ilustrasi cover Student Hijo
Mulanya, aku mengenal nama Marco Kartodikromo dari sastrawan besar yang juga lahir di daerah yang sama, Pramoedya Ananta Toer. Pram menaruh hormat yang tinggi kepada Mas Marco, bagi Pram, jurnalis kelahiran tahun 1890 tersebut merupakan salah satu tokoh pelopor jurnalisme dan sastra perlawanan terhadap kolonialisme yang menyengsarakan kaum Bumiputera.
Tiap kali mendengar nama Mas Marco Kartodikromo, orang-orang, khususnya penggemar sastra, pasti akan teringat dengan Student Hijo. Sebuah kisah romansa pendek yang banyak dijuluki sebagai karya terbaik jurnalis kelahiran Blora tersebut.
Dari dulu, ingin betul aku membaca Student Hijo. Namun, karena keterbatasan finansial, keinginan itu selalu dianaktirikan. Latar sejarah yang sezaman dengan Tetralogi Buru mungkin jadi alasan terbesar mengapa aku tertarik membaca Student Hijo. Harapannya, dengan membaca Student Hijo, aku dapat menambah wawasan baru tentang konteks sejarah gerakan kesadaran terjajah pada awal abad 20.
Gambaran Umum
Selumbari, keberuntungan berpihak padaku. Salah satu akun Twitter membagikan akun MasasilaM, sebuah platform perpustakaan digital buku domain publik yang bisa diakses secara gratis. Setelah itu, aku cek situs webnya, akhirnya aku menemukan si Student Hijo format epub dengan tata letak yang nyaman untuk dibaca.
Awalnya, Student Hijo adalah kumpulan cerita bersambung yang dimuat dalam surat kabar Sinar Hindia pada 1918. Cerita bersambung ini kemudian dibukukan pertama kali pada tahun 1919 oleh penerbit N.V Boekhandel en Drukkerij Masman & Stroink.
Student Hijo bercerita tentang kisah hidup bangsawan Jawa yang mencari ilmu ke negeri Belanda. Hijo dihadapkan pilihan sulit, pulang dan menikahi perempuan yang telah disiapkan kedua orang tuanya atau melanjutkan hubungan yang lebih jauh dengan anak perempuan induk semangnya, juffrow Bece.
Pengisahan novel ini tak hanya berkutat di negeri Belanda saja, tapi juga menelusuri hubungan asmara antar bangsawan Jawa di tanah Hindia Belanda. Renjana cinta antara Raden Ajeng Biru, Raden Ajeng Wungu, dan Raden Mas Wardoyo juga contoleur Walter yang saling kait-mengait dengan Hijo yang sedang menempuh pendidikan di Belanda.
Dalam novel berlatar belakang tahun 1913 ini, selain menggurat kisah ‘cinta-cintaan’ bangsawan Jawa, Mas Marco juga menggugat secara implisit kolonialisme yang dilakukan Belanda, pun tak ketinggalan, lahirnya Sarekat Islam (SI) di awal abad-20.
Penggunaan Tiga Bahasa
Mas Marco menulis karangan ini dalam Bahasa Melayu (Bahasa Indonesia), Bahasa Belanda, dan Bahasa Jawa, dengan proporsi terbesar menggunakan Bahasa Melayu. Terkadang, Mas Marco mencampuradukan ketiga bahasa tersebut di beberapa bagian. Sehingga dalam kasus ini, perihal dulu-duluan mencampuradukan bahasa, Mas Marco berada di depan anak Jaksel.
Di beberapa bagian, diksi Melayu yang digunakan terasa asing di telinga. Bahkan ada pergeseran pemaknaan di bagian lain, seperti penggunaan prefiks “di” yang digunakan Mas Marco untuk menandai tempat tujuan kita menggunakan prefiks “ke” kiwari ini. Pergeseran pemaknaan dan penggunaan bahasa ini jadi tanda bahwa bahasa—sebagai produk kebudayaan yang material turut berkembang beriringan dengan manusia yang menggunakannya, keduanya dinamis.
Dengan penggunaan ragam bahasa tersebut, kita bisa melihat kekayaan pengetahuan akan bahasa yang Mas Marco kuasai. Ia tak sekadar mencatut bahasa agar terlihat berwawasan tinggi, lebih dari itu, ketiga bahasa itu digunakan untuk menyesuaikan konteks, gaya tuturan para tokoh, serta latar tempat berjalannya cerita.
Sungguh di masa penjajahan, bisa mempelajari atau sekadar mengucapkan tuturan dalam Bahasa Belanda adalah privilese. Hanya sebagian kecil kaum Bumiputera saja yang diizinkan untuk menggunakan bahasa ‘luhur’ ini. Dari karya ini, kita bisa mengetahui bahwa Mas Marco punya privilese untuk mempelajari dan menggunakan Bahasa Belanda.
Kisah Cinta yang Terlalu Sempurna
Student Hijo hampir sepenuhnya berkisah tentang cinta, kerinduan, dan harapan yang terlalu sempurna untuk jadi kenyataan. Bayangkan saja, hampir semua hubungan percintaan dalam kisah ini tak berujung pada penolakan.
Tokoh-tokohnya—terutama tokoh Bumiputera saling mencinta, mereka seperti dicatut dalam wadah takdir yang sama. Hijo mencintai Biru dan Wungu, Biru mencintai Hijo dan Wardoyo, Wardoyo mencintai Biru, Wungu mencintai Hijo. Dan mereka sepakat untuk saling menukar kekasih tanpa pergolakan batin yang berarti.
Walau, upaya akomodatif tersebut diprakarsai oleh pihak keluarga, tapi masa nggak ada salah satu tokoh yang berusaha mempertahankan kekasihnya—bahkan sejak dalam pikiran? Seakan-akan cinta bukan barang yang sakral, ia bisa disesuaikan, ia bisa dinegosiasikan, ia bisa membuat senang semua orang.
Sayang, dalam dunia nyata, model kisah cinta kaya gini sulit terjadi. Nggak semua orang punya cinta yang dapat ditawar. Nggak semua orang bisa menerima kekasihnya ditukar, bahkan dengan orang yang kedudukannya lebih tinggi dalam kacamata masyarakat. Cinta itu kompleks, permasalahan asmara kadang tak bisa diselesaikan dengan persetujuan dan penolakan.
Saya kurang suka kisah cinta dalam Student Hijo, menurut saya arahnya cenderung menyimplifikasi kompleksitas hubungan asmara antar manusia, hanya untuk menyenangkan keluarga. Namun, tentu perlu digarisbawahi bahwa karangan ini lahir saat budaya menulis kaum Bumiputera masih terlunta-lunta dan aku akui bahwa penilaianku ini sedikit terpengaruhi oleh bias genre.
Tapi jujur, kisah cintanya memang datar sekali, huhu.
Puncak ketidakpuasan saya ialah saat membaca bagian akhir novel ini yang terkesan dibuat secara ‘malas’. Bagian ini hanya diisi penjelasan untuk menutup kekaburan jalan cerita—yang kadang nggak perlu terjelaskan.
Bahwa akhirnya, Wungu nikah dengan Hijo, Biru dengan Wardoyo, Walter beristri Bece, dan Jet Roos menikah dengan Boeren—teman Walter. Akhir cerita kaya gini kurang nendang, ada kecenderungan untuk mempersempit dunia penceritaan.
Pemaksaan seperti ini juga mematikan tokoh-tokohnya itu sendiri, alih-alih membiarkan para tokoh merdeka dan memilih jalannya masing-masing, penulis malah memilih menjadi semacam makcomblang yang nyambi jadi dalang, memasangkan para tokohnya sesuai dengan selera. Bahkan ketika membaca bagian akhirnya membuat aku sampai pada kesimpulan; dunianya Student Hijo tidak mengamini pribahasa “Dunia tak selebar daun kelor.”
Feodalisme yang Dilunakkan
Selain kisah cinta yang terlalu sempurna dan bisa dibilang tak membumi, feodalisme dalam kisah ini juga punya warna yang sama.
Sebagai bupati Jarak, Raden Mas Tumenggung—ayah Wardoyo dan Wungu nyaris nggak menunjukan sifat feodalisme Jawa yang Pram sebut sebagai Javanisme, misalnya dalam Pram Melawan dibicarakan punya watak memuja atasan secara membabi buta, sambil menginjak rakyat di bawah kelas sosialnya.
Selain itu, R.M. Tumenggung ialah seorang anomali dari kalangannya, ia punya cita-cita kesetaraan yang boleh dibilang progresif pada masa itu. Saat ditanya oleh Walter perihal kawin campuran kaum Bumiputera dan penduduk Belanda, Tumenggung membuka kemungkinan itu.
Ia menjawab, “Masalah ini saya belum bisa memberi penjelasan yang pasti. Sebab kebanyakan anak-anak zaman sekarang yang telah mendapatkan pendidikan model Eropa, dia lebih suka mencari suami atau istri sendiri. Karena perkawinan itu membutuhkan dasar saling cinta-mencinta. Memang masalah itu tidak salah.”
