#sastrakertastua1

Beberapa arsip kita kuak dalam kegiatan (“medusa”) membaca dokumentasi sastra. Amsalnya, selalu berurusan dengan tahun 1970 tanpa janji akan mengerti sepenuhnya. Apa ampuhnya tahun itu? Mengapa kerja-kerja pengarsipan awal kita mesti berdiri di sana? Kenapa kerja kita hari ini untuk kenyataan 70-an di sekitar permasalahan dan polemik sastra yang belum sudah?

Sebelum ke sana, baiknya kita berkenalan singkat dengan “medusa”. Ini semacam latihan suntuk giat menilik arsip. Sedia repot menggali kertas-kertas tua yang tertumpuk dan tersimpan. Sebelumnya hanya terawat demi “hasrat bergelora” kepemilikan. Kini haruslah segera berganti riset serampang maupun teliti sembarang arsip-arsip sastra.

Jangan tanya mengapa? Kertas tua sastra kita juga ingin berarti pada sekarang. Perlu dikuak lebih lanjut agar pelestarian itu terjadi.

Bertolak dari asumsi, masa 70-an itu merupakan puncak kegemilangan kesenian dan kesusastraan, baik di dunia maupun di Indonesia. Tapi kenapa babak terpenting dalam kesusastraan di Indonesia selama satu dekade itu kian redam? Sering luput dari perbincangan ihwal sejarah sastra kita? Yang membaca dengan mata amatan jelajah, justru menemukan tantangan bila ingin meragukan dan membuktikan dugaan dalam periode sastra tersebut? Apakah masa itu berkaitan dengan sejarah dan capaian estetika?

Tunggu sabar, selama kita mencari dan menemukan jawaban dari semua pertanyaan di atas. Karena para pengamat sastra kita, seperti diejek Bandung Mawardi, sudah keseringan menggunakan sastra di masa lalu dalam membahas hal-hal yang klise. Jadi, kita akan membahas masalah-masalah “redup senyap hilang” boom sastra 70-an. Adakah di antara umat sastra lawas kita sempat menorehkan sepotong polemik itu dalam ingatan? Mengapa persoalan-persoalan rebut-tengkar sastra pada masa itu seperti tak pernah kedengaran lagi gaungnya?

Kita tidak sedang memasalahkan suara lama dengan olah vokal baru. Bukan! Pencatatan ini berusaha menyadari adanya sesuatu dalam sastra akan menguak situasi zaman. Meskipun pada kenyataannya, para pembelajar di sastra lebih sering mengenangkan sederet polemik gebu: Lekra vs Manikebu, Ganzheit vs Rawamangun, perbalahan sastra kontekstual, memasalahkan Magsaysay, atau ribut soal cara pandang lapuk antara Sutan Takdir Alisjahbana vs Goenawan Mohamad, Mochtar Lubis vs Pramoedya Ananta Toer, dan beragam pertengkaran lain yang tak kalah seru. Apalagi kalau kita membacanya sambil membayangkan suasana.

Arus balik perpuisian kita ditandai oleh laporan Todung Mulya Lubis, seorang pengacara yang sewaktu-waktu sibuk memerhatikan sastra, dan dengan diagnosis ia menulis: “Puisi-Puisi Indonesia Mutachir Dalam Tjatatan” dimuat di Horison, Nomor 11, November 1972. Ia membahas masalah penyakit kepenyairan sedikit banyak masih terpapar “romantik pujangga baru” diserang ritme. Ia bosan baca sajak macam itu. Penularan senandung naratif ini sudah mewabah karena, “pertama para penyair kita kurang mempercayai kata, sehingga sajak penyair kita jadi terserang ‘inflasi kata’ yang mengakibatkan kelatahan akan kata; lalu yang kedua penyair kita terlalu percaya pada kata, sehingga kita akan menemui sajak mini yang padat, bahkan cenderung gelap atau abstrak.”

70-an secara bertubi-tubi merekam sekian banyak perbincangan puisi dicela dan disanjung. Gebrakan fenomenal ini juga mengorbitkan “puisi mbeling” hingga “pengadilan puisi”. Kita mendapati lonjakan drastis populasi penyair. Bermacam-macam tuduhan penyair nakal yang bertanggungjawab serta generasi urakan yang menjawab dengan kepalang kurang ajar menyelimuti hidup penyair. Ajaibnya, penyair maupun seniman sedunia yang terbit di masa itu masih melenting melampaui tiap zaman.

Dalam suatu catatan “Angkatan 66 sudah mampus?”, HB Jassin menukil prasyarat yang dikatakan Harry Aveling, “bahwa angkatan 66 tidak ada lagi, karena mereka sudah digantikan oleh Angkatan Transisi yang menurut dia ciri-cirinya ialah sombong, penuh humor, keras kepala, egoistis dan percaya akan magi kata-kata.”

Tak bisa dilupakan peran merebaknya kantong-kantong sastra: DKJ (Dewan Kesenian Jakarta, 1968) baru 2 tahun belajar berjalan, PSK (Persada Studi Klub) telah menjalani peran sebagai kawah candradimuka bagi beribu seniman, penerbit buku-buku sastra seketika melejit, dan pada saat yang bersamaan pula, majalah-majalah sastra mengiringinya secara maraton.

Segala aset yang menaungi masa transisi 70-an bergelimang eksperimen dalam kreativitas sastra. Cobalah bikin sederet daftar panjang seniman cum penyair duniayang nama-namanya menggoreskan pengaruh maupun kesan terdalam. Terus kita membayangkan suasana kritik sastra atau melakukan pembacaan boom pada periode itu.

Perjalanan Jakarta-Jambi, 11 Mei 2026

  • Aktif berteater bersama Paseduluran Lidah Daun. Menulis puisi, esai, dan sejumlah drama. Tinggal di Pamulang, di padepokan Rumah Tumbuh Muthmainah.

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *