kisah itu saya pucklore-kan dengan prosesi adaptasi plus rekonstruksi secara bebas sekaligus merdeka. Selamat menikmati Pucklore ini!
Panembrama
Pun, Sapun! Kepada Dialah Sang Maha Agung yang berasal dan bersemayam dikesucian batas ruang, waktu, dan kejadian.
Ahung! Kepada Guru segala Guru, kepada Raja segala Raja, ya kepadanyalah yang berasal dari kesucian, yang bersemayam dikelanggengan, yang langgeng-tunggal dikesejatian: ya kepadanyalah, yang mempunyai seluruh jagat, yang mempunyai seluruh alam-semesta. Ahung!
Pun, Sapun! Kepada Dialah Sang Maha Gaib, Guru Hyang Tunggal, Hyang Wening, Hyang Wenang, Hyang Maha Kuasa: dan kepada semua yang berada di Kayangan. Paralun!
Pun! Sapun! Kepada seluruh yang hidup sejagat, kepada seluruh yang hidup berbeda alam, ya kepada Batara, kepada Batari, kepada para leluhur di lingkaran semesta, ya kepadanyalah segala naungan keselamatan.
Paralun, Pun! Saya bermaksud meminta dituntun. Meminta bantuan tak kasat-mata penjaga ruang dan waktu. Meminta diterangkan yang gelap, meminta petunjuk sebab-akibat, meminta arah jalan panjang yang sesuai harapan. Sebab dunia kadang tak sesuai anganan.
Dan saya bermaksud menyusul cerita lampau, menempuh makna yang lama hilang, menyusuri peristiwa yang terkubur, mencari-cari segala cerita yang samar: samar-samar oleh pandangan pengetahuan.
Lihatlah: belum sampai jauhnya perjalanan ini, belum bisa mendaki keluasan cakrawala, belum bisa menyelam makna dasar samudra. Inilah saatnya: saya mulai mencari alur berikut lajur ceritanya, sudah muak rasanya karena lama menunggu proses pasang-surut kedangkalan. Kini waktunya kembali memusatkan tekad yang sejak lama rindu sebuah cerita.
Eits. Memangnya siapa yang meminta cerita?
Ya, merekalah yang merindukan cerita, yang hidupnya penuh dengan rasa penasaran: antara masa silam, masa kini, dan masa depan. Penasaran karena mereka berpikir tak mungkin orang Sunda miskin cerita!
Lalu, siapa yang akan diceritakan?
Ya, cerita leluhur merekalah yang akan disusuri jalan panjangnya, walaupun ceritanya dipenuhi dan selalu diselimuti rahasia. Malahan banyak orang yang tak percaya akan berbagai cerita hidup dan mati jejak leluhurnya. Tapi, merekalah juga akhirnya yang tetap menjaga berlangsungnya jalan cerita, ada dan tiadanya manusia Sunda: sebuah peninggalan dan kemegahan atas kerajaannya, kisah megah perjalanan ilmu-pengetahuannya, peristiwa kelam dari keruntuhan bangsanya, juga hidup maupun matinya sebagai manusia.
Sekarang, jangan mau dikisahkan sebagai pemenang jika serupa sebilah bambu yang pada akhirnya diinjak-injak. Lebih baik menjadi kisah yang gugur sebagai Pohon Kawung, walaupun sudah tak mengeluarkan lagi air-niranya: setidaknya tetesan terakhirnya itu akan membuat wangi sekeliling alam lingkungan, dari zaman ke zaman semerbak wanginya tak pernah hilang ditelan angin, tak berkesudahan.
I
Pada suatu cerita, dikisahkan Prabu Anom dari Pajajaran, Pajajaran pada masa lampau, tepatnya di Pamoyanan. Pamoyanan yang dimaksud juga adalah Pamoyanan di masa lampau. Pamoyanan yang bukan berarti tempat di mana biasanya para Putri-putri berjemur, melainkan tempat berjemur berbagai hewan seperti Badak, Banteng, Macan, yang kadangkala berjemur bersama para Burung Merak yang indah mempesona.
