SURAT-SURAT UNTUK BOGOR #3

Jika kita membaca serangkaian persoalan folklore, kita akan menemukan seorang yang pertama kali memperkenalkan istilah itu ke dalam dunia ilmu pengetahuan, bernama William John Thoms, seorang ahli kebudayaan antik (antiquarian) dari Inggris. Istilah itu diperkenalkan pertama kali pada waktu ia menerbitkan sebuah artikelnya dalam bentuk surat terbuka dalam majalah The Athenaeum No. 982, tanggal 22 Agustus 1846 (Dundes, 1965), dengan mempergunakan nama samaran Ambrose Merton. Dalam surat terbuka itu, Thoms mengakui bahwa ialah yang telah menciptakan istilah folklore untuk persoalan sopan santun, takhayul, balada, dan sejenisnya yang berkaitan dengan kisah masa lampau, yang sebelumnya disebut dengan istilah antiquities, popular antiquities, atau popular literature.

Minat terhadap antiquities itu timbul di Inggris pada masa kebangkitan romantisme dan nasionalisme abad ke-19, yang pada masa itu kebudayaan rakyat jelata yang dianggap hampir punah, mendapat perhatian dan cukup disanjung-sanjung. Menariknya, waktu diciptakannya istilah folklore itu, dalam kosa kata bahasa Inggris belum ada istilah untuk kebudayaan pada umumnya, sehingga ada kemungkinan bahwa istilah folklore itu dapat digunakan orang untuk menyatakan kebudayaan pada umumnya. Namun hal itu tidak terjadi, karena pada tahun 1865 E.B. Tylor memperkenalkan istilah culture ke dalam bahasa Inggris. Istilah itu untuk pertama kalinya ia ajukan di dalam karangannya yang berjudul, Researches into the Early History of Mankind and the Development of Civilization (1865). Istilah culture ini kemudian ia uraikan lebih lanjut, dalam bukunya yang berjudul Primitive Culture (1871), dengan arti kesatuan yang menyeluruh—terdiri dari pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat—dan semua kemampuan serta kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Walaupun istilah culture diperkenalkan lebih lambat kurang lebih 19 tahun dari istilah folklore, namun nasib telah menentukan bahwa istilah itu telah berhasil menggeser istilah folklore untuk diidentifikasikan persoalan kebudayaan pada umumnya, sedangkan istilah folklore hanya dipergunakan dalam arti kebudayaan yang lebih khusus: yaitu bagian kebudayaan yang diwariskan melalui lisan saja. Sebab, istilah culture itu pada perjalanannya sudah mulai disepakati dalam dunia ilmu antropologi, sedangkan mengenai istilah folklore itu sendiri masih timbul pertentangan di kalangan para ahli folklor itu sendiri, baik dari para ahli folklor humanistis (humanistic folklorist)—yang berlatar belakang ilmu bahasa dan kesusastraan, para ahli folklor antropologis (anthropological folklorist)—yang berlatar belakang ilmu antropologi, atau ahli folklor modern—yang berlatar belakang ilmu-ilmu interdisipliner.

Maka tak heran, jika kita membaca etimologi kata folklor (versi Indonesia), kita akan diarahkan pada gejala pengindonesiaan kata folklore yang bermula dari Inggris. Kata itu adalah kata majemuk, yang berasal dari dua kata dasar folk dan lore. Folk sendiri diartikan sebagai kata kolektif, sebagaimana menurut Alan Dundes (Dundes, 1965) misalnya, folk dimaknai sebagai sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, antara lain dapat berwujud: warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata pencaharian yang sama, bahasa yang sama, taraf pendidikan yang sama, dan agama yang sama. Namun yang lebih penting lagi adalah bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi, yakni kebudayaan yang telah mereka warisi secara turun-menurun, sedikitnya dua generasi, yang dapat mereka akui sebagai milik bersama. Di samping itu, yang paling penting adalah bahwa mereka sadar akan identitas kelompok mereka sendiri.

Sedangkan lore dimaksudkan sebagai tradisi atas folk (kolektif) itu sendiri, yaitu sebagian kebudayaannya, yang diwariskan secara turun-temurun, secara lisan, melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Maka, jika berbicara mengenai definisi folklor, secara umum, dapat kita rumuskan elaborasi dari tawaran Danandjaja (1984) yang berasal dari pendapat Jan Harold Brunvand, bahwa folklor merupakan peta dari sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara masyarakat kolektif itu sendiri, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat (pertunjukan) atau alat pembantu pengingat (rekaman).

