Di Tempat Tuhan Memalingkan Wajah

Joaquín Sorolla (1863 – 1923) Muin mematung di ujung anjungan papan. Anjungan itu menjulur ke tengah lautan yang telah kehilangan denyutnya. Tidak tampak gelombang yang berkejaran, apalagi desau yang memecah sunyi; hanya ada hamparan cairan kental yang diam, serupa endapan air cucian piring yang telah lama dibiarkan di dalam ember. Di atasnya, matahari menyerupai bulatan … Baca Selengkapnya

Mencintai Tanpa Jeda dan Puisi Lainnya

Édouard Vuillard (1868-1940) Mencintai Tanpa Jeda Kenangan akan tetap abadi,bahkan dalam ingatan yang patah hati. Bila melupakan adalah obat,lantas bagaimanakah caranya kitamendapatkan dosis yang tepat? Kepergianmu, selekas apapun kau beranjak, ternyata tetap saja meninggalkan jejak. Di kepalaku, kenangan tentangmu selalu tumbuh menjadi penyembuh.Di kenanganmu, aku selalu mencintaimu dengan penuh. Resep melupakan barangkali ada,namun aku memutuskan … Baca Selengkapnya

Lampu Merah Persimpangan Kota

Paul Cadorette (1934-1943) di lampu merahpersimpangan kotadalam perjalananramadhan kali iniaku mencoba banyakmenitipkan nikmat syukuryang kuselipkan di balikdada dalam saku bajuku walaupun aku sadarbahwa kotaku sudahterlalu tua untuk mewadahibanyak luka yang ditanamdan dipupuki olehharapan-harapanku yangpanjang ia selalu tahu caramenumbuhkan kehangatandi segala isi hatiyang kusiramipada setiap garistunggu pemberhentian: batas kenangan dan impian seperti memberikan kebesarankasihNya kepada hujanyang … Baca Selengkapnya

Menelan Hari dan Puisi Lainnya

Hermann Max Pechstein (1881 – 1955) Menelan Hari Kutelan semua harigelap berlapis gelap—ẓulumātun ba‘ḍuhā fawqa ba‘d Di dalam perut waktuaku mendengar satu kalimat perlahan:lā ilāha illā anta, subḥānaka Hausku jadi laut tanpa pantaitubuhku tenggelam,nafsu yang kehabisan udara,dan aku tak menemukan apa punkecuali napas yang tersengal-sengal Bukankah Yunus diselamatkanketika ia lenyap dalam pengakuan? Hari ini aku … Baca Selengkapnya

Memetik Puisi

Maximilien Luce (1858-1941) Kutulis larik-larikdari ratusan kata yang kupilihkupetik satu demi satukuraba setiap lekuknyakubayangkan hidup-hidup Kemudian kususun menjadi kalimat,kubungkus dengan pita paragraf,kuamati ulang setiap sudutnyahingga kupastikan tak ada satu pun katayang tertinggal Setelah semuanya tampak selesai,kukirim surat inidengan marahyang tak tahu ke mana harus kualamatkan Tentang perang yang tak berkesudahantentang kelaparan yang tak mengenal musimtentang … Baca Selengkapnya

Berbukalah dengan yang Magis-Magis dan Puisi Lainnya

Paul Cézanne 1839-1906 Berbukalah dengan yang Magis-Magis aku coba mendekat setelah jauh terlalu lama dari doa-doa yang dipatahkan cakrawala & tuhan yang berjanji mengelus ubun-ubun di sepertiga malam yang berembun aku pernah mengutuk perihal doa-doa yang tidak dikabul sebab dunia fasih betul mempuasai jawaban & mempuisikan kebungkaman— enggan menoleh pada hamba yang lungkrah lalu lutut … Baca Selengkapnya

Bayang Layang Sore Hari dan Puisi Lainnya

Etienne Parrocel 1696-1776 Elegi Pagi Seekor Burung Di pucuk pohon kesukaan kita, rindu adalah sepasang burung musim semi, bersuara saban pagi. Paruh bertaut pada hari yang selalu basah oleh embun dan hujan. Angin menjadi saksi janji yang dirajut antara awan juga langit gelap. Dua sayap mengepak dalam irama yang sama. Tak pernah terbayang langit sanggup … Baca Selengkapnya

Menyibak Perjalanan Air dan Puisi Lainnya

Albert Cézard 1902 Menafsir Sahajamu : Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Ingin kutulis di sampingmu seuntai kata menggiringsemangat penuntut ilmu jiwa berkah selalu seiring ditangkupan tanganmu, kupeluk lewat doamenerima tumpuan ilmu hingga renta Ingin kusampaikan kepadamucahaya Sabilal Muhtadinkebahagiaan lapang hidupkudemi nasihat nyata Ad-din di bibirku tasbihkan, jejali rindu berjarakingin begitu dekat bertukar cerita:keindahan menyusuri dermaga … Baca Selengkapnya

Mempuasai Nuh dan Puisi Lainnya

Dominik Schuhfried 1810-1877 Mempuasai Nuh di atas tanah perjanjian manusialautan kini merindukan banjirMuketika kota membendung lajur sungaidan ketika desa membabat pohon-pohon:segala rindu macet di tengah jalansebab kenangan dan iman lenyaptenggelam tak ada lagi bahtera, apalagi kata-kata. Mempuasai Ibrahim berapa pun mahalnya perjalanan menujuMuwalau sakitnya mengendarai waktuapi rindu yang membakarku takakan mampu menghalaucintaku padaMu bagaimana puntak … Baca Selengkapnya

Palu Godam Buat Sabrang

Saya tidak punya alasan kenapa harus diam terjajah dan termangu. Ketika ribuan juta rakyat Indonesia menjadi korban tenung keadaan. Ketika seorang resi melompat ke dalam kubangan yang kotor pastilah akan berlumur lumpur juga. Ketika Sabrang mengumbar-ngumbar narasi “MBG” yang penting terdengar pantas tanpa mempertimbangkan kejujuran dan kenyataan hidup, maka seluruh kata-kata yang ia ungkapkan cuma … Baca Selengkapnya