Di Pamoyanan itu, Prabu Anom ditemani si Lengser. Suasana lebih sunyi dari biasanya, langit mendung kelabu dan berawan tebal. Tak lama, segala nyanyian alam bersahutan: kicau burung menggoda angin agar hewan-hewan lainnya ikut bernyanyi menyumbankang suara. Nyanyian-nyanyian alam itu memeriahkan keadaan alam Pajajaran, nyanyian-nyanyian alam itu mengantarkannya pada kehidupan masa yang jauh lebih silam: sebuah kisah yang dirajutnya secara berulang-ulang, menziarahi bagaimana cerita tanah kelahirannya bermula, dan seperti apa kisah nenek-moyangnya.
“Lengser! Siapa sebenarnya yang mendirikan Pakuan Pajajaran ini?,” tanya Prabu Anom.
“Ya, tak tahu, Raden!” Jawab si Lengser tanpa pertimbangan.
“Loh, bukankah Anda sudah hidup lebih lama di sini. Anda yang paling tua di Pakuan Pajajaran ini. Anda juga yang mengasuh seluruh Raja-raja terdahulu, yang merajai Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran ini.”
“Saya tua hanya dalam umur, Raden. Di Pajajaran ini tentu belumlah lama, mungkin baru seribu tahun lebih satu hari, atau mungkin lebih seratus hari.”
“Seribu tahun lebih satu hari atau seratus hari tentulah sudah menyaksikan bahkan merekam putaran kisah-peristiwa di Pajajaran ini. Jangan bercanda, Lengser!”
“Raden. Persoalan umur dan pengetahuan kadang tak sejalan. Banyak kasus dan contohnya, mereka yang berumur tua, bahkan yang tinggi pangkat berikut jabatannya, dapat kita pastikan banyak yang tak berisi pengetahuannya. Namun, jika Raden ingin jelas mengetahuinya, mari kita tanya Resi yang menjadi lumbung ilmu-pengetahuan. Kepada Resi-lah segala kisah dicatat, segala kenangan diserat, dan segala kejadian-peristiwa tersimpan rapi-terdokumentasikan.”
Ketika Prabu Anom hendak menjawab, tak lama si Lengser melanjutkan, “dan Raden, para Resi biasanya berada di daerah pegunungan, mereka seorang pertapa yang senang berteman sunyi, salah satunya ada yang berjaga dan berumah di sekitar Telaga Warna, di Gunung Mandala Wangi tepatnya.”
“Baiklah kalau begitu. Mari sekarang kita berangkat ke Gunung Mandala Wangi!”
“Eeeh, jangan tergesa-gesa, Raden.”
“Cukup, jangan menyahut lagi, Lengser! Ayo cepat bergegas kita berangkat sekarang.”
“Eeeh, Raden, yaudah deh.”
Lalu mereka berjalan meninggalkan Pamoyanan dan sampai ke Umbul. Mereka melewati Pakancilan, menyusuri Windu Cinta, dan tibalah mereka ke halaman luar Keraton. Lalu mereka terus berjalan melewati Pancawara, melewati Pakeun Caringin, berjalan lewat Nangka Anak, berjalan ke Tajur Mandiri, terus berjalan ke Suka Beureus, melewati Tajur Nyanghalang, menyeberangi sungai Cihaliwung, mendaki ke Bangkis, ke Talaga Hening, terus berjalan dan sampai ke Peusing.
Setelah semua itu dilewati, mereka mengambil jalan pintas, dengan menyeberang sungai Cilingga, kembali menanjak ke Putih Birit, tanjakan panjang itu mereka daki, selangkah demi selangkah, dan tibalah mereka di Puncak, di Bukit Ageung, puncak tertinggi di wilayah Pakuan1. Mereka lalu terus mendaki, dan sampai di puncak Gunung Mandala Wangi. Tapi bukan mandala yang harum wanginya, melainkan wanginya berasal dari mandala. Gunung Mandala Wangi itu dibilang taman tapi bukan. Dibilang keramat tapi tak ada satu pun kuburan. Dibilang petilasan tapi masih ramai dikunjungi orang-orang.
Di Gunung Mandala Wangi itu suasana begitu sunyi, dinginnya sangat menggigil, sebab hujan dan kabut tebal tak pernah absen menyelimutinya. Sebelum sampai ke puncak, mereka dinaungi pohon-pohon tinggi menjulang dan besarnya tak terkira. Terdengar pula suara nyanyian alam: burung-burung berkicauan, melodi tonggeret bersahutan, teriakan lutung dan surili, suara bajing yang meloncat dari pohon ke pohon, dari dahan ke dahan, berlarian dan berkejaran. Lalu terdengar juga suara gemericik air terjun, “eeeh Raden, ini seperti suara perempuan kencing di sepertiga malam”, celetuk si Lengser kepada Prabu Anom yang acuh pada gurauannya.
Sesampainya di puncak gunung dan tepat di sabana lapang Mandala Wangi, pemandangan penuh dengan rumput-rumput yang hijau, di tengah-tengahnya terhimpun tiga batu yang berundak tujuh. Tak ada pohon dan bahkan ranting yang menghalangi pandangan mata, segalanya terbentang luas, segala pemandangan indah menakjubkan, dan segalanya sunyi dan dingin tak terkira.
Di sisi padang rumput yang menghadap Gunung Gede, si Lengser bergumam. Bergumam tiga kali dan menyembah tiga kali. Tapi gumamnya terdengar samar-samar, seperti ingin membersamai kesunyian alam. Setelah itu, ia menghampiri tiga batu yang berundak tujuh dengan berjalan menyamping, dan ketika tepat sampai di tengah-tengah tiga batu berundak tujuh itu, ia lalu duduk dan tengadah menghadap ke langit.
Si Lengser kembali menyembah dan kembali bergumam. Menyembah tujuh kali dan bergumam tujuh kali. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri karena merinding. Ia menyembah sambil menengok beberapa kali ke kanan, ke kiri, dan ketika akan menengok ke belakang, ia berkata di dalam hatinya, “eeeh, jangan menengok ke belakang, ada Prabu Anom. Eeeh, tapi ini mengapa aura-suasananya menakutkan sekaligus mencekam! Suasana ini serupa ketika saya menyaksikan orang Sunda tergiur budaya luar, tergiur pangkat dan kekuasaan, lalu meninggalkan budayanya sendiri. Sama seperti saya menyaksikan orang Sunda Pajajaran Tengah cacat berpikir, merasa, memaknai persoalan yang datang dari Utara, Selatan, Timur, Barat, yang lalu membikin keributan antara Sunda dengan Sunda, berebut takhta dan kekuasaan.”
Setelah melewati hawa dingin, rasa takut yang mencekam, dan pergulatan batinnya, si Lengser kembali menyembah. Menyembah tujuh kali dan bergumam tujuh kali. Perlahan ia duduk dan menyilangkan kakinya. Sekarang ia menyembah tiga kali tanpa bergumam. Tak lama, ia lalu berdiri, dan secara perlahan-lahan berjalan secara menyamping ke arah Timur.
“Kenapa berjalan begitu, Lengser?” Gerutu Prabu Anom.
“Tak seperti yang Raden lihat dan bayangkan.” Jawab si Lengser.
“Lalu mau apa kamu ke sana? Bukankah honjenya sudah habis dimakan monyet?”
“Saya bukan mau mengambil honje, Raden. Saya hendak mencari ranting-kayu dan daun-daun kering untuk menyalakan api di Pamunjungan.”
“Menyalakan api untuk apa? Memasak daun singkong? Celaka kamu Lengser jika menyalakan api apalagi memasak di Pamunjungan.”
“Eeeh, Raden, bukan untuk itu, bukan sama sekali. Lihat saja, tak ada daun singkong di sini. Kalaupun ada pasti pohonnya pun tak mampu untuk berakar di tempat seperti ini. Itulah mengapa, Raden, saya menyalakan api juga untuk mengambil baranya guna menyalakan menyan.”
Sehabis mengumpulkan bahan bakar tepat di depan tiga batu yang berundak tujuh, si Lengser lalu mulai dengan menggesek pemantik api. Gesekan pertama, api menyala sebentar namun mati kembali. Gesekan kedua, ketiga, keempat, kelima masih sama. Dan barulah sampai gesekan kesepuluh, api menyala, hampir-hampir mengenai sarungnya. Walau terperanjat kaget, untung saja ia dengan sigap menghindari nyala api yang menyambar itu.
Bergegas si Lengser mengambil sesajen dan mulai membakar serta meletakan kemenyan yang berwangi kemuning itu di sekeliling batu tiga berundak tujuh. Asap kemenyan yang dibakar perlahan-lahan mengudara berbarengan dengan mantra Aji Penyeluk yang dilantunkan si Lengser, yang ia sebut Jangjawokan Panyinglar Kunti:
“Sir, sir, kabulen sir
Kabulen rasa dilulun sir
Sir ti ati ati, sir ka diri
Diri siya, rasa siya, karasa ku diri ngaing;
Rasa siya teu kadeuleu,
Teu kadeuleu mata manusa;
Padahal ngaing nyaho;
Tonggong siya nu gorowong,
Ngaran siya teh nya: kunti!
Truk getruk, panciring rasa,
Nyocok ku siya di siwuykeun,
Tina hiji jadi opat,
Anu opat tapi ngahiji,
Anu copong lain gorowong,
Anu nyodong hanteu katembong.
Tapi, ain panyicingan enggon siya!
Ingkah! ulah deukeut ulah parek;
Ulah siya wani-wani
Ngaheureuyan marganing sukma!
Ingkah!
Amun siya hanteu purun;
Ku ngaing dihaluwan
Ditutu, dilisung gorowong sia;
Mun teu purun siya dipantek
Keuna kawung di tegal gundul
Hayuh, geura siya ingkah!
Kaditu, ka gintung di pasir bitung;
Pasir bitung anu mana?
(pasir bitung di catur pantun: 1)
geura ingkah, ka handap di pasir badak
pasir badak anu mana?
(pasir badak dina carita: 2)
geura mantog; ka jengkol lebah pengkolan;
pengkolan jengkol anu mana?
(ka pengkolan, ka tangkal jengkol nu
ku kaula teu kaliwatan 3)
Singlar, singlaaaaaaaaaaaaaar!”
(catatan: katanya menurut cerita, menurut saksi-saksi yang melihat dengan bukti, Pohon Gintung dan Jengkol merupakan kesukaan kuntilanak, Kelong, dan sejenisnya karena mereka senang menghuninya. Katanya sih begitu).
Lalu si Lengser melantunkan mantra pamunah untuk berdialektika dengan para Dedemit:
“kunyit bodas haneut jahe,
panglay ngaran panglayuan;
ngalayukeun jeung munahkeun
sagala gawe ti beda pikir;
pikir kula di manusa
pikir dia di dedemit;
teu ku siya deuk kapikir,
teu ku siya dipikir heula;
kadupak da bongan siya,
katajong da bongan siya,
kadiyukan da bongan siya,
kababuk da bongan siya,
katenggor da bongan siya,
kaciduhan da bongan siya,
kakiihan da bongan siya,
apan siya mah teu kadeuleu ku mata manusa;
tapi siiiiiiiiiiiiya nu neuleu,
kunaha hanteu ised,
kunaha teu ngabejaan!?
ulah siya eundeuk licik
ulah siya deuk anjukan;
hayuh, esotkeun; nyingkah!
nyingkah!
beusi dibura mata siya,
kaciduhan reuhak pajajaran!”
Huaks. Si Lengser seperti hendak mengeluarkan dahaknya. Ketika hendak dibuang ke depan ada batu Pamunjungan, hendak dibuang ke kanan ada Prabu Anom, hendak dibuang ke kiri banyak perlengkapan menyan, akhirnya ia memilih untuk membuang ke belakang.
Setelah itu, ia melantunkan Adji Panyeluk, mendekatkan diri kepada yang berjarak—yang berada di Kayangan, agar turun ke Pamunjungan. Dengan kidung khas kidung si Lengser, walau kadang suaranya kurang mengenakan, yang penting sari-sari dari kidung itu sendiri. Sebab yang hendak datang adalah para leluhur di panggung Agung, bukan lagu yang hanya melagu, bukan ucap yang hanya direka, tapi keindahan dari rasa, dari jauh lubuk hati yang satu—yang tunggal.
Puruluk, wur….bul, bulikbek.
Asap menyan mengumpul serupa asap dari tempat yang terbakar. Lalu si Lengser bergumam kembali, dan lalu:
“Bul kukus ke Bale Agung, kepada yang senang bergantungan mengayunkan kakinya, kepada yang senang berbohong, kepada yang senang menangis pura-pura, tidak berpikir susah makanan, tidak berpikir tidak punya nasi dan garam, eeeh melantur! Maaf, Eyang, maaf. Akan saya ulangi kembali, maaf. Bagaimana dong jadi bingung, Eyang. Risiko jadi keluarga kan mesti nurut kalau kata Menak mau digantung, mesti tertawa kalau kata Menak mau dipenggal, mesti bersenandung kalau kata Menak membayar pajak, semakin banyak semakin berat tanggungannya. Sebab Raja itu tak pernah tahu persoalannya.”
Si Lengser lalu bergumam kembali, lalu bersenandung kembali. Menurutnya serupa kidung, Kidung Panggendam namanya:
“bul kukus ngebul ka ruhur,
ka bale agung di panggung agung;
ka nu araya di pasanggrahan,
pasanggrahan di awun-awun,
di saluhureun pucuk ibun
di tenggaan ku kuwung-kuwung,
direregan ku layung paul,
diamparan mega kancana:
baheula kumaha carita?
Mun tungara, geura sambat
Mun keur liwung, geura celuk
Eyaaaaaaang, geura lungsur,
Geura medal ti kahiyangan:
Ieu ngaing, si Lengser, incu eyang
Ngadeuheus di pamunjungan.”
Lalu si Lengser menunduk, menyatukan raga, menyatukan rasa, bersatu dengan sukma yang sejati. Tidak begitu jelas bagaimana mulanya, yang pasti tak lama lagi tercium wangi Cempaka, semerbak wanginya disambung oleh wangi Tanjung, bersemilir wangi Kemuning, semua wangi bersatu-padu.
“Lihat, Raden, sudah mulai terbaca kedatangannya.” Kata si Lengser.
“Apa maksudnya?”
“Leluhur yang kita panggil, Raden.”
“Siapa, Lengser?”
“Eyang Resi Handeula Wangi!”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Dari harum mewangi tadi yang bersemilir, Raden.”
“Katanya kalau Kayangan wanginya Kasturi, tadi tak tercium bau Kasturi!”
“Raden, bau Kasturi itu bukan ciri leluhur kita, bau Kasturi itu biasanya mendatangkan leluhur berbaju hitam.”
“Tapi saya tak paham, mengapa kamu menyebut eyang pada leluhur, tetapi masih saja memakai kata ngaiing?”
“Eeeh, Raden, hal itu karena lantaran derajat dia lebih tinggi, lalu wajar jika saya memakai kata *ngaaing karena saya lebih tua dibanding dia.”
“Tapi mengapa dia memakai bahasa *kula, bukankah dia lebih tua dari saya, Lengser?”
“Raden. Walaupun umur dia tua, tinggi pengetahuannya dan derajatnya, tapi jika dibandingkan dengan Raden, ia tetap bawahan Raden. Apakah Raden lupa, Raden itu penerus yang akan menjadi Raja, putra dari Prabu Aji Wangi Kusumah, incu dari sang Aji Jagat Larang, buyut dari Sang Aji Sri Telaju Sana, cangguh sang Aji Sri Wiladara, bao Sanghyang Wadureja, wareng Sanghyang Sri Salu Angkararan, eyang Sanghyang Hara nu Niskala, jengga Sanghyang Sura Anggara, kasta Sanghyang Wastu Upasita, nawang Sanghyang Jamba, wisak Sanghyang Wilasara, rawayan Sanghyang Wisnu brata, rawayan Sanghyang Agung Dwi Jagat yang berasal di Kayangan. Diam, Raden, dengar suara gemuruh itu, kita harus menunduk, jangan melihat.”
“Sttt, saya juga tahu itu. Memangnya kalau lihat kenapa, Lengser?”
“Saya pastikan Raden akan kaget dan repot nantinya! Sebab, di sini tak ada perempuan cantik dan montok, Raden,”
“Yasudah kalau tak ada perempuan!”
“Kalau ada?”
“Eeeh kalau ada, kaget dan repot juga tak apa-apalah Lengser!”
Jlep! Suasana hening di Pamunjungan. Suasana terasa amat dingin, sunyi-sepi tak terkira. Bahkan, batu tiga yang berundak tujuh tiba-tiba tak terlihat, ditutupi kabut tebal menyelimuti, dan di tengah-tengah kabut itu muncul cahaya yang terang-benderang.
Suasana semakin hening. tak lama di tengah-tengah kabut dan tepat di titik munculnya cahaya, terlihat seseorang sedang bersila, penampilannya serba putih, tetapi bukan model jubah—bukan pula serupa sarung. Putihnya serupa kapas, bahannya lebih dari sutra. Seperti ditenun oleh perempuan yang bertapa di Gunung Sembung, yang bertapa sambil menenun. Seseorang itu memiliki janggut berwarna putih yang tebal, kumisnya bagai macan Gunung Hanjuang, alisnya juga tebal bagai Kembang Kaso, rambutnya panjang terurai melewati pundak, semua itu berwarna putih. Katanya semua itu citra dari leluhur Sunda Pajajaran.
Seseorang yang sedang bersila itu tak lama bergumam. Suaranya cukup merdu didengar, sama sekali tak menakutkan.
“Terima kasih, Eyang, anda bersedia datang.” Kata si Lengser sembari menyembah.
“Memaksakan diri, Lengser, walaupun ngantuk, karena tiba-tiba ada yang memanggil-manggil.” Jawab Eyang Resi Handeula Wangi yang sedang bersila.
“Dasar, Eyang kan masih terbilang muda dibanding saya, bahkan sangat baru masuk ke masa tuanya.”
“Bukan soal tua atau muda, Lengser. Eyang ngantuk karena semalam kebagian ronda di Paseban. Waktu meronda itu Eyang mendengar suara-suara aneh yang menghampiri, entah apa itu. Yang pasti suara-suaranya bising, seperti suara-suara orang yang rindu kehidupan nenek-moyangnya.”
“Lalu, kira-kira apa dan siapa itu, Eyang?”
“Ya, tak tahu Lengser. Tapi mengapa kamu memanggil-manggil, ada apa?”
“Mustahil Eyang tak tahu, jangan bercanda mulu Eyang. Oya, ini saya mengantarkan Prabu Anom yang ingin menanyakan sesuatu.”
“Prabu Anom dari mana?”
“Eeeh, bercanda mulu, Eyang, masa tak tahu. Eyang kan Resi Handeula Wangi selalu waspada atas penglihatannya. Coba lihat lagi!”
“Mau resi atau bukan, kalau lupa mah lupa saja, apalagi sudah muda gini sering lupa. Hmmm. Ya, Eyang inget. Wah, cucu Ciyung, putu Lutung, tedak Badak, darah Kusumah. Si kasep Galeuh Wening Brama Wangi. Tanda berbagai makna bintang-bintang, karena sudah banyak memahami, karena pernah berumah di Kayangan, sudah dituliskan di langit yang dipenuhi bintang-gemintang: Sakabarat, Jaya Liliran, Sundayana! Mana yang lebih dulu, mana yang terakhir, namun yang pasti ia hidup di dua alam, selamanya empat zaman.”
“Eyang, mengapa Eyang masih disebut Resi, bukankah Resi hanya untuk orang yang masih hidup?” Sambut Prabu Anom Brama Wangi.
“Walaupun Eyang sudah meninggalkan raga di dunia pagelaran, belum sampai pada waktunya untuk menetap utuh di Kayangan. Lalu, Eyang juga bukan ngahiyang, tetapi ngawereng geni! Ketika Eyang terlihat meninggal dan dibakar oleh orang-orang, itu bukan raga Eyang. Karena sebelum sampai api membakar, Eyang sudah berpindah ke Kayangan, melalui asap yang mengapung ke cakrawala. Untuk apa Eyang ke Kayangan? Karena Eyang mendapat tugas melanjutkan cerita yang tertunda, mesti menjaga berbagai kisah yang diwariskan. Karena nantinya, cerita dan kisah ini akan dianggap bohong belaka, cerita dan kisah yang akan disepelekan. Sebabnya, akan datang para pujangga dari tanah seberang: menyebabkan orang Sunda yang datang dari timur, dari barat, dari utara, dan dari selatan itu dibodohinya. Persoalan itu bermula dari leluhur mereka yang tak menyukai kehidupan dan kemewahan hidup Sunda Pajajaran.”
“Sejak kapan Eyang tinggal menetap di Pamunjungan ini?”
“Waktu masih zaman di Gunung Salak masih ada Gajah hidup berpasangan. Jangan tanyakan umur, Eyang tak menghitung umur sendiri. Tapi yang harus Raden ketahui, dahulu orang-orang sering menyebut Eyang dengan nama: Aki Balangantrang.”
“Semoga masih ingat, Eyang, siapa yang mendirikan kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran ini?”
“Sunda Pakuan Pajajaran yang mana? Yang awal atau yang baru?”
“Yang awal, Eyang.”
“Sunda atau Pakuan Pajajaran ini berdiri dalam tiga fase pertumbuhan, serupa Sempur sedang berbunga. Fase satu lamanya 350 tahun. Fase dua adalah masa-masa keemasan. Dan fase ketiga menuju masa akhir, sekitar 35 tahun gambaran lamanya. Jauh sebelum itu, sekitar 400 tahun yang lalu, sebelum berdiri Pakuan Pajajaran, namanya adalah Nagara Sunda, tanpa ada embel-embel tambahan apapun. Lalu, yang mendirikannya adalah Dewa Hyang Wenang dan Hyang Dewa Wening. Setelah itu dilanjutkan oleh Dewa Hyang Kala.”
Tak lama, Eyang Resi melanjutkan, “sejujurnya Eyang tak melihat langsung awal mula berdirinya Pakuan Pajajaran ini. Karena Eyang hanya diwariskan kisah-kisahnya dari para leluhur ketika berkumpul di Bale Agung.”
Suasana yang semula dingin dan sunyi dipenuhi kabut-kabut itu mulai berubah. Angin semilir dari berbagai arah, terdengar suara-suara hewan di Gunung Mandala Wangi, dan semakin tersibaklah kabut-kabut oleh cahaya matahari yang menyelinap di antara awan-awan kelabu.
Dengarkan! Kisah ini akan ditunda terlebih-dahulu. Bukan ditunda karena tak ada kelanjutannya, melainkan agar kita semua beristirahat sejenak, merenungkan kembali apa yang sudah terceritakan, memaknai kembali apa yang masih menjadi rahasia.
(bersambung)
- Rute perjalanan meminjam dari Kisah Bujangga Manik ↩︎