See? Alih-alih mengikuti aturan ketat khas bangsawan Jawa saat itu yang menutup kemungkinan memberi kebebasan kepada keturunannya untuk menentukan sendiri pasangannya, Tumenggung membuka diri.
Kebajikan Tumenggung juga tergambar dari pola interaksi yang ia lakukan dengan tokoh lainnya. Hampir semua pola percakapannya menuju pada satu hilir yang sama; Tumenggung ialah pemimpin yang arif nan bijaksana.
Namun, kesimpulan itu tak dapat langsung dijadikan pegangan, sebab dalam novel ini sama sekali tidak tergurat hubungan atasan-bawahan yang berarti. Praktis, kamera sepenuhnya menyorot kepada kehidupan keluarga Hijo, keluarga Wardoyo, dan keluarga induk semang Hijo di Belanda, yang notabenenya menyandang status sebagai masyarakat kelas menengah-atas.
Perihal pemilihan perspektif penceritaan pada topik ini, aku berasumsi bahwa Mas Marco sengaja membuat citraan feodalisme Jawa yang ‘beradab’ untuk menumpas prasangka-prasangka buruk terhadap bangsa Jawa itu sendiri.
Mas Marco ingin warga Hindia-Belanda, khususnya kaum Bumiputera sadar bahwa Bangsa Jawa memiliki kebudayaan yang tak kalah luhur dengan peradaban Eropa. Asumsi ini didukung karena kisah ini pertama kali dimuat di surat kabar yang dapat menjangkau pembaca luas pada masa itu.
Mas Marco ingin menyebarkan kesadaran itu, kesadaran akan luhurnya kebudayaan Bumiputera. Ini kita bisa telisik lebih dalam pada penyorotan Mas Marco pada ragam anasir kebudayaan Bumiputera; tentang tari Tandak yang membuat mata penonton tak berkedip, tentang lagu Srikaton yang menggugah telinga, suara Tanduk dari Solo yang sangat merdu, tentang nyaringnya suara Merdanga, kemeriahan Sriwedari pada malam ke-25 tiap bulan puasa, tentang pertunjukan wayang yang menyihir penontonnya.
Vergadering Sarekat Islam di Kabangan
Dalam kisah ini, terselip juga kisah acara kongres Sarekat Islam (selanjutnya SI) di kampung Kabangan, Surakarta. Kongres ini diadakan pada tahun 1913. Diceritakan bahwa dalam kongres itu akan hadir semua utusan dari semua cabang SI di pulau Jawa. Semua kalangan yang hadir, mulai dari bangsawan keraton Solo, saudagar, priyayi gubermen, hingga orang-orang partikelir diceritakan menunjukan keakraban dan solidaritas yang tinggi.
Pengaruh Sarekat Islam pada tubuh masyarakat Hindia-Belanda saat itu diceritakan membawa perubahan yang signifikan. Menurut narator, “Karena pengaruh SI, waktu itu tidak ada lagi perbedaan manusia. Semua mengaku saudara. Baik orang yang berderajat tinggi maupun mereka yang berderajat rendah.” Lanjutnya, “SI memang bermaksud mulia sekali. Karena akan memperbaiki nasib orang-orang Islam yang sudah ratusan tahun diinjak-injak.”
Acara tersebut diadakan secara meriah, banyak orang yang berkunjung ke Surakarta, jalanan Solo dipenuhi masa SI menuju Kabangan. Sayang, perihal SI hanya disinggung sedikit sekali, ini dikarenakan tak ada tokoh dalam cerita yang tergabung dalam organisasi SI. Akibatnya, penceritan tentang SI hanya di luaran saja.
Ekspektasi yang Tak Terpenuhi
Seperti yang telah diuraikan di muka, aku menaruh harapan bahwa karya ini akan membuka mataku lebih luas tentang pergerakan kesadaran Bumiputera terhadap praktek kolonialisme Belanda dekade awal abad 20. Namun sayang, karya ini tak memenuhi ekspektasi tersebut.
Yang tebal hanya kisah asmara yang nggak menapak bumi. Kisah cinta yang terlalu sempurna untuk jadi kenyataan. Walau, aku meyakini bahwa kisah percintaan ini dibuat untuk tujuan politik tertentu dengan mempertimbangkan pelbagai kondisi material.
Mungkin, lewat kisah percintaan yang terlalu ideal, Mas Marco ingin memberi harapan kepada kaum Bumiputera saat itu. Ia seperti ingin berkata kepada kaum Bumiputera; lewat kisah ini, aku ingin mengajak kalian bermimpi tentang cinta yang penuh dengan kebahagiaan, yang hanya bisa didapat oleh mereka yang merdeka, mereka yang bebas dan setara.
Selain itu, ada juga hal yang mengganggu. Gaya tuturan semua tokoh dalam novel ini punya seragam, satu gaya, satu warna. Nggak ada tuturan satu tokoh yang khas, yang dapat membedakannya dengan tokoh lainnya.
Coba saja kamu hapus nama tokoh yang sedang berbicara tanpa membaca konteks cerita, aku berani bertaruh kamu nggak akan bisa membedakan tokoh-tokohnya. Tuturannya seragam, pemandu cerita gagal melakukan diferensiasi tuturan dari semua tokohnya. Akibatnya, nggak ada satu pun tuturan yang membekas di kepalaku.
Walakin, aku kagum dengan gugatan Mas Marco terhadap kolonialisme Belanda yang diuraikan di subjudul keempat, Bangsa Belanda di Hindia. Bagian ini memuat isi brosur yang diberikan Walter kepada tentara Belanda yang memaki jongos pribumi — judul brosurnyanya ialah tajuk subjudul ini. Brosur itu membicarakan segregasi sosial warga Hindia Belanda yang amat tebal, utamanya antara kaum Bumiputera dengan warga totok Belanda.
Dalam brosur itu, diterangkan fakta bahwa banyak orang Belanda yang datang ke Hindia-Belanda ialah orang buangan, orang yang nggak mampu hidup layak di Belanda. Banyak dari mereka yang mulanya “bekas seorang kuli dan orang-orang rendahan.” Namun, setelah sampai di Hindia, mereka main gila, “menyombongkan diri, menghina kita, seperti kita ini budak belian, lebih keterlaluan lagi seperti binatang!” Setelah mereka pulang ke Belanda, “mereka jadi gila hormat”, sombong, dan punya watak yang kasar.
Di dalam brosur ini juga diberikan uraian penyebab terjadinya segregasi sosial. Ada dua faktor. Pertama, banyak warga Belanda yang tidak tahu sama sekali keadaan Hindia, tujuan mereka hanya mencari keuntungan. Karena itu, mereka menutup diri untuk membaur dengan pribumi, ditambah adanya prasangka buruk terhadap kaum pribumi.
“Mereka mengira, di tanah Jawa itu masih banyak orang yang makan manusia. Di dekat rumahnya banyak hutan-hutan yang dipenuhi binatang-binatang buas seperti harimau dan binatang-binatang lainnya.”
Kedua, ketakutan Bumiputera kepada warga Belanda, sebab pihak Belanda telah memenangkan banyak perang di tanah mereka. Ditambah, penggunaan bahasa yang dibedakan juga menambah inferioritas kaum Bumiputera. Banyak dari kaum Bumiputera yang sebisa mungkin menghindari urusan dengan pihak Belanda yang akan mempersulit hidupnya.
“Anak-anak Bumiputera yang tak tahu bahasa Belanda, kebanyakan berbahasa Melayu dan bahasa Jawa “kromo inggil” kepada pihak Belanda. Si Belanda yang tak mau mempelajari bahasa Melayu dan bahasa Jawa kromo inggil memakai bahasa Melayu dan bahasa Jawa rendah.”
Di penghabisan brosur tersebut, diserukan kepada kaum Bumiputera agar kebiasaan buruk (sikap inferior) itu tak diteruskan. Tujuannya untuk menghapus segregasi sosial, agar antara pihak Belanda dan pihak Bumiputera “saling berbaur satu dengan yang lainnya dan mengerti. Hal itu akan lebih baik, untuk Hindia dan untuk Nederland sendiri.”
Brosur ini bisa diartikan sebagai upaya Mas Marco untuk menghapus sekat yang tebal antar warga Hindia-Belanda. Sebagai jurnalis, ia melakukan analisis yang komprehensif tentang realitas yang terjadi pada saat itu. Harapannya agar kaum Bumiputera tak lagi dianggap remeh, tak lagi rendahkan, tak lagi menjadi masyarakat kelas dua. Tidak bisa tidak, Bumiputera harus setara dengan warga Belanda.
Walau, secara literal kesadaran pada kemerdekaan Bumiputera belum terlihat di karya ini, Mas Marco telah berkontribusi pada pentingnya kesadaran akan kesetaraan. Salah satu cita yang turut memantik gairah pembebasan kaum Bumiputera dari cengkeraman kolonialisme Belanda.
Akhir kata, dapat dikatakan bahwa Mas Marco Kartodikromo turut membangun pondasi awal cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia. Maka dari itu, Student Hijo dan karya sejenisnya patut dibaca oleh kita—warga sipil yang kiwari ini rawan lupa pada tujuan awal Republik Indonesia berdiri.
