Kisah ini bermula dari Pantun Bogor berjudul Pakujajar di Lawanggintung, yang konon merupakan tuturan Juru Pantun Ki Buyut Bajurambeng. Lakon ini diterbitkan secara berseri oleh Rakean Minda Kalangan di Majalah Langensari, terbit seri pertama pada tahun 1966 No.99. Kini, kisah itu saya ceritakan ulang secara bebas. Selamat menikmati!
sebuah persembahan untuk:
K i G e m b a n g
“nu guguru ka Gunung, nu tatanya ka Guriang”
Panembrama
Pun! Sapun!
kepada Yang Agung Sang Rumuhun
yang memayungi Buana Atas
yang memayungi Buana Tengah
yang memayungi Buana Bawah
dan yang memayungi ruang-waktu antara
Sapun! Kepadanyalah
yang memayungi seluruh Buana
yang menerangi di saat gelap
yang menggelapkan di saat terang
yang menjadi rumah bagi para leluhur
Pun!
kepada yang bisa mendengar
kepada yang bisa merasa
dan kepada yang bisa melihat
saksikanlah!
Saya akan berkunjung ke para leluhur
meminta izin untuk berkisah
mengisahkan carita pantun
yang manggung di Panggung Wulung
yang digelar di Paseban Suriya Buana
Paralun!
kepada yang mendiami Mandala Agung
yang mendiami Mandala Samar
yang mendiami Mandala Jati
kepada Po Adji Rumbiyang Djati
kepada Sanghyang Antarlina
kepada siapapun yang tak terlihat
dan tak terdengar
Pun!
kepada cahaya penerang jalan
kepada panas yang membangunkan rasa
kepada angin petunjuk budi-pekerti
kepada langit yang luas terbentang makna
kepada tanah tempat berpulang
kepada air yang menghidupkan
kepada pohon tempat berteduh
kepada buah yang menghibur diri
kepada padi yang mengenyangkan
kepada gunung puncak penuntun
kepada semua yang sudah disebut
dan yang tak sempat disebut
Paralun!
izinkan saya melantunkan cerita
mencari alur yang terputus
menerangi ingatan yang samar
yang lenyap oleh gelombang zaman
lancarkanlah lidah ini untuk bercerita
singkirkan segala kesalahan ucapan
berkahilah ingatan ini untuk bercerita
tentang masa lampau para leluhur
S u n d a Pajajaran
selama saya melantunkan carita pantun:
P a k u j a j a r di L a w a n g g i n t u n g
Paralun!
Mengapa saya mesti bercerita?
sebab rindu ini menggebu
sebab rindu mesti bertemu
walau jarak memisahkan waktu
saya tempuh jejak samar itu:
Pajajaran tentu datang
dan lahir kembali
berdiri hadir menjadi bukti
Bagaimana saya akan bercerita?
tentu manusia Sunda kaya akan cerita
kaya akan peristiwa, dan kaya akan makna
Memangnya cerita siapa yang akan dilakonkan?
dialah yang samar jejak hidupnya
yang hanya datang jika dipanggil
dengan nama: Ki Buyut Bajurambeng
Pun! Sampurasun.
kepada yang mengintip di mata jendela
kepada yang melihat di balik pintu
kepada yang menguping di samping dinding
kepada yang singgah di beranda
Rampeees nun!
janganlah kalian iri-dengki
janganlah kalian iseng sendiri
Seug!
silakan kalian segera mendengarkan
silakan kalian nikmati beberapa hidangan
tapi ingat, jangan dihabiskan! Kula oge beuki!
I
Dikisahkan suasana di sekeliling Kota Pakuan Pajajaran mengalami keributan, bahkan keributan terjadi sampai di Alun-alun Tanjung Salikur. Keributan itu saking ramainya seperti suara goong yang saling bersahutan, nyaring namun ritmis temponya.
“Ada apa? Ada apa? Ada apa ini?” Tanya orang-orang.
Orang-orang yang sedang menumbuk padi berhenti menumbuk. Orang-orang yang sedang menenun kain berhenti menenun. Orang-orang yang sedang mencuci baju berhenti mencuci. Orang-orang yang sedang berjalan menghentikan langkahnya. Orang-orang yang sedang makan bahkan berhenti melanjutkan santapannya.
Tapi, orang-orang yang sedang tidur tetap saja melanjutkan tidurnya dengan nyenyak. Namanya juga tidur orang Sunda, tidur nyenyak yang terbuai oleh waktu bagaikan tidur panjang si Lengser.
“Ada apa? Ada apa? Ada apa ini?” Tanya orang-orang.
“Ada suara goong, suara goong bersahutan.” Balas salah seorang.
Lalu, tiba-tiba orang-orang itu saling berkelahi satu sama lain, menyatu ritmis bersama alunan goong, namun tak jelas duduk-perkara perkelahiannya.
“Oiii. Kenapa malah berkelahi?” Tanya seseorang.
“Eeeh, kenapa berkelahi? Kenapa?” Sambut seseorang lagi.
Blag, der, deg, gedebug, semua orang yang mulanya menonton malah ikut berkelahi, lagi-lagi tak jelas apa sebabnya. Seperti zaman sekarang, banyak orang-orang berkelahi gara-gara…. Ya karena setiap orang ingin menang dari yang lainnya, ingin unggul dari yang lainnya, ingin lebih jaya dari yang lainnya.
Di Kota Pajajaran itu, dari tiap ujung kotanya selain masih terdengar suara goong bersahutan, terdengar pula suara kentungan kohkol, suaranya seperti saling berlomba-lomba ujung mana yang lebih keras mementaskan volume suaranya.
Kerisauan dan kerusuhan itu pun terjadi pula di dalam keraton Pajajaran. Para pegawai istana berlarian memberi kabar bahwa seluruh Kota Pajajaran sedang dilanda keributan.
Salah seorang pegawai istana yang sedang berlari keluar istana, dengan rasa penasarannya menghampiri kerumunan masyarakat yang sedang kebingungan. Di tengah kerumunan, seorang pegawai itu bertanya, “Kenapa? Ada apa sebenarnya ini?”
“Tak tahu. Apakah keributan ini pertanda raja akan membagikan padi hari ini?” Sahut salah seorang.
“Bagaimana kamu tahu itu?” Tanya seseorang lagi.
“Lihat saja, seseorang itu membawa pikulan, bukankah itu untuk membawa padi?” Sanggah seseorang lainnya.
Lalu kerumunan itu semakin rusuh, sampai-sampai memberitakan bahwa raja akan membagikan padi pada masyarakat. Semua orang terus ribut. Kini ributnya beralih untuk mencari dan mengambil pikulan sebagai wadah untuk nanti digunakan membawa padi. Akibat kabar dari kerumunan itu, seorang yang menabuh kohkol semakin nyaring saja membunyikannya, memperkeruh suasananya.
“Ada apa sebenarnya ini? Ada apa?” Tanya beberapa orang yang baru bergabung.
“Tak tahu, semua orang seperti tak sadarkan diri oleh peristiwa yang tak jelas masalahnya.” Jawab seseorang dengan gaya yang bijaksana.
Tak lama, di alun-alun terdengar kabar bahwa beberapa orang bergerombol datang membawa kabar lain. Sambil membawa kabar itu mereka juga membawa senapan, perkakas seperti parang, cerulit, dan bahkan senjata serupa pedang.
“Kumpul-kumpul, semua kumpul!”
“Ada musuh yang akan menyerang Kota Pakuan!”
Mendengar pengumuman itu, serentak orang-orang kembali beralih dan menyiapkan senjatanya: ada yang menyiapkan tombak, gobang, arit, bedog, dan sebagainya. Semua orang itu, yang awalnya kegirangan katanya akan mendapat padi, ternyata malah mendapat duri: menusuki keresahan.
Mereka lalu berjaga satu sama lain, baik yang muda-mudi maupun yang lanjut usia. Ada yang berjaga di depan gerbang, di belakang gerbang, di sisi kanan gerbang, di sisi kiri gerbang, di alun-alun, di tiap lumbung, dan di penjuru Kota Pakuan.
Dari semua orang yang bergegas itu, ada satu orang yang sama sekali bergeming sejak awal melihat kerisauan Kota Pakuan. Orang itu bernama Ki Guru Sekar; nama lain dari Aki Santapura, yang bermukim di Taman Mila Kancana; sebelah utara dekat Gintung Tujuh; sebelah timur dekat keraton; dan sebelah barat dekat Talaga Ki Patahunan; yang berada di telaga panjang Talaga Kamala Wijaya.
***
Empat puluh hari—empat puluh malam, sebelum kerusuhan itu terjadi, sebelum adanya suara goong bersahutan, sebelum adanya suara kentungan kohkol, dan sebelum Kota Pakuan Pajajaran mengalami keributan dan katanya akan mendapat serangan, Aki Guru Sekar masih tak beranjak dari Taman.
Sebab, awalnya di malam ketiga pada bulan yang telah lewat, ia bermimpi. Mimpinya Talaga Kamala Wijaya airnya tumpah dan merah oleh darah. Dalam mimpinya itu, Kota Pakuan mengapung ke cakrawala tanpa ujung. Lalu dilihatnya dari dampak kerisauan itu orang-orang Pajajaran terbagi menjadi empat bagian kelompok.
Di dalam mimpinya itu, ia melihat begitu banyak orang-orang datang ke Pakuan, mereka saling berebut-mencari pohon yang hanya ada satu di dunia ini, yaitu pohon Hanjuang Bodas: pohon peninggalan Eyang Resi Handeula Wangi. Hanjuang itu dikisahkan sudah menjadi pelindung di sekeliling Kota Pakuan Pajajaran.
Dikisahkan, waktu itu Aki Guru Sekar Santapura sedang berdiri tepat di hadapan pohon Hanjuang Bodas. Ia lalu merapalkan mantra-mantra Pamunjungan. Ketika Aki Guru Sekar merapalkan mantra, tiba-tiba pohon Hanjuang Bodas itu bergerak-bergoyang, padahal tak ada angin—tak ada yang terlihat pula menggerakkan.
Seusai bergoyang serupa tertiup angin, pohon Hanjuang Bodas yang semula berwarna putih itu perlahan-lahan berubah menjadi warna merah tua. Akarnya yang semula berwarna putih jadi berwarna merah. Bunganya yang semula berwarna putih berubah pula menjadi merah.
Aki Guru Sekar terheran-heran melihatnya. Hatinya menggebu dan tiba-tiba diselimuti rasa takut.
“Ada apa ini? Mengapa yang bergoyang hanya pohon Hanjuang Bodas? Mengapa pula yang berubah warna hanya pohon Hanjuang Bodas saja? Apakah mantra yang saya rapalkan salah liriknya, salah tembangnya, dan salah tujuannya?”
Setelah Aki Guru Sekar bertanya-tanya di dalam hatinya, seketika terdengar suara yang entah dari mana datangnya. Suaranya terdengar berat dan patah-patah!
“Santapura! Bahaya! Sembunyikan sekarang pohon Hanjuang Bodas yang sudah berubah warna itu. Sebab sudah mulai banyak musuh yang masuk ke Kota Pakuan Pajajaran. Cepat sembunyikan, jangan sampai didapati oleh musuh. Jika musuh itu mendapatkan pohon Hanjuang Bodas, selama dunia dan langit ini belum kiamat, masyarakat Sunda akan terus mendapati musuh yang silih berganti.”
Baru saja mulai menggali dan akan mengambil pohon Hanjuang Bodas, datang seorang patih bernama Raden Wilang Natadani. Dengan tergesa-gesa Wilang Natadani berkata, “Aki, bahaya! Musuh sudah datang dan menyerang Kota Pakuan!”
“Haaah? Banyak tah musuhnya?” Jawab Aki Guru Sekar.
“Sangat banyak, Aki, tak terhitung jumlahnya.”
“Tak apa kalau memang tak terhitung jumlahnya. Sebab, walaupun aki tua-tua begini, kalau urusan perang aki masih sanggup turun ke medan laga, Raden. Sebentar, Raden, aki mau menyembunyikan pohon ini terlebih dahulu.”
Tak lama, Aki Guru Sekar melanjutkan, “lihat, Raden, ini pohon Ki Hanjuang Bodas, pohon yang menjadi jimat sekaligus penjaga Kota Pakuan. Kalau ini tak segera aki sembunyikan dan sampai didapat oleh musuh, kelak kata leluhur, selama matahari menyinari bumi dan selama itu pulalah manusia Sunda akan terus menjadi sasaran para musuh, sulit untuk berdiri kembali menjadi bangsa dan negara.”
“Jika itu terjadi, apa dampaknya, Ki?” Sergah Wilang Natadani.
“Manusia Sunda akan sulit bangkit dari keterpurukannya. Manusia Sunda selain kehilangan bangsa dan negaranya, akan kehilangan pula jati dirinya, cerita leluhurnya. Kelak yang ada hanya nama Sunda Sesebutan: banyak yang mengaku bangsa Sunda, tapi sebenarnya orang asing yang menjilat kekuasaan, mereka tinggi hati, dan mereka selalu berkata bahwa mereka adalah keturunan menak Sunda, keturunan Sunda sejati, seakan-akan hanya merekalah pembela manusia Sunda.”
“Apalagi yang akan mereka lakukan, Aki?”
“Mereka jelas-jelas merupakan pendukung dari musuh-musuh Sunda. Mereka pula yang akan menumbalkan warisan sukma-sunda. Mereka kelak yang akan menguasai negeri ini, tanah ini, ladang ini, sawah ini, laut ini, hutan ini, bahkan seluruh warisan masa silam kita. Segalanya itu kelak untuk menumbalkan rakyat Sunda dan keturunan Sunda. Itulah mereka, Raden, malapetaka bagi masyarakat Sunda. Maka, agar malapetaka itu tak sampai menjadi kenyataan, hari ini akan aki sembunyikan pohon Hanjuang Bodas.”
Biarkan Aki Guru Sekar mencabut pohon Hanjuang Bodas dan menyembunyikannya. Biarkan para musuh memulai pergerakannya untuk menyerang Pakuan Pajajaran. Biarkan semua kisah berjalan sendiri sebagaimana mestinya. Biarkan.