Melalui serangkaian dunia folklore yang sudah dibahas, kami membuka kata baru untuk menghimpun apa yang mungkin dan yang memungkinkan dari dunia folklore itu sendiri, yakni Pucklore (selanjutnya dalam tulisan ini, kata pucklore akan menggantikan istilah folklore). Istilah pucklore dimaksudkan sebagai wahana yang mungkin plus memungkinkan dari dunia folklore, yang mengais dimensi fakelore, fucklore, folkloresque, dan bahkan urban legend. Dengan kata lain, apa-apa yang coba pucklore kerjakan adalah kemungkinan-kemungkinan yang mengarah ke dunia folklore itu sendiri. Sebagai contoh, kita bisa menceritakan ulang kisah yang telah diwariskan, kita bisa mengkaji plus meneliti secara kritis kisah yang telah diwarisi, dan kita bisa mengelaborasi, menambahkan, bahkan membuat ulang kisah yang telah diwariskan menjadi kisah yang lebih relevan dengan kehidupan hari ini.

Di Bogor khususnya, umumnya di wilayah yang dinaungi kebudayaan Sunda, dunia pucklore sedikit-banyaknya memiliki perhatian besar dalam kehidupan masyarakatnya. Sebab, jika kita telusuri lebih lanjut, cukup banyak sekali kisah pucklore yang diwariskan secara turun temurun, baik itu berupa teka-teki, peribahasa, nyanyian, mantra, tarian, maupun kisah-cerita yang mengais pembelajaran kehidupan. Misalnya, kisah-kisah yang cukup umum bertebaran, tentang kisah Prabu Siliwangi yang moksa di Gunung Salak karena dikejar-kejar anaknya, Prabu Kiansantang. Tentang macan yang merupakan jelmaan prajurit Prabu Siliwangi. Tentang buaya putih yang banyak menghuni sungai-sungai di Bogor. Tentang Pantun Bogor yang dipercayai sebagai kitab penerawangan masa akhir Pakuan Pajajaran. Tentang kepercayaan akan Sumur Tujuh yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Tentang upacara Sedekah Bumi. Tentang ritual Mencuci Kujang. Dan seterusnya—dan sebagainya.

Hal-hal tersebut di atas begitu memberikan warna yang cemerlang dalam dunia kebudayaan dan kesusastraan di Bogor. Padahal, jika kita secara sadar mengumpulkan, menginventarisasi, memberikan makna ulang, dan atau mengkritisi tingkat berpengaruhnya tradisi tersebut dalam kehidupan masyarakat, tentunya akan lebih menarik. Bahkan mungkin, banyak di antara kita tak menyadari bahwa sesuatu yang diucapkan, dikisahkan, bahkan yang dilakukan merupakan hasil dari penerimaan kita terhadap suatu kepercayaan yang bisa tergolong pucklore. Mengapa demikian? Karena kami sendiri tak membayangkan kalau-kalau banyak pucklore yang akhirnya hilang dan terlupakan.

Sejatinya, sebagaimana kebudayaan, pucklore pun menjadi sesuatu yang rapuh dan rentan tergerus arus perkembangan zaman dan informasi yang saling tumpang tindih. Di zaman dengan kemampuan teknologi yang tinggi, arus informasi kerap sekali tidak terkontrol dan tidak terkendali oleh manusia. Akhirnya, asupan informasi yang dikonsumsi pun semakin cepat masuk, cepat berlalu, dan kadang cepat juga dilupakan. Sebagaimana kekhawatiran para budayawan maupun para pegiat literasi.

Kirshenblatt-Gimblett pada tahun 1998 pernah mengeluarkan sebuah artikel berjudul Folklore’s Crisis. Pada tulisan tersebut, Gimbllet mengomentari secara “pedas” bahwa pada kenyataannya folklore (pucklore) dianggap sebagai komoditi rendahan dibanding budaya yang lainnya, yang resmi dan ilmiah. Banyak yang menggap juga bahwa pucklore akhirnya sebagai sekadar tradisi masa lalu, kuno, tua, dan tidak relevan karena tidak berkembang dengan zaman sekarang. Jika disadari, seperti yang telah dikatakan tadi bahwa, padahal secara tidak sadar masyarakat masih berhadapan dengan tradisi-tradisi sebagai bentuk ekspresi yang masih memenuhi fungsi tradisi lama. Dalam gagasannya Gimbllet justru memberikan saran bahwa bidang budaya rakyat dan penelitian budaya di dalamnya seharusnya berupaya mencari bentuk baru di tengah pesatnya perubahan sosial dan budaya global, termasuk teknologi.

Alih-alih dari pada pucklore disematkan pada sesuatu yang dianggap tidak rasional, seperti mitos, takhayul, atau narasi dan kisah yang tidak memiliki bukti sejarah, coba kita ambil sudut pandang lain untuk menyegarkan diri. Bisa saja kita putar bahwa pucklore jangan lagi dianggap sebagai kesalahan pengetahuan yang harus dibenarkan oleh sains dan dilarang oleh modernitas. Tapi, jauh dari itu justru Kirshenblatt-Gimblett mengajak kita untuk mengintip pada klaim folklor sebagai pengetahuan alternatif, cara lain manusia untuk membaca dan memahami dunia di luar batas kerangka rasional formal. Dan pada akhirnya, krisis pada pucklore seharusnya bukan persoalan pada tanda kehancuran dan kehilangan pucklore sebagai budaya, namun pada bentuk evolusinya. Percayalah bahwa pucklore akan terus hidup karena manusia akan selalu membutuhkan cara untuk berbagi makna, mengenang masa lalu, dan beradaptasi dengan zaman.

Dengan ungkapan bahwa tradisi (kebudayaan?) akan tetap hidup selama manusianya hidup, maka sebenarnya kami ingin mengajak seluruh masyarakat Bogor untuk menghidupi pucklore yang mungkin masih ada. Seperti halnya kebudayaan lain, pucklore kini bisa hidup berevolusi dengan penyesuaian yang signifikan sesuai dengan zamannya. Karena sejatinya, pucklore bisa mencirikan identitas suatu masyarakat yang membedakannya dengan masyarakat lainnya. Ditambah, kerja pucklore pada dasarnya sering mengais dimensi doktrin -> norma -> dan stigma, yang secara prosesinya mengarah ke cara penyampaian akan ilmu pengetahuan, peringatan plus panduan apa-apa yang berkaitan dengan kehidupan.

Oleh sebab itu, maka pada Surat-Surat untuk Bogor edisi #3 ini kami membuka ruang bagi siapa saja, penulis, peneliti, seniman, pemerhati budaya, atau warga Bogor umumnya yang menyimpan ingatan tentang folklor yang bertebaran di Bogor untuk dihimpun plus direfleksikan dalam pengarsipan edisi kali ini. Jenis kontribusi yang kami terima; 1) Esai atau catatan perjalanan yang merefleksikan plus membahas sekelumit dunia pucklore (folklor) di Bogor; 2) Transkripsi atau dokumentasi isi pucklore yang pernah didengar atau terceritakan di Bogor; 3) Catatan wawancara atau catatan observasi dari para sesepuh atau penutur mengenai suatu pucklore (kisah) yang ada di Bogor; 4) Fotografi, ilustrasi, atau karya visual yang berkaitan dengan tema pucklore. Dan mengenai ketentuan pengiriman, kami membuka open call dari 1 Mei sampai 1 Juni 2026. Bahasa yang digunakan bisa menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Sunda. Tidak ada ketentuan panjang tulisan. Tulisan dikirimkan melalui laman login di website halimunsalaka.com atau bisa kirimkan melalui email redaksihalimunsalaka@gmail.com.

Tabe pun!

 

Sumber Bacaan:

Brunvand, Jan Harold. 1968. The Study of American Folklore: An Introduction. New York: W. W. Norton & Company.

Danandjaja, James. 1984. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Grafiti Pers.

Dorson, Richard M. 1976. Folklore and Fakelore: Essays toward a Discipline of Folk Studies. Cambridge: Harvard University Press.

Dundes, Alan, ed. 1965. The Study of Folklore. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.

Foster, Michael Dylan, dan Jeffrey A. Tolbert, eds. 2016. The Folkloresque: Reframing Folklore in a Popular Culture World. Logan: Utah State University Press.

Hyde, Lewis. 1998. Trickster Makes This World: Mischief, Myth, and Art. New York: North Point Press.

Junus, Umar. 1981. Mitos dan Komunikasi. Jakarta: Sinar Harapan.

Kirshenblatt-Gimblett, Barbara. 1998. Folklore’s Crisis. Journal of American Folklore 111 (441): 281–327.

Shetterly, Will, dan Emma Bull, eds. 1986. Liavek. New York: Ace Books.

Tylor, Edward Burnett. 1865. Researches into the Early History of Mankind and the Development of Civilization. London: John Murray.

Tylor, Edward Burnett. 1871. Primitive Culture: Researches into the Development of Mythology, Philosophy, Religion, Art, and Custom. 2 vols. London: John Murray.

Turner, Victor. 1969. The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. Chicago: Aldine Publishing.

Thoms, William John. 1846. Folklore. The Athenaeum: Journal of Literature, Science, and the Fine Arts, No. 982 (22 Agustus 1846): 862–863.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *