Kisah di bawah ini dituturkan oleh Ukat Raja Aya (Kasepuhan Urug Lebak: pada 12-13 Februari 2026), lalu diterus-ceritakan oleh Muhamad Alnoza, dan disalin-tuliskan oleh Teguh Tri Fauzi. Selamat menikmati!

***

Dicaritakeun dina hiji mangsa, di kulonen Pulo Jawa, Jumeneung hiji senopati nu dijuluk Kai Lurah. Dina hiji waktu, Kai Lurah dipiwarang ku para karuhun ngabukbak—ngababakan leuweung geledegan pikeun ngadegkeun Dayeuh Pajajaran. Dina priyogi eta, anjeuna ngumpulkeun para menak, para gegeden, jeung para jaro—sabudeureun wewengkon anu deuk dibukbak keur nuaran tatangkalan di leuweung eta, anu gedena baradag jasa. 

Singkat cerita, para gegeden itu mengeluh bahwa pekerjaannya tidak kunjung usai, sebab hutan terlalu lebat sekaligus rimba. Oleh karena itu, Kai Lurah pun mengirimkan surat permohonan bantuan tenaga kerja dari negeri atas angin, jumlahnya 160 orang—untuk dipekerjakan bakal Dayeuh Pajajaran. Untuk itu, orang-orang deungeun itu, diharapkan mendarat di pesisir laut kidul, agar nantinya dijemput oleh sang Kai Lurah.

Waktu demi waktu bergulir. Kai Lurah mendapat kabar para tenaga asing itu akan segera mendarat di laut kidul. Segera dia pergi berkelana dengan harapan bisa segera menjemput para kuli asing (dari negeri atas angin) itu untuk dipekerjakan di hutan yang hendak ia buka. Di jalur perjalanannya, ia menjumpai beberapa keramat-keramat, di mana ia mendapat ilmu kesaktian dan kanuragan. Dan ketika ia sampai di pinggiran pesisir laut kidul, yang konon sekarang disebut Panenjoan, ia melihat kapal besar yang membawa para pekerja. 

Para pekerja itu, yang berjumlah 160 orang dari negeri atas angin, sebagaimana dijanjikan benar-benar datang. Mereka tanpa basa-basi langsung dibawa ke hutan bakal Dayeuh Pajajaran. Karena saking bingahnya, Kai Lurah sampai-sampai menamai dirinya sebagai sebutan Kai Ratu, dan tempat mendaratnya para pekerja itu sebagai Pelabuhan Ratu. 

Ketika sampai di hutan calon Dayeuh Pajajaran, para kuli itu segera disuruh menebang pohon sebanyak-banyaknya. Hanjakal, para pekerja dari negeri atas angin itu ternyata cukup malas. Bertahun-tahun Dayeuh Pajajaran tidak juga selesai berdiri. Mereka asyik menikmati hutan yang begitu asri serta sungai yang berair jernih dan dingin.

Oleh karena tidak sabar, Kai Ratu yang jengkel kemudian memerintahkan seluruh orang-orang di sekitar hutan untuk menunda semua pekerjaannya, seperti: petani, penjala, penyadap, dan lain sebagainya, sebab mereka diwajibkan untuk bekerja membangun Kota Pajajaran. Konon, menurut cerita, perintah itu keluar pada hari minggu, sehingga sampai hari ini tidak heran bahwa hari minggu adalah hari libur.

Dengan hasil gotong-royong berjamaah plus beramai-ramai itu, Dayeuh Pajajaran akhirnya berdiri. Warga ramai suka-cita tiada dua, kota yang diimpi-impikan akhirnya bermula.

Namun, cerita tidak sampai di situ. Para pekerja yang berjumlah 160 orang itu menagih upah. Mereka meminta pada Kai Ratu agar diizinkan tinggal di pulau Jawa. Kai Ratu pun mengizinkan asal, mereka tidak tinggal di Dayeuh Pajajaran, melainkan tinggal di suatu tempat, di wilayah ujung barat Pulau Jawa.

Akan tetapi, para pekerja asing ini, ngeri untuk pergi ke daerah sana, sebab tidak tahu jalan dan tidak tahu aral-rintangannya. Alhasil, mereka mensyaratkan agar Kai Ratu melindungi mereka selama perjalanan. Sekali lagi, Kai Ratu pun mengabulkannya.

Kai Ratu berujar, “Kalau kalian mau aman, hanya satu laku yang kuminta, jangan sekali-kali berhenti di tengah jalan, sampai kalian benar-benar tiba di tujuan.” Orang-orang asing itu setuju, dan berikrar akan mengikuti perintah Kai Ratu.

Syahdan. Pergilah 160 orang asing itu ke arah barat. Di tengah perjalanan, mereka menjumpai batu yang begitu besar dan indah. 40 orang dari mereka, memutuskan untuk rebahan sejenak di batu besar itu. Sigra (segera), 40 orang yang rebah sejenak itu lenyap seketika tanpa jejak. Melihat peristiwa itu, 120 orang lainnya ketakutan, dan mereka pun ngibrit meneruskan perjalanannya. 

Karena lelah terengah-engah, tak disangka tubuh jadi panas dan berkeringat. Di hadapan mereka, hadir pohon besar yang sangat rindang. Di benak mereka, tiba-tiba langsung teringat memori akan keindahan Dayeuh Pajajaran yang mereka bangun, dengan pohon besar yang indah-permai. 40 orang dari mereka lantas tergiur dan akhirnya berteduh di bawahnya, sekali lagi untuk rehat sejenak.

Bisa ditebak, 40 dari mereka juga hilang begitu saja. Oleh karena mulai paham dengan kenyataan yang ada, 80 orang yang tersisa teguh untuk melanjutkan perjalanannya ke ujung pulau jawa bagian barat. Sampai akhirnya, mereka bertemu dengan aliran sungai Ciujung. Senang bertemu air, separuh dari mereka malah tergiur mandi dan berenang di sana. Dan lagi-lagi, 40 dari mereka hilang-lenyap, “sirna ilang kertaning bumi”.

Setelah hilangnya sebagian besar rombongannya itu, kini tersisa 40 orang, yang terus menyusuri sungai Ciujung ke arah hulu. Sampai akhirnya mereka yang tersisa mendirikan sebuah kampung di sana. Dan demikianlah, 40 orang itu sampai hari ini dikenal sebagai orang Baduy. Wallahualambisawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *