Bogor sebagai Kota Seni Penggagal Rencana

Bogor sebagai Kota Seni Penggagal Rencana

Ödön Tull (1897)

Tahun ini, Indonesia, kata orang-orang yang suka menatap langit sambil membuka aplikasi cuaca, sedang kena El Niño. Artinya sederhana: panas lebih panjang. Hujan lebih jarang. Dan manusia mulai akrab lagi sama kipas angin yang bunyinya seperti pesawat mau terbang.

Secara teori, El Niño itu emang identik dengan penurunan curah hujan di banyak wilayah Indonesia. Bahkan dalam berbagai kajian klimatologi, fenomena ini secara konsisten berkorelasi dengan berkurangnya hujan dan meningkatnya potensi kekeringan.

Tapi Bogor, seperti biasa, milih ngga ikut arus nasional.

Alih-alih ikut kering, Bogor justru ngepertahanin tradisinya. Bahkan curah hujan tinggi di Bogor menurut Sonni Setiawan, ahli meteorologi dari IPB, itu bukan kebetulan. Tapi hasil kerja sama yang solid antara angin monsun, posisi matahari, dan topografi.

Gampangnya, Bogor memang secara geografis udah didesain buat terus-terusan hujan. Ngga peduli El Niño, La Niña, atau Niña yang lain-lain, langit Bogor punya prinsip, kalau bisa basah, kenapa harus kering?

Dan dari sinilah masalah—atau kalau mau lebih optimistis, seni menjadi good planner itu muncul.

Warga Bogor seharusnya menjadi manusia paling well-prepared di muka bumi.

Kenapa? Karena hidup di Bogor itu sama dengan hidup dalam kondisi Plan B adalah Plan A yang sesungguhnya.

Di kota lain, orang mungkin belajar manajemen risiko dari buku. Di Bogor, orang belajar itu dari langit. Karena di sini, rencana ngga pernah berdiri sendiri. Ia selalu ditemani kemungkinan gagal.

Mau ngedate? Jangan terlalu percaya diri dengan konsep outdoor ala-ala eropa. Sebab di sini itu lebih deket ke urusan spekulasi daripada romantisme.

Mau jogging? Silakan. Tapi rute terbaik bukan yang paling scenic. Melainkan yang paling dekat dengan tempat berteduh.

Mau bikin acara? Selamat! Anda baru saja memasuki arena perjudian berbasis meteorologi.

Dari fenomena alam inilah, pelan-pelan, tanpa disadari, warga Bogor berkembang jadi manusia dengan pola pikir bercabang. Mereka ngga pernah benar-benar percaya pada satu rencana. Selalu ada cadangan. Selalu ada jalan keluar. Selalu ada kalimat, kalau hujan, kita geser ke depan. Ke belakang. Atau kita jalan pulang.

Dan jangan bilang ini pesimisme. Ini adaptasi.

Hanya saja, kemampuan adaptasi semacam ini ngga pernah diakui sebagai keahlian hidup. Padahal, kalau ada olimpiade perencanaan alternatif, warga Bogor udah pasti pulang bawa emas. Bahkan mungkin sebelum lombanya dimulai, mereka udah nyiapin venue cadangan kalau tiba-tiba ujan turun pas pembukaan.

Lalu kita masuk ke konsekuensi yang lebih struktural: ruang kota.

Di kota dengan curah hujan tinggi—bahkan pernah mencapai ribuan milimeter per tahun—aktivitas luar ruang itu secara alamiah menjadi terbatas. Dan ketika aktivitas luar ruang terbatas, kota akan bereaksi.

Tapi pertanyaannya: bereaksi ke mana?

Jawabannya bisa kita lihat hari ini. Coffee shop tumbuh lebih cepat daripada ruang terbuka hijau.

Tentu ini bukan tuduhan. Ini observasi sederhana. Sebab ketika hujan datang hampir saban hari, orang butuh tempat berteduh yang tetap layak huni. Maka lahirlah ruang-ruang semi-publik. Mulai dari kafe, coworking space, sampe ke warmindo yang lebih banyak colokan daripada kursi.

Ruang terbuka hijau? Secara konsep emang bagus. Tapi secara praktik di Bogor, itu seperti investasi jangka panjang yang terlalu sering diganggu hujan harian.

Toh, apa gunanya juga taman kalau jam 4 sore berubah jadi kolam ikan?

Akhirnya, kota ini secara diam-diam ngegeser orientasinya. Dari ruang terbuka ke ruang tertutup. Dari interaksi publik ke konsumsi privat. Dan kita semua tahu, begitu ruang publik menyusut, yang tumbuh bukan cuma coffee shop, tapi juga kelas sosial yang makin kelihatan. Sebab ngga semua orang bisa berlindung di balik kopi 35 ribuan.

Di titik ini, kita mulai sadar bahwa hujan di Bogor bukan cuma soal cuaca. Ia adalah struktur. Ia ngebentuk kebiasaan. Ngatur ritme hidup. Bahkan nentuin gimana kota bagai bunga di dalam taman ini berkembang.

Dari sini, barangkali Bogor memang ngga pernah benar-benar dirancang buat manusia yang pengen hidup di luar ruangan. Ia adalah kota yang secara halus ngedorong warganya buat masuk ke dalam.

Ke dalam kafe. Ke dalam mobil. Ke dalam rumah. Bahkan mungkin ke dalam overthingkingan-nya masing-masing.

Ironisnya, kita masih sering ngeliat fenomena hujan harian ini sebagai gangguan kecil. Padahal, kalau mau jujur, hujan di Bogor itu udah kek kurikulum tersembunyi. Ia ngajarin fleksibilitas. Ketahanan. Sekaligus—secara halus—kepasrahan.

Karena seberapa pun kita ngerencanain hidup dengan rapi, bakal selalu ada satu variabel yang ngga bisa dinegosiasi.

Yaps, langit yang tiba-tiba mendung dan pasti udan

Dan mungkin, di situlah letak pelajarannya. Bahwa hidup ngga selalu tentang seberapa rapi kita ngeker masa depan. Tapi seberapa cepat kita nerima bahwa semua itu bisa berantakan dalam kilatan menit.

Bogor sudah mengajarkan itu sejak lama. Hanya saja, kita terlalu sibuk mengeluh soal hujan, sampai lupa bahwa kita sedang dilatih buat jadi manusia yang ngga kagetan.

Meski, ya, tetap saja, kalau bisa sih, hujannya jangan tiap hari. Kita juga manusia, bukan ikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